
Dua orang sahabat sedang duduk di tengah-tengah kafetaria. Mereka sudah memesan makanan dan minumannya beberapa menit yang lalu. Saat ini mereka hanya tinggal menunggu pesanan diantar. Seseorang di antara mereka terlihat sangat menikmati membaca sebuah buku sastra, sementara yang lain asyik dengan lamunannya sendiri.
“Norah! Norah!” Andrea melambaikan tangannya di depan mata Norah.
“Ah, An! Kau mengagetkanku,” ucap Norah sambil meletakkan tangannya di dada.
“Aku memperhatikanmu dari tadi. Hari ini kamu sering melamun sambil senyum-senyum sendiri. Memangnya apa yang kamu pikirkan?” Andrea bertanya penasaran melihat keanehan sikap sahabatnya itu.
“Andrea, andai kau tahu?” Norah tersenyum dan melamun kembali.
“Norah! Aku bukan peramal yang bisa membaca pikiranmu,” balas Andrea sambil menutup bukunya.
“Tebak saja! Tidak sulit menebak ekspresiku,” kata Norah dengan mata berbinar seperti anak-anak yang sedang berharap temannya akan ikut bermain bersamanya.
“Kau bertemu laki-laki tampan,” jawab Andrea asal.
“Kau tahu? Ah, ternyata benar kata daddy, ekspresiku itu mudah sekali ditebak,” ucap Norah sambil menghentakkan kakinya.
“Memangnya bertemu dimana?” Andrea melanjutkan percakapan mereka.
“Kau ingat tidak? Aku pernah mengatakan padamu aku bertemu seseorang di taman dekat asrama kita. Aku merasa pernah bertemu dengan dia sebelumnya. Dia orang yang menabrakku di depan gedung pertunjukan saat konser Frans diadakan. Kemarin, aku bertemu dengannya lagi dan kau tahu siapa dia?” Norah menjeda ucapannya, menunggu jawaban Andrea.
Andrea mengerutkan keningnya, sementara matanya terus menatap sahabatnya dengan tajam. Gadis itu memikirkan pertanyaan yang diutarakan padanya.
“Bosmu?” Andrea tidak terlalu yakin dengan jawabannya.
“K-kau, bagaimana bisa kau mengetahuinya? Memang susah berhadapan dengan mahasiswi pintar sepertimu,” balas Norah sambil menepuk dahinya.
“Sungguh, dia bosmu?” Andrea ingin memastikan kebenarannya.
Percakapan mereka terjeda saat melihat pelayan kafetaria mengantarkan pesanan mereka. Andrea dan Norah kini fokus dengan makanan yang ada di depan mata mereka.
“Iya, dan kau tahu dia benar-benar tampan, An. Kamu harus melihatnya!” Norah membayangkan wajah bosnya itu.
“Semua laki-laki itu tampan Norah,”jawab Andrea dengan santai.
“Tunggu! Ceritakan dulu bagaimana kau bisa berpikir bahwa ia adalah bosku?” Norah berbicara sambil menyuapkan spageti yang telah ia pesan ke dalam mulutnya.
“Aku hanya asal menebak. Lagi pula selama kita berada di kota ini, kegiatanmu hanya dua, pergi ke kampus atau pergi bekerja. Jika kamu bertemu dengan laki-laki itu di kampus, aku pasti langsung mengetahuinya karena kita sering bersama. Satu-satunya kemungkinan hanya di tempat kerja,” ucap Andrea menjelaskan logika dibalik jawabannya.
“Tapi bagaimana kamu bisa tahu itu bosku?Di tempat kerjaku hampir semua laki-laki. Kenapa kamu tidak menebak salah satu dari mereka?” Norah semakin penasaran.
“Karena aku yang mengantarkanmu melamar pekerjaan. Saat itu tidak ada laki-laki di sana yang membuatmu melamun sampai seperti ini. Waktu itu juga aku tahu bahwa bosmu sedang tidak di tempat. Beberapa kali aku ke sana juga, aku mendengar teman-temanmu mengatakan bahwa ia belum kembali. Jadi, aku berpikir mungkin sekarang dia sudah kembali dan kamu bertemu dengannya,” imbuh Andrea sambil menuangkan lada di dalam semangkuk sup ayam pesanannya.
“An, kau memang jenius. Seandainya aku bisa memindahkan seperempat isi kepalamu ke kepalaku?” Norah menggeleng-gelengkan kepalanya karena kagum dengan logika berpikir sahabatnya.
“Sekalipun itu sungguh bisa dilakukan, aku tidak akan mau melakukannya,” jawab Andrea sambil menertawakan sahabatnya.
Mereka berdua melanjutkan kegiatan makan mereka. Kedua gadis itu tidak terlalu banyak berbicara lagi. Mereka fokus menghabiskan makanan yang ada di hadapan mereka.
“An, apakah kamu libur kerja hari ini?” Norah bertanya tidak jelas, karena ia berbicara sambil mengelap mulutnya.
“Iya, memangnya kenapa?” Andrea membalas singkat lalu menyesap minumannya.
“Apa rencanamu hari ini?” Norah melanjutkan lagi pembicaraan mereka
“Duduk sambil membaca buku di perpustakaan sampai malam,” balas Andrea sambil membuka bukunya kembali.
“An, maukah kau menemaniku belanja baju di outlet dekat kantorku nanti malam? Kau jemput aku di toko musik. Bagaimana, kau mau kan?” Norah memasang tampang memelas.
“Malas,” ucap Andrea sambil memutar bola matanya.
“An, Please? Aku butuh pakaian baru. Siapa tahu bosku akan tertarik padaku?” Norah memegang tangan Andrea.
“Iya, Baiklah! Lepaskan tanganmu dan hentikan memandangku dengan tatapan seperti itu!” Andrea menaruh tangannya menutupi kedua mata Norah.
“I love you Andrea,” ucap Norah sambil tersenyum bahagia.
------------------------------
Seorang laki-laki nampak duduk di dekat panggung kecil, yang berada di tengah-tengah ruangan sebuah toko musik. Laki-laki itu mencoba mencocokkan nada demi nada pada setiap dawai, yang melekat di tubuh cello miliknya. Beberapa kali ia mencoba menggesek cello itu sambil telinganya memastikan ketepatan nada yang keluar dari hasil gesekannya. Beberapa Karyawan terlihat mengagumi kemampuannya, tidak terkecuali Norah.
“Ray, bos kita ini keren sekali ya?” Norah menatap Jericho penuh kekaguman.
“Dia itu musisi yang berbisnis. Bisnis ini hanya sampingan,” jawab Ray dengan penuh kebanggaan karena bisa mengetahui beberapa informasi tentang bosnya.
“Pantas saja, auranya benar-benar berbeda,” ucap Norah sambil terus menatap Jericho.
Jericho telah mencocokkan semua nada dengan sempurna. Kini pria itu mulai mencoba memainkan sebuah lagu. Meski Ia tidak terbiasa memainkan cello, namun karena cello dan biola masih serumpun, laki-laki itu tidak terlalu kesulitan memainkannya. Jericho memainkan sebuah lagu yang dipopulerkan oleh Frank Sinatra, dengan judul 'My Way'.
Seketika atmosfer di toko musik itu berubah. Jericho menghayati permainannya. Setiap nada yang keluar dari dawai cellonya membentuk sebuah simfoni yang indah. Laki-laki itu bukan hanya sekadar membunyikan cellonya, tetapi juga memainkannya dengan dinamika, sehingga lagu itu dapat dipresentasikan dengan sangat kuat dan sempurna.
Beberapa karyawan yang mengetahui lagunya, menyanyi dengan setengah suara mengiringi permainan laki-laki itu. Beberapa menutup matanya, memilih menikmati dalam kegelapan.
Banyak karyawan menantikan saat-saat seperti ini. Saat di mana bosnya memainkan salah satu alat musik yang ada di toko itu. Mereka menganggap momen seperti ini sebagai sebuah kemewahan yang didapat dengan cuma-cuma.
Permainannya telah selesai. Seorang perempuan yang belum terlalu lama masuk ke dalam toko musik itu bertepuk tangan. Wanita itu sengaja berdiri di dekat pintu karena tidak mau mengganggu permainan laki-laki itu.
“Fergie?” Jericho memandang wanita itu dengan terkejut.
“Kau masih sama dengan Jericho ku yang dulu. Selalu mengagumkan,” ucap Fergie dengan penuh kebanggaan karena pernah memiliki laki-laki itu dalam hidupnya dulu.
Jericho meletakkan kembali cello itu ke tempatnya semula. Kemudian ia mengajak Fergie untuk masuk ke dalam ruangannya. Laki-laki itu merasa tidak nyaman jika berbicara dengan Fergie sambil diperhatikan oleh karyawannya yang lain.
“Siapa wanita itu?” Norah bertanya di dalam hatinya.
-----------
“An, kau sudah tiba?” Norah melihat Andrea baru saja masuk ke dalam toko musik, tempatnya bekerja.
“Aku datang lebih awal karena sudah bosan di perpustakaan,” kata Andrea.
“Masih setengah jam lagi, tunggulah di sini,” Norah menunjuk sebuah sofa di pojok ruangan.
Andrea menuruti perkataan Norah. Ia duduk dengan tenang di sofa itu. Sepuluh menit berlalu, gadis itu nampak sangat bosan sekarang. Andrea mulai berdiri dan berkeliling toko. Ia juga menyapa beberapa karyawan yang ia jumpai di toko dan nampak sesekali bertanya kepada mereka.
Mata gadis itu memandang cello yang masih berada pada tempatnya. Sesungguhnya ia ingin menyentuhnya. Hatinya mendorong, tetapi nalarnya menolak.
“Apakah kamu bisa memainkannya? Aku memperhatikan sepertinya kamu tertarik dengan cello itu. Setiap kali kamu berkunjung ke tempat ini, kamu pasti melihatnya dengan tatapan yang berbeda.” Ray berbicara sambil berjalan mendekat ke tempat Andrea berdiri.
Andrea tersenyum simpul dan menggelengkan kepalanya. Gadis itu masih menatap cello di hadapannya dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan.
“Dia mahir Ray. Dia sangat professional memainkan cellonya,” ucap Norah memberi tahu laki-laki itu.
“Baru saja bos kami mencocokkan nadanya. Kalau kamu mau coba, cobalah!” Ray memberi ijin kepada Andrea.
Gadis itu mulai berpikir ulang. Ia tidak bisa menolak dorongan dalam hatinya yang terus memaksa untuk menyentuh dan memainkan alat musik itu. Sedikit demi sedikit pertahanannya mulai runtuh.
“ Bolehkah?” Andrea bertanya ragu-ragu.
“Mainkan, An! Kamu harus mencobanya. Jangan menghukum dirimu dengan berpura-pura jadi orang lain untuk melupakannya,” kata Norah sambil menyentuh pundak sahabatnya.
Gadis itu menyentuh cello itu. Dengan penuh pertimbangan ia mengambil dan memeluknya. Sudah lama ia tidak memainkan alat musik ini.
Andrea mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang masih ada dalam dirinya. Ia menutup mata dan mulai menggesek cellonya. Gadis itu memainkan sebuah lagu berjudul ‘Be The Man’ yang dipopulerkan oleh Celine Dion.
---------
Suara permainan cello Andrea terdengar hingga ke ruangan kantor Jericho. Laki-laki itu mengangkat tangannya untuk menghentikan Fergie berbicara. Ia mencoba mendengar suara yang samar-samar menggema dari balik pintunya.
“Ada apa J?” Fergie bertanya penasaran.
Jericho tidak langsung menjawab. Laki-laki itu merasakan jantungnya berdetak dengan aneh. Detakan yang sudah lama tidak ia rasakan. Detakan yang ikut menghilang saat ia tidak lagi memiliki kesempatan bertemu dengan gadis pujaan hatinya. Perempuan yang ia cintai dengan begitu dalam dan masih ia tunggu hingga kini, meski tahu gadis itu telah menjadi milik orang lain.
Saat ini, ia merasakan sebuah perasaan yang tidak asing. Perasaan yang bersumber dari masa lalu seolah bangkit kembali, menyapanya di masa kini. Perasaan itu muncul saat mendengarkan permainan cello itu. Laki-laki itu sangat penasaran dengan orang yang memainkannya sekarang.
“Tunggulah sebentar! Aku harus memastikan sesuatu,” ucap Jericho meninggalkan Fergie.
Fergie tidak menuruti perkataan Jericho. Ia berjalan di belakang laki-laki itu. Ia juga penasaran dengan apa yang ingin dipastikan oleh Jericho.
Jericho keluar dari ruangannya. Ia melihat sosok seorang wanita sedang duduk sambil memainkan cellonya. Ia mengenal betul perawakan wanita itu.
Jantungnya berdetak semakin kencang. Nafasnya memburu seperti habis berlari-lari. Laki-laki itu tidak percaya dengan matanya. Ia tahu persis siapa wanita itu sebab ia sangat mengenalnya.
“ My Andrea........” Jericho berucap di dalam hatinya.
------------------
Halo all. Saya sarankan bacalah part ini sambil mendengarkan lagu Celine Dion yang berjudul 'Be The Man '. Semoga kalian dapat feel-nya ya guys.
Selamat membaca! Jangan lupa dukung cerita ini!