More Than Words

More Than Words
Do Not Cross The Boundary!



\-\-Frans' PoV-\-


“Apakah aku mengagetkanmu, Elaine?” aku bertanya kepada Elaine sambil memperhatikan reaksinya.


“Sejak kapan kau di sini?” Elaine bertanya kembali padaku dengan raut wajah sedikit panik, seperti menyembunyikan sesuatu.


“Baru saja. Mari kita pulang!” Aku segera memegang pundaknya, dan mengarahkannya ke mobil.


Elaine segera mengikutiku dan masuk ke dalam mobil. Beberapa menit perjalanan, kami lalui dalam keheningan. Baik aku maupun Elaine, tidak ada yang mencoba untuk memulai pembicaraan, hingga sesuatu menarik perhatianku.


“Aku tidak menyangka kau akan mengenakan gaun seindah ini, Elaine. Apakah kau membawanya dari London? Aku bahkan belum sempat mengantarmu membeli gaun kemarin? Syukurlah kau memiliki persediaan,” ucapku memecah keheningan di antara kami.


“Sebenarnya, ini pemberian seseorang, Frans,” kata Elaine menjawab pertanyaanku.


“Pemberian? Dari siapa?” Aku pun semakin penasaran dibuatnya.


“Jericho. Kemarin, setelah kita menonton Bioskop, Jericho membelinya.” Elaine menceritakan kepadaku bahwa Jericho menghadiahkan itu padanya.


“Dan kau menerimanya? Sedangkan ketika aku membelikan sesuatu untukmu, kau seperti tak ingin merepotkanku.” Aku menjawabnya dengan nada yang kesal. Sekarang aku bahkan merasa terancam dengan kedekatan mereka berdua.


“Tidak seperti itu. Aku tidak tahu bahwa dia membelikanku. Aku memang mengetahui bahwa dia membeli sebuah gaun, tapi aku tidak berpikir bahwa itu untukku. Dia menyerahkannya setelah mengantarkanku, saat kami tiba di apartment. Ini hanya hadiah, sebagai ucapan terima kasih.” Dia berusaha menjelaskan lagi kepadaku.


“Bagaimana dia bisa tahu ukuranmu? Apa kau sempat mencobanya? Dan kau tidak merasa curiga saat kau mencobanya?” Aku semakin kesal sekarang, gadisku memang pintar mencari-cari alasan.


“Dia…….” Elaine berhenti berbicara sejenak seolah sedang berpikir mencari jawaban yang tepat.


“Dia hanya kebetulan membeli ukuran yang pas, Frans,” katanya kepadaku.


“Hahaha….. Sungguh sebuah jawaban yang paling aman, yang bisa diberikan saat itu.” Kali ini aku menjawabnya hanya di dalam hati.


Aku kembali tak bersuara. Banyak hal yang aku pikirkan saat ini. Jericho dan kedekatannya dengan Elaine, masa lalu mereka yang tidak ku ketahui, sikap Elaine yang tiba-tiba berubah semenjak bertemu Jericho, hingga mau tampil sebagai Cellist di muka umum. Semua itu menjadi sebuah teka-teki di dalam benakku. Sepertinya, aku harus melakukan sesuatu sebelum terlambat.


----------------------


📱‘J, aku ingin bertemu denganmu besok? Kau ada waktu?’ – Frans.


📱‘Tentu! Jam berapa kau ingin bertemu?’ – Jericho.


📱‘Bagaimana jika besok pagi? Jam 9. Di kampus.’ – Frans.


📱‘Baiklah.’- Jericho


Aku harus segera menyelesaikan semuanya. Aku tahu pasti ada sesuatu yang tidak beres di antara mereka. Apakah Elaine atau Jericho, aku seperti tidak bisa mempercayai mereka berdua. Aku merasa Elaine suka mencari-cari alasan akhir-akhir ini. Aku harus mengetahui semuanya. Aku berharap, besok aku bisa mendapatkan jawabannya dari Jericho.


----------------------


*Keesokan hari*


“Apakah kau menunggu lama, Frans?” Jericho langsung memulai percakapan saat ia datang.


“Kau tampak kacau, J. Apa yang terjadi denganmu?” Aku melihat dia seperti tidak tidur semalam.


“Tidak ada apa-apa. Aku hanya kelelahan.” Jericho menjawabku tanpa melihat ke arahku.


“Katakanlah, ada apa?” Ia meneruskan perkataannya.


“Baiklah! Sepertinya kau juga sudah tidak sabar. Aku akan langsung saja pada intinya. Sebenarnya, apa tujuanmu terhadap Andrea?” Aku tidak tahan untuk menutupi perasaanku lagi.


“Kau melihat kami kemarin?” Dia menjawab dengan senyum yang aneh. Sepertinya dia langsung mengerti maksudku.


“Aku tidak menyangka bahwa sahabatku sepertinya mengingini apa yang seharusnya menjadi milikku.” Aku berbicara dengan tajam kali ini.


“Andrea belum menjadi milikmu,” ucapnya kepadaku seakan menamparku.


“Sekarang belum, tidak lama lagi,” aku menyanggahnya.


“Kau bisa memiliki wanita yang lain, J. Jangan mempermainkan perasaannya, atau kau akan berhadapan denganku,” ucapku mengancam Jericho.


“Kau terancam sekarang sehingga harus mengancamku? Kalau kau percaya dengan hatimu, kenapa kau harus merasa terancam, atau jangan-jangan sebenarnya kau sudah menyadari bahwa Andrea tidak menaruh hatinya padamu?” Jericho menjawabku tanpa ragu.


“Do not cross the boundary, J! Kau harus sadar posisimu. Suka atau tidak suka, Andrea akan menjadi milikku. Aku bahkan akan melamarnya sebentar lagi.” Aku mengingatkannya lagi.


“Sebaiknya, kau pastikan semuanya sebelum terlambat Frans! Aku tidak melanggar batasanku. Aku hanya melakukan apa kata hatiku. Sekarang semua kembali kepada gadis itu. Jika memang dia memilihmu, aku akan melepasnya untukmu. Tapi, jika ada sedikit saja perasaan di dalam hatinya untukku, aku bahkan bisa mengorbankan apa saja untuk mendapatkannya, termasuk persahabatan kita.” Jericho mengatakannya dengan raut serius.


“Kau…” Aku menggenggam tanganku, ingin memukulnya saat ini. Tapi aku menahan diri.


“Jika kau sudah selesai bicara aku akan pergi,” kata Jericho. Laki-laki itu langsung berdiri dan meninggalkanku.


Hati manusia memang adalah hal yang paling misterius di dunia ini. Aku bisa mempelajari teknik bermain piano dengan cepat, bisa membaca notasi yang rumit sekalipun. Aku bahkan tidak kesulitan untuk memadu-madankan nada-nada menjadi sebuah untaian simfoni yang indah. Namun, hingga kini aku bahkan tidak pernah memahami hati gadis pujaanku.


Ia berada di dekatku selama ini. Kami bermain musik bersama, makan bersama, menghabiskan banyak waktu sama-sama. Tapi, hingga kini aku bahkan tidak terlalu percaya diri bahwa dia mencintaiku seperti aku mencintainya. Sekarang Aku takut, sangat takut, jangan-jangan ia tidak memiliki perasaan yang sama denganku.


Aku tidak sanggup mendengar penolakannya. Dulu aku merasa bahwa tidak ada seorangpun di dalam hatinya. Tapi setelah beberapa hari ini, aku meragukan itu. Bagaimana jika Elaine sebenarnya sudah menaruh hati pada Jericho sejak lama?


“Aku tidak bisa membantah argumentasinya Frans, Hanya itu. Lagi pula aku tertarik dengan temanya.” Waktu itu ia mengatakan alasannya menerima tawaran Jericho.


Tertarik dengan temanya? Apakah jangan-jangan karena ia memang adalah seorang wanita yang menanti? Tunggu! Puisinya? Ia bahkan memberikan sebuah puisi kepada Jericho? Tidak-tidak. Isi puisi ini…… kekasih yang pergi? Apa maksudnya itu adalah kepergian Jericho ke Amerika?


Arrgggghhhhh!!!!!!


----------------


📱‘Elaine, keluarlah! aku mengirimkan paket untukmu’- Frans


📱‘Kau ada di luar? Baiklah!’- Elaine


📱‘Bukan aku tapi kurir.’- Frans


📱‘Ok! ’ - Elaine


Hari itu aku mengirimkan sebuah hadiah untuk Elaine. Aku membelikannya sebuah gaun berwarna pink magenta yang tentunya akan sangat cocok dengan warna kulitnya yang putih bersih. Selain itu aku juga membelikannya sepasang high heels warna kulit yang pasti akan sangat cantik ketika dipakai bersama gaunnya. Aku juga meninggalkan pesan di kotak itu.


‘Temui aku malam ini di The Restaurant, 506 9th Avenue. Jam 7 malam. Pakai gaun dan heels ini, aku menunggumu.’- Frans


Aku hanya berharap dia benar-benar datang malam nanti. Aku akan menyatakan perasaanku padanya. Aku tidak mungkin menunggu saat konser. Dulu aku berpikir untuk langsung melamarnya, karena aku merasa hanya aku laki-laki yang dekat dengan dia. Tapi, sekarang aku harus memastikan semuanya terlebih dulu.


-----------------------


Malam itu, aku melihat gadisku datang dengan mengenakan gaun berwarna pink magenta dan heels pemberianku. Seperti yang aku bayangkan, dia sangat cantik mengenakannya. Saat dia datang, aku langsung menyambutnya dengan sebuah kecupan di pipi. Aku menarik kursi supaya ia bisa duduk. Aku melihat raut wajahnya yang sedikit kebingungan.


“Ada apa Frans? Aku merasa tidak biasanya kau seperti ini?” Elaine berkata kepadaku.


“Aku sudah memesankan makanan kesukaanmu, sebentar lagi makananmu akan datang,” kataku membalas ucapannya dan sedikit mengalihkan pembicaraan.


Dia masih nampak kebingungan. Aku menyukai wajahnya yang penuh tanda tanya seperti sekarang ini. Dia nampak sangat menggemaskan.


Makanan yang kupesan segera datang. Kami menyantap makanan itu ditemani iringan musik piano yang merdu. Aku memesan kepada manajer restaurant agar meminta Pianist memainkan lagu kesukaan kami berdua.


“Kau sudah selesai makan?” Aku bertanya lagi padanya.


Gadisku hanya menganggukkan kepalanya.


“Elaine! Aku punya sesuatu untukmu.” Aku mengeluarkan sesuatu dari kantung celanaku.


“Apa ini?” Ia bertanya lagi dengan wajah penasaran.


“Bukalah!” Aku meminta ia membuka kotak itu.


Ia nampak ragu-ragu membuka kotak itu. Aku menganggukkan kepalaku supaya ia tidak membatalkan niatnya untuk membuka kotak itu.


“Kalung berlian? Frans, ini terlalu berlebihan. Aku tidak pantas menerimanya.” Ia menjawabku dengan mata yang berkaca-kaca dan menaruhnya kembali ke atas meja makan kami.


“Elaine! Aku mencintaimu……… Aku sudah mulai mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu. Aku mencintaimu dengan segenap hatiku, dan aku bahkan tidak membiarkan perempuan lain mengisi hidupku. Aku percaya bahwa hanya kamu yang pantas. Aku mohon berikan kesempatan padaku.” Aku kini menggenggam tangannya. Mataku hampir saja meneteskan air mata. Aku begitu mencintainya dan takut kehilangannya.


“Frans, aku……..” Elaine menjeda ucapannya.


“Kenapa kau diam, Elaine! Apakah ada laki-laki lain?” Aku memastikannya kali ini, sebab dia cukup lama berpikir dan tidak segera melanjutkan ucapannya.


Elaineku masih terdiam. Aku sungguh takut saat ini, hingga akhirnya ia mengatakan sesuatu.


“Frans, mungkin perasaanku tidak sebesar perasaanmu padaku. Tapi aku rasa, aku akan memberi kesempatan kepada kita berdua. Aku……. juga mencintaimu, Frans.” Dia meneteskan air matanya.


Aku langsung memeluknya dengan erat. Dia menangis di dadaku. Aku merasa mungkin dia sangat terharu. Malam ini aku sangat bahagia.


Aku meminta ijin untuk memakaikan kalung itu padanya. Dia menganggukkan kepalanya. Benar seperti yang aku bayangkan, dia sangat cantik mengenakan kalung pemberianku.


Aku mencium keningnya dan menyeka air mata di pipinya. Aku memeluknya lagi. Tidak ada yang aku takutkan saat ini. Elaine adalah milikku.


kemudian, sambil memeluk gadisku, aku mengarahkan tatapan mataku di sudut ruangan. Aku melihat seorang laki-laki yang ku kenal sedang bermain piano di sana. Seorang laki-laki bermata hijau. Dia menyaksikan semuanya.


Aku sengaja memilih tempat ini, karena aku tahu bahwa Jericho memiliki jadwal mengisi acara di tempat ini. Aku berharap sekarang dia benar-benar tahu batasannya dan tidak melanggar batasan itu. Elaine milikku, selamanya.


----------------


Happy Reading ya guys! Like, Comment, Vote, Rate, jangan lupa!