More Than Words

More Than Words
Ferris Wheel



Sore itu langit New York berwarna merah muda. Matahari yang nampak lelah karena telah seharian memancarkan terangnya, hendak kembali ke peraduan untuk beristirahat sejenak. Dari sudut tertinggi bianglala nampak sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta, duduk berhadapan, saling memandang, saling berpegangan tangan.


“Apakah kamu menikmati hari ini sayang?” Frans menatap wajah kekasihnya dengan penuh cinta.


“Sangat Frans. Aku bahagia, rasanya sudah lama aku tidak sebahagia ini. Terima kasih sayang.” Andrea tersenyum dengan manis.


Frans seketika menggelengkan kepalanya, ia mengambil punggung tangan Andrea, menciumnya, lalu berkata, “Aku yang harusnya berterima kasih padamu, Elaine. Kamu tahu? Aku sudah lama membayangkan hari ini. Naik bianglala bersama denganmu, berhenti di sudut tertingginya, sambil menikmati langit senja yang teduh. Aku begitu mencintaimu sayang. Setiap detik dalam hidupku, setiap hembusan napasku, hanya untukmu.”


“Frans, kadang aku berpikir, apakah aku layak menerima cintamu yang begitu besar kepadaku? Aku takut mengecewakanmu. Aku takut, aku tidak bisa mencintaimu sebesar kau mencintaiku.” Gadis itu kini nampak bersedih.


Telunjuk Frans menyentuh bibir gadis itu dan Frans berucap, “Ssttt……… Lihat aku! Tatap mataku, sayang! Apakah kamu berpikir bahwa cintaku padamu itu semacam laba perusahaan yang harus dibagi sama besarnya dengan modal yang ditanam oleh masing-masing pemiliknya? Bahkan adilpun tidak selalu berarti sama rata. Aku mencintaimu tanpa mengharap kau akan membalas sebesar cintaku padamu, sayang. Aku menyerahkan hatiku padamu karena aku bahagia melakukannya dan karena aku tahu tidak ada wanita di dunia ini yang layak menerimanya, selain kamu, Elaine.”


Gadis manis di depan laki-laki itu kini meneteskan air matanya. “Aku berjanji padamu Frans, aku akan belajar untuk selalu membuatmu bahagia,” ucap Andrea dengan sungguh-sungguh.


“Aku tahu, sayang.” Frans mencium kening kekasihnya.


Pemandangan sore itu begitu indah. Seutas ide tiba-tiba hinggap di pikiran Andrea, si gadis bermata coklat itu.


“Frans, bagaimana jika kita berfoto sebentar?Aku ingin mengabadikan momen ini. Aku membawa kamera Polaroid. Sebentar ya, aku ambil,” ucap Andrea sambil berusaha mengeluarkan kamera itu dari dalam tasnya.


Andrea begitu bersemangat untuk mengabadikan momen kencannya bersama Frans. Gadis itu sangat antusias, hingga tidak menyadari sebuah foto terjatuh di dekat tempatnya berpijak. Foto yang sudah ia ambil sehari sebelumnya, di suatu tempat.


“Sayang, ayo! Berikan senyumanmu!” Andrea menghitung sampai tiga dan menekan tombol yang ada di kameranya untuk mengabadikan fotonya.


Pada hitungan yang ketiga, Frans tiba-tiba mengganti posisi wajahnya dan mencium pipi Andrea. Adegan itupun tak luput dari tangkapan kamera Andrea.


“Frans! Kau mengagetkanku,” ucap Andrea dengan sedikit kesal sambil mengibas-ibaskan fotonya.


Frans terkekeh melihat gadisnya yang tampak menggemaskan, karena mengerucutkan bibirnya. Frans berniat mengganggu gadisnya lagi.


“ Sayang, bagaimana hasilnya? Harusnya bagus kan? Mengecup pipi kekasihku dengan latar langit merah muda seperti ini, apakah ada yang lebih romantis dari itu?” Frans tertawa bahagia sambil menyentuh pipi Andrea.


“Kau benar, Frans. Fotonya bagus. Langitnya indah, kenapa bisa berwarna merah muda ya? Pemandangan seperti ini sangat langka, Frans! Aku bahkan kelihatan sedikit manis di foto ini,” ucap Andrea penuh kekaguman.


“Kau salah, sayang. Dari sudut pandangku, kau yang membuat langit ini terlihat indah.” Frans mencoba menggoda Andrea.


“Tolong, jangan merayuku seperti itu! Aku bisa serangan jantung karena ucapanmu, Frans.” Andrea tersipu malu.


“Bagaimana jika kita mengambil beberapa foto lagi, Frans?” Andrea nampak tidak sabar untuk mengambil beberapa foto lagi.


“Mari sini! Biarkan aku yang pegang kameranya! Tugasmu hanya menyiapkan senyum terindahmu,” pinta Frans seraya memindahkan kamera dari tangan Andrea ke tangannya. Beberapa gambar berhasil diabadikan.


“Berikan kepadaku kertas fotonya, Frans. Biar aku yang mengibaskannya ke udara,” Andrea langsung mengambil hasil foto mereka.


“Elaine, kita ambil foto sekali lagi ya? Tapi kali ini aku akan menggunakan ponselku. Aku mau memasangnya di media sosialku. Kau tidak keberatan kan?” Frans tidak sabar ingin memamerkan pujaan hatinya.


“Aku tidak keberatan,” kata gadis itu sambil membiarkan kekasihnya mengambil gambar mereka dengan ponsel.


“Elaine, sepertinya bianglalanya bergerak lagi. Sebentar lagi kita akan turun. Masukkan kembali kameranya! Perhatikan juga sekelilingmu, jangan sampai ada yang tertinggal,” ucap Frans seraya melihat ke sekeliling untuk memastikan tidak ada yang tercecer.


Frans menemukan sebuah kertas foto terjatuh di dekat kaki Andrea. Dia mengambilnya dan hendak menyerahkannya kepada Andrea. Namun, ia mengurungkan niatnya saat mengetahui gambar foto itu. Ia segera memasukkan foto itu ke dalam saku celananya tanpa sepengetahuan Andrea.


Kini, laki-laki itu merasa gelisah. Foto itu merusak suasana hatinya dan merenggut kedamaian serta kebahagaiaan yang baru saja dirasakannya tadi.


Andrea tidak menyadari apa yang sedang terjadi. Gadis itu masih dengan santainya menikmati pemandangan di sekitarnya, dengan senyum tersungging di bibirnya.


Setelah puas bermain seharian, Frans mengajak Andrea untuk segera pulang, sebab hari sudah semakin gelap. Selama perjalanan, Andrea mendominasi pembicaraan, sementara Frans berdiam diri. Laki-laki itu terlihat gelisah dan memikirkan sesuatu.


“Frans, sayang, apa kau baik-baik saja? Apakah ada yang mengganggu pikiranmu?” Andrea merasakan perubahan sikap Frans.


“Hmm. Aku baik-baik saja. Tidak ada apa-apa,” ucap Frans sambil tersenyum simpul.


“Maaf, apakah aku terlalu banyak bicara? Kamu pasti bosan mendengar ceritaku,” ucap Andrea menduga-duga penyebab perubahan sikap Frans.


Frans tidak berniat untuk menanggapi ucapan Andrea. Laki-laki itu masih saja sibuk dengan pikirannya sendiri, hingga ia memutuskan untuk mengatakan sesuatu kepada gadisnya.


“Sayang, bolehkah aku bertanya?” Frans menunjukkan raut wajah yang serius.


“Bertanyalah!” Andrea berbicara sambil menganggukkan kepala tanda memberikan kesempatan kepada Frans.


“Apakah kau pernah mencintai seseorang sebelum aku?” Frans berharap Andrea jujur padanya.


Andrea diam. Ekspresi wajah gadis itu berubah. Gadis itu nampak berpikir, seperti menimbang-nimbang sesuatu.


“Frans, aku…… Kenapa tiba-tiba kau menanyakan ini? Bisakah kita membicarakan hal yang lain?” Andrea berbicara dengan nada khawatir.


“Sayang, aku berhak tahu. Aku mohon padamu, jangan pernah tutupi apapun. Kau tidak perlu takut untuk berbicara jujur.” Frans mendesak Andrea untuk berbicara.


“Baiklah, Frans! Aku akan mengatakannya, tapi aku mohon jangan marah padaku dan jangan tinggalkan aku,” tutur Andrea sambil mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan percakapannya dengan Frans.


“Katakanlah sayang! Aku tidak akan marah. Aku selalu percaya padamu,” kata Frans sambil memegang tangan Andrea.


“Aku memang pernah jatuh cinta dengan seorang laki-laki. Sejujurnya, aku sulit membuka hati untuk laki-laki lain karena aku begitu mencintai laki-laki itu. Dia adalah cinta pertamaku. Tetapi.... sekarang aku sudah memutuskan bahwa aku akan melupakan laki-laki itu dan memilih untuk mencintaimu dengan seluruh cinta yang aku punya. Aku mohon jangan marah, Frans.” Andrea merasa cemas sekarang.


“Apakah laki-laki itu mencintaimu?” Frans mencoba mencari tahu lebih dalam.


“Tidak! Dia tidak pernah mencintaiku. Dia………. selalu memilih wanita lain.” Andrea berbicara tanpa ekspresi.


“Apakah kamu masih mencintainya?” Frans tidak berani menatap gadisnya sekarang.


“Aku....... tidak tahu, Frans. Aku tidak tahu apa yang aku rasakan sekarang.” Gadis itu menghela napasnya dengan berat.


Keheningan menyusup di antara keduanya. Andrea takut semakin banyak berbicara, ia akan semakin menyakiti hati kekasihnya. Sementara itu, Frans terlihat berpikir keras sekarang.


“Frans, dulu aku sangat mencintainya. Aku menanti cintanya seperti kamu yang menanti cintaku. Tapi, sekarang aku sudah memilihmu. Maukah kamu membantuku untuk melupakannya? Aku benar-benar ingin melupakannya. Aku ingin memenuhi hari-hari ke depanku dengan kenangan tentang kita. Aku sungguh-sungguh ingin bahagia bersamamu.” Andrea terlihat serius dengan perkataannya.


Frans hanya diam saat mendengar semua penjelasan Andrea. Andrea sendiri tidak mampu menebak apa yang sedang dipikirkan Frans saat ini.


“Frans, maafkan aku. Aku tahu kamu pasti kecewa, karena aku tidak pernah menceritakan hal ini padamu sebelumnya.” Andrea menyentuh pundak Frans.


“Elaine, dengarkan aku baik-baik,” ucap Frans sambil menepikan mobilnya.


“Elaine, Aku tidak peduli kau akan menganggapku egois atau apa. Mulai saat ini dan seterusnya, aku bersumpah, aku tidak akan pernah melepaskanmu. Sekalipun suatu saat nanti, kau akan merengek dan memohon padaku untuk meninggalkanmu, Aku tidak akan pernah melakukannya. Aku berjanji Elaine, aku akan berusaha keras untuk membuatmu mencintaiku. Hanya akan ada namaku di pikiran dan hatimu. Aku akan membuatmu selalu merasakan hati ini hingga kau tidak tahu bagaimana cara menghentikan perasaan itu.” Frans menggenggam tangan Andrea dan menaruhnya di dadanya.


“Kau milikku, sayang. Hanya untukku,” gumam Frans di dalam hatinya.


-------


Feedback-nya jangan lupa! Happy reading!