
\-\-Andrea's PoV \-\-
Pagi ini, aku terbangun dengan perasaan yang berbeda. Hujan malam itu menjadi saksi dimana aku terlihat seperti seorang penipu yang tertangkap basah, hingga tidak bisa berkata apa-apa. Aku bahkan tidak mampu membela diriku, karena semua yang dikatakan oleh laki-laki itu adalah benar. Aku tidak mencintainya. Hanya saja, aku tidak menyangka bahwa ia bisa merasakannya.
Sesungguhnya malam itu, hatiku belum siap untuk mengetahui dan mendengar betapa besar perasaannya padaku. Aku merasa tidak layak menerima cinta yang begitu tulus darinya. Frans mencintaiku dengan sangat dalam selama ini, dan tetap mencintaiku meski tahu bahwa perasaan ini bukan untuknya.
Suaranya yang begitu dalam, berlomba dengan suara derasnya hujan malam itu, benar-benar membuatku terharu, sekaligus malu, karena tidak bisa memberikan balasan yang setimpal dengan perasaannya padaku. Aku bahkan masih mencintai laki-laki lain ketika bersama dengannya malam itu.
Lebih gilanya lagi, aku mengucapkan maaf di dalam hatiku, sementara bibirku justru mengecup pipinya. Aku yang merasa bersalah ini, tidak mampu menghindar atau bahkan mengabaikan kemauannya, ketika dia meminta untuk menciumku malam itu. Ya, aku membiarkan dia mengambil ciuman pertamaku.
Jujur, aku tidak tahu apa yang aku lakukan kemarin adalah benar atau salah. Aku membiarkan dia menciumku karena sebuah perasaan bersalah. Tapi itu tidak boleh terjadi lagi. Jika suatu saat nanti, kami melakukannya lagi, maka aku harus sudah memberikan hatiku padanya.
Mungkin juga itu sebuah pertanda. Pertanda bahwa aku telah siap melangkah kali ini. Mungkin memang sudah waktunya bagiku melupakan Jericho. Sudah waktunya bagiku untuk melangkah meninggalkan semua kenangan tentangnya. Frans adalah seorang laki-laki baik yang mencintaiku. Aku tidak boleh mengecewakannya.
------------------
“Tunggu sebentar,” ucapku saat mendengar suara ketukan di pintu.
“Pemisi, nona. Apakah Anda nona Andrea Williams?” Seorang petugas delivery yang sejak tadi sudah berdiri di muka pintu bertanya padaku.
“Benar, apakah ada paket untuk saya?” Aku bertanya kembali pada petugas delivery itu.
“Ada bunga untuk anda nona?” Petugas itu pun menunjukkan sebuket bunga kepadaku.
“Silahkan anda tanda tangan di sini!” Petugas tersebut menunjukkan tempat tanda tangan penerima, pada bukti tanda terima yang dipegangnya.
“Dari siapa, ya?” Aku bertanya penasaran.
“Maaf nona, pengirimnya melarang kami menyebutkan identitasnya. Mungkin penggemar rahasia anda, nona,” jawab petugas itu sambil tersenyum ramah kepadaku.
“Baiklah. Terima kasih.” Aku mengambil bunga itu, setelah selesai menandatangani berkasnya.
Sebuket bunga Anyelir putih ku genggam, setelah aku menerimanya dari seorang kurir yang tidak bisa menyebutkan nama pengirimnya. Dari yang aku pahami saat membaca buku-buku tentang filosofi bunga, Anyelir putih adalah bunga yang melambangkan cinta yang murni dan menggebu.
“Apa benar aku memiliki penggemar rahasia? Penggemar rahasia yang mencintaiku? di kota ini? Rasanya itu sedikit aneh.” Aku berbicara sendiri pada diriku.
Aku tidak yakin bahwa itu adalah bunga dari Frans. Sebab yang aku tahu, biasanya Frans memberikan sebuket bunga lili putih padaku. Apakah dia sengaja mengubah pilihan bunganya? Aku berpikir mungkin karena saat ini kami telah bersama, maka ia mengubah jenis bunga pemberiannya.
Aku hendak meletakkan bunga itu pada sebuah vas dan mengisinya dengan air. Saat tanganku bergerak untuk menata bunganya, tanpa sengaja aku melihat sepucuk kertas bertuliskan pesan di tengah-tengah bunga itu.
‘Meski memilikimu hanyalah sebuah angan, tetapi mencintaimu adalah sebuah kemuliaan.' L
Siapa 'L'? Aku benar-benar penasaran sekarang. Kertas itu ditulis dengan sebuah tulisan tangan dengan model huruf latin. Aku tidak bisa mengenali tulisan siapa itu. Aku berpikir cukup lama untuk bisa memecahkan inisial 'L' yang tertulis pada sepucuk kertas itu. Namun, hingga kini aku tidak bisa menemukan jawabannya. Aku pun akhirnya memutuskan untuk mengabaikannya.
------------
Aku mengaransemen sedikit lagunya untuk membuatnya semakin manis. Frans terlihat bahagia dengan aransemenku. Ia bahkan mengecup kening dan memelukku saat kami selesai melatih lagu itu.
“Kau benar-benar membuatku semakin mengagumimu, sayang. Kau membuat lagu ini lebih ‘hidup’. Terima kasih, aku mencintaimu, Elaine,” kata Frans setelah kami selesai memainkan lagu ‘Truly ’.
“Frans, kau punya waktu? Ada yang ingin aku bicarakan padamu,” kataku pada Frans.
“Aku selalu tersedia bagimu sayang, katakanlah!” Frans menggenggam tanganku.
“Dua hari lagi aku akan pindah ke asrama yang disediakan oleh panitia lomba. Mereka sudah menghubungiku. Aku hanya ingin meminta bantuan untuk memindahkan barang-barangku, jika kamu ada waktu dan tidak keberatan,” ucapku memohon bantuan kepadanya.
“Tentu saja sayang. Tidak perlu merisaukan itu. Aku akan membantumu saat pindahan nanti,” balas Frans kepadaku.
“Oya, karena jadwal meeting saat lomba sangat padat, mungkin nantinya aku hanya bisa membantumu mempersiapkan konser pada saat weekend saja. Apakah itu tidak apa-apa, Frans?” Aku bertanya kembali.
“Tentu saja, sayang. Lomba itu juga adalah prioritasmu, sebab aku juga yang mengusulkannya,” jawab Frans padaku seraya membelai rambutku.
“Terima kasih banyak, Frans,” kataku kembali padanya.
“Sayang. Panggil aku 'sayang'!” Frans memintaku dengan raut wajah yang serius.
“Baiklah, sa-sayang.” Aku merasa gugup dan sedikit aneh dengan kata itu. Aku belum terbiasa.
“Sayangku, bagaimana jika malam ini kita berkencan? Cuaca cukup bagus hari ini,” kata Frans mengajakku pergi berdua malam ini.
“Maaf, sa-sayang. Bolehkah malam ini aku di apartment saja? Aku harus mencicil untuk mengepak barang-barangku,” pintaku padanya.
“Kalau begitu, ijinkan aku membantumu, sayang,” tutur Frans menyatakan bahwa ia ingin menemaniku mengepak barang.
“Jangan malam ini! Mungkin besok saja. Aku ingin mengepak barang-barang yang cukup pribadi. Maksudku yang sangat wanita. Kau tahu kan maksudku?” Aku berusaha melarangnya.
“Baiklah! kalau begitu besok aku akan membantumu,” ucap Frans membalas perkataanku. Akupun merasa lega.
--------------
Sekarang di sinilah aku. Di dalam sebuah Taxi menuju ke sebuah tempat. Aku terpaksa berbohong lagi kepada Frans. Semua itu terpaksa kulakukan karena aku harus melakukan sesuatu. Aku harus menyelesaikan hatiku dengan pergi ke suatu tempat.
Sepanjang perjalan di dalam Taxi, aku tak henti-hentinya memandang deretan pohon yang berbaris rapi di pinggir jalan. Pohon-pohon yang tidak tampak terlalu hijau, karena tidak ada cahaya yang cukup terang, yang dapat memperjelas mataku untuk melihat warnanya. Aku meminta ijin kepada supir Taxi untuk membuka jendela. Aku ingin menghirup udara segar di sepanjang perjalanan ini agar aku bisa merasa lebih tenang.
Taxi berjalan dengan kecepatan sedang dan sesekali bergerak lambat karena jalan yang dilalui berkelok-kelok. Aku yang ternyata tidak menutup tasku baik-baik, membuat kamera Polaroid yang ada di dalamnya hampir terjatuh. Beruntung aku segera menyadarinya dan menangkap kamera itu.
Tempat tujuan ku semakin dekat. Aku meminta kepada supir Taxi itu untuk mengurangi kecepatannya. Ketika aku menyadari tujuanku sudah di depan mata, aku meminta sopir itu untuk menurunkanku di pinggir jalan. Aku berjalan pelan-pelan menuju sebuah bukit kecil yang ada di pinggir jalan sambil berusaha mengeluarkan kamera Polaroid dari dalam tasku.
Samar-samar aku melihat, ada seseorang laki-laki sedang berdiri di tempat di mana aku hendak pergi. Laki-laki itu terlihat sedang memainkan biolanya. Permainan yang begitu indah dan dibawakan dengan penuh perasaan. Aku yang terpesona dengan permainannya menjadi sangat penasaran dan berjalan semakin mendekat kepadanya.
“Bukankah itu….” gumamku dalam hati.