More Than Words

More Than Words
Encounter



*New York : John F. Kennedy Airport*


Setelah melakukan sebuah perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan dari Amsterdam, Jericho kini telah menginjakkan kakinya kembali ke New York City. Baru saja pesawat yang ditumpanginya mendarat. Saat ini laki-laki itu masih menunggu barang-barangnya di tempat pengambilan bagasi.


Setelah berhasil mendapatkan semua barang-barangnya, ia segera melangkahkan kaki ke arah pintu keluar. Jericho sudah merencanakan untuk mampir ke toko musiknya sebentar, sebelum ia mengistirahatkan dirinya di apartemen.


Saat ini laki-laki itu sedang berdiri di lobby. Ia sedang berbaris, mengantri untuk menunggu Taxi. Tidak sengaja, seseorang menyikut lengannya dari samping hingga membuat tubuh Jericho sedikit kehilangan keseimbangan. Pergerakan Jericho mengenai barang-barang bawaannya. Barang-barang itu pun jatuh berserakan.


Bukk!!! Bukkk!!! Bukk!!!


“Maaf Sir, saya terburu-buru jadi……..” Seorang perempuan meminta maaf kepada Jericho dan tidak melanjutkan ucapannya setelah melihat wajah Jericho.


“Lain kali berhati-hatilah, Miss!" Jericho berkata sambil memungut barang-barangnya yang jatuh tanpa melihat ke arah perempuan itu.


Jericho sudah mengangkat semua barangnya dan meletakkan kembali barang-barang itu pada kereta dorong miliknya. Laki-laki itu melanjutkan pandangannya ke arah mobil-mobil pengangkut penumpang yang sejak tadi berlalu lalang.


Setelah beberapa menit, Jericho akhirnya menyadari bahwa perempuan yang menabraknya tadi masih berdiri di tempat yang sama dan tidak segera beranjak. Jericho menatap perempuan itu secara spontan sambil mengerutkan keningnya.


“Kenapa anda masih di si….ni……?” Jericho menyadari sesuatu.


“Jericho? Kamu Jericho Laurent kan?” Perempuan itu benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


“Fergie Anderson?” Jericho membulatkan matanya.


Sudah tujuh tahun berlalu sejak pertemuan terakhir mereka di London. Pertemuan terakhir dua anak manusia itu meninggalkan kesan yang tidak baik, sebab pada pertemuan itulah Jericho dan Fergie sepakat untuk mengakhiri hubungan asmara mereka.


“Bagaimana kabarmu?” Fergie mendekat dan langsung memeluk Jericho.


“Aku baik-baik saja.” Jericho masih berdiri pada posisinya. Ia tidak membalas pelukan Fergie.


“Aku senang kita bisa bertemu di sini. Kau semakin tampan,” puji Fergie kepada laki-laki itu.


“Sebentar lagi giliranku mendapat Taxi. Senang berjumpa denganmu,” ucap Jericho acuh sambil mendorong keretanya.


“Tunggu, J!” Fergie menahan lengan Jericho.


“Aku tinggal di apartemen sepupuku, di Manhattan. Sepupuku akan menikah minggu depan. Aku ke sini untuk menghadiri pestanya. Kamu tinggal dimana? Berapa lama di sini?” Fergie ingin mendapatkan informasi tentang keberadaan Jericho di kota New York.


“Aku punya sebuah toko musik di sekitar Times Square. Nama tokonya ‘The Rhapsody’. Mampirlah kalau ada waktu!” Jericho melangkah meninggalkan Fergie dan menghampiri Taxi yang baru saja datang untuk menjemputnya.


“Bye, J! Aku pasti akan datang,” Fergie melambaikan tangannya. Jericho membalas dengan senyum simpul.


Jericho tidak menyangka bahwa ia bisa bertemu dan melihat Fergie untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun berlalu. Ia juga tidak pernah berpikir bahwa ia akan bertemu dengan perempuan itu di kota ini. Sebuah kebetulan yang aneh menurutnya.


Seketika, ia langsung teringat pada kejadian tujuh tahun yang lalu, saat mereka memadu kasih di sekolah dulu. Gadis itu seolah tidak berubah. Ia tetap cantik. Gaya rambutnya masih sama, begitu juga dengan gaya berpakaiannya. Gadis itu selalu tampil feminim setiap hari.


“Kita akan kemana, sir?” Pertanyaan supir Taxi itu menarik kesadaran Jericho yang sempat hilang karena asyik memikirkan Fergie.


“The Rhapsody, di area Times Square,” jawab Jericho.


“”Baik, sir!” Supir itu segera memacu Taxinya menuju tempat yang disebutkan oleh Jericho.


---------------------


“Ray, kemarilah!” Norah meminta Ray mendekatinya.


“Ada apa?” Ray berjalan mendekati Norah.


“Biola yang ini apakah masih ada stoknya di dalam atau hanya tinggal yang di-display saja?” Norah bertanya sambil menunjuk salah satu biola yang ada disitu.


“Kamu kan bisa mengecek sesuai nomor serinya di komputer,” ucap Ray sambil membawa biola itu untuk mengeceknya pada komputer kasir.


“Jelas tidak ada yang persis. Inikan handmade bukan buatan pabrik,” kata Ray sambil melangkah menuju ke ruang stok barang.


Laki-laki itu hanya membutuhkan waktu dua menit untuk menemukan barang yang dimaksud. Ia segera menghampiri Norah dan pembeli yang menunggunya.


“Maaf karena membuat anda menunggu. Ini masih dalam seri yang sama dengan yang di-display.” Ray menyerahkan biola itu.


“Agak sedikit gelap di sisi kiri?” Pembeli itu bertanya karena memang biola yang di display tidak sama persis dengan yang dibawa oleh Ray.


“Itu tergantung dari sisi kayu yang diambil, tetapi masih dari jenis kayu dan pohon yang sama. Begitu juga dengan kualitasnya.” Ray menjelaskan kepada pembeli itu.


“Baiklah! Tidak apa saya ambil yang ini saja,” ucap pembeli itu.


Ray menyerahkan barang itu kepada Norah agar gadis itu melanjutkan transaksi mereka. Laki-laki itu mengembalikan biola yang tidak jadi dipilih oleh pembeli itu ke tempat semula.


Bersamaan dengan itu, Ray mendengar suara pintu terbuka. Sepertinya ada pembeli lagi yang datang. Laki-laki itu pun langsung mengarahkan pandangannya ke arah pintu masuk.


“Bos?” Ray tersenyum melihat kedatangan bosnya.


“Bagaimana kondisi toko selama aku pergi?” Jericho menanyakan kondisi tokonya.


“Aman bos! Seperti yang anda lihat, masih banyak orang yang datang berkunjung dan membeli.” Ray mengarahkan pandangannya melihat seluruh sisi toko itu.


“Baguslah! Taxiku masih menunggu di depan. Aku akan langsung ke apartemen untuk beristirahat. Tidak masalah kan?” Jericho memastikan kepada Ray bahwa tidak ada sesuatu yang harus ia kerjakan dan selesaikan saat ini.


“Istirahatlah, bos! Tidak ada yang terlalu mendesak. Besok kau bisa mengerjakannya,” ucap Ray menyuruh Jericho pergi.


“Baiklah kalau begitu, aku akan langsung pulang,” balas Jericho sambil memutar tubuhnya untuk berjalan menuju pintu keluar.


“Tunggu sebentar bos!” Ray teringat sesuatu. Ia menahan Jericho sejenak.


“Ada apa lagi?” Jericho menatap Ray dengan tajam.


“Aku mau mengenalkanmu pada pegawai baru kita. Tunggulah sebentar! Dia masih menyelesaikan transaksinya.” Dua menit kemudian, Ray melihat Norah telah selesai bertransaksi dengan pembeli itu.


“Norah, kemarilah! Kamu harus bertemu dengan bosmu!” Ray menyuruh Norah menjumpai Jericho.


“Baiklah!” Norah berjalan mendekat ke tempat di mana Ray berdiri.


“Bos, ini Norah, karyawan anda yang baru dan Norah ini bos kita,” ucap Ray memperkenalkan keduanya.


Norah membulatkan matanya saat melihat laki-laki bermata hijau yang berdiri di hadapannya itu. Norah langsung mengenali laki-laki itu dan menutup mulutnya. Ia benar-benar terkejut dan mematung seketika.


“Hei, Norah! Norah!” Ray melambaikan tangannya di depan mata Norah untuk menyadarkan gadis itu.


“Maaf. S-selamat sore, sir! Saya Norah, karyawan anda yang baru.” Norah menyodorkan tangan mungilnya yang saat ini kelihatan bergetar.


“Halo! Senang bisa melihatmu bergabung bersama kami,” ucap Jericho berusaha ramah. Tangannya menyambut uluran tangan Norah. Mereka berdua saling berjabat tangan cukup lama karena gadis itu tidak kunjung melepaskan tangannya.


“Sudah jangan lama-lama, Norah! Bos harus pergi,” ucap Ray sambil menarik tangan Norah agar melepaskan tangan Jericho.


“Aku harus pergi. Sampai bertemu besok!” Jericho berpamitan kepada para karyawannya dan segera masuk kembali ke dalam Taxi yang sudah lima belas menit menunggunya di luar.


Mata Norah tidak bisa lepas dari Jericho. Gadis itu terus memandang Jericho sampai sosoknya benar-benar menghilang.


“Ray! Bos kita tampan sekali.” Norah berbicara sambil menatap dan menyentuh pundak Ray lalu mengguncang-guncangkannya. Laki-laki itu hanya membalas dengan memutar bola matanya.


---------------------


Happy Reading! Jangan lupa untuk terus support saya dengan memberi like, comment, vote, dan rate! Thank you all!