
Seorang gadis sedang duduk di salah satu sudut sebuah mini café yang terletak di pusat kota, ditemani beberapa buku bacaan dan secangkir kopi panas. Kaca mata dengan bingkai persegi empat bertengger di hidungnya. Rambut lurusnya yang panjang dikepang rapi, menambah keelokan parasnya.
“An, apa kabar? Sorry, kamu pasti menunggu lama,” ucap Norah yang baru saja tiba, kemudian langsung menyapa sahabatnya. Kedua gadis itu saling berpelukan.
“Aku sudah jauh lebih baik, Rah. Oh ya, mau pesan apa?” Andrea bertanya kepada Norah.
“Aku pesan yang sama dengan pesananmu,” jawab Norah.
Andrea memanggil pelayan dan memesan secangkir espresso ditambah beberapa snack sebagai pendamping. Tidak lama kemudian, pesanan mereka telah terhidang. Kedua gadis itu menikmati sajian yang telah tersedia, sambil berbicara dengan begitu asyiknya. Mereka juga saling melepas rindu.
“Aku senang melihatmu kembali seperti dulu,” kata Norah dengan senyum merekah di bibirnya.
“Benarkah? Jujur, kepergian Frans membawa dampak besar dalam hidupku. Ada masa-masa di mana aku merasa begitu hampa dan itu masih menyapaku hingga kini,” ucap Andrea dengan sebuah senyum simpul.
“Aku tahu, tidak mudah menjadi dirimu. Jika aku yang ada di posisimu, entahlah apa yang akan terjadi,” tutur Norah.
“Aku hanya berusaha kuat di hadapan semua orang, terutama di hadapan kedua orang tuaku, karena aku tidak mau mereka terus terbeban. Sesungguhnya, aku belum sepenuhnya pulih, Rah. Aku kehilangan kecintaanku terhadap musik. Sejak semula, aku dan Frans terikat oleh musik. Saat ia pergi, aku merasa aku kehilangan tujuanku bermusik,” kata Andrea mengungkapkan perasaannya.
“Aku turut menyesal, sayang!” Norah menyentuh tangan Andrea.
“Sebaiknya cukup membicarakan kisah sedihku ini. Bagaimana denganmu?” Andrea mengalihkan topik pembicaraan.
“Ehm-ehm! Aku punya kabar gembira untukmu, sayang. Sepertinya bisnis daddy-ku cukup bagus akhir-akhir ini. Jadi kemarin, secara tiba-tiba, daddy menawarkanku untuk studi lanjut ke luar negeri. Daddy bahkan membebaskan aku untuk memilih sendiri kampusnya,” tutur Norah dengan semangat.
“Jadi?” Andrea tidak sabar mendengar kelanjutannya.
“Jadi, temanmu yang cantik, baik hati, dan menyayangimu ini, sepertinya akan menemanimu kuliah di musim depan,” ucap Norah dengan senyum merekah di bibirnya.
“Aku tidak percaya! Maksudku, kamu akan ke Amerika bersama denganku?” Andrea memastikan kembali.
“Iya, dong!” Norah tersenyum bahagia.
“Kamu tidak sedang bercanda kan? Ini sebuah kabar yang menggembirakan,” ucap Andrea dengan bersemangat.
“Aku serius, An! Masih tidak percaya dengan ucapanku?” Norah melipat tangannya di dada.
“Aku tidak tahu ini bisa disebut kebetulan atau tidak. Kalau pun benar ini suatu kebetulan, maka aku akan menganggap ini sebagai sebuah kebetulan yang menyenangkan.” Sorot mata Andrea memancarkan kebahagiaan. Kedua gadis itu kembali berpelukan.
Andrea dan Norah melanjutkan kembali percakapan mereka. Kedua sahabat itu langsung menyusun rencana bersama. Mereka terlihat ingin segera memulai hidup baru di Amerika.
Bagi Norah, pergi ke Amerika adalah sebuah petualangan. Gadis itu tidak sabar berkenalan dengan banyak orang dan melakukan berbagai aktivitas baru di sana. Norah telah menanti saat-saat seperti ini sejak lama.
Sementara itu, bagi Andrea, pergi ke Amerika adalah sebuah kesempatan untuk memenuhi mimpinya. Mimpi yang pernah ia ucapkan di hadapan kekasihnya. Mimpi yang masih membuatnya memiliki tujuan hidup. Mimpi yang tidak ia sadari akan mempertemukannya kembali, dengan seseorang yang pernah mengisi hatinya di masa lalu.
-----------------
*New York, Amerika Serikat*
“Letakkan saja barangnya di situ,” ucap Jericho kepada karyawan yang bertugas mengirim alat musik, dari salah satu pemasok langganannya.
Enam bulan telah berlalu sejak pembicaraannya dengan Pieter waktu itu. Jericho menyetujui proposal Pieter dan akhirnya mereka bekerja sama membuka sebuah toko musik di Amerika. Jericho masih sering melakukan perjalanan pulang-pergi New York-Amsterdam untuk mengecek kondisi toko-tokonya. Pria itu bertambah sibuk akhir-akhir ini.
Jericho harus melakukan sesuatu untuk mengisi hari-harinya agar tidak mengingat Andrea terus menerus. Laki-laki itu sering membayangkan, saat ini Andrea pasti sedang berbahagia bersama dengan Frans. Oleh sebab itu, dia harus terus menyibukkan dirinya agar pikirannya teralihkan.
“Ray, tolong kamu display gitar ini. Letakkan di tempat kosong, di sebelah kanan,” ucap Jericho kepada salah satu karyawannya sambil menunjuk ke arah tempat yang dimaksud.
“Kali ini barangnya lebih unik dari yang bulan kemarin,” ucap Ray sambil meletakkan sebuah gitar pada tempat yang dimaksud Jericho.
“Aku senang bisa menemukan cukup banyak pengrajin yang jenius di kota ini. Toko ini pasti akan cepat berkembang, jika barang-barang yang di-supplay berkualitas seperti ini,” kata Jericho dengan mimik puas.
“Aku juga senang jika toko ini maju, boss. Asal anda tidak melupakan bonus untuk karyawan teladan ini,” ucap Ray sambil menunjuk dirinya dan tertawa.
“Halo, J!” Seorang gadis yang baru masuk ke dalam toko, menyapa Jericho.
“Aku ingin mencari sebuah gitar lele. Apakah ada?” Lana berpura-pura melihat ke sekeliling toko. Sebenarnya, ia tahu bahwa barang itu belum tersedia. Gadis itu hanya ingin mendekati Jericho.
“Mungkin bulan depan. Sekarang belum ada,” balas Jericho singkat.
“Ehm, kamu terlihat begitu sibuk. Apakah pekerjaanmu masih banyak?” Lana mencari-cari topik pembicaraan.
“Seperti yang kamu lihat,” balas Jericho seadanya.
“Aku sebenarnya ingin mengajakmu minum kopi. Apakah kamu memiliki waktu?” Lana berharap Jericho tidak menolak lagi ajakannya.
“Sorry, aku masih mempunyai banyak pekerjaan,” jawab Jericho dengan dingin.
“Baiklah, mungkin lain kali. Bye, J!” Lana segera melangkah ke arah pintu keluar, sambil beberapa kali menatap Jericho, sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu.
Beberapa gadis seringkali mendatangi Jericho di tokonya untuk sekedar basa-basi. Mereka sesungguhnya ingin mengenal Jericho lebih dekat dan berharap bisa menjadi kekasihnya. Namun, seperti biasa, laki-laki itu selalu menghindar.
“Boss, bolehkah aku bertanya?” Ray berucap dengan sedikit ragu.
“Apa?” Jericho menaikkan keningnya.
“Kenapa boss menolak perempuan cantik itu? Boss masih normal kan?” Ray hanya berharap semoga Jericho tidak tersinggung dengan pertanyaannya.
“Tentu saja aku normal. Aku hanya tidak suka wanita agresif,” balas Jericho dengan wajah datar.
“Waktu itu ada yang datang dengan wajah polos, boss juga terlihat tidak berminat.” Ray semakin ingin tahu.
“Wajah pura-pura polos lebih tepatnya. Sudah-sudah! Kau, lanjutkan pekerjaanmu! Kalau kau masih banyak bicara, aku potong bonusmu, nanti.” Jericho mulai geram dengan pertanyaan Ray.
“Iya-iya Boss! Jangan sensi dong!” Ray segera melanjutkan pekerjaannya. Jericho menggelengkan kepala.
Beberapa tahun telah berlalu, sejak pernyataan cintanya di tolak oleh Andrea. Namun, hingga kini, laki-laki itu masih menutup diri. Ia terlihat enggan menjalin hubungan dengan wanita mana pun. Pesona Andrea begitu kuat menyentuh sanubarinya, sehingga membuat yang lain harus puas berperan sebagai figuran di dalam dunianya.
------------------
*London, Inggris*
Di sebuah area pemakaman, seorang gadis nampak berdiri di depan sebuah batu nisan, sambil membawa seikat bunga Lili berwarna putih. Gadis itu meletakkan bunga itu di atas nisan yang ada di hadapannya.
“Halo, Frans! Aku datang lagi,” ucap Andrea dengan mata yang berkaca-kaca.
“Frans, bagaimana kabarmu di sana? Apakah merindukanku?” Air mata Andrea jatuh saat ia membayangkan wajah kekasihnya di masa lalu.
“Aku hanya ingin memberi tahu bahwa aku akan mengejar mimpiku. Aku sudah diterima di kampus itu. Musim depan kuliahnya sudah dimulai,” ucap Andrea sambil tersenyum.
“Kau tahu? Aku sebenarnya masih mengingat bahwa kamu berjanji akan menemaniku sekolah di sana. Tapi mungkin kamu lebih suka menjagaku dari jauh.” Tangan Andrea menyentuh pipinya. Ia mencoba menyeka air matanya.
“Tapi, kamu tidak usah khawatir. Norah akan menemaniku, atau jangan-jangan kamu yang mengirimkan Norah untukku?” Andrea melanjutkan perkataanya.
“Frans, aku merindukanmu! Aku selalu merindukanmu!” Isak tangis Andrea semakin keras terdengar.
“Aku lelah berpura-pura tegar di hadapan orang-orang. Kamu meninggalkanku saat aku sangat membutuhkanmu. Itu terlalu menyakitkan,” ucap Andrea sambil terbata-bata.
Gadis itu menangis sambil bersimpuh. Ia mengeluarkan semua perasaannya melalui tangisan. Dia tidak pernah tahu sampai kapan duka itu menyelimutinya.
Cinta memang kuat seperti maut. Ketika hatimu sudah memutuskan untuk mencintai seseorang, maka sulit bagimu untuk berpaling dan melupakan. Cinta akan merampas seluruh hidupmu, hingga tidak menyisakan kesempatan bagi yang lain.
Begitu pula dengan kematian. Ketika kematian telah merampas kehidupan seseorang, tidak akan pernah ada kata kemungkinan setelahnya.
------------------
Happy reading bro and sis!