
Seorang laki-laki dengan rambut bergelombang nampak duduk di sebuah taman. Mata hijau milik laki-laki itu sedang memperhatikan kolam ikan koi yang terletak persis di depannya. Pergerakan demi pergerakan yang ada di dalam kolam telah menarik perhatiannya sejak tadi. Ia nampak begitu menikmati momen itu sebagai sebuah kesempatan untuk menenangkan diri sejenak, sebelum gladi bersih dimulai.
Saat itu langit telah senja. Dari ufuk barat, nampak matahari seolah bergerak perlahan-lahan meninggalkan singgasana. Bias-bias sinar yang terpantul di air kolam itu, menambah kesan hangat untuk sebuah sore yang cukup dingin. Laki-laki yang telah selesai menenangkan dirinya itu pun beranjak pergi meninggalkan lamunan dan hendak masuk ke dalam dunia nyata. Ia pergi meninggalkan bangku taman itu, menuju pada sebuah Recital Hall yang letaknya tidak jauh dari sana.
Saat ini semua tim orchestra telah hadir di ruangan, tak terkecuali Andrea. Namun, karena kondisinya yang belum terlalu memungkinkan, dia memilih untuk duduk di bangku penonton dan menyaksikan gladi bersih itu.
“Baiklah. Good evening all. Firstly, I would like to say thank you to all of you, for your hard work. Sebuah kehormatan untuk saya bisa bermusik bersama anda semua. Saya harap malam ini akan menunjukkan setengah keajaiban yang akan ditampilkan besok. Semua usaha, kerja keras, dan perjuangan yang tercurah untuk menciptakan harmoni ini akan dipanen esok hari. Percayalah, tidak ada yang sia-sia saat kita melakukannya dengan kesungguhan!” Jericho menyampaikan kalimatnya tanpa ragu-ragu.
“Sebelum mulai, ada informasi yang perlu saya sampaikan. Ms. Andrea tidak bisa mengikuti gladi bersih karena kondisinya yang belum pulih. Dia hanya akan duduk di bangku penonton dan menyaksikan kita semua. Dia akan memberikan masukan kepada kita dan masukan itu akan menjadi catatan, agar besok kita bisa tampil lebih sempurna. Sementara ini, part Ms. Andrea akan digantikan oleh Mr. Frans dengan pianonya." Jericho memberikan penjelasan dan disambut anggukan oleh Frans.
"Saatnya berpesta kawan! Tepuk tangan untuk kita semua!” Jericho mengakhiri perkataannya dan semua anggota tim bertepuk tangan untuk diri mereka yang telah bekerja keras.
Akhirnya gladi bersih pun dimulai. Instrumentalia pertama dimainkan dengan penuh kesungguhan. Sebuah maha karya yang dipamerkan dengan penuh keanggunan. Perpaduan yang sempurna antara keahlian, attitude, dan kecerdasan.
Instrumentalia demi instrumentalia dimainkan tanpa kesalahan. Ada kesan megah di dalam setiap musik yang mengalun. Kemegahan dan kemuliaan yang selalu ingin ditunjukkan laki-laki itu dalam setiap karyanya. Kemegahan dan kemuliaan yang menjadi ciri khas seorang Jericho Marthen Laurent.
Dari bangku penonton, Andrea terlihat sangat menikmati. Beberapa kali matanya terpejam dan tubuhnya bergerak mengikuti irama. Alunan musik itu telah menyeret jiwanya semakin dalam, sehingga ketika seluruh instrumentalia telah selesai dimainkan, seperti ada yang hilang seketika.
Sekarang gadis itu telah membuka matanya. Dengan cepat ia memberikan standing applause untuk kawan-kawannya. Jericho yang menyaksikan itu, tersenyum dengan bangga.
“Aku baru menyadari bahwa ternyata lebih menyenangkan menjadi penonton dan menyaksikan kalian tampil, dibandingkan ikut bermain bersama kalian,” kata Andrea saat ia telah berada di atas panggung dan berjalan ke arah Jericho sambil tersenyum bahagia.
“Jangan main-main nona! Kau bagian dari kami dan akan tetap seperti itu.” Jericho menimpali ucapan Andrea dan membalas senyumannya.
“Apakah ada yang ingin kau sampaikan tentang penampilan malam ini, nona?” Jericho kembali bertanya kepada Andrea.
“Untuk penampilan malam ini tidak ada, J. Tapi ada sesuatu tentangmu yang ingin kusampaikan,” Andrea menatap tajam ke mata Jericho.
“Kalau begitu, maukah kau berbicang denganku di suatu tempat? Kau pasti menyukainya.” Jericho meyakinkan Andrea.
“Baiklah, tapi aku harus memberi tahu Frans terlebih dahulu sebab tadi aku pergi bersamanya,” ucap Andrea sambil melihat ke arah Frans yang tengah berbincang dengan beberapa orang.
“Tidak perlu, kirimi saja dia pesan! Aku tidak yakin dia akan mengijinkanmu pergi denganku,” balas Jericho sedikit memaksa.
“Baiklah, kalau begitu mari kita berangkat!” Andrea bergegas keluar dari ruangan itu bersama Jericho.
Di dalam perjalanan, Andrea memberi pesan kepada Frans. Seperti dugaan Jericho, Frans tidak mengijinkan mereka pergi. Ia menyuruh Andrea menyampaikan kepada Jericho agar putar balik dan kembali. Namun, Andrea bersikeras dan Frans pun mengalah.
Jericho memacu mobilnya dengan hati-hati. Saat ini mereka melewati jalan yang menanjak dan berkelok-kelok. Mereka seperti mengitari sebuah bukit. Untung saja jalan tersebut memiliki penerangan yang cukup, sehingga tidak terlalu menakutkan.
Akhirnya mereka tiba pada tujuannya. Jericho memarkirkan mobilnya ke pinggir. Mereka berdua segera keluar dari mobil. Jericho mengajak Andrea berdiri pada sebuah batu besar yang ada di tepi jalan dan melihat cahaya lampu kota yang indah dari atas. Laki-laki itu juga memakaikan jasnya kepada Andrea supaya gadis itu tidak kedinginan.
“Aku menyebutnya bukit cahaya. Apa kau menyukainya?” Jericho bertanya kepada Andrea.
“Sangat. Tidak, sepertinya aku bukan hanya menyukainya, aku takjub dan kagum, J.” Andrea membalas sambil melempar sebuah senyuman manis.
“Semoga tempat ini bisa menjadi hadiah permintaan maafku padamu, karena beberapa waktu terakhir, aku bersikap kasar padamu, An.” Jericho berkata sambil melihat ke arah Andrea.
Andrea menggeleng dan membalas ucapan Jericho, “Aku bahkan tidak memikirkan sikapmu yang menyebalkan itu, makanya aku tidak keberatan pergi denganmu sekarang.”
Jericho tertawa mendengar ucapan Andrea. Ia tidak tahu bahwa gadis yang berdiri di sampingnya itu tidak akan pernah bisa membencinya. Gadis itu hanya kecewa pada dirinya sendiri yang mudah tergoda dengan sikap manis laki-laki itu.
“Kau pasti sering mengajak kekasihmu ke tempat ini, ya?” Andrea bertanya tanpa ekspresi.
“Apa itu yang ingin kau sampaikan setelah menyaksikan gladi? Aku rasa itu tidak ada hubungannya kan?” Jericho bingung dengan pertanyaan Andrea kali ini.
“Tentu tidak! Aku menanyakan itu karena penasaran saja. Aku tiba-tiba membayangkan pasti kekasihmu itu menganggap kau pria yang romantis,” tutur Andrea menjelaskan maksud pertanyaannya tadi sambil tersenyum.
“Tidak pernah. Kau wanita pertama yang kubawa kemari.” Jericho menjawab sambil melirik ke arah Andrea untuk melihat reaksinya.
“Well… Mungkin karena kau tidak pernah merasa menyakiti hatinya. Sementara, kau merasa pernah menyakiti hatiku, sehingga kau membawaku ke sini untuk meminta maaf,” balas Andrea kembali.
Sekarang Jericho yang menggelengkan kepalanya dan berkata, “Tidak juga! Aku bukan laki-laki yang baik, seperti Frans, nona. Aku banyak menyakiti wanita-wanitaku. Semenjak Fergie memutuskanku, aku tidak percaya lagi pada wanita. Aku juga tidak percaya pada cinta dan hal-hal yang berhubungan dengannya. Aku dan kekasihku hanya bersenang-senang. Kami tidak pernah serius.” Jericho berbicara dengan tenang kali ini.
“Kau tahu? Konser yang bertema cinta seperti ini, sebenarnya sangat aku hindari. Itu sebabnya aku kehilangan feel di setiap aransemenku kali ini, sampai……. Kau datang. Kau...... menyempurnakan semuanya.” Jericho menambahkan tanpa menatap Andrea.
Saat Jericho mengucapkan kata yang terjeda itu, tiba-tiba ia menyadari sesuatu. Ia sadar bahwa perasaannya menjadi berbeda setelah kedatangan Andrea. Sepertinya Atmosfer di sekelilingnya berubah semenjak bertemu gadis itu, terlebih saat ia memainkan cellonya.
“Sebenarnya itu yang ingin kusampaikan padamu, J.” Andrea mencoba menjelaskan maksudnya.
“Aku melihat dirimu seperti seorang maestro di atas panggung, tetapi aku merasa ada yang sesuatu yang...... salah.” Andrea terdiam sejenak.
“Aku merasa kau meninggalkan hatimu saat memimpin kami. Kau tidak menggunakan hatimu, karena kau tidak percaya pada kekuatannya.” Andrea mengucapkan hal itu sambil menunjuk tepat di dada Jericho.
“Aku hanya melihat kemegahan dan kemuliaan dari aransemenmu, tapi kau kehilangan apa yang paling penting dari bermusik. Itu adalah perasaan. Beberapa kali aku memainkan celloku bersama tim kita, aku bisa merasakan perasaan yang lain, tetapi aku tidak menemukan itu padamu. Kau seperti berada di dimensi yang berbeda dengan kita,” ucap Andrea melanjutkan percakapannya dengan raut sedih.
“Orang bijak pernah berkata, hal yang paling sulit dilakukan saat berada di dunia yang gemerlap ini adalah melihat melampaui kemuliaan, bahkan kekuatan seorang pahlawan sekalipun hanyalah diukur dari hatinya.” Andrea kini menatap Jericho dengan lembut dan memberanikan diri memegang tangan Jericho.
Mereka berdua saling berpandangan tanpa berkata sepatah katapun. Mata mereka menyiratkan bahasa-bahasa
kekaguman satu dengan yang lain.
“Mari kita kembali! Kita harus beristirahat, J. Besok hari yang panjang dan melelahkan.” Andrea melepaskan pegangan tangannya, membalikkan badan, dan hendak berjalan menuju ke arah mobil.
Jericho tiba-tiba menahan tangan Andrea, membalikkan badan gadis itu supaya berhadapan dengannya. Dengan cepat ia membungkukkan badan, lalu menyendengkan telinganya di dada Andrea untuk mendengar detak jantung gadis itu.
“Apa yang kau lakukan, J?” Andrea bertanya sambil terkejut dengan sikap Jericho.
“Sebentar saja. Aku hanya ingin mendengar sebentar saja.” Jericho meminta ijin agar tetap pada posisi seperti ini.
Jericho tidak bisa mengingkari bahwa ia merasa nyaman dengan posisi itu. Berbeda dengan Andrea, ia nampak bingung dengan sikap Jericho. Saat ini, gadis itu merasa sangat gugup. Detak jantungnya semakin cepat, tubuhnya tidak bisa bergerak, telapak tangan dan kakinya menjadi dingin.
“Terima kasih, An. Kau masih tetap Andrea yang dulu bagiku.” Jericho kembali berdiri dengan tegak setelah beberapa saat ia menempelkan telinganya di dada Andrea.
Mereka berdua memilih kembali sebelum gelap semakin turun. Tidak ada perbincangan selama perjalanan pulang. Mereka berdua larut dalam pikiran dan perasaannya masing-masing, terutama Jericho. Banyak hal yang dipikirkan laki-laki itu sekarang. Banyak perasaan aneh muncul di dalam hatinya.
--------------
Please, enjoy this part! Jangan lupa feedback-nya!