More Than Words

More Than Words
Fireflies



Dan di sinilah mereka berada, di dalam sebuah mobil SUV buatan Eropa dengan tulisan Porsche pada lambangnya. Awalnya Andrea sempat menolak ajakan Jericho. Gadis itu menggunakan Norah sebagai alasannya. Namun, Jericho tahu bahwa itu hanyalah alibi untuk menghindarinya, sebab Norah sendiri yang menyarankan laki-laki itu untuk menemui Andrea malam ini, setelah gadis itu menyelesaikan pekerjaannya.


Jericho mengikuti permainan Andrea. Ia langsung menghubungi Norah. Ia meminta maaf kepada Norah dan meminta agar janji mereka dibatalkan, karena Jericho ingin membawa Andrea pergi ke suatu tempat malam ini. Norah sempat kebingungan, namun akhirnya ia mengerti bahwa Andrea menggunakannya sebagai alasan. Norah mengijinkan mereka pergi dan Andrea merasa jengkel karena ketidakpekaan Norah.


Gadis itu masih berusaha menghindar dengan mengulur-ulur waktu. Andrea sengaja menyibukkan diri dengan sesuatu yang bukan bagiannya, sambil berharap laki-laki itu akan membatalkan niatnya. Jericho menyadari hal itu. Laki-laki itu tetap bersabar dan menunggu sampai Andrea menyelesaikan semua pekerjaannya. Kali ini gadis itu benar-benar tidak bisa menghindar lagi.


Jericho mengajak Andrea ke sebuah taman yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat kerja Andrea. Sebuah taman di daerah New Rochelle. Mereka tiba saat waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Suasana taman itu cukup sepi.


“Kita sudah sampai,” ucap Jericho sambil mematikan mesin mobilnya.


Andrea langsung membuka pintu mobil dan keluar. Ia berjalan menuju ke sisi tengah taman itu. Jericho mengikutinya dari belakang.


“Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?” Andrea berucap dengan dingin. Gadis itu sepertinya tidak ingin didekati.


“Ada apa denganmu? Kita sudah lama tidak bertemu dan kamu seperti membenciku seolah-olah aku melakukan kesalahan padamu,” jawab Jericho dengan lembut.


“Apa yang sebenarnya kamu inginkan? Aku tidak punya banyak waktu,” ucap Andrea sambil membuang mukanya.


“Aku ingin minta maaf, An. Maafkan aku karena tidak mengetahui kabar kepergian Frans,” tutur Jericho sambil memegang pundak Andrea.


“Aku memaafkanmu. Bisakah kita kembali?” Andrea membalikkan badannya dan hendak berjalan menuju ke tempat di mana mobil Jericho diparkirkan.


“Tunggu, An! Jelaskan padaku, ada apa denganmu? Tidak bisakah kita bicara baik-baik?” Jericho menahan lengan Andrea.


“Aku hanya sedang tidak ingin bicara. Aku sangat lelah,” jawab Andrea sambil melepaskan tangan Jericho.


Andrea terus melangkah, ia tidak memedulikan Jericho lagi. Gadis itu sungguh tidak siap dengan pertemuan mereka. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya tentang laki-laki itu.


Jericho masih menatap punggung gadis yang dicintainya. Ia tahu bahwa ada yang tidak beres. Laki-laki itu kemudian mempercepat langkahnya dan menyusul gadis itu.


Jericho melakukan sebuah tindakan impulsif dengan memeluk Andrea dari belakang untuk menahan pergerakan Andrea. Saat hal itu terjadi, Andrea merasakan seluruh tubuhnya lemas seketika. Pertahanan dirinya runtuh.


“Aku merindukanmu, An! Aku sangat merindukanmu,” bisik laki-laki itu di telinga Andrea.


Andrea tidak menjawab. Gadis itu meneteskan air matanya. Ia tidak bisa menahannya lagi. Isak tangisnya cukup keras terdengar, apalagi suasana taman itu sangat sepi. Hanya mereka berdua yang berada di sana.


Jericho membalikkan tubuh Andrea, menghadap ke arahnya. Ia menghapus air mata gadis itu dan memeluknya lagi. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut laki-laki itu, hanya suara kecupan pada puncak kepala Andrea yang terdengar beberapa kali.


Mereka berdua masih berdiri di tempat yang sama selama beberapa saat, sampai Andrea bisa menguasai dirinya lagi. Gadis itu pun melonggarkan pelukannya.


“Maafkan aku,” ucap Andrea dengan lirih.


“Hei, kau tidak perlu melakukan itu. Kau tidak perlu meminta maaf padaku. Sekarang katakan ada apa? Aku tahu pasti ada sesuatu yang mengganjal hatimu, hingga kamu menghindariku seperti ini,” ucap Jericho dengan lembut sambil mengajak gadis itu duduk di sebuah kursi taman yang terletak dipinggir taman itu.


Andrea mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Gadis itu mengeluarkan benda yang tidak asing bagi Jericho.


“Frans menyerahkan ini sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya. Ia begitu kesakitan saat itu dan tetap memaksakan diri mengambil benda ini dari sakunya.” Andrea kembali meneteskan air matanya dan menyerahkan benda itu ke tangan Jericho.


“Ia juga memaksaku menerimanya sambil berkata bahwa cinta telah menemukan jalannya,” ucap Andrea terbata-bata sambil mengusap air matanya.


“J, tidak tahukah dia bahwa saat itu aku tidak menginginkan orang lain selain dia? Kenapa dia seakan-akan justru menyerahkanku padamu? Kenapa dia tidak berusaha mempertahankan hidupnya? Kenapa dia menyerah?” Andrea bertanya kepada laki-laki itu.


Pertanyaan Andrea itu sesungguhnya begitu melukai hati Jericho. Laki-laki itu mengetahui bahwa Andrea sangat mencintai Frans, menginginkan Frans, bukan dirinya.


“Kenapa benda ini bisa berada di tangan Frans. Seingatku aku memberikannya padamu, bukan padanya,” ucap Jericho dengan perasaan kecewa yang menghujam hatinya.


“Jadi penyebab kamu menghindariku adalah karena Frans seolah memintamu untuk bersamaku? Kamu membenciku karena dia memilihku untuk menggantikan dirinya?” Jericho ingin memperjelas semuanya.


Andrea menganggukkan kepalanya lalu berkata, ”Maafkan aku. Itu sebenarnya bukan salahmu. Aku hanya merasa sakit karena Frans menyerah mempertahankan hidupnya.”


“Bodoh! Kau benar-benar bodoh! Aku bahkan bisa merasakan sekarang bahwa kau tidak mencintanya,” ucap Jericho menghina Andrea.


“A-apa maksudmu?” Emosi Andrea terpancing.


“Kau ternyata tidak mengenal kekasihmu sendiri,” kata Jericho dengan tatapan sinis.


“K-kau!” Andrea menegakkan tubuhnya dan menyipitkan matanya. Ia tidak senang mendengar ucapan Jericho.


“Frans bukan menyerah dengan kehidupannya. Laki-laki itu tidak kenal kata menyerah. Berkali-kali aku mengatakan padanya bahwa aku akan mengambilmu darinya, tetapi berkali-kali juga dia meyakinkanku bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi. Kau pikir dia akan semudah itu menyerahkan hidupnya padahal pernikahan kalian tinggal dua hari lagi?” Jericho berucap dengan nada tinggi, seolah memarahi gadis yang ada di hadapannya.


“Frans pasti tidak punya pilihan lain saat itu. Dia tahu bahwa dia tidak mungkin bertahan. Dia sangat mencintaimu An, bagaimana mungkin dia begitu mudah melepasmu? Dia hanya...... tidak punya pilihan lain,” ucap Jericho dengan nada yang lebih lembut.


Andrea kembali menangis mendengar kata-kata Jericho. Gadis itu merasa seperti orang bodoh sekarang.Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Jericho tidak tega melihat Andrea. Ia memeluk kembali gadis itu. Laki-laki itu benar-benar ingin menjadikan dirinya sandaran, meski ia tahu bahwa ia bukan siapa-siapa bagi gadis itu.


“Dia sama terlukanya denganmu, An. Dia pasti masih ingin bersamamu dan memelukmu seperti yang kulakukan, tapi dia tahu dia tidak punya kesempatan itu,” imbuh Jericho sambil membelai lembut rambut Andrea.


“Kenapa dia pergi, J? Kenapa dia begitu cepat pergi?” Andrea berbicara dengan tidak jelas karena tertutup oleh isakan tangisnya.


Jericho melihat beberapa kunang-kunang terbang mendekati mereka tanpa sengaja. Laki-laki itu pun melonggarkan pelukannya.


“Kau melihat kunang-kunang itu?” Jericho menunjukkan tangannya ke arah sekelompok kunang-kunang yang terbang.


“Aku melihatnya,” kata Andrea sambil menganggukkan kepalanya.


“Di taman ini ada begitu banyak jenis serangga. Tetapi jika saat ini kamu memiliki sebuah jaring di tanganmu, serangga apa yang akan kamu tangkap dengan jaring-jaringmu itu?” Jericho bertanya kepada Andrea.


“Tentu saja aku akan menangkap kunang-kunang itu,” jawab Andrea dengan yakin.


“Kenapa?” Jericho menunggu penjelasan gadis itu.


“Karena dia serangga yang paling indah yang saat ini ada di taman ini,” balas Andrea sambil menatap mata Jericho.


Laki-laki itu tersenyum manis kepada Andrea dan berkata, “Kau tahu? Kadang kala logika itu berlaku juga dalam kehidupan kita. Mungkin saja Tuhan mengambil Frans lebih dulu karena dia adalah yang terbaik. Tuhan tidak ingin ia menderita An!” kata Jericho sambil menghapus sisa-sisa air mata yang membasahi pipi Andrea dan merengkuh gadis itu kembali dalam pelukannya.


Perasaan Andrea berubah menjadi hangat ketika mendengar perkataan terakhir Jericho. Kehadiran laki-laki itu dan perkataannya, sungguh membuat gadis itu merasa lebih tenang.


Andrea membiarkan laki-laki itu memeluknya. Alam bawah sadarnya yang menggerakkan dia menerima pelukan itu. Perasaan yang tersembunyi di sudut ruang hatinya, rasa nyaman akan kehadiran Jericho, kini mulai menguasai dirinya lagi tanpa ia sadari.


Malam semakin larut. Gelap semakin turun. Bintang-bintang bahkan tidak nampak lagi karena tertutup awan, tetapi bulan tetap bertahan. Ia masih memberikan cahayanya.


Andrea bisa merasakan itu juga dalam hatinya. Pertemuannya dengan Jericho telah menggoreskan sebuah makna. Perasaannya yang menghitam karena berselimut duka, kini sedikit demi sedikit menjadi berwarna karena seberkas cahaya yang ditemukan dalam diri laki-laki itu. Cahaya itu selalu ada, bahkan di tempat yang paling gelap sekalipun.


----------


Halo-halo. Saya menulis part ini sebagai persembahan bagi siapa saja di luar sana, yang tetap tegar meski ditinggalkan oleh orang-orang yang mereka kasihi. Semoga dengan membaca ini, anda yang pernah berduka semakin mendapat cahaya. Selamat membaca!