
\-\-Andrea’s PoV-\-
*Dua Minggu Kemudian Pasca Menikah*
“Halo, Frans! Bagaimana kabarmu di sana? Sudah cukup lama aku tidak ke sini. Apa kau merindukanku?” Aku berdiri di depan sebuah batu nisan bertuliskan nama orang yang pernah mengisi hidupku. Aku juga meletakkan bunga Lili putih di sana.
“Aku ingin berterima kasih padamu karena kamu selalu menjagaku selama kamu hidup dan bahkan setelah kamu sudah tenang di atas sana. Sekarang aku sudah punya seorang penjaga baru yang akan membantumu. Dia si pemberi gelang itu, laki-laki yang kamu inginkan untuk menggantikan posisimu sebelum kamu tiada. Dia sudah menikahiku dan aku sangat mencintainya Frans.” ucapku sambil meneteskan air mata.
“Laki-laki itu sangat tidak sabar. Dia sepertinya takut kehilanganku lagi, hingga menyiapkan semuanya begitu cepat. Dia bahkan menyuruhku untuk cuti kuliah selama satu semester demi pernikahan ini. Kau tahu? Dia bahkan mengatakan padaku bahwa dia sudah menungguku sejak lama.” Aku sangat terharu saat mengingat suamiku harus menerima kenyataan bahwa aku akan menikah dengan Frans dulu dan ia tetap berniat ingin menungguku selamanya.
“Satu hal yang baru aku ketahui setelah menjadi kekasihnya, dia ternyata sangat posesif dan sering terlihat bodoh jika itu menyangkut soal cinta.” Sebuah senyum simpul kusunggingkan di tengah tangisan, saat mengingat betapa malunya aku di hadapan keluargaku dan keluarganya, karena dia salah paham tentang perjodohan itu.
”Oya, nanti malam kami akan menyelenggarakan sebuah konser di sekolah kami dulu. Aku akan memainkan celloku lagi. Aku harap kamu senang mendengarnya dari atas sana,” imbuhku sambil menghapus sisa- sisa air mata yang masih ada.
“Frans, aku akan kembali ke Amerika besok. Mungkin aku tidak bisa ke sini lagi dalam waktu dekat ini. Aku pasti akan selalu merindukanmu. Selamat tinggal Frans,” tuturku seraya melangkah meninggalkan area pemakaman dan hendak menuju ke sekolah lamaku untuk mempersiapkan konser yang hanya tinggal beberapa jam lagi.
---------------
Aku sudah berada di depan sebuah gedung tiga lantai yang sangat familiar. Aku melangkahkan kaki ini menyusuri lorong-lorong yang ada, sambil mengingat peristiwa demi peristiwa yang pernah kualami di sana. Aku mengingat setiap ruangan dimana aku sering menghabiskan waktu untuk mempersiapkan lomba bersama dengan seorang laki-laki yang sekarang telah menjadi suamiku. Pria pertama yang berhasil membuatku jatuh cinta.
Aku terus menyusuri lorong-lorong itu hingga aku berdiri di muka pintu sebuah auditorium sekolah berukuran cukup besar. Aku melihat ke sekeliling, rupanya sudah banyak orang di sana. Aku memperhatikan orang-orang satu demi satu untuk mencari seseorang, hingga aku merasakan dia yang aku cari sedang memelukku dari belakang.
“Kamu sudah di sini? Segeralah ganti pakaianmu! Waktunya sudah semakin sempit.” Jericho tidak kunjung melepaskan pelukannya hingga aku merasa tidak nyaman karena malu. Ada banyak orang di sana dan ia seperti tidak peduli.
“Bagaimana aku bisa mengganti pakaianku, jika kamu memelukku seperti ini?” Aku memutar tubuhku supaya bisa melihat wajahnya. Dia terkekeh mendengar ucapanku.
”Bersiaplah! Waktunya tinggal empat puluh lima menit lagi,” ucap Jericho sambil melepaskan pelukannya dan aku pun bersiap-siap di belakang panggung.
Konser musik itu berjalan dengan sangat megah dan penuh perasaan. Seperti biasa Jericho adalah conductor-nya, sementara tim orchestra kali ini adalah siswa-siswi yang sangat berbakat di sana. Jericho mengaransemen lima lagu. Dari lima lagu itu, aku hanya menampilkan satu. Sebuah instrumentalia karya Astor Piazolla berjudul Libertango.
Aku berkolaborasi dengan salah satu siswa pemain akordeon bernama Salsa untuk mempermanis aransemen Jericho. Gadis itu sungguh sangat cantik dan berbakat. Instrumentalia itu berhasil kami bawakan dengan sempurna, sorak-sorai dari penonton langsung menggema ke seluruh ruangan untuk mengapresiasi penampilan kami. Dari atas panggung ini, aku bisa melihat bahwa mantan pengajar-pengajar kami sangat bangga melihat orang-orang yang pernah dan masih dididiknya mampu menyuguhkan sebuah sajian musik yang berkelas.
--------
“Sayang, apa kamu lelah?” Jericho memelukku begitu kami sudah berada di dalam kamar hendak beristirahat.
“Aku tidak terlalu lelah. Kamu pasti lebih lelah dariku,” balasku padanya.
“Aku senang bisa kembali ke sekolah itu. Terlalu banyak memori di sana,” ucapnya sambil mengecup puncak kepalaku beberapa kali. Ia belum juga melepaskan dekapannya.
“Memori? Dengan siapa?” Aku berpura-pura marah padanya, sebab kami hanyalah teman ketika masih bersekolah di sana.
“Dengan seorang gadis berambut pendek, yang kalau didekati dalam jarak sepuluh centimeter, kamu bisa mencium ada aroma bedak bayi di situ.” Jericho menggodaku sekarang.
“Kau!” Aku mencubitnya beberapa kali dengan sepenuh hati.
“Sayang, aku masih penasaran.” Jericho memelukku kembali setelah aku berhenti mencubitnya.
“Penasaran?” Aku mengerutkan keningku sambil menatap wajahnya.
“Siapa laki-laki yang pernah kau ceritakan dulu. Laki-laki yang menjadi cinta pertamamu. Kau bilang aku mengenalnya,” kata Jericho dengan wajah penuh harap bahwa aku akan memberitahunya.
“Aku sekarang sudah menjadi istrimu. Tidak perlu membahas masa lalu yang tidak penting,” balasku padanya sambil berusaha melepaskan pelukan. Aku sungguh ingin menghindar.
“Aku harus tahu! Sekalipun aku sudah menjadi suamimu, tetapi hubungan kita sebagai sepasang kekasih sangatlah singkat. Aku takut suatu saat kamu akan berpaling dariku jika kamu bertemu dengannya,” jawab Jericho lagi menunjukkan sisi posesifnya. Dia sepertinya tidak akan menyerah sampai aku memberitahunya.
“Aku tidak akan meninggalkanmu, J.” Aku meletakkan kedua tanganku di pipinya.
“Aku berhak tahu, An! Lagi pula, kamu tidak pernah menyatakan bahwa kamu mencintaiku. Kita berdua sama-sama tahu bahwa aku mendapatkanmu karena aku berhasil lulus dari ujian anehmu itu,” tatapan Jericho berubah menjadi sendu.
Sejujurnya aku merasa marah karena ia menyebut ujian cintaku sebagai ujian yang aneh. Aku susah payah memikirkannya sepanjang malam, dan laki-laki ini mengatakan itu adalah sebuah hal yang aneh. Jika saja dia tidak memasang wajah memelas saat ini, pasti aku sudah mencubitnya lagi.
“A-aku……” Sulit sekali mengatakan perasaanku yang sebenarnya kepada laki-laki yang telah sah menjadi suamiku ini.
“Sudahlah! Aku tidak akan memaksamu lagi. Besok pagi kita harus ke bandara. Istirahatlah!” Jericho membaringkan tubuhnya dan tidur membelakangiku. Ia betul-betul marah saat ini. Aku merenung dalam kebimbangan. Apakah aku harus mengatakannya?
“J? Kau sudah tidur?” Aku bertanya padanya setelah lima belas menit kami sama-sama terdiam. Aku sudah merasa bersalah sekarang.
“Jericho! Laki-laki itu adalah kamu.” Aku mengucapkannya dengan bibir yang bergetar. Dia masih memunggungiku.
“J! Aku mencintaimu sejak kita masih sama-sama bersekolah di sana. Aku sakit hati ketika kamu memilih Fergie. Aku merasa kecewa kamu tidak memandangku seperti aku memandangmu waktu itu. Aku mencintaimu dan masih menantimu hingga pertemuan kita di Amerika. Aku juga menerima lamaran Frans dalam kondisi masih menyimpan perasaan padamu. Aku terlalu mencintaimu Jericho Marthen Laurent. Haruskah aku mengatakannya? Tidak bisakah kamu merasakannya?” Jericho tiba-tiba membalikkan badannya melihatku.
Aku terkejut saat mengetahui bahwa dia belum tidur. Aku menggunakan kedua telapak tanganku untuk menutupi wajah karena malu.
“Kenapa tidak mengatakan padaku sejak awal?” Dia menyingkirkan tanganku dan memaksaku menatapnya.
Aku masih terdiam beberapa saat. Aku butuh waktu untuk menenangkan diriku sekarang.
“I can’t say I love you, when I love you more than words can say!” Aku meneteskan air mata dan ia menghapusnya dengan segera.
“I love you Mrs. Laurent. Terima kasih untuk perasaan cinta yang besar itu. Aku berjanji kita akan berbahagia selamanya.” Laki-laki itu kemudian merengkuhku lagi dalam pelukannya.
Jericho merengkuhku dengan mesra, mencium bibirku dengan lembut, dan kami sama-sama terbuai, semakin hanyut dalam perasaan kami. Malam itu kami menyatu dalam sebuah perasaan cinta yang menggebu-gebu. Sebuah cinta yang terus hadir meski seringkali ketidakpekaan kami menutupi keberadaannya.
Kami saling mencintai sejak lama, namun adakalanya ia menghindari cinta kami untuk bersama yang lain. Begitu pula denganku, aku bahkan dengan sengaja menyangkalnya dan hampir membuat komitmen bersama laki-laki lain.
Kami pernah menempuh jalan yang berbeda dan dipermainkan oleh perasaan kami sendiri, hingga cinta geram dan memilih jalannya sendiri. Cinta membuat kami bersatu dan memaksa kami menjalani kisah pilihannya, yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya.
“Aku mencintaimu kemarin, hari ini, dan selamanya,” ucapku sebelum tertidur kelelahan di dalam pelukannya.
THE END