More Than Words

More Than Words
Step Up



Tengah malam yang sunyi. Bulan berbalut cahaya perak menjadi latar utama pemandangan dari balik Jendela. Udara dingin meraba permukaan kulit seorang gadis yang masih terjaga dan tengah berdiri di balkon apartment kawan lamanya. Matanya nampak lelah, namun enggan untuk terpejam.


Pemandangan kota itu menarik perhatian dan membangkitkan lamunannya. Ia terpaku sejenak pada indahnya ornamen-ornamen yang menghiasi kota. Matanya memandang ke segala penjuru, hingga suara dari dalam kamar menggapai kesadarannya.


“Andrea! Kau tidak tidur?” Jericho terbangun dan memanggil Andrea.


“Aku belum bisa tidur,” balas Andrea kepada Jericho.


“Tidurlah di ranjangku. Aku akan tidur di sofa. Kau pasti tidak nyaman jika harus beristirahat di sofa.” Jericho menawarkan.


“Kenapa kau terbangun? Apa kau butuh sesuatu?” Andrea melangkah masuk meninggalkan balkon.


“Aku hanya ingin minum. Aku mau ke dapur.” Jericho menurunkan kakinya dari ranjang dan hendak berjalan.


“Aku akan mengambilkannya untukmu. Tunggulah di sini!” Andrea bergegas pergi ke dapur dan mengambilkan segelas air.


“Ini air untukmu," kata Andrea sambil menyorongkan segelas air.


"Minum dan istirahatlah di ranjang! Kau yang sakit, mana mungkin aku membiarkanmu tidur di sofa.” Andrea langsung mendudukan dirinya sebelum Jericho menempati sofa itu.


Laki-laki itu segera meminum airnya hingga habis tak tersisa. Ia pun meletakkan gelas di atas nakas, di samping ranjangnya. Matanya terpejam sejenak, seperti memikirkan sesuatu.


“Bagaimana jika suatu saat nanti, orang yang kau cintai itu mencarimu dan menyatakan bahwa ia mencintaimu juga, An?” Jericho tiba-tiba bertanya.


Andrea terdiam sejenak. Ia tidak menyangka bahwa Jericho masih tertarik dengan kisah cintanya yang menyedihkan itu.


“Kau, sepertinya tertarik dengan ceritaku. Kenapa?” Andrea menatap mata Jericho dengan rasa penasaran.


“A-aku hanya ingin tahu saja. Bagaimana nasib Frans bodoh itu nantinya?” Jericho tertawa kecil saat menyebut nama Frans.


“Tidak akan ada hari itu. Aku menyerah sekarang karena tahu tidak akan ada hari itu. Tetapi seandainya hari itu ada, aku…… aku akan tetap bersama dengan Frans, karena saat itu aku pasti sudah mencintai Frans.” Andrea menundukkan kepalanya.


“Bagaimana jika dia datang saat cintamu pada Frans belum tumbuh?” Jericho menajamkan pertanyaannya.


“Aku akan tetap bersama Frans dan terus belajar mencintainya. Frans adalah pilihanku. Aku akan mencintai apa yang sudah kupilih.” Andrea berusaha meyakinkan dirinya sekarang.


“Bukankah itu yang dinamakan memaksakan perasaan? Dan kau tahu, semua yang terpaksa itu tidak baik.” Jericho mencoba menyanggah Andrea.


“Tidak, J. Aku tidak menerima Frans karena terpaksa. Aku sudah berniat untuk melangkah dan membuka hatiku. Aku juga sudah lelah. Selama ini aku selalu hidup dalam bayangan dan memori tentangnya.” Andrea nampak rapuh.


Jericho menganggukkan kepalanya. Ia segera merebahkan diri di ranjang. Matanya masih terbuka, dan ia terlihat seperti memikirkan sesuatu.


“Sekarang aku yang ada di posisimu, An. Aku mencintaimu, sementara kau memilih Frans dan bahkan mau belajar mencintainya. Sungguh betapa beruntungnya laki-laki bodoh itu. Sementara aku terjebak dalam perasaanku sendiri. Aku tidak bisa mengubur perasaan ini sekarang. Kau sudah membawaku untuk mencintaimu terlalu dalam. Kesederhanaanmu, kebaikan hati, ketulusan, perasaan cinta yang kau punya, meski itu bukan untukku, dan bahkan musik kita yang menyatu semakin membuat aku ingin memilikimu. Apakah suatu saat aku akan menyerah seperti kau menyerah saat ini? Mungkin saja, tetapi untuk sekarang, aku hanya ingin menikmati cinta ini sendiri.” Jericho mengucap di dalam hatinya.


-----------


Dari ujung timur, matahari perlahan-lahan bergerak menguasai cakrawala. Sekarang Andrea sudah pergi meninggalkan apartment Jericho, setelah ia memasak beberapa makanan dan meninggalkan makanan itu tertata rapi di atas meja makan.


Baru saja ia hendak memasuki pintu apartment-nya. Seseorang kini telah terlihat menunggu di depan.


“Maaf, apakah ada paket lagi untuk saya?” Andrea bertanya kepada kurir yang sedang berdiri di muka pintu apartment-nya.


“Benar, Miss. Miss Andrea kan? Ada kiriman bunga untuk anda.” Petugas delivery menunjukkan sebuket bunga Anyelir putih di tangannya.


“Mana yang harus kutanda-tangani?” Andrea mengulurkan tangannya dan menerima surat tanda terima lalu menandatanganinya.


“Terima kasih Miss. Ini bunganya.” Kurir itu segera meninggalkan tempat.


Andrea masuk ke dalam dan seperti biasa ia meletakkan bunga itu di dalam vas, sambil mencari-cari jika ada pesan yang ditinggalkan.


‘Kau dan aku sama-sama terhilang dalam permainan cinta, tetapi aku tetap menanti dalam cinta yang sama ’ L


Gadis itu semakin penasaran dengan kiriman bunga anyelir putih yang sudah diterimanya dua hari berturut-turut ini. Siapakah 'L' sebenarnya? Andrea mulai penasaran sekarang.


-------------


“Sayang, panggil aku 'sayang'! You've promised." Frans mengerutkan keningnya.


"Iya. Maaf, aku hanya belum terbiasa, sayang." Andrea tersenyum malu.


"Sayang, kau nampak lelah sekali. Sepertinya mengepak barang telah menyita tenagamu. Kantung matamu begitu besar dan hitam. Harusnya kau biarkan aku membantumu kemarin.” Frans nampak khawatir.


“Tidak, aku memang lelah tapi aku baik-baik saja. Mari berangkat! Aku tidak sabar bertemu yang lain.” Andrea menunjukkan semangatnya meski sejujurnya ia sangat mengantuk karena kemarin hanya tertidur dua jam.


“Kita tidak akan berlatih hari ini, sayang. Aku mau mengajakmu ke suatu tempat.” Frans memberikan seutas senyum untuk kekasihnya.


“Apakah kau mau mengajakku berkencan, sayang?” Andrea bertanya sambil menggoda Frans dengan senyumnya.


“Apakah kau keberatan, bukankah kita sepasang kekasih?” Frans bicara sambil memegang tangan gadisnya.


“Tidak Frans. Aku justru senang, akhirnya aku bisa pergi ke tempat lain selain Recital Hall.” Andrea mengungkapkan kegembiraannya.


“Kemana kita akan pergi?” Andrea semakin penasaran.


“Kau akan tahu nanti dan kau pasti menyukainya,” ucap Frans sambil tersenyum dan masih memegang tangan gadisnya.


-----------------


“Taman hiburan?” Andrea menyungingkan senyumannya.


“Kau suka?” Frans bertanya kepada Andrea.


“Aku suka Frans. Aku baru menyadari kekasihku ini romantis.” Andrea menyelipkan tangannya di lengan Frans.


“Sepertinya aku tidak akan pernah mengalami kesulitan untuk menyenangkan hati kekasihku. Kau bahkan bersikap seperti gadis remaja sekarang.” Frans memegang dagu Andrea dan menggerakkannya karena gemas.


“Frans aku mau permen kapas. Apakah boleh?” Andrea menunjuk ke arah pedagang yang tengah membuat permen kapasnya dalam berbagai bentuk.


“Kau mau yang mana? Aku akan membelikannya untukmu.” Frans dan Andrea berjalan mendekati pedagang itu.


“Aku mau yang bentuknya seperti bunga teratai. Indah sekali.” Andrea terkesima.


“Saya mau yang berbentuk teratai satu!” Frans berkata kepada penjual itu


“Ini uangnya, ambil saja kembaliannya.” Frans menyerahkan sejumlah uang.


Pedagang itu menerima dengan senang.


“Terima kasih, sayang.” Andrea terlihat sangat bahagia sekarang.


“Kau mau bermain apa?” Frans bertanya lagi.


“Bagaimana jika kita bermain kora-kora, lalu kita naik roller coaster, dan setelah itu ke taman labirin?” Andrea menyebutkan semua permainan kesukaannya.


“Baiklah! Tapi jika nanti hari telah senja, aku ingin kita naik bianglala. Bagaimana, apakah kamu mau?” Frans bertanya lagi.


“Tentu saja, Frans. Pasti sangat indah memandang kota ini dari atas, saat matahari terbenam,” ucap Andrea.


Hari itu sepasang kekasih nampak menikmati permainan demi permainan yang telah mereka pilih. Andrea tidak henti-hentinya tersenyum dan tertawa bahagia. Frans merasa bangga karena bisa mengukir keceriaan di wajah gadisnya.


“Aku mencintaimu, Frans!” Andrea mengucapkannya setelah mencium pipi Frans dan berlari meninggalkan laki-laki itu sambil tertawa.


--------


Enjoy! Jangan lupa Vote, comment, rate, and like!