More Than Words

More Than Words
Jealous



“Good morning, team. I have to say something. Ini adalah latihan terakhir kita. Aku ingin mengucapkan terima kasih atas kerja keras dan bantuan kalian selama ini.” Jericho mengapresiasi timnya.


“Kita akan bertemu kembali dua hari lagi untuk gladi dan aku harap no human error saat gladi bersih dan hari H nanti. So, maksimalkan latihan hari ini supaya kita bisa memberikan yang terbaik bagi penonton. Meski ini adalah ujian yang sesungguhnya bagiku, tapi anggaplah konser besok sebagai sebuah perayaan bagi kebersamaan kita. Jadikan konser itu milik kita semua!” Jericho berbicara dengan penuh kharisma kepada seluruh anggota orchestra yang hadir.


Tiga hari lagi adalah jadwal konser Jericho. Sebentar lagi, dia akan memetik hasil kerja kerasnya selama ini. Dia tahu bahwa semua orang mendukungnya. Dia bangga bisa bekerja sama dengan timnya.


Musik orchestra kembali mengalun. Semua orang di ruangan itu sangat fokus dengan partiturnya masing-masing. Mereka semua memainkan kesepuluh instrumentalia dengan sempurna, tidak terkecuali Andrea. Andrea memainkannya tanpa salah dan sangat indah. Semua orang bisa merasakan bagaimana permainannya yang penuh penghayatan.


Keindahan musik hasil aransemen Jericho membuat beberapa orang yang berada di sekitar hall tertarik untuk menyaksikan permainan mereka. Nampak beberapa laki-laki dan perempuan duduk di bangku audience, menyediakan waktu mereka untuk menonton latihan yang terlihat seperti konser sungguhan itu.


Diantara para penonton yang hadir, terlihat seorang wanita cantik terus menerus menatap ke arah conductor yang berdiri di tengah panggung dengan penuh kekaguman. Wanita itu nampak tertarik dengan conductor muda itu. Ia menonton hingga seluruh instrumentalia selesai dimainkan. Dia dan penonton yang lain pun bersorak memberikan tepuk tangan dengan meriah, tanda apresiasi kepada seluruh tim orchestra.


Seusai memainkan keseluruhan instrumentalia, Jericho memberi waktu kepada timnya untuk beristirahat. Semua orang meninggalkan tempat. Andrea dan Frans memilih istirahat sambil berbincang di belakang panggung, Andrew dan anggota tim yang lain sibuk dengan urusan mereka masing-masing di luar ruangan.


Saat ini, Jericho masih berdiri di atas panggung sembari merapikan partitur-partitur yang ada di depannya. Tidak ada lagi yang berdiri di panggung selain dirinya. Kemudian, ia mendengar langkah kaki seorang wanita yang menggunakan heels berjalan ke arahnya. Dia menoleh kepada sumber suara itu.


“Hai Sayang!” Wanita itu mendekat dan menyapanya.


“Stephanie! Sejak kapan kau di sini?” Jericho tersenyum ke arah Stephanie, wanita yang kemarin tidak sengaja bertemu dengannya di mall bersama Andrea.


“Sejak instrumentalia ke tiga. Sayang, kau tahu tidak? Aku merindukanmu. Kau terlalu fokus pada konser ini sampai mengabaikanku berhari-hari.” Stephanie memegang lengan Jericho sambil bergelayut manja. Dia juga memainkan bibirnya ketika berbicara bermaksud menggoda Jericho.


“Sabar, sayang! Setelah semua ini selesai, aku akan punya banyak waktu untukmu.” Jericho membalas Stephanie sambil mengedipkan sebelah matanya.


“Aku tidak sabar menantikan hari itu.” Stephanie membalas Jericho sambil mengecup bibir Jericho. Kecupan itupun berubah menjadi ciuman yang berlangsung cukup lama.


Jericho tidak menyadari bahwa saat adegan ciuman itu terjadi, Andrea tiba-tiba muncul dari balik panggung untuk menemuinya.


“J, aku punya………” Andrea tidak melanjutkan kembali kata-katanya.


Andrea cukup kaget dengan adegan yang sedang terjadi di depan matanya. Seketika matanya berkaca-kaca. Andrea terpaku. Tidak bisa beranjak dari tempatnya. Dia merasa serbah salah. Jika dia langsung pergi, dia takut Jericho menyadari keberadaannya. Jika dia tidak pergi hatinya merasa sakit melihat adegan itu.


Tak lama kemudian, Jericho membuka mata. Manik matanya menangkap sosok Andrea yang berdiri segaris lurus dengannya namun dengan jarak yang cukup jauh. Diapun langsung menghentikan aksinya bersama Stephanie.


“An! Sorry.” Jericho merasa tak enak karena seharusnya dia tidak melakukan seperti itu di tempat umum.


“No, no, no, J. Sorry for disturbing you. Aku tidak tahu bahwa kau sedang…… sibuk. Nanti saja aku akan menemuimu. Silahkan lanjutkan!” Andrea berbalik badan hendak kembali ke belakang panggung.


“An, Stephanie baru saja akan pergi. Kita bisa bicara sekarang.” Jericho memutuskan sepihak tanpa memikirkan Stephanie yang sebenarnya masih ingin bersama dengannya. Jericho memberi kode kepada Stephanie untuk meninggalkan hall.


“See you, J. Bye, Andrea.” Stephanie pergi meninggalkan mereka berdua.


Andrea nampak menenangkan dirinya sebentar sebelum membalikkan badan dan menatap wajah Jericho. Dia sudah terbiasa menahan air matanya akhir-akhir ini. Dengan cepat Andrea menetralkan perasaannya kembali.


“Ada apa An?” Jericho berkata kepada Andrea dengan sedikit canggung.


“Maaf, J. Aku tidak tahu bahwa ada kekasihmu. Aku sebenarnya ingin menyerahkan sesuatu untukmu.” Andrea menunjukkan sesuatu yang sejak tadi ia pegang. Sebuah kertas dengan beberapa goresan tulisan di dalamnya.


“Apa ini?” Jericho bertanya kepada Andrea.


“Aku hanya ingin berterima kasih atas hadiahmu semalam. Aku sudah mencoba gaun itu dan aku menyukainya. Aku tidak bisa memberikan apa-apa untuk membalasmu. Aku hanya memiliki ide untuk menulis sebuah puisi yang berkaitan dengan tema konsermu. Mungkin kamu bisa meminta orang menjadikan ini semacam poster, lalu meletakkannya dalam sebuah pigura, dan menjadikannya sebagai souvenir bagi penonton yang hadir.” Andrea menyampaikan maksudnya.


“Kau tidak perlu repot-repot An. Akulah yang seharusnya berterima kasih.” Jericho menambahkan.


“Aku tidak merasa repot. Lagi pula kau sendiri mengatakan bahwa konser ini milik kita. Mungkin ini caraku menjadikan konser ini milikku. Aku dan puisiku ikut meninggalkan jejak di hati penonton,” balas Andrea kepada J.


“Kapan kau membuat puisi ini?” Jericho kembali bertanya.


“Baru saja beberapa menit yang lalu di belakang panggung,” jawab Andrea.


“Baiklah. Seperti biasa, kau selalu memiliki ide yang unik, An. Aku akan melakukan seperti yang kau katakan. Terima kasih banyak Andrea.” Jericho tersenyum sambil mengangkat kertas yang baru saja diberikan Andrea. Ia kemudian memasukkan kertas itu ke dalam saku celananya.


-----------


Frans sempat melihat perubahan wajah Andrea setelah menemui Jericho. Ia menanyakan kepada Andrea tentang apa yang terjadi. Andrea hanya mengatakan bahwa tiba-tiba ia tidak enak badan. Frans menyentuh kening dan pipi Andrea untuk mengecek suhu tubuhnya.


Frans sempat menawarkan kepada Andrea untuk mengantarnya pulang. Andrea mati-matian menolaknya. Frans yang masih khawatir tak henti-hentinya memegang tangan teman kecilnya itu, sementara Andrea yang merasa itu berlebihan berusaha melepas tangannya. Frans menggenggam cukup kuat, Andrea pun hanya bisa pasrah melihat tangannya terus digenggam oleh Frans.


Kejadian itu dilihat oleh Jericho, seketika raut wajah Jericho berubah. Ia seperti tidak ingin melihat mereka berdua berdekatan. Jericho tiba-tiba mengumumkan bahwa waktu istirahat telah usai. Padahal seharusnya masih ada lima menit lagi.


Jericho memanggil semua anggota orchestra untuk berkumpul dan melanjutkan latihan kembali. Mereka berniat melatih kesepuluh lagu itu sekali lagi.


Adegan ciuman yang dilakukan Jericho dan Stephanie masih membekas diingatan Andrea. Saat ini, Andrea kehilangan konsentrasinya. Ia hanya ingin segera menyelesaikan latihan dan bergegas pulang. Ia butuh menangis sekarang. Menangis dalam kesendirian seperti yang biasa dilakukannya.


“Andrea!” Jericho membentak Andrea, memecahkan lamunannya tentang adegan ciuman Jericho dan Stephanie tadi.


“Ada apa denganmu, An? Kenapa kau tidak bermain bagus sekarang? Sesi pertama sudah bagus, kenapa sekarang menurun. Kau harusnya konsisten, jangan moody! ” Jericho tampak kesal dengan Andrea. Ia menegurnya dengan nada tinggi.


“Maaf J, aku tiba-tiba tidak enak badan.” Andrea menjawab Jericho tanpa menatap matanya.


“Jangan kasar padanya, J. Kau tidak sepantasnya berbicara seperti itu.” Frans merasa tidak terima dengan sikap Jericho.


“Kau jangan ikut campur Frans, aku tahu perasaanmu padanya. Aku hanya ingin agar kita semua yang sudah berkomitmen untuk menyukseskan konser besok, bersikap profesional.” Jericho membantah Frans dengan nada yang lebih tinggi.


“Maafkan aku J. Aku berjanji aku akan fokus kali ini. Kita ulangi lagi ya?” Andrea mencoba melapangkan hati menerima kemarahan Jericho.


“Kau tidak seharusnya meminta maaf, Elaine. Seprofesionalnya seorang artist, jika sedang dalam kondisi yang tidak prima, pasti tidak bisa tampil dengan maksimal juga. Lagi pula ini masih latihan. Jika salah bisa diulang. Sepertinya laki-laki ini harus belajar lagi untuk berbicara dengan sopan terutama kepada wanita yang menolongnya.” Frans kembali emosi saat mendengar Andrea meminta maaf kepada Jericho.


“Cukup Frans! Kita ulang lagi saja. Dan kau J, tidak perlu berlebihan. Ini masih latihan.” Andrew berusaha menghentikan keributan itu dan menengahi pembicaraan supaya tidak terjadi perdebatan lagi.


Andrea mengangguk. Frans kembali ke tempatnya, namun ia masih mengkhawatirkan Andrea yang tadi mengaku tidak enak badan. Frans berusaha dewasa dan mengalah, meski rasanya ia ingin menonjok Jericho karena sempat berbicara kasar kepada Elainenya.


Latihan selesai dengan baik. Frans langsung menggandeng tangan Andrea dan mengajaknya kembali ke apartment untuk beristirahat.


Jericho melihat mereka berdua pergi tanpa berpamitan. Ada sedikit rasa bersalah di hatinya karena telah membentak Andrea di depan umum. Dia juga tidak mengerti kenapa dia bisa bersikap berlebihan seperti itu.


Jericho masih duduk sendiri di tengah panggung. Semua orang sudah pergi meninggalkan hall. Tiba-tiba dia teringat akan puisi yang diberikan Andrea kepadanya. Ia pun membacanya.


*********************


 --WANITA DALAM PENANTIAN--


 


Dari pelupuk mataku terpancar


Resah hati makin menggelegar


Keheningan yang kian menghitam


merengkuhku tanpa peringatan


Lelah….


Aku menapaki jalan berbatu tak berarah


mengenang kekasih yang hilang


Pergi jauh bagai tertelan


Meratap…..


Kembali aku meratap


Rasa ini tak pernah terungkap


Bibir ini tak mampu berucap


Aku mendesak cinta untuk memberi jawab


Masihkah ada belaian asmara di sana?


Saat yang tersisa hanya bayangan masa lalu


Dan sedikit kilasan memori waktu itu


Dalam rindu yang mendalam


Dari ujung senja nan muram


Dalam bias masa lalu yang kian memudar


Cinta yang tak bertuan hilang harapan


Sendiri ....


Wanita ini menanti dalam sunyi


Kekasih pergi meninggalkan pemilik hati


yang hanya bisa diam dan menyesali


Kubiarkan kisah ini menuntunku


Kuhempas asaku ke udara


biar ringan ragaku saat menantimu


Sampai hati jenuh merana


 


A.E.W


 


***********************


“Maafkan aku, Andrea.” Jericho mengucapkannya dengan penuh penyesalan.


Ia merasakan sesuatu ketika membaca puisi itu. Entah mengapa, ia merasa puisi itu sangat mengena di hatinya. Rasa bersalahnya pada Andrea semakin mengusik.


Tidak semestinya ia membentak seorang wanita yang lembut hatinya, hingga bisa membuat sebuah puisi seindah ini. Jericho mengutuki dirinya yang tadi tidak bisa menahan emosinya. Dia masih belum paham kenapa dia harus berbicara kasar seperti tadi.


--------------------------


Hai Readers. Jangan lupa tinggalkan jejakmu ya. Thanks and Enjoy!