More Than Words

More Than Words
A Diversion



“Kamu kenapa, An? Pagi-pagi sudah melamun.” Norah menepuk pundak Andrea, menyadarkan gadis itu dari lamunannya.


“Aku agak bosan, Rah. Aku sedang berpikir, mungkin aku mau mencari kerja yang part-time saja, supaya bisa mengisi waktu luangku,” jawab Andrea.


“Aku juga mau, kalau ada. Hitung-hitung bisa menambah uang saku. Bendahara di rumahku agak susah dirayu, kalau aku minta kiriman uang tambahan,” ucap Norah sambil membayangkan ibunya yang baru saja memarahinya beberapa jam yang lalu.


“Lagi pula, kamu baru tinggal tiga hari di sini, sudah minta uang lagi. Itu keterlaluan borosnya, sayang,” kata Andrea sambil menepuk dahinya.


“Kamu kan tahu, aku hanya bisa tidur jika aku merasa nyaman. Kamar asrama kita seperti kamar rumah sakit. Sangat tidak menarik. Mana mungkin aku bisa tidur kalau kamarnya polos-polos begitu,” balas Norah.


“Ya sudah, sebaiknya kita jalan ke luar hari ini. Siapa tahu kita beruntung bisa dapat kerjaan part-time,” ucap Andrea.


“Bagaimana dengan beasiswa kamu, kurang ya buat cover biaya hidup di sini?” Norah bertanya.


“Beasiswanya Cukup. Aku sebenarnya juga punya uang simpanan yang bisa cover, kalau seandainya aku kekurangan. Aku cuma ingin cari tambahan kegiatan, apalagi sekarang kuliah kita belum terlalu padat. Aku butuh kegiatan untuk pengalihan. Aku punya banyak kenangan dengan Frans di kota ini. Kamu tahu kan maksudku?” Andrea mengambil tasnya dan bersiap untuk pergi.


“Aku tahu. Ok, ayo kita jalan! Kita mampir ke kamarku dulu ya, aku mau ambil tas juga,” pinta Norah.


Tiga hari sudah dilalui Andrea dengan baik di kota ini. Gadis itu tidak terlalu sering murung, seperti saat masih berada di London. Sebisa mungkin, Norah selalu menemaninya. Ia tidak pernah membiarkan kawannya merasa sendirian.


Baru beberapa hari tinggal, Andrea dan Norah cukup banyak berkenalan dengan orang baru. Keberadaan orang-orang itu menambah keceriaan bagi kedua gadis itu, terutama bagi Norah yang sudah tidak sabar untuk mendapatkan pacar baru di kota ini.


“An, itu ada lowongan di toko musik,” ucap Norah menunjuk ke salah satu bangunan yang ada di dekat tempat mereka berdiri.


“Mereka butuhnya laki-laki, sayang. Apakah kamu juga harus menggunakan kaca mata sepertiku?” Andrea menyentuh kaca mata yang dikenakannya.


“Coba saja dulu! Kadang mereka suka dengan orang yang berani mencoba. Lagi pula, tadi aku melihat penjaga toko di sana tampan-tampan,” jawab Norah dengan sangat bersemangat.


“Kalau di toko musik, sepertinya aku tidak berminat. Aku pasti langsung teringat Frans lagi. Aku sebaiknya menghindari hal-hal yang identik dengan Frans dulu, sampai aku benar-benar pulih. Tetapi, jika kamu mau coba, silakan! Kita tidak harus kerja di tempat yang sama kan?” Andrea menepuk pundak Norah dan tersenyum kepada kawannya.


“Bagaimana kalau kita jalan saja dulu? Tempat itu mungkin jadi opsi terakhirku. Lagi pula yang diperlukan karyawan laki-laki,” ucap Norah. Kedua gadis itu pun melanjutkan perjalanan mereka, mencari pekerjaan di tempat lain.


---------------------------


Jericho sedang duduk di dalam ruangannya dengan wajah cukup tegang. Matanya membaca laporan keuangan salah satu toko miliknya yang ada di Amsterdam. Ada sesuatu yang ganjil di dalam laporan keuangan yang baru saja diterimanya.


“Ray, kemarilah!” Jericho menyuruh Ray masuk ke dalam ruangannya.


“Kenapa bos?” Ray dan Jericho kini sudah duduk berhadapan.


“Coba kamu baca ini! Bagaimana pendapatmu?” Jericho menyodorkan laporan keuangan yang baru saja diterimanya kepada Ray.


“Bos, ini aneh. Laporan keuangan apa yang seperti ini? Apa mereka salah masukkan data atau tidak bisa buat laporan ya?” Ray menggelengkan kepalanya.


“Kamu yang bodoh saja bisa langsung paham,” canda Jericho kepada Ray.


“Karyawan bodoh yang cukup diandalkan oleh bos yang pintar. Jika sudah begitu, siapa yang sebenarnya paling bodoh?” Ray mengembalikan perkataan Jericho.


“Aku harus ke Amsterdam besok. Ini tidak bisa dibiarkan,” ucap Jericho sambil mengambil ponselnya. Ia segera memesan tiket.


“Sabar bos. Kalau bos pergi, kita semakin kualahan melayani pelanggan. Kita kurang orang di sini,” ucap Ray.


“Memangnya belum ada yang melamar?” Jericho penasaran.


“Ada bos, tetapi perempuan semua,” balas Ray dengan cemberut.


“Apa tidak ada laki-laki yang membutuhkan pekerjaan di kota ini?” Jericho terlihat kebingungan sekarang.


“Bos, sudahlah! Kita terima saja karyawan perempuan. Kalau terlalu annoying, bos kan bisa memecatnya. Aku pikir kita harus selamatkan dulu beberapa hari ke depan karena bos akan pergi kan?” Ray memberikan solusi.


“Kurang lama bos, sekalian saja setahun,” sindir Ray.


“Begini saja! Kamu boleh terima karyawan perempuan, tapi usahakan jangan yang pernah mondar-mandir di toko ini. Terima perempuan yang tidak pernah bertemu denganku,” pinta Jericho.


“Baiklah! Aku rasa itu lebih baik. Paling tidak kita tahu motifnya memang benar-benar ingin bekerja, bukan mau pendekatan ke bos,” balas Ray sambil tertawa.


“Besok pagi, aku akan berangkat. Semoga sore ini kita sudah dapat karyawan baru,” ucap Jericho penuh harap.


“Permisi Mr. Laurent, pesanan cello anda sudah tiba. Mau diletakkan dimana barangnya?” Edward, karyawan Jericho yang lain memberitahu.


“Letakkan saja di atas panggung kecil, yang ada di tengah-tengah ruangan!” Jericho memberikan instruksi.


Jericho, Ray, dan Edward berjalan keluar dari ruangan, untuk melihat cello yang baru saja diantar. Mata Jericho berbinar saat melihat cello yang dipesannya ter-display dengan manis di tengah-tengah toko musik miliknya.


“Bos, mau dijual dengan harga berapa cello ini?” Ray bertanya penasaran.


Jericho menggelengkan kepalanya lalu berkata, “Aku tidak menjualnya. Aku akan mengirimkannya ke London setelah aku kembali dari Amsterdam, sebagai hadiah pernikahan yang terlambat untuk seseorang.”


“Jangan-jangan, kau ditinggal nikah sama gadis pujaanmu ya, bos? Hahahaha,” ucap Ray sambil tertawa puas.


Jericho tidak membalas candaan Ray. Wajahnya berubah menjadi sendu. Pikiran laki-laki itu melayang, membayangkan Frans dan Andrea telah berbahagia saat ini.


“Bos!” Ray menyentuh pundak Jericho.


“Kembalilah bekerja! Jangan banyak bercanda!” Jericho berkata tanpa ekspresi.


----------------------


Sore itu Andrea dan Norah duduk di sebuah bangku yang ada di area taman kecil, di dekat asrama. Mereka mengistirahatkan kaki mereka, setelah cukup lelah berjalan mengelilingi kota demi mencari pekerjaan. Mereka beristirahat sambil menikmati indahnya musim semi.


Pohon-pohon berbunga yang berada di sekitar taman, seakan berlomba-lomba memamerkan keindahannya. Sinar matahari yang hendak bersembunyi, semakin mempermanis suasana sore itu. Banyak orang berlalu-lalang di sekitar tempat di mana kedua gadis itu duduk. Taman itu nampak begitu meriah sore ini.


“Kamu yakin mau kerja di tempat makan? Itu pasti sangat melelahkan,” ucap Norah.


“Aku sudah diterima di sana. Aku tidak bisa mundur sekarang,” balas Andrea sambil tersenyum.


“Kamu yakin An?” Norah memastikan kembali keputusan sahabatnya.


“Semakin sibuk, semakin baik. Bagaimana denganmu?” tanya Andrea.


“Mungkin aku akan melamar di toko musik yang tadi saja. Aku tidak suka berkerja terlalu berat,” ucap Norah sambil memijit-mijit kakinya yang kelelahan.


“Aku akan mencari minuman dulu. Tenggorokanku kering. Kamu mau minum apa? Aku yang akan mentraktirmu,” kata Andrea menawarkan.


“Aku mau soda saja. Maaf, sepertinya kamu harus pergi sendiri. Kakiku masih sakit. Aku malas bergerak,” kata Norah.


Andrea menganggukkan kepalanya. Gadis itu berjalan meninggalkan kawannya menuju ke sebuah kios penjual minuman.


Norah masih duduk di tempatnya. Mata gadis itu memandang orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya. Tanpa sengaja, netra gadis itu menangkap sebuah sosok yang cukup mengundang perhatian. Norah merasa pernah bertemu dengan laki-laki itu, tetapi ia tidak mengingat persis, kapan dan dimana tempatnya.


Matanya mengikuti pergerakan laki-laki itu. Laki-laki itu berjalan semakin dekat dengan posisi dimana ia duduk. Mata mereka berdua pun akhirnya bertemu, namun laki-laki itu segera mengalihkan pandangannya. Norah masih memperhatikan pergerakan laki-laki itu, hingga sosoknya menghilang dari jangkauan matanya.


“Apa yang sedang kamu lihat, nona?” Suara seseorang mengejutkan Norah.


--------------------


Selamat membaca. Jangan lupa vote, comment, like, dan rate ya!