More Than Words

More Than Words
The Kites



*Satu minggu kemudian*


“An, sepertinya ada paket lagi untukmu. Tadi petugas security di depan yang terima. Mereka minta tolong aku kasih tahu kamu,” kata Jennifer yang adalah ketua panitia lomba. Ia menyampaikan pesan dari petugas security asrama.


“Paket? Bunga Anyelir putih?” Andrea bertanya kepada Jennifer.


“Iya, bunga. Persisnya bunga apa, aku tidak tahu,” balas Jennifer.


“Ok. Thank’s Jen!” Andrea membalas singkat sambil tersenyum.


“Kata petugas security, kamu tiap hari dapat kiriman bunga. Pacar kamu yang Pianist itu yang kirim bunganya, ya? Romantis sekali.” Jennifer menggoda Andrea.


“Aku tidak tahu Jen,” balas Andrea sambil mengangkat bahunya.


“Jadi bukan pacar kamu? Misterius. Apakah hanya bunga? Tidak ada semacam ucapan begitu dengan nama pengirimnya? Siapa tahu kamu terlewat, tidak memperhatikannya.” Jennifer semakin ingin tahu.


“Sebenarnya, ada kartu ucapan yang terselip di antara bunga-bunga itu, hanya saja pengirimnya selalu menggunakan inisial. Sampai saat ini, aku tidak bisa menebak inisial itu. Jadi, pasti bukan pacarku. Lagi pula, jika benar itu dari Frans, pasti Lili putih yang aku terima,” jawab Andrea menanggapi pertanyaan Jennifer.


“Pacar kamu tidak marah, saat mengetahui kekasihnya dikirimi bunga setiap hari sama orang lain?” Jennifer keheranan.


“Aku belum kasih tahu dia, sih. Aku pikir awalnya ini hanya kerjaan orang yang iseng,” ucap Andrea.


“Ya, sudahlah! Have a nice weekend! Hari ini kamu mau kemana?” Jennifer melanjutkan perbincangannya.


“Belum tahu. Yang jelas aku mau charging mood dulu. Finally, bisa istirahat.” Andrea tersenyum lebar karena bahagia mendapat kesempatan libur.


“Enjoy your day! Bye, Andrea!” Jennifer melenggang pergi.


“Bye, Jennifer!” Andrea melambaikan tangannya.


Sudah beberapa hari ini, Andrea selalu mendapat kiriman bunga Anyelir putih. Gadis itu mengira bahwa dengan kepindahannya dari apartment ke asrama, pengirimnya akan kehilangan jejak dan berhenti mengirimkan bunga-bunga itu. Tetapi, ia salah. Setiap hari, tanpa absen, bunga Anyelir putih yang segar selalu menghiasi kamarnya. Namun, hingga kini, ia masih belum bisa menebak nama pengirimnya.


------------------------


Jalanan kota New York cukup lengang hari ini. Sepertinya, banyak orang memilih untuk beristirahat di rumah. Beberapa yang berlibur, lebih banyak memilih berkendara pagi-pagi sekali untuk menghindari kemacetan.


Saat ini, mobil Frans melaju cukup kencang, memecah jalanan kota yang tidak padat. Laki-laki bernetra biru langit itu nampak tidak sabar bertemu dengan kekasihnya, setelah seminggu lamanya tidak berjumpa. Beberapa menit saja diperlukan untuk sampai di asrama Andrea. Frans langsung tersenyum senang, saat melihat gadisnya sudah menunggu di lobby asrama.


“Hai sayang! I miss you,” kata laki-laki itu sambil mengecup pipi Andrea.


“Oh, come on, honey! Kamu biasa meninggalkan aku berbulan-bulan untuk konsermu. Ini hanya seminggu dan kamu sudah rindu?” Andrea menertawakan kelakuan Frans.


“Itu sebelum kamu menjadi kekasihku, sayang. Sekarang tentu berbeda. Aku bahkan ingin segera meresmikan hubungan kita, supaya aku bisa membawamu kemana pun aku pergi,” ucap Frans mengutarakan harapan terbesarnya.


Andrea tersenyum sambil menggelengkan kepala. Frans memang berubah sejak Andrea menerima cintanya. Frans sering menemuinya, mengirimi pesan, dan menelpon, hanya untuk mengetahui kabar, melihat, dan mendengar sebentar suara gadis itu.


“Sayang, kemana kita akan pergi?” Andrea bertanya karena Frans belum memberi tahu tujuan mereka hari ini.


“Suatu tempat yang pastinya kamu suka. Oh ya, aku lupa memberitahumu. Kau pasti tidak membawa baju ganti kan? Nanti di tengah perjalanan, kita mampir sebentar ke boutique untuk membeli pakaian ya?” ucap Frans.


“Pakaian ganti? Untuk apa? Apakah kita akan menginap?” Andrea mulai penasaran.


“Tidak, sayang! Kau pasti memerlukannya nanti. Aku tidak mau memberi tahu sekarang,” balas Frans yang akhirnya semakin membuat kekasihnya penasaran.


“Oke, aku sudah di sini dan kamu yang memegang kemudi. Aku ikut kemana pun kamu pergi,” jawab Andrea pasrah.


----------------------------


Sekelompok burung camar terbang tinggi membelah langit yang cerah. Deru ombak yang menggulung memecah keheningan. Angin barat bertiup kencang, menyibakkan rambut seorang gadis yang berdiri di tepi pantai.


“Apa yang kamu lamunkan sayang?” Frans berdiri di belakang gadis itu dan mengalungkan tangannya ke pinggang gadisnya.


“Aku memikirkanmu,” balas Andrea.


“Kalau begitu, katakan apa yang kau pikirkan tentangku?” Frans mengecup puncak kepala Andrea.


“Kenapa kau selalu bisa membuatku bahagia?” Andrea mengarahkan matanya ke hamparan laut yang luas sambil tersenyum.


“Apakah sekarang kamu menyesal karena mengabaikanku sejak lama, sayang? Kamu sudah menyadari bahwa laki-laki ini yang bisa membahagiakanmu sekarang?” Frans bicara dengan begitu percaya diri.


“Aku mencintaimu, sayang. Aku akan berjuang untuk selalu membahagiakan wanita yang aku cintai.” Frans mengecup puncak kepala andrea lagi.


“Apakah kau mau berenang, Frans?” Andrea bertanya.


“Aku rasa aku akan menawarkan kegiatan yang lain, yang lebih menyenangkan.” Frans membalikkan badan Andrea menghadap ke arahnya.


“Apa?” Andrea melanjutkan percakapan mereka.


“Bagaimana kalau kita bermain layang-layang?” Frans menunjuk ke arah kios penjual layang-layang.


“Aku mau! Aku sudah lama tidak bermain layang-layang, sayang.” Gadis itu nampak sangat tertarik dengan tawaran kekasihnya. Matanya langsung berbinar seperti seorang anak kecil yang menemukan mainan kesukaannya.


“Mari kita pilih layang-layangnya!” Frans menggandeng tangan Andrea.


Mereka berdua berjalan beriringan hingga tiba di kios layang-layang. Andrea nampak kebingungan memilih layang-layang yang akan mereka mainkan.


“Bagaimana kalau yang ini?” Andrea menunjuk sebuah layang-layang berbentuk ikan.


“Ikan? Di udara? Aku rasa tidak ada ikan yang terbang sayang?” Frans tertawa merasa konyol dengan layang-layang berbentuk ikan.


“Ah, kau benar. Itu konyol.” Gadis itu tertawa seketika sadar.


“Bagaimana jika yang berbentuk kupu-kupu?” Frans menunjuk sebuah layang-layang berbentuk kupu-kupu berwarna biru.


“Oke, tapi aku tidak suka warnanya. Kita harus memilih warna yang contrast dengan langit supaya terlihat.” Mata Andrea menyisir satu demi satu layang-layang yang berbentuk kupu-kupu.


“Yang merah-orange, bagaimana?” Andrea meminta pendapat Frans.


“Cantik! Miss, Tolong berikan yang berwarna merah-orange,” ucap Frans sambil mengeluarkan sejumlah uang.


“Ayo, sayang! Aku sudah tidak sabar.” Gadis itu berlari sambil membawa layang-layang yang sudah dibelinya.


Dua sejoli itu nampak bahagia. Frans ternyata cukup ahli menerbangkan layang-layang mereka. Tidak butuh waktu lama, layang-layang berbentuk kupu-kupu itu terbang tinggi menghias angkasa. Andrea tersenyum senang. Beberapa kali, ia bergantian dengan Frans memegang benangnya.


“Kau bahagia bersamaku sayang?” Frans melihat gadisnya masih berusaha mengendalikan layang-layang mereka.


“Apakah kau masih harus bertanya? Apakah kau tidak bisa membaca ekspresiku?” Andrea melihat Frans sejenak dan kembali memperhatikan layang-layangnya.


“Sayang, kau tahu? Aku sekarang merasa bahwa kau adalah layang-layang yang aku genggam. Aku membiarkanmu terbang, mengikuti arah angin, namun kamu akan selalu berada di dalam jangkauanku. Kau bisa pergi kemanapun yang kau suka, mengikuti arah takdirmu, tetapi tetap kau akan selalu kembali padaku,” Frans menatap tajam gadisnya.


“Ah, Putus!” Andrea tidak bisa menjangkau layang-layangnya lagi, meski sisa benang yang masih melekat pada layang-layang itu tetap terlihat oleh matanya.


Frans tidak menyerah. Ia masih mengejar dan berusaha mendapatkannya. Tangannya berusaha menjangkau benang itu.


“Sudah Frans, jangan dikejar lagi! Hati-hati, kamu bisa jatuh dan terluka!” Andrea melarang Frans.


Frans tidak menghiraukan perkataan Andrea. Ia masih mengejarnya. Ia melompat dan akhirnya mendapatkan layang-layang itu. Laki-laki itu pun segera menarik dan menurunkan layang-layang mereka.


“Mari biar kusambungkan!” Frans mengambil sisa benang yang ada di tangan Andrea dan menyambungkannya.


“Kenapa kau mengejarnya? Bukankah kita masih bisa membeli yang baru? Kau bisa terluka, banyak kerikil di sini.” Andrea sedikit mengkhawatirkan kekasihnya.


“Yang baru tidak akan pernah sama,” balas Frans sambil menatap Andrea.


“Masih mau bermain lagi?” Frans melanjutkan percakapan mereka dengan memberi tawaran untuk bermain lagi, namun gadis itu menggelengkan kepalanya.


“Elaine, kau lihat? Seperti aku tidak melepaskan layang-layang ini, maka aku juga tidak akan pernah melepaskanmu,” ucap Frans sambil mengambil telapak tangan Andrea dan mengecupnya.


Andrea terus menatap mata Frans. Gadis itu menyadari sungguh bahwa laki-laki yang ada di hadapannya serius dengan perkataannya. Andrea seketika memeluk kekasihnya. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia berdoa di dalam hati agar rasa cintanya untuk Frans semakin hari semakin besar.


Frans melonggarkan pelukan mereka. Laki-laki itu mengangkat dagu Andrea. Mata mereka saling memandang. Perlahan-lahan Frans mendekatkan wajahnya. Ia memberanikan diri mengecup bibir Andrea dengan lembut kemudian menghentikannya sejenak, sebelum ia mengecupnya lagi dan merasakan gadis itu membalas kecupannya.


-------


Jangan lupa Feedback-nya! Happy reading!