More Than Words

More Than Words
Sortie



*Amsterdam, Belanda.*


Di dalam sebuah kamar yang cukup luas dengan dominasi warna hitam dan abu-abu, seorang laki-laki tampak baru saja terbangun dari tidurnya. Matanya mengeriap mencoba untuk beradaptasi dengan cahaya terang yang menerobos masuk melewati kaca jendela.


Tidak menunggu lama untuk mengumpulkan kesadarannya, laki-laki bermata hijau itu segera bangkit dan membersihkan diri. Pasca menyelesaikan aktivitas mandi pagi, ia pun berjalan menuju ke sebuah nakas, mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk mengikat rambutnya. Setelah berhasil menemukan benda yang diinginkan, laki-laki itu segera menggulung dan mengikat rambut yang panjang dan bergelombang miliknya dengan rapi.


Sebelum berangkat ke toko musik, seperti biasa Jericho akan mengecek pesan yang masuk melalui handphone. Mata laki-laki itu terpaku pada sebuah pesan yang tertera pada alamat email miliknya. Jericho mendapati sang ayah telah mengirimkan sebuah foto scan undangan pernikahan Andrea dan Frans. Ia juga menemukan foto mereka berdua sedang berpelukan mesra di dalam undangan itu.


“Andrea, haruskah aku melepaskanmu sekarang?” Jericho berbicara kepada dirinya sendiri.


----------------


*London, Inggris*


“Mommy, Frans sudah di depan. Mari kita pergi!” Andrea mengajak ibunya yang sejak tadi masih berbaring di ranjangnya.


“Sayang, maaf. Sepertinya hari ini mommy tidak jadi ikut. Bagaimana jika kamu dan Frans pergi berdua saja? Mommy merasa tidak enak badan,” ucap Marry kepada putri kesayangannya.


“Mommy sakit apa? Badan mommy hangat.” Andrea menyentuh kening ibunya.


“Entahlah, mungkin mommy terlalu letih. Kemarin, jadwal mengajar mommy cukup padat,” balas Marry.


“Kalau begitu, sekarang mommy harus beristirahat! Aku berjanji setelah aku selesai dengan urusan gaunku, aku akan memasakkan mommy sup ayam yang lezat,” Andrea mencium pipi ibunya.


“ Bye sayang. Hati-hati di jalan! Sampaikan salam mommy untuk calon menantuku,” Marry melambaikan tangannya.


“Bye mom, I love you,” ucap Andrea seraya meninggalkan ibunya dan segera menuju ke mobil, di mana Frans telah menunggunya.


--------------


“Kita sudah tiba. Turunlah dulu dan tunggu aku di dalam! Aku masih harus mencari tempat untuk memarkirkan mobil ini,” kata Frans kepada calon istrinya.


Gadis itu segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam sebuah boutique yang menyediakan beraneka macam baju pengantin.


“Selamat siang, Miss! Saya May. Apakah ada yang bisa saya bantu?” Salah satu pegawai boutique mendatanginya.


“Saya mau mencari sepasang baju pengantin. Tapi, tunggu calon suami saya sebentar ya,” jawab Andrea seraya tersenyum.


“Baiklah, Miss! Silakan duduk dulu di sini,” ucap pegawai itu dengan ramah.


Beberapa menit kemudian, Frans terlihat telah menjejakkan kakinya ke dalam boutique di mana Andrea telah menunggunya.


“Sayang, apakah kamu sudah melihat-lihat gaunnya?” Frans bertanya kepada Andrea.


Gadis itu menggelengkan kepala dan berkata, “Aku menunggumu sayang.” Andrea kemudian menyelipkan tangannya ke dalam lengan Frans.


Mereka berdua berkeliling, melihat satu demi satu gaun dan setelan jas yang disediakan oleh boutique itu. Saat mata mereka sedang fokus mengamati, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dari arah belakang. Seorang wanita muda mengenakan pakaian seksi, dengan make up tebal menutupi wajahnya keluar dan nampak terkejut.


“Frans Moreno!” Wanita itu seketika mendatangi Frans dan mencium bibirnya.


Baik Frans dan Andrea nampak terkejut melihat aksi wanita itu. Ciuman singkat namun penuh gelora itu meninggalkan noda lipstik di bibir Frans. Saat wanita itu menyadari ada noda di bibir laki-laki yang baru saja diciumnya, ia langsung menghapus noda itu dengan menggunakan jarinya, sambil tersenyum manja.


"Maaf, belepotan." Wanita itu mengedipkan sebelah matanya.


Frans yang menerima serangan mendadak dari wanita tadi hanya diam dan terpaku. Sementara, Andrea yang melihat kejadian itu langsung menggepalkan kedua tangannya. Gadis itu masih menunggu penjelasan.


“Se-lena?” Frans masih terlihat bingung dengan apa yang baru saja dialaminya.


“Sayang, aku merindukanmu. Aku tidak menyangka kamu akan mencari aku sampai sejauh ini,” ucap wanita berdarah latin, yang bernama Selena.


Frans masih saja terpaku. Ia mencerna satu demi satu kata-kata yang keluar dari mulut wanita itu. Mencari Selena? Tidak, Frans merasa bahwa dia tidak mencari Selena sekarang. Dia datang ke tempat ini untuk mencari baju pengantin bersama dengan Elainenya.


“Oh, come on, Frans! ” Andrea berjalan meninggalkan mereka berdua.


“Tunggu, Elaine! Ini salah paham!” Frans bermaksud mengejar Andrea, namun lengannya ditahan oleh Selena.


“Lepaskan tanganku, Selena! Elaine, Tunggu!” Frans menarik paksa lengannya dari wanita itu dan mengejar Andrea.


“Elaine, aku mohon dengarkan aku! Ini salah paham,” bujuk Frans seraya mencoba menarik Andrea kembali ke dalam boutique.


Gadis itu masih berusaha untuk melepaskan tangannya dari Frans, namun karena ia tidak cukup kuat melawan, Frans berhasil membawanya kembali ke dalam boutique.


“Selena! Jelaskan kepada calon istriku bahwa kita tidak ada hubungan apa-apa!” Frans membentak wanita itu.


“Sayang, ayolah! Aku tidak percaya selera wanita seorang Frans Moreno hanya sebatas ini,” ucap Selena menghina Andrea.


“K-kau!” Ucapan Frans terhenti saat Andrea menarik lengannya dan menyuruh laki-laki itu mundur. Andrea terlihat ingin mengambil alih.


“Anda benar nyonya, Frans Moreno memang hanya menyukai gadis sederhana seperti saya, yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk membaca buku dan memainkan cellonya, bukan sibuk menghayalkan seseorang yang bukan miliknya dan bertindak gegabah seperti wanita murahan.” Andrea menjawab dengan tenang, namun tatapannya sangat tajam memandang lawannya.


“Beraninya kau menghinaku dan memanggilku nyonya!” Selena bergerak maju. Wanita itu hendak menampar Andrea, namun Andrea berhasil menghentikan tangan yang sementara terayun itu.


“Sekarang, anda malah bertindak seperti wanita bar-bar. Saya semakin mengerti, anda dan Frans tidak mungkin memiliki hubungan apa-apa. Tidak mungkin seorang Frans Moreno yang terkenal, mempertaruhkan popularitasnya dengan mengencani wanita yang tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri,” balas Andrea sambil menghentakkan tangan wanita itu dengan keras, hingga wanita itu kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh. Beberapa pegawai boutique yang melihat kejadian itu langsung melangkah, mencoba menahan tubuh Selena agar tidak sampai jatuh.


“Sayang, kamu masih ingin di sini atau kita pergi sekarang?” Andrea menantang Frans.


“Kita pergi,” balas Frans dengan singkat.


Mereka berdua pergi meninggalkan boutique dan tidak menghiraukan keberadaan Selena yang nampak kesal dengan tindakan Andrea. Dengan cekatan, Frans segera membuka pintu mobilnya agar Andrea bisa masuk. Andrea duduk di dalam mobil dengan wajah yang ditekuk. Gadis itu sepertinya belum bisa menenangkan emosi yang terus bergemuruh di dada.


Sepanjang perjalanan sepasang kekasih itu hanya terdiam. Frans mengendarai dengan sangat hati-hati, hingga mereka tiba di komplek perumahan Andrea. Frans menghentikan mobilnya di sebuah danau buatan yang ada di dekat rumah kekasihnya.


“Elaine, aku minta maaf. Itu terlalu mendadak dan aku terkejut,” tutur Frans membela diri.


“Kau menikmatinya. Aku melihat dengan mata kepalaku. Tidak perlu membela diri,” balas Andrea dengan nada yang tajam.


“Tidak, sayang! Aku hanya terkejut,” jawab Frans sambil memegang tangan Andrea.


“Kau benar! Sebuah kejutan yang menyenangkan dan sangat sulit untuk dilewatkan begitu saja,” kata Andrea sambil membuang wajahnya, menghindari tatapan Frans.


“Sayang, dengarkan aku! Tadi sangat mendadak. Aku tidak menyangka dia akan menyerang aku seperti itu. Selena sudah mendekati aku sejak lama, tapi aku selalu mengacuhkannya. Aku tidak menyangka bahwa dia bisa ada di boutique itu dan mungkin dia pemiliknya, sebab setahuku dia tinggal di Australi. Percayalah, aku tidak pernah membiarkan hatiku diisi wanita lain selain kamu,” ucap Frans panjang lebar dan sesaat terhenti karena sebuah benda yang tidak asing menempel di bibirnya.


Andrea mencium Frans dengan posesif. Gadis itu seolah menyatakan kepemilikannya kepada laki-laki itu. Frans terkejut dengan tindakan impulsif yang dilakukan gadisnya, namun ia segera sadar dan membalas ciuman itu, hingga terhenti karena Andrea kehabisan nafas dan mengambil jarak. Mereka berdua sama-sama mengambil waktu untuk menenangkan diri sejenak.


“Aku tadi berpikir, untung mommy tidak jadi ikut. Bagaimana perasaannya, jika tadi ia melihat calon menantunya dicium wanita asing?” Andrea berbicara sambil tersengal-sengal karena kehabisan napas. Gadis itu juga masih kesal membayangkan kejadian di boutique tadi.


“Maafkan aku! Setelah ini aku akan menggunakan masker atau topeng bila perlu, untuk melindungi diri dari serangan mendadak seperti tadi,” ucap Frans menggoda Andrea dan membuat gadis itu tersenyum.


“Tapi aku semakin yakin sekarang, Elaineku sungguh-sungguh mencintaiku.” Frans mengecup kembali bibir Andrea dengan singkat.


“Sudah! Kita pergi mencari baju pengantin di boutique yang lain saja,” perintah Andrea sambil menahan senyum di bibirnya.


“Well, as you wish, my Queen," ucap Frans seraya tersenyum lebar kepada gadisnya.


Cinta itu sederhana. Sesederhana keinginan untuk memiliki seseorang bagi dirinya sendiri. Sesederhana sebuah kecupan yang diberikan dengan mata terpejam. Sesederhana pemberian kesempatan untuk menjelaskan kesalahpahaman. Sesederhana kemauan untuk selalu memberikan kebahagiaan kepada kekasih yang dicintai.


------------


Happy Reading! Jangan lupa feedback-nya!