
Ada begitu banyak warna di dalam dunia. Setiap manusia memuja satu warna, yang dianggap mampu menggambarkan dirinya. Si pemberani yang tidak tahu diri akan memilih merah. Si jenius yang dingin akan memilih biru untuk melengkapi auranya. Si manja yang terus melukiskan senyum demi mencari perhatian, lebih condong menyukai kuning, sedangkan para gadis remaja yang diperbudak cinta, lebih banyak menggunakan warna merah muda.
Warna-warna itu seakan menyatu dengan hingar bingar dunia. Menunjukkan, seolah dunia manusia begitu sempurna. Tetapi, bagi orang-orang yang sedang berduka, hanya ada dua warna menghias hidupnya.
Warna yang pertama adalah hitam. Bagi sebagian orang, warna hitam memberi kesan misterius, sama seperti misteriusnya sebuah kematian. Semakin pekat sang hitam, menandakan semakin dalam rasa duka yang ingin ditunjukkan.
Warna yang kedua adalah putih, atau beberapa orang lebih suka menyebutnya sebagai yang tidak berwarna. Warna itu begitu rapuh, seperti hidup tanpa rona, seperti raga tanpa jiwa. Begitu rapuhnya sang putih, hingga sangat mudah ternoda.
Kepergian orang yang dicintai adalah hal yang paling berat untuk diterima di dalam hidup. Bukan karena manusia takut untuk sendiri, tetapi karena ada begitu banyak ruang kosong di hati yang meminta untuk diisi.
Hari ini seorang gadis tengah berduka. Sebuah gaun putih panjang dengan sebuah pita hitam melingkar di bagian perut, dikenakannya. Rambutnya terurai dengan begitu indah. Sedikit pewarna bibir berwarna lembut ditorehkan, hanya untuk terlihat lebih segar. Seperti warna gaun yang dikenakannya, demikianlah juga warna dunia gadis itu saat ini. Hanya ada hitam dan putih.
Gadis itu berdiri di depan sebuah peti mati, yang sebentar lagi akan dibenamkan ke dalam tanah. Seharusnya hari ini adalah hari pernikahannya. Semua orang datang mendampinginya, bukan untuk mengucapkan selamat berbahagia, tetapi demi ditunjukkannya seutas simpati atau empati, karena ia sedang dirundung duka.
Andrea melihat peti itu perlahan-lahan diturunkan, hingga akhirnya menyatu dengan tanah. Sekarang, tidak ada lagi mata berwarna biru langit yang meneduhkan itu. Mata yang terus memandangnya dengan penuh kekaguman. Baru beberapa hari kehilangan sorot mata itu, kini ia sudah merindu.
“Andrea! Aku turut berdukacita atas kepergian Frans,” Norah memeluk sahabatnya.
“Terima kasih, Rah! Terima kasih karena kamu ada saat ini untukku.” Andrea memeluk Norah, sambil menyapu air matanya.
“Aku tahu ini berat bagimu. Percayalah kamu pasti bisa melewati semua ini!” Norah mencoba memberi kekuatan kepada sahabatnya.
“Entahlah! Rasanya terlalu menyakitkan.” Gadis itu meneteskan lagi air matanya.
“Aku tahu sayang,” ucap Norah masih mengusap punggung sahabatnya.
“Dia begitu mencintaiku dan aku sudah terbiasa. Aku tidak bisa melepasnya begitu saja. Itu sangat menyakitkan. Itu tidak adil.” Andrea semakin terisak.
“Hei, sayang! Masih ada kami semua. Kami mencintaimu juga. Kamu harus kuat untuk kami, hmm?” Norah membisikkan kata-kata itu ditelinga Andrea.
Andrea hanya menganggukkan kepala. Ia tidak sanggup lagi berbicara. Semakin banyak ia menceritakan perasaannya, semakin ia merasakan sesuatu menghimpit dadanya.
-------------------
*Amsterdam, Belanda*
“Ah, mimpi buruk! Kenapa akhir-akhir ini aku selalu bermimpi buruk?” Jericho berbicara kepada dirinya sendiri sambil memegang puncak hidungnya.
Laki-laki itu baru saja terbangun. Malam masih panjang, namun ia sudah tersadar. Kesadaran itu merenggut tidurnya, sesaat setelah tubuhnya merasa gelisah karna bayangan di dalam mimpinya.
Ia melihat seorang gadis mengenakan sebuah gaun berwarna putih menangis di hadapannya. Ia tidak bisa mengenali dengan jelas siapa gadis bergaun putih itu. Sudah beberapa hari ini, ia memimpikan hal yang sama.
Jericho berjalan keluar dari kamarnya. Ia mencari sesuatu di dalam sebuah lemari pendingin. Ia membuka botolnya dan meneguknya perlahan-lahan. Laki-laki itu nampak kehausan.
Setelah puas, ia kembali ke ranjangnya. Pagi masih jauh untuk dapat direngkuh. Ia hendak memaksa dirinya masuk lebih dalam lagi ke alam bawah sadar. Saat memejamkan mata, ia teringat sesuatu.
-----------------------
*Enam bulan kemudian: London, Inggris*
“Sepertinya putri kita sudah jauh lebih baik,” ucap Marry kepada suaminya.
“Kau benar. Beberapa bulan terakhir adalah yang paling berat, tetapi sekarang sepertinya dia sudah bisa menerima semuanya,” balas Evan kepada istrinya.
“Semalam dia menceritakan padaku, ada kemungkinan dia akan melanjutkan studinya ke Amerika.” Marry membayangkan wajah putrinya yang terlihat bahagia saat menceritakan rencananya.
“Setidaknya, ia bisa memulai sesuatu yang baru di sana. Aku tidak keberatan selama itu positif dan membuatnya berbahagia,” ucap evan sambil memeluk istrinya yang sudah tidak muda lagi. Meski begitu, sisa-sisa kecantikan di masa muda, masih dapat dinikmati oleh mata tuanya hingga kini.
“Aku berharap dia bisa memperoleh pengganti Frans. Meski aku tahu, itu tidak bisa cepat. Kau tahu? Dia memang terlihat jauh lebih baik sekarang, tetapi ia tidak pernah bermusik lagi. Musik mengingatkannya pada laki-laki itu. Separuh hidupnya seakan ikut mati. Aku berharap dia bisa mendapatkan seseorang yang akan mengembalikan seluruh hidupnya.” Marry meneteskan air mata.
“Putriku hanya butuh waktu. Bersabarlah!” Evan mengecup puncak kepala istrinya.
---------------------
Andrea sedang berada di dalam kamarnya saat pembicaraan Evan dan Marry terjadi. Gadis itu masih sibuk dengan berkas-berkasnya. Ia terlihat sangat bersemangat melengkapi data-data yang dibutuhkan untuk mendaftar diri, menjadi mahasiswa post-graduate, salah satu kampus ternama yang ada di Amerika.
Cukup banyak benda-benda berceceran di kamarnya. Sementara itu, Ia juga membiarkan semua berkas data dirinya berhamburan di atas ranjang. Setelah semua berkas itu lengkap, ia memasukkannya dalam sebuah map khusus.
Beberapa saat, setelah menyelesaikan aktivitasnya, mata gadis itu mengeriap melihat pemandangan kamarnya yang cukup berantakan. Akhirnya gadis itu berusaha untuk merapikannya lagi dan mengembalikan barang-barang itu seperti semula.
Saat merapikan benda-benda kesayangannya, matanya berhenti pada sebuah plastic bag transparan berperekat. Sebuah foto dan sebuah gelang yang tidak asing ditemukannya. Gadis itu kembali mengingat bagaimana Frans yang tengah kesakitan berusaha untuk menyerahkan kedua benda itu.
Andrea kembali terisak mengingat peristiwa itu. Luka itu seperti menganga kembali. Andrea mengingat perkataan terakhir kekasihnya, sebelum pergi.
“Cin…ta...te…lah…me….ne…mu…kan… ja…lan…nya….!” Kalimat itu terucap dari bibir Frans sebelum ia menghembuskan napas terakhirnya.
“Frans, apa maksud perkataanmu, sayang?” Andrea menatap kedua benda itu sambil menangis.
“Cinta tidak seharusnya membuat kita menderita seperti ini. Kau seharusnya menjagaku sekarang. Mengisi hari-hariku dengan cintamu,” ucap Andrea lirih sambil menahan isakan tangisnya, agar tidak terlalu keras terdengar. Dia tidak ingin membuat orang tuanya mengetahui bahwa ia sebenarnya masih rapuh.
Gadis itu membutuhkan cukup banyak waktu untuk menenangkan diri. Setelah berhasil menguasai emosi, yang tiba-tiba menerobos pertahanan hatinya itu, Andrea kembali menyimpan kedua benda itu dengan rapi. Ia mengembalikannya ke tempat semula.
Isak tangis itu adalah bukti bahwa dunianya belum benar-benar pulih. Dunianya masih sama, penuh dengan warna hitam dan putih. Seperti sebuah televisi tua pada masa-masa lampau. Hanya gambarnya saja yang bergerak. Tidak ada suara yang terdengar.
Gadis itu memang masih hidup. Ia berjumpa dengan banyak orang, menekuni hal-hal yang ia sukai, melakukan apa yang dilakukan wanita muda di usianya. Hanya saja, ia melakukannya tanpa banyak bicara, tanpa lagu-lagu cinta yang keluar dari speaker kecil di dalam kamarnya, dan tanpa musik yang mengalun seperti dulu, saat cinta dan mimpinya utuh bersemayam di dalam raga.
------------------
Happy reading, guys! Jangan lupa support saya ya!