More Than Words

More Than Words
Enigma



“Andrea!” Norah memanggil sahabatnya dari stand promosi yang dijanjikan Frans untuk kampusnya.


“Norah?” Andrea tidak percaya bahwa sahabatnya ada di hadapannya saat ini. Gadis itu kemudian meminta ijin kepada tunangannya untuk menghampiri sahabatnya sejenak.


“Selamat ya! Wah aku senang sekali, akhirnya sahabatku ini sudah tidak single lagi,” Norah tersenyum dan langsung memeluk Andrea.


“Terima kasih sayang. Kampus yang mengutusmu ke sini untuk jadi duta promosi juga?” Andrea ingin memastikan dugaannya.


“Kamu dutanya. Kami hanya tim promosi saja. kau tahu kan kemampuan promosi sahabatmu ini seperti apa?” Andrea dan Norah sama-sama tertawa.


“Kapan kau tiba di kota ini Rah? dan kapan kau kembali ke London?” Andrea melanjutkan pertanyaannya.


“Aku tiba kemarin malam, sayang. Lusa baru kita sama-sama pulang, sebab besok kampus memberi bonus tur keliling New York untuk kita semua. Tunanganmu juga diundang. Pihak kampus juga ingin berterima kasih kepadanya karena kita mendapat kesempatan promosi gratis di sini.” Norah menjelaskan.


“Permisi, Miss Andrea?” Seorang ibu-ibu berusia sekitar empat puluh tahun menepuk pundak Andrea.


Gadis itu membalikkan badannya menghadap seorang wanita, yang baru saja menepuk pundaknya.


“Iya. Ada yang bisa saya bantu, nyonya?” Andrea tersenyum ramah.


“Saya Daniella Adams. Senang berjumpa dengan anda. Apakah benar puisi-puisi yang dibacakan oleh Mr. Moreno adalah karya-karya anda?” Wanita itu melanjutkan percakapannya.


“Iya, nyonya. Saya yang membuatnya.” Andrea tersenyum ramah kembali.


“Saya dengar Anda berasal dari London, apakah itu benar? Kebetulan saya bekerja di sebuah kantor penerbitan di London. Saya di sini karena ada peresmian kantor cabang kami yang baru. Sejujurnya, saya menyukai puisi-puisi anda. Apakah Miss Andrea tidak berminat untuk menerbitkannya menjadi sebuah buku?” Daniella memberikan penawaran.


“Saya memang berasal dari London. Terima kasih atas penawarannya nyonya, saya akan memikirkannya dulu.” Andrea menatap manik wanita itu dengan tatapan bahagia.


“Minta saja kartu namanya, An.” Norah memberikan saran kepada Andrea yang juga didengar oleh Daniella.


“Oh iya, ini kartu nama saya. Jika anda sudah membuat keputusan untuk menerbitkan puisi-puisi itu, saya akan menyambutnya dengan senang hati. Saya permisi, selamat atas pertunangan anda dan penampilan anda yang memukau tadi.” Daniella segera pergi meninggalkan kedua sahabat itu.


“Hari ini sepertinya hari keberuntunganmu, An.” Norah tersenyum kepada sahabatnya.


“Kau benar! Aku bahkan tidak menyangka bahwa aku akan dilamar dengan romantis hari ini, melihat Jurgen Clinton menyanyi untukku, dan tidak hanya itu saja, tiba-tiba muncul seorang wanita menawarkanku untuk menerbitkan puisi-puisiku.” Andrea melamun membayangkan kejadian-kejadian yang baru saja ia alami.


“Aku juga beruntung, An. Hari ini aku ditabrak oleh malaikat tak bersayap.” Norah membayangkan wajah laki-laki yang tadi menabraknya.


“Malaikat tak bersayap?” Andrea penasaran.


“Iya, tadi aku berpapasan dengan seorang laki-laki. Dia tidak sengaja menabrakku dan sepertinya dia sedang terburu-buru. Mata hijaunya, rambutnya yang ikal dan sedikit panjang. Oh, Tuhan, dia begitu tampan.” Norah masih terkesima dengan wajah laki-laki itu.


“Mata hijau, rambut ikal dan sedikit panjang? Apa yang dimaksud Norah adalah Jericho?” Andrea bertanya di dalam hatinya.


“Sayang!” Frans menghampiri Andrea bersama dengan Andrew. Andrea pun menghentikan lamunannya dan menoleh ke arah suara yang memanggilnya.


“Frans! Kenalkan ini Norah, sahabatku. Norah, ini Frans dan ini Andrew,” kata Andrea, mengenalkan Norah kepada Frans.


“Halo, saya Frans, tunangan Andrea.” Frans mengulurkan tangannya.


“Halo, nona manis. Saya Andrew,” ucap Andrew yang kelihatannya tertarik dengan Norah.


Norah mengulurkan tangannya sambil menatap dua laki-laki yang ada di hadapannya. Ia bergumam dalam hati, sepertinya hari ini ia sangat beruntung bisa bertemu banyak laki-laki tampan.


“An, apakah kau melihat Jericho? Tadi sepertinya aku melihat dia datang, tetapi kemana perginya laki-laki itu?” Andrew menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sahabatnya.


“Aku tidak,” belum sempat Andrea melanjutkan kata-katanya, Frans tiba-tiba menyela.


“Mungkin dia sudah pulang atau dia ada urusan mendadak,” ucap Frans.


------------------------


Pagi itu, seperti biasa Andrea mendapatkan lagi sebuket bunga Anyelir Putih. Gadis itu menerima bunganya dan nampak terburu-buru mencari pesan yang terselip di antara bunga-bunga itu.


Andrea memang sudah terbiasa menerima kiriman bunga Anyelir putih setiap hari. Ia tidak berminat lagi mencari tahu siapa pengirimnya. Ia hanya tertarik membaca pesan yang selalu terselip di rangkaian bunga itu.


“Apa-apaan ini?” Andrea nampak gelisah sekarang.


Gadis itu benar-benar tidak mengerti dengan tulisan yang baru saja dibacanya. Ia tidak terlalu suka dengan teka-teki seperti ini dan berpikiran untuk mengabaikan pesan itu. Namun, entah mengapa hati kecilnya merasa tidak tenang sekarang. Berkali-kali ia membaca pesan itu. Ia terus memikirkan maksud pesan itu dan motif si pengirim.


Suara ketukan pintu memecah lamunannya. Andrea segera berjalan untuk melihat orang yang berdiri di balik pintu kamarnya.


“Andrea! Kau belum siap?” Norah cemberut saat mengetahui sahabatnya masih mengenakan piyamanya.


“Masuklah! Aku hanya butuh 20 menit dan kita bisa pergi.” Andrea menggeser tubuhnya, memberi celah agar sahabatnya bisa masuk.


“Kau ini, cepatlah! Aku tidak sabar ingin jalan-jalan. Jangan sampai rombongan meninggalkan kita!” Norah melipat kedua tangannya di dada dan membantingkan tubuhnya di sofa untuk menunggu sahabatnya.


“An, bunga dari siapa ini?” Norah seketika bangkit dari sofa dan berjalan ke arah meja makan. Ia menemukan sebuket bunga Anyelir putih.


“Entahlah!” Andrea berteriak dari dalam kamar mandi.


Norah menyadari bahwa ada banyak bunga anyelir putih di kamar itu yang sudah diletakkan di dalam vas. Norah sempat berpikir bahwa bunga itu berasal dari tunangan Andrea, tetapi jawaban Andrea yang tidak mengetahui siapa pengirimnya membuat Norah merasa aneh dan penasaran.


“An, apakah si pengirim rahasia yang mengirimkan semua bunga itu?” Norah tidak bisa menahan rasa ingin tahunya dan menanyakan kepada Andrea, saat Andrea sudah keluar dari kamar mandi.


“Iya, pengirimnya sama. Tapi aku tidak tahu siapa dia dan hari ini dia meminta kami bertemu,” ucap Andrea menjelaskan kepada Norah.


“Dimana?” Norah semakin penasaran.


“Di suatu tempat dimana kamu bisa melihat ribuan bintang tidak lagi melekat pada cakrawala,” ucap Andrea sambil menggelengkan kepala dan tertawa.


“Kau akan menemuinya?” Norah melanjutkan lagi pertanyaannya.


“Tentu, jika aku bisa menjawab teka-teki itu,” jawab Andrea sambil mengikat rambutnya.


“Kau gila! Bagaimana jika dia orang jahat?” Norah menatap tajam mata Andrea.


“Berarti dia penjahat yang romantis. Ayo! Kita pergi sekarang,” balas Andrea santai sambil menyeret sahabatnya untuk segera meninggalkan kamarnya.


------------------------


Hari itu seluruh tim promosi kampus terlihat bahagia karena mendapatkan tur gratis keliling kota New York. Frans yang mendapat undangan itu pun ikut menemani tunangannya. Frans tidak lupa mengajak Andrew bersama dengan mereka. Frans sempat berpikir bahwa Andrea pasti ingin juga menghabiskan waktu dengan teman-temannya, karena itu Andrew diikut-sertakan agar bisa menemani Frans.


“Frans, akhir-akhir ini aku tidak melihat Jericho. Kau tahu dimana dia?” Andrew bertanya kepada Frans yang sejak tadi memperhatikan gadisnya dari jauh.


“Aku tidak tahu.” Frans menjawab singkat.


“Ada apa dengan anak itu? Tidak biasanya dia menghilang seperti ini,” kata Andrew kepada Frans yang nampak tidak peduli dengan pertanyaan Andrew.


-------------


Siang berganti menjadi malam. Tidak terasa waktu berputar dengan begitu cepat tanpa peringatan. Kini Andrea telah berada di dalam kamarnya. Gadis itu hendak membaringkan tubuhnya karena kelelahan setelah beraktifitas seharian. Belum lagi, ia harus mengepak seluruh barangnya karena besok pagi ia akan kembali ke London dengan rombongan kampusnya.


Matanya mulai terpejam. Tidak lama kemudian ia teringat akan sesuatu. Matanya seketika terbuka.


“Apakah orang itu masih menungguku?” Andrea melihat jam di dinding kamarnya.


“Sudah jam 12 malam. Di suatu tempat dimana kamu bisa melihat ribuan bintang tidak lagi melekat pada cakrawala? Apa maksudnya? Apakah ada tempat seperti itu,” ucap Andrea kepada dirinya sendiri.


“Tunggu! Tidak melekat pada cakrawala berarti dia ada di bumi. Melihat ribuan bintang, apakah mungkin maksudnya melihat cahaya?” Andrea berpikir keras hingga rasa kantuknya menghilang.


“Apakah maksudnya adalah bukit cahaya? Apakah laki-laki itu adalah Jericho?” Gadis itu meraih lagi kesadarannya. Sekarang ia hanya ingin segera beranjak dari kamarnya dan pergi untuk memastikan sesuatu.


--------


Selamat membaca!