
“Kenapa kau kembali lagi? Dimana Fergie?” Andrea bertanya kepada Jericho yang tiba-tiba muncul lagi di hadapannya, setelah tadi berpamitan pulang bersama sahabatnya.
“Dia sudah berada di apartemennya. Aku memang ingin mengantarmu pulang malam ini,” ucap Jericho sambil sesekali memandang wajah Andrea yang duduk di sampingnya.
“Sebetulnya kamu tidak perlu menyusahkan dirimu seperti ini. Aku sudah biasa pergi dan pulang sendiri,” balas Andrea yang tidak ingin merepotkan Jericho.
“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Bagaimana jika kita berbicara sambil menikmati seporsi waffle denganvanilla ice cream di atasnya? Rasanya sudah lama sekali aku tidak memakan makanan itu,” pinta Jericho kepada Andrea.
“Waffle dengan vanilla ice cream, malam-malam begini? Kamu yakin? Apa tidak sebaiknya kita pergi di lain waktu? Kita mungkin bisa mengajak Norah dan Fergie pergi bersama, pasti akan lebih seru,” jawab Andrea berusaha menolak permintaan Jericho.
“Aku ingin berbicara berdua denganmu saja. Aku mohon An,” kata Jericho dengan wajah memelas.
Andrea melihat ekspresi Jericho saat memohon kepadanya. Sesuatu menggelitik hatinya.
“Baiklah! Tapi, hilangkan dulu ekspresi aneh itu dari wajahmu,” jawab Andrea sambil menahan tawa karena melihat wajah Jericho.
“Memangnya ada apa dengan wajahku?” Jericho mengerutkan keningnya.
"Wajahmu seperti anak anjing,” jawab Andrea sambil menutup mulutnya menahan tawa yang hampir saja lolos.
Jericho kembali menatap Andrea. Kali ini tatapannya lebih tajam dari sebelumnya. Meski ia tidak terima dengan ucapan Andrea, namun laki-laki itu merasa senang karena akhirnya ia bisa melihat Andrea tertawa kembali. Laki-laki itu kemudian ikut menyunggingkan senyumnya.
--------------------
“Rasanya sudah lama sekali,” ucap Jericho saat mendapati seporsi waffle dengan vanilla ice cream terhidang di depannya.
Andrea menggelengkan kepala saat melihat tingkah Jericho. Laki-laki itu seperti seorang anak yang langsung kegirangan karena mendapatkan makanan kesukaannya.
“Apa kamu menyukainya?” Jericho menatap Andrea yang sudah mengunyah waffle itu.
“Suka! Siapa yang bisa menolak makanan seenak ini?” Andrea menjawab sambil terus memasukkan potongan-potongan waffle ke dalam mulutnya.
Mereka berdua menyantap waffle itu sambil berbincang ringan. Andrea terlihat sangat ceria malam ini. Jericho membuatnya tertawa berkali-kali dengan kisah-kisah lucu yang pernah ia alami di masa lalu. Laki-laki itu menceritakan bagaimana ia pernah mengira bahwa Frans menyukai sesama jenis, karena tidak pernah berpacaran. Ia juga menceritakan kebodohan-kebodohannya yang lain kepada Andrea.
Tidak seperti pertemuan-pertemuan mereka sebelumnya, gadis itu benar-benar bisa tertawa terpingkal-pingkal, seperti tidak memiliki beban kali ini. Jericho nampaknya berhasil mengembalikan keceriaan gadis itu.
Pembicaraan yang asyik itu membuat Andrea tidak memperhatikan bahwa ada sisa ice cream menempel di mulutnya. Jericho dengan sigap mengusap bibir Andrea yang kotor dengan selembar tissue. Andrea merona saat Jericho melakukannya. Mereka melanjutkan perbincangan itu hingga makanan mereka habis tak bersisa.
-----------------------
“Oya, tadi kamu mengatakan padaku bahwa kamu ingin membicarakan sesuatu. Apa itu?” Andrea bertanya ketika mereka sudah berada di dalam mobil, hendak melanjutkan perjalanan untuk kembali ke tempat masing-masing.
“Aku dan Fergie, kami hanya berteman. Aku tidak memiliki perasaan apapun lagi padanya. Ku mohon jangan salah paham,” jawab Jericho berusaha menjelaskan kepada Andrea.
“Sekalipun kalian berdua bersama lagi, aku juga tidak akan keberatan. Aku malah berbahagia,” ucap Andrea sambil tersenyum pada Jericho.
Mendengar ucapan terakhir Andrea, Jericho merasa kecewa. Laki-laki itu tidak menjawab. Dia memilih untuk diam dan fokus menyetir.
“J? Kenapa tiba-tiba diam?” Andrea merasakan perubahan sikap Jericho.
“Aku mengenalmu sudah cukup lama, tetapi aku baru menyadari satu hal. Kamu sebenarnya adalah wanita yang paling kejam yang pernah aku temui,” seru Jericho tanpa memandang Andrea.
“Kejam?” Andrea mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti dengan pernyataan Jericho.
“Iya, kejam. Kamu tiba-tiba hadir dalam hidupku, saat aku tidak percaya lagi dengan cinta. Kemudian, kamu membuatku mencintaimu, membuatku melawan semua logika untuk tetap mempertahankan perasaanku padamu, meski aku tahu bahwa kamu akan menikahi laki-laki lain. Sekarang, ketika kamu tahu bahwa aku sebenarnya memiliki kesempatan untuk merebut hatimu, kamu justru berbahagia jika aku memiliki hubungan dengan perempuan lain,” ucap Jericho sambil menggelengkan kepalanya.
“A-aku tidak bermaksud……..” Andrea menghentikan ucapannya. Gadis itu semakin takut salah berbicara.
“Aku hanya mencintaimu Andrea Williams. Aku mencintaimu kemarin, hari ini, dan selamanya. Jangan pernah berpikir bahwa aku bisa mencintai wanita lain,” seru Jericho dengan sungguh-sungguh.
“Aku tahu bahwa aku tidak pernah ada di hatimu. Aku tahu aku mungkin juga tidak pantas untukmu. Tapi aku benar-benar tidak bisa hidup tanpamu. Aku sangat hancur saat kamu memilih Frans dan sekarang aku akan lebih hancur jika kamu menolakku lagi,” imbuh Jericho sambil mengeratkan pegangannya pada kemudi.
“Siapa yang bilang bahwa kamu tidak pernah ada di hatiku?” Andrea berencana mengucapkan kalimat itu di dalam hati, namun entah mengapa kalimat itu lolos saja dari bibir mungilnya.
Jericho langsung menekan pedal remnya secara mendadak. Untung saja tidak ada kendaraan di belakang mereka. Laki-laki itu tertegun menatap Andrea.
“J, kita sedang berada di tengah jalan,” ucap Andrea dengan panik karena Jericho memberhentikan mobil itu cukup lama di tengah jalan.
Jericho tersadar dan segera menepikan mobilnya di pinggir. Laki-laki itu harus berbicara serius dengan gadis yang duduk di sebelahnya ini.
“Yang mana? Yang kita sedang berada di tengah jalan?” Andrea berbicara dengan santai.
“Yang sebelum itu. Jangan pura-pura bodoh atau hilang ingatan sekarang, An.” Jericho mendesak Andrea berbicara.
“Oh, aku ingat. Kamu tentu saja pernah ada di hatiku. Kita berteman cukup lama. Kamu juga menghiburku saat aku berduka karena kepergian Frans,” kilah Andrea sambil meremas-remas ujung pakaiannya karena gugup.
Jericho seketika menjadi lesu. Laki-laki itu merasa kecewa sekali, saat mendengar perkataan Andrea.
“Tidak bisakah kamu memberikan aku kesempatan? Aku tulus mencintaimu, An.” Jericho mengucapkan dengan lirih.
“Aku selalu merasa bahwa perasaanmu padaku sebenarnya adalah sebuah perasaan kagum, bukan cinta.” Andrea tidak berani menatap Jericho.
“Ujilah aku, maka kau akan mengetahuinya.” Laki-laki itu menantang Andrea.
“Kau yakin?” Andrea melirik Jericho.
“Jika aku berhasil melewati ujian yang kau berikan, apa yang akan aku dapatkan?” Jericho menanyakan imbalannya.
“Mintalah apapun yang kamu mau! Selama itu masih dalam batas wajar, aku akan memberikannya.” Sekarang Andrea menatap laki-laki itu dengan tajam.
“Aku rasa memintamu menjadi kekasihku, jika aku mampu melewati ujian itu adalah hal yang wajar. Apa kau bisa menyanggupinya?” Jericho menantang Andrea sekarang.
Cukup lama Andrea berpikir. Laki-laki itu masih menunggu jawaban dari gadis itu dengan sabar.
“Baiklah! Temui aku di bukit cahaya, besok jam sembilan malam! Kita lihat bersama apakah kamu berhasil melewati ujianku,” kata Andrea dengan lugas kepada Jericho.
--------------------
“Kamu baru pulang, An?” Norah melihat Andrea berjalan melewati kamarnya.
“Belum tidur?” Andrea heran karena Norah masih terjaga.
Norah menggelengkan kepalanya dan berkata, “Kamu pergi dengan bos lagi?”
“Iya. Dia mengajakku makan waffle.” Andrea langsung melamun membayangkan percakapan terakhirnya dengan Jericho.
“Apa yang kamu pikirkan?” Norah menyentuh pundak Andrea dan menatap wajah sahabatnya dengan lembut.
“Bolehkah aku masuk ke dalam kamarmu? Aku punya sebuah kisah yang panjang untuk diceritakan,” ucap Andrea kepada Norah.
Norah mengijinkan Andrea masuk ke dalam kamarnya. Andrea dan Norah sama-sama mengambil posisi duduk yang nyaman. Kemudian Andrea memulai ceritanya.
Gadis itu menceritakan semuanya dari awal. Kisah cintanya yang tak sempurna saat masih duduk di bangku Senior High, pertemuannya dengan Jericho di Amerika untuk pertama kali, perasaan Jericho padanya tiga tahun lalu, Fergie yang kelihatannya masih ingin kembali bersama Jericho, hingga percakapannya yang terakhir dengan laki-laki itu.
“Menurutmu apakah salah jika aku mengujinya?” Andrea meminta pendapat Norah.
“Jika itu kata hatimu, lakukanlah! Setiap manusia pasti sulit memberi penilaian secara obyektif, jika itu menyangkut perasaan.” Norah memeluk Andrea, seolah ia ingin menguatkan sahabatnya.
“Sejujurnya, aku juga merasa takut jika dia bisa melewati ujianku. Aku merasa bahwa aku sedang mengkhianati Frans, jika aku menerimanya menjadi kekasihku. Aku sungguh takut, kenangan Frans masih akan membayangi hubungan kami nantinya.” Andrea menyentuh keningnya. Gadis itu sungguh bingung dengan perasaannya.
“Jika kamu takut belum bisa melupakan Frans, kenapa kamu menyetujui untuk memberikan tantangan kepadanya? Bukankah kamu bisa langsung menolaknya?Kamu memberi peluang pada laki-laki itu, padahal kamu belum siap dengan segala konsekuensi dari peluang yang kamu berikan. Bukankah itu kejam?” Norah merasa bahwa Andrea tidak konsisten dengan perasaannya.
Andrea mendengar kata 'kejam' untuk kedua kalinya dari dua orang yang berbeda. Gadis itu semakin kecewa dan tidak mengerti dengan dirinya sendiri sekarang.
“Jawab pertanyaanku dengan jujur! Apakah kamu mencintai Jericho?” Norah ingin Andrea mengenali perasaannya sendiri.
Andrea tidak langsung menjawab. Gadis itu nampak berpikir keras.
"Tidak perlu memikirkan perasaan Frans, Fergie, bahkan perasaan Norah sekalipun yang pernah mengagumi ketampanan bosku itu. Apakah Andrea mencintai Jericho?" Norah menanyakan hal itu dengan intonasi yang sangat tegas.
“Aku…….. ”
---------------------
Selamat membaca! Terima kasih atas dukungan teman-teman selama ini. Jangan pernah jenuh untuk mendukung cerita ini ya! 😊