More Than Words

More Than Words
A New Beginning



*Satu tahun pasca kematian Frans: New York, Amerika Serikat*


Sepertinya baru kemarin gadis manis bermata coklat itu menginjakkan kakinya di negara ini. Sepertinya baru kemarin, ia menghabiskan waktunya berkeliling, menjangkau tiap sudut kota bersama kekasihnya. Sepertinya baru kemarin, gadis itu mendengarkan musik orchestra mengalun dengan merdu dari dalam gedung pertunjukan. Sepertinya baru kemarin, ia memainkan cellonya dengan penuh penghayatan.


Di sinilah gadis itu berdiri sekarang. Di depan pintu masuk salah satu kampus terbaik di kota New York. Andrea menatap gedung Columbia University dengan perasaan takjub. Nasib baik mengantar gadis itu memenangkan lomba menulis puisi tiga tahun lalu, hingga akhirnya membawanya kembali ke tempat yang sama dengan mimpi yang baru.


“I am here, Frans. Picking up my dream, alone. Wishing you are here with me,” Mata Andrea berkaca-kaca saat menatap sebuah gedung perkuliahan yang menjulang tinggi di depannya.


Sudah satu tahun berlalu semenjak kepergian Frans. Gadis itu masih belum bisa memulihkan hatinya dengan sempurna. Kenangan bersama mantan kekasihnya itu masih melekat jelas di dalam ingatannya.


Tiga tahun lalu, di suatu tempat di dekat sebuah gedung pertunjukkan, ditemani bunyi suara hujan dan petir yang menggelegar, sayup-sayup terdengar suara seorang laki-laki, berkata kepada gadisnya, “Aku akan berusaha membuatmu mencintaiku. Aku tidak akan menyerah sampai hari itu tiba. Aku akan melakukan apapun untukmu. Aku akan muncul setiap hari di hadapanmu, bahkan di dalam mimpimu, menjagamu setiap waktu dengan nyawaku, membuatmu tergantung padaku, hingga kau tidak akan bisa bernafas ketika aku tak ada di sampingmu.”


Hari dimana laki-laki itu mengatakan perasaannya untuk kesekian kalinya, pada saat itu juga, gadis bermata coklat itu menyerahkan ciuman pertamanya. Perasaan mereka menghangat, meski hujan, petir, dan angin disekitar mereka begitu menggila kala itu.


Perkataan laki-laki itu sekarang menjadi kenyataan. Saat ini, ketika raga pria itu tidak ada di sisi kekasihnya, gadis itu begitu terpuruk. Ia tidak bisa bernafas lega seperti dulu. Ia memang sangat tergantung dengan laki-laki itu.


“An, apakah kamu baik-baik saja?” Norah melihat kesedihan di wajah sahabatnya.


“Aku baik-baik saja. Aku hanya tiba-tiba mendapat kilasan kenangan tiga tahun lalu di dalam benakku,” ucap Andrea sambil tersenyum.


“Aku ada di sini menemanimu. Kita sudah berjanji bahwa kita akan membuka sebuah awal yang baru. Bersemangatlah untuk matahari yang masih terbit di esok hari, sembunyikan badai gelap di belakang punggungmu! Aku mengingat dengan jelas, sahabatku ini pernah mengatakan kalimat itu dulu.” Norah memeluk pundak Andrea.


“Entahlah, mungkin aku terlalu rapuh akhir-akhir ini. Bagaimana jika suatu hari, aku justru merasakan badai matahari menghantam hidupku? Aku merasa takut akan datangnya hari itu, hingga aku ragu untuk berdiri di bawah cahayanya,” balas Andrea dengan suara lirih.


“Mungkin jika hari itu datang, kamu harus membiasakan dirimu untuk berkawan dengan rembulan.” Andrea tertegun sejenak saat mendengar kata rembulan. Gadis itu teringat kepada seseorang.


“Ada apa An? Aku bicara sembarangan ya. Lupakan saja kalimat terakhirku, aku sendiri tidak mengerti maknanya!” Norah tersenyum malu-malu.


“Tidak, Rah! Kamu sudah lebih pandai bermain kata sekarang. Aku jadi penasaran dengan pasanganmu kelak,” ucap Andrea sambil tertawa membayangkan wajah pasangan Norah. Suasana hatinya tiba-tiba berubah.


“Pasanganku pasti seorang laki-laki yang tampan. Kalau memang dia suka dengan kata-kata manis, aku rela membayarmu untuk mengajariku.” Norah mencubit pipi Andrea.


“Aku ingatkan kau, tidak usah terlalu jual mahal. Jangan sampai kamu menyesal!” Andrea melanjutkan candaannya.


“Sekarang, kamu bahkan bisa mengerjaiku. Aku rela kau kerjai setiap hari, asal kau tidak bersedih lagi.” Norah memeluk kembali pundak sahabatnya.


“Aku benar-benar harus berterima kasih kepada daddy-mu. Kamu seperti hadiah yang dikirimkan untuk menemaniku di kota asing ini.” Andrea mengucapkannya dengan sungguh-sungguh.


“Kamu bisa mengandalkanku, An. Aku di sini untukmu. Aku juga bisa kau manfaatkan sebagai tukang rias yang akan mendandanimu supaya kau semakin cantik. Siapa tahu, kamu akan menemukan jodohmu di……” Norah menghentikan ucapannya.


“Kenapa berhenti, kau takut aku bersedih lagi?” Andrea bertanya kepada sahabatnya.


“Maaf,” jawab Norah singkat.


“Aku tidak apa-apa. Kau benar! Kau harus mendandaniku secantik mungkin. Siapa tahu ada salah satu cucu Queen Elizabeth kuliah di sini dan menyukaiku,” balas Andrea sambil tertawa.


-----------------


Beberapa manusia nampak berkeliling sambil memanjakan matanya di sebuah toko musik yang berada di pusat kota New York. Beberapa bulan terakhir ini, toko tersebut cukup ramai dikunjungi musisi-musisi yang ingin memesan alat musik handmade sesuai seleranya.


“Boss, toko musikmu semakin ramai akhir-akhir ini. Apakah boss tidak memiliki cita-cita untuk menambah jumlah karyawan?” Ray yang kelelahan mencoba merayu atasannya.


“Cita-citaku hanya satu, bisa menikahi seorang perempuan yang mahir bermain cello,” ucap Jericho dengan santai, enggan menanggapi perkataan Ray.


“Boss, kau begitu kejam. Aku hampir mati kelelahan tiap hari. Pembeli kita sangat banyak dan sangat cerewet. Jika semua pembeli memiliki karakter yang ramah dan tidak banyak tingkah, tentu aku tidak akan mengeluh padamu.” Ray meneguk sekaleng soda untuk membasahi tenggorokannya.


“Aku sudah berpikir untuk menambah karyawan sebelum kau mengatakannya. Ini, pasanglah di depan!” Jericho menyuruh Ray memasang sebuah pengumuman lowongan pekerjaan di depan tokonya.


“Boss, kenapa harus laki-laki lagi?” Ray menunjukkan raut wajah kecewa.


“Memangnya kenapa?” Jericho pura-pura tidak mengerti maksud karyawannya, yang sudah dianggapnya seperti saudara.


“Hidupku akhir-akhir cukup mengenaskan, boss. Aku kekurangan vitamin ‘She’.” Ray melanjutkan keluhannya.


“Aku menggajimu untuk bekerja keras bukan untuk bersenang-senang,” balas Jericho dengan ekspresi datar.


“Memiliki karyawan wanita itu sesungguhnya punya beberapa keuntungan. Selain menyehatkan mata kita, wanita juga lebih pandai merayu pelanggan, boss. Ayolah boss, aku bosan melihat spesies yang sama denganku setiap hari!” bujuk Ray.


“Lebih baik aku melihatmu mati kebosanan, daripada harus menghadapi karyawan wanita yang fokus memperhatikanku dan mengabaikan pekerjaannya,” ucap Jericho dengan ketus.


“Maksud Boss?” Ray belum memahami ucapan Jericho.


“Setiap hari aku menjumpai banyak perempuan menawarkan diri untuk bekerja di toko ini, tapi aku bisa membaca bahwa tawaran mereka itu hanya modus untuk mendekatiku,” balas Jericho.


“Meskipun anda tampan, alangkah baiknya jika anda sedikit merendah. Jangan terlalu percaya diri, Boss! Belum tentu pikiran anda itu benar,” Ray menyanggah ucapan Jericho.


“Aku ini mantan playboy. Aku cukup perasa dengan perempuan-perempuan semacam itu,” jawab Jericho dengan penuh kebanggaan.


“Hahaha, jadi anda adalah mantan playboy yang telah bertobat rupanya. Berapa wanita yang sudah anda taklukan? Apakah anda tidak merindukan kehidupan anda di masa lalu?” ucap Ray semakin tidak tahu diri.


“Sekali lagi kau membuka mulutmu, aku akan memotong gaji pokokmu. Pasang ini di depan! Jangan menawar apalagi membantah!” Jericho berbicara dengan nada kesal.


“Susah bicara dengan laki-laki yang kurang kasih sayang. Suatu saat nanti aku akan memasang pengumuman lowongan Cellist untuk dijadikan kekasihnya,” gumam Ray dengan pelafalan yang tidak jelas.


“Apa kau bilang?” Jericho sedikit mendengar gumaman Ray. Ray yang ketakutan mempercepat langkahnya meninggalkan laki-laki itu.


------------------------


Selamat membaca! Jangan lupa support saya selalu!