More Than Words

More Than Words
Unfinished Business



“Jericho, aku…..” Fergie menjeda ucapannya.


“Jericho, aku masih memiliki perasaan yang sama padamu seperti tujuh tahun yang lalu,” ucap Fergie sambil menatap Laki-laki yang sedang duduk menyetir mobil di sampingnya.


Setelah pernyataan Jericho di depan Andrea tentang hubungannya dengan Fergie yang hanya sebatas teman biasa, Fergie merasa perlu sekali mengungkapkan perasaannya kepada Jericho. Gadis itu menahan diri sekuat tenaga untuk tidak membahas perasaannya ketika masih berada di restaurant tadi. Ia takut merusak suasana dan menghilangkan selera makan Jericho. Sekarang, ketika mereka hanya berdua di dalam mobil, gadis itu tidak mampu menahan dirinya lagi untuk tidak berbicara.


“Aku berharap kita bisa kembali bersama. Aku merasa bahwa kita tidak seharusnya berpisah waktu itu. Aku bahkan sempat terpuruk karena kepergianmu. Bisakah sekarang kamu menerimaku kembali?” Fergie berbicara dengan suara lirih sambil menyentuh pundak Jericho.


“Aku rasa kisah kita sudah selesai sejak tujuh tahun yang lalu. Banyak hal yang aku lalui, begitu juga dengan dirimu. Aku pikir kau hanya terbawa emosi sesaat.” Jericho berbicara tanpa menatap Fergie. Laki-laki itu masih fokus memperhatikan jalan yang cukup padat karena dipenuhi kendaraan.


“J, tidak kah kau berpikir bahwa pertemuan kita ini memang sudah ditakdirkan? Tujuh tahun sudah berlalu, kau masih sendiri, begitu juga dengan aku. Apa salahnya jika kita mencoba kembali bersama? Kita mulai semuanya dari awal,” tutur gadis cantik bermata biru itu kepada laki-laki yang sedari tadi tidak pernah menatapnya.


“Seringkali aku bertemu dengan teman-teman wanitaku semasa kuliah, yang dulu pernah aku kencani. Apakah aku juga harus menganggap mereka semua sebagai takdirku?” Jericho melirik Fergie.


“Aku pernah mencoba menjalin hubungan dengan beberapa laki-laki pasca kita berpisah, tetapi aku merasa mereka tidak bisa menggantikan posisimu di hatiku. Aku hanya menganggap mereka sebagai teman di kala aku kesepian. Mereka hanya pelarianku. Aku tidak merasakan perasaan dan getaran yang sama seperti ketika aku bersamamu,” kata Fergie dengan mata berkaca-kaca.


“Maaf, Fergie. Aku sudah tidak memiliki perasaan apapun padamu selain sebagai teman. Aku percaya, wanita sepertimu akan sangat mudah mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dari aku,” seru Jericho dengan ekspresi datar di wajahnya.


“Aku tidak menginginkan laki-laki lain. Tidak bisakah kamu mencobanya, J? Berikan aku kesempatan! Aku pasti bisa mengembalikan perasaanmu yang dulu saat bersama denganku,” paksa Fergie dengan suara yang lantang dan dengan tangisan.


Jericho tidak berbicara lagi. Laki-laki itu hanya diam. Kini mereka berdua telah berada di dekat apartemen, tempat Fergie tinggal. Jericho menepikan mobilnya.


“Beberapa tahun terakhir ini telah mengajarkan sesuatu padaku. Perasaan itu bukanlah suatu hal yang bisa dipaksakan. Jika kita memaksakannya maka kita akan sama-sama terluka. Kisah Fergie dan Jericho sudah berakhir tujuh tahun yang lalu.” Jericho memandang Fergie dengan tatapan lembut.


“Bagiku itu belum berakhir, J.” Isak tangis Fergie semakin jelas terdengar.


“Kau tahu? Orang tuaku bahkan sangat menyukaimu, J. Mereka sangat berharap kita akan bersatu kembali. Dulu mereka selalu membandingkan laki-laki lain yang mencoba mendekatiku denganmu. Orang tuaku sangat mengharapkan, suatu saat nanti kamu akan menggantikan mereka menjaga putrinya. Aku juga yakin bahwa orang tuamu pun tidak akan keberatan dengan hubungan kita.” Fergie bersikeras dengan pendiriannya. Gadis itu benar-benar pantang menyerah. Ia bahkan menggunakan orang tuanya sebagai alasan sekarang.


Ini adalah saat yang ditunggu oleh Jericho. Ia harus menyelesaikan urusan perjodohan yang sangat dibencinya. Laki-laki itu tidak ingin dibebani oleh urusan konyol seperti itu.


“Fergie! Aku sesungguhnya tidak suka melibatkan orang ketiga dalam hubungan asmaraku. Aku selalu berpikir bahwa urusan mencintai dan dicintai sesungguhnya adalah urusan antara seseorang dengan pasangannya. Aku tidak suka menjalani sebuah hubungan karena desakan pihak lain. Jadi, aku minta hentikan ini semua,” ucap Jericho dengan sangat tegas.


Fergie memilih diam dan tidak menanggapi ucapan terakhir Jericho. Gadis itu tenggelam dalam pemikirannya sendiri.


“J, Bagaimana jika kita mencoba lebih dulu? Jika memang tidak berhasil maka aku akan melepaskanmu.” Fergie memberikan tawaran terakhirnya dengan nada yang lemah.


“Aku mencintai Andrea!” Jericho mengatakan perasaannya terhadap Andrea kepada Fergie. Laki-laki itu sudah kehabisan argumentasi untuk menolak Fergie.


“Itulah alasan sebenarnya mengapa kita tidak bisa bersama,” imbuh Jericho dengan sorot mata tajam menatap Fergie yang semakin terisak di sampingnya.


“S-sejak kapan?” Fergie menatap Jericho dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.


“Aku mengetahui bahwa aku memiliki perasaan padanya sejak tiga tahun yang lalu. Namun, aku baru menyadari bahwa sebenarnya aku sudah tertarik padanya sejak lama, bahkan sejak aku masih menjadi kekasihmu.” Mata Jericho menerawang.


“Apakah dia juga?” Fergie tidak bisa melanjutkan ucapannya.


“Andrea belum menyadarinya, namun aku bisa merasakan bahwa gadis itu memiliki sikap yang berbeda ketika bersama-sama denganku,” jawab Jericho tanpa ragu.


“Kau benar-benar mematahkan hatiku, J.” Fergie menghapus air matanya yang tidak berhenti mengalir.


“Maafkan aku, tetapi aku harus mengatakan semua ini agar kau juga bisa melangkah mengejar kebahagiaanmu. Aku tidak ingin kau terus berdiri dalam bayang-bayang masa lalu kita,” tutur Jericho memegang pundak Fergie.


“Bolehkah aku memelukmu untuk terakhir kalinya?” Fergie berharap laki-laki itu akan mengabulkan permohonannya.


“Aku akan memelukmu sebagai sahabatku,” ucap Jericho kemudian merengkuh Fergie ke dalam pelukannya.


Ia membiarkan Fergie menangis cukup lama dalam dekapannya. Laki-laki itu tahu bahwa gadis yang sedang patah hati itu membutuhkan sebuah pelukan untuk menenangkan diri. Fergie baru melepas pelukan Jericho, saat ia berhasil menguasai emosinya.


Malam itu, keduanya mengucapkan selamat tinggal kepada kisah cinta mereka di masa lalu. Kisah Jericho dan Fergie benar-benar telah selesai, bergitu juga dengan seluruh perasaan yang menyertainya.


----------


“Bagaimana menurutmu jika aku dan Jericho kembali seperti dulu?” Andrea membayangkan wajah Fergie ketika mengatakan hal itu di restaurant tadi.


“Apakah Fergie masih menaruh perasaan kepada Jericho?” Andrea berucap pada dirinya sendiri.


Saat ini Andrea sedang berdiri menunggu bus terakhir yang akan mengantarnya sampai ke asrama. Gadis itu mengisi waktunya sambil melamun membayangkan pertemuannya dengan Jericho dan Fergie di restaurant tadi.


“Kami hanya berteman. Tolong jangan salah paham!” Sekarang Andrea membayangkan Jericho sedang mengatakan hal itu.


“Laki-laki itu, apakah dia takut aku salah paham padanya?” Andrea tersenyum memikirkan ucapan Jericho.


“Apa benar dia masih menaruh hatinya padaku? Dia bahkan tak henti-hentinya memelukku saat kita berada di taman waktu itu.” Andrea membayangkan lagi kejadian ketika ia dan Jericho sedang berada di sebuah taman yang ada di daerah New Rochelle.


Bus yang ia tunggu pun mulai terlihat. Namun, tiba-tiba sebuah mobil SUV mendahului bus itu dari arah samping dan berhenti persis di depan Andrea. Mobil SUV itu menghalangi bus yang hendak berhenti di depan halte.


Tin!!! Tin!!! Tin!!!


Supir bus yang tidak sabar membunyikan klaksonnya. Mobil itu berhenti di tempat yang tidak semestinya.


“Masuklah!” Suara seorang laki-laki yang ia kenal menyuruh Andrea segera masuk ke dalam mobil miliknya. Gadis itu pun menurut.


-------


Happy Reading! Jangan lupa Feedback-nya!