
Pagi itu, mendung menyelimuti angkasa. Awan Cumulonimbus yang perkasa menutup permukaan cakrawala tanpa ragu. Seorang gadis berdiri di balkon apartment-nya, mencium aroma basah di udara. Sebentar lagi hujan akan turun ke bumi.
Gadis itu tidak terlihat baik. Matanya menyiratkan kepedihan. Bibirnya bergetar, seperti menahan tangis yang hendak keluar. Beberapa kali tangan mungil gadis itu menghapus air yang menetes dari ujung netranya.
Seharusnya, hari ini adalah hari yang membahagiakan. Ia telah menerima cinta. Memilih seorang laki-laki yang begitu memujanya sejak lama, yang mau berbagi mimpi dengannya tanpa ragu, dan yang memastikan akan selalu menyediakan tempat baginya. Namun, entah mengapa jauh di dasar jiwanya, ia masih merasa kosong. Apakah laki-laki yang sempurna seperti itu tidak harapkannya?
Hari ini, sesuai janji yang terucap pada dirinya sendiri, ia akan melangkah melupakan memori lama. Memori tentang seseorang yang tidak akan pernah ia miliki. Ia tidak boleh mengabaikan apa yang selalu hadir di depannya, dan menukar semuanya dengan angan semu yang telah menguasai dirinya dan membuatnya menjadi seorang pemimpi bodoh.
Air mata yang menetes di pagi itu adalah air mata selamat tinggal pada laki-laki pertama yang mengisi hatinya. Laki-laki yang hanya akan selalu menjadi bintang, yang mampu memberi cahaya bagi jiwanya, tetapi tidak akan pernah bisa ia miliki.
-------------------
“Elaine, Aku sudah memilih delapan lagu untuk konserku nanti. Ini draft lagu-lagunya, dan ini satu lagu yang akan kita mainkan bersama,“ ucap Frans kepada Andrea sambil menunjukkan lagu-lagu itu.
“Truly by Lionel Richie?” Andrea berucap sambil menyiratkan kekaguman terhadap lagu pilihan Frans.
“Kau keberatan?” Frans bertanya kembali kepada Andrea.
“I love it. An old song, right? It’s a wonderfull song, ” balas Andrea dengan senyum bahagia.
“Glad to hear that. I know you have the same taste with me,” ucap Frans sambil menyentuh pipi Andrea dan kemudian mengecup keningnya.
“Okay, Everybody. Waktu konser sudah semakin dekat. Terima kasih karena sudah mau mendukungku. Beberapa minggu lagi, konser 'Music and Poetry ' ini akan terselenggara. So, we don’t have so much time. Kita bisa memulai latihan kita dari sekarang. Aku telah menyiapkan delapan lagu, yang sudah pernah kita mainkan di beberapa konser sebelumnya. Jadi, kita hanya tinggal mengulang saja. Tujuh lagu akan dibawakan dengan full orchestra, sementara lagu terakhir akan aku mainkan secara duet dengan kekasihku, Ms. Andrea Williams,” ucap Frans menjelaskan.
“Apakah Jericho akan membantu kita, Frans?” Anthony, seorang pemain viola bertanya.
“Aku tidak tahu sebab dia belum bisa memastikannya,” balas Frans kepada Anthony.
Latihan pun dimulai. Frans dan timnya sangat serius melatih beberapa lagu. Sementara itu, Andrea terlihat sibuk berdiskusi dengan beberapa orang. Seperti janjinya kepada Frans, ia menjadi ketua tim kreatif di acara konser Frans kali ini. Ia mulai berkoordinasi dengan beberapa kru.
Di tengah-tengah waktu luangnya, Andrea mulai menulis puisi yang akan disesuaikan dengan lagu-lagu yang sudah dipilih oleh Frans. Ia harus menyiapkan delapan puisi, sama dengan jumlah lagu yang dipersiapkan oleh Frans. Semua puisi itu, nantinya akan dibaca oleh Frans sebagai pengantar sebelum memainkan lagu-lagu yang sudah dipilihnya. Baik Andrea maupun Frans mempersiapkan semuanya dengan sungguh-sungguh.
Waktu berjalan dengan cepat. Tidak terasa malam pun menjemput. Hilangnya cahaya dari permukaan langit New York memberi isyarat bagi setiap orang di dalam ruangan itu untuk segera pulang. Tidak terkecuali Frans dan Andrea. Mereka segera masuk ke mobil dan menempuh perjalanan untuk kembali ke apartment masing-masing.
“Mari, kita makan malam dulu! Ada restaurant yang cukup terkenal di dekat sini. Bagaimana jika kita mampir?” Frans bertanya kepada Andrea.
“Terserah kau saja Frans,” jawab Andrea sambil tersenyum.
-------------------
Malam itu, restaurant tidak terlalu penuh. Hanya ada beberapa keluarga yang terlihat menghabiskan waktu bersama-sama, serta beberapa pasangan sedang duduk berhadapan, saling memandang penuh kekaguman.
Restaurant itu difasilitasi dengan sebuah panggung pertunjukan musik yang terletak di tengah-tengah ruangan. Para penampil terlihat sedang mempersiapkan diri mereka. Rupanya malam itu akan ada pertunjukan musik, yang dimaksudkan untuk menemani makan malam para pelanggan. Frans dan Andrea kemudian memilih tempat yang cukup dekat dengan panggung.
Tidak lama terdengar bunyi bell dari arah pintu masuk, yang menandakan bahwa ada orang yang sedang membuka pintu. Seorang pelanggan laki-laki, menenteng sebuah tas biola ditangannya, baru saja masuk ke dalam dan terlihat sedang mencari-cari tempat duduk.
“Jericho!” Frans sedikit berteriak sambil mengangkat tangannya untuk menyita perhatian orang yang baru saja disebutkan namanya.
Jericho langsung berjalan mendekat ke arah Frans dan menemukan bahwa Andrea juga ada di situ bersama sahabatnya.
“Kalian, sudah lama di sini?” Jericho bertanya.
“Tidak, baru saja,” jawab Frans.
“Halo, Andrea! Sepertinya aku mulai merindukanmu setelah penampilan bersama kemarin.” Jericho tiba-tiba mengalihkan perhatiannya pada gadis yang duduk di sebelah Frans.
Andrea hanya terdiam menatap Jericho, sementara Frans tersenyum kecut ke arah laki-laki bermata hijau itu.
“Bolehkah aku duduk sebentar di sini bersama kalian? Ada yang ingin aku bicarakan sebentar denganmu Frans,” ucap Jericho sambil menatap Frans.
“Kalau begitu aku akan pergi sebentar, jika kalian butuh privasi,” ucap Andrea yang kemudian langsung berdiri untuk meninggalkan meja itu, namun tangannya ditahan oleh Jericho.
“Tidak perlu! Aku hanya sebentar dan ini bukan sesuatu yang perlu dirahasiakan,” kata Jericho sambil menarik tangan Andrea untuk duduk kembali, dan baru melepaskannya ketika Andrea telah benar-benar duduk.
“Frans, aku rasa untuk konsermu kali ini, aku tidak bisa membantu. Maafkan aku. Aku sepertinya butuh waktu untuk beristirahat dan menjernihkan hatiku, ” ucap Jericho kepada Frans sambil sesekali melihat ke arah Andrea.
Frans terdiam sejenak sambil terus menatap Jericho. Tiba-tiba seutas senyum terlihat dari bibirnya.
“Baiklah! Aku tidak akan memaksa. Aku berharap kau masih akan datang ke konserku nanti, meski sesungguhnya aku berharap kau mau mengambil peran dalam momen terbaik dihidupku ini. Iya kan sayang? ” Frans berbicara sambil melihat Andrea dan melebarkan senyumnya kepada kekasihnya itu
Andrea tidak menjawab. Ia hanya membalas Frans dengan sebuah senyuman yang sedikit dipaksakan.
“Well! Aku sudah selesai berbicara. Aku akan mencari meja yang lain. Kalian lanjutkanlah! Aku tidak ingin mengganggu kalian,” tutur Jericho, lalu ia pun segera pergi meninggalkan sepasang kekasih itu.
Jericho baru saja menemukan mejanya. Tidak lama kemudian, bunyi bell yang melekat di pintu terdengar kembali. Seorang wanita cantik dengan rambut pendek bergelombang masuk ke dalam restaurant itu. Ia mengenakan sebuah dress berwarna merah dengan sepatu boots coklat. Wanita itu nampaknya sudah ditunggu sejak tadi oleh seseorang.
“Halo, J!" Wanita itu menyapa Jericho.
“Vanessa, kau sudah datang rupanya,” kata Jericho, yang kemudian langsung berdiri dan memeluk wanita itu.
“Kau memenuhi janjimu, J. Terima kasih sudah datang. Kau tidak keberatan, jika aku langsung meninggalkanmu untuk menyanyi di panggung kan? Aku sudah terlambat.” Wanita itu mengedipkan sebelah matanya kepada Jericho.
“Tentu saja. Please, Do your job! ” Jericho tersenyum kepada wanita itu.
Andrea tidak henti-hentinya memandang ke arah Jericho. Ia memperhatikan ketika laki-laki itu berbicara dengan wanita cantik dengan rambut pendek bergelombang itu. Ia melihat wanita itu naik ke atas panggung. Andrea langsung menyadari bahwa wanita itu adalah seorang penyanyi yang hendak perform malam ini.
“Malam ini sangat spesial. Saya kedatangan seorang tamu yang istimewa. Dia adalah seorang pemain biola yang berbakat. Saya mengundangnya untuk maju dan menemani saya di panggung ini. Jericho, please step forward! ”
Semua orang seketika bertepuk tangan, termasuk Andrea dan Frans. Jericho maju ke depan dengan membawa biolanya. Mereka nampak berdiskusi sejenak sebelum tampil. Tidak lama kemudian, musik mengalun kembali. Jericho menggesek biolanya, memainkan nada-nada yang menjadi sebuah interlude, sebelum wanita itu menyanyikan lagunya. Sebuah lagu dengan bahasa Italia.
🎵
Mi mancherai se te ne vai
(Aku akan merindukanmu jika kamu pergi).
Mi manchera la tua serenita
(Aku akan merindukan ketenanganmu).
Le tue parole come canzoni al vento (Kata-katamu seperti lagu dalam angin).
E l'amore che ora porti via
(Dan cinta yang sekarang kau ambil).
🎵
Mi mancherai se te ne vai
(Aku akan merindukanmu jika kamu pergi)
Ora per sempre non so come vivrei
(Sekarang selamanya aku tidak tahu bagaimana aku akan hidup)
E l'allegria, amica mia
(Dan sukacitaku, teman-temanku)
Va via con te
(Pergi denganmu)
🎵
Mi mancherai, mi mancherai
(Aku akan merindukanmu, aku akan merindukanmu)
Perche vai via?
(Mengapa kamu pergi?)
Perche l'amore in te si spento
(Mengapa cinta dalam dirimu padam)
Perche, perche?
(Mengapa, mengapa?)
Non cambiera niente lo so
(Aku tidak akan mengubah apa pun)
E dentro sento te
(Dan di dalam aku merasakanmu)
Andrea tidak henti-hentinya memandang Jericho selama laki-laki itu tampil di depan. Jericho bahkan beberapa kali menatap tajam ke arah Andrea, seakan-akan permainan dan lagu itu ditujukan untuknya. Frans menyadari tatapan mata Jericho, dan mencoba melihat respons Andrea saat ini.
“Kau kenapa sayang? Kau nampak sedih?” Frans mencoba mencari tahu perasaan Andrea saat ini.
“Tidak, Frans. Wanita itu membawakan lagu ini dengan sangat indah. Aku sedikit terharu,” balas Andrea.
Andrea sengaja menutupi perasaan sedihnya saat melihat Jericho dan mengalihkannya pada wanita yang membawakan lagu itu, agar Frans tidak curiga. Sejujurnya, Ia sangat membenci kondisi ini.
Andrea mulai ragu sekarang, apakah Jericho telah memiliki perasaan padanya? Apakah Jericho merasakan sesuatu untuknya saat ini? Jika iya, semuanya sudah terlambat. Gadis itu telah memilih. Ia memilih laki-laki lain. Laki-laki yang kini ada di sampingnya, yang selalu mencintai gadis itu dengan segenap hati.
Malam itu menjadi saksi bisu. Seorang laki-laki dan seorang perempuan saling mencintai di waktu yang tidak tepat. Cinta disadari saat semua sudah terlambat. Perempuan itu kini telah menjadi milik yang lain. Kesempatan itu telah tertutup. Tetapi, akankah cinta menemukan jalannya?
-------
halo-halo... Mi Mancherai, lagu itu dipopulerkan oleh Josh Groban bersama dengan Lucia
Micarelli sebagai Violinist. Kalian bisa cek di YouTube. It's a beautiful song, especially for you who like classical songs... Enjoy!