
*New York: John F. Kennedy Airport*
Seorang laki-laki dengan tinggi 185 cm baru saja turun dari pesawat. Laki-laki pemilik mata biru langit, yang sementara tertutup oleh sebuah kaca mata hitam, nampak berjalan dengan sedikit tergesa-gesa ke arah pintu keluar Bandar Udara John F. Kennedy, New York City.
Ia melangkah dengan penuh percaya diri menghampiri seseorang yang telah lama menunggu kedatangannya. Pemilik mata biru langit itupun akhirnya bertemu dengan pemilik mata hijau, yang seketika juga menyunggingkan senyumannya.
“Halo J, Nice to see you! ” kata Frans kepada sahabatnya yang sejak tadi menunggu kedatangannya. Setelah itu mereka pun saling berpelukan.
“Finally, Frans! Hei, Thank you for coming! Aku senang kau menepati janjimu. Mari, biar ku bantu membawa barang-barangmu! Kau pasti sangat lelah,” tutur Jericho menawarkan bantuan kepada kawan karibnya itu.
Jericho pun segera mengambil beberapa barang bawaan Frans dan melanjutkan pembicaraan mereka.
“Oh ya, sementara menunggu apartment-mu dibersihkan, kau bisa menginap di tempatku, jangan sungkan!” Jericho menawarkan.
“Sure, my pleasure, J. Thank you for helping me,” balas Frans.
Mereka bergegas pergi meninggalkan bandara menuju ke apartement Jericho dengan mengendarai sebuah mobil. Perjalanan dari bandara ke apartment Jericho memakan waktu kurang lebih 30-45 menit.
Hari ini jalanan kota New York cukup padat. Sepertinya mereka membutuhkan waktu lebih lama dari biasanya untuk sampai ke tempat tujuan. Sepanjang perjalanan mereka terus berbincang, melepas rindu, dan saling menanyakan kabar.
“Bagaimana dengan persiapan konser akbar perdanamu, J?” Frans bertanya kepada Jericho.
“Persiapannya sudah hampir 70%, Frans. Aransemen sudah ku selesaikan, orchestra juga sudah mulai berlatih, dan hasilnya cukup baik. Hanya saja, masih ada satu tugas yang harus ku kerjakan dan itu cukup sulit,” jawab Jericho kepada Frans.
“Apa itu, J?” Frans bertanya kembali.
“Sudahlah, jangan bicarakan itu dulu. Kau baru saja tiba, lagi pula aku masih punya banyak waktu. Masih ada sekitar dua bulan lagi untuk menyempurnakan semuanya. Jadi tidak perlu tergesa-gesa, Frans,” ucap Jericho.
Frans pun mengangguk tanda setuju.
“J, bisakah kau mampir di restaurant langganan kita. Aku rindu sekali dengan tenderloin steak-nya. Lagi pula ini jam makan siang. Kau juga pasti sudah lapar kan?” Frans berbicara sambil memegang perutnya.
“Sure! Aku juga sudah lama tidak ke tempat itu, semenjak kamu lulus dari kampus kita Frans,” balas Jericho seraya mengarahkan kemudinya menuju ke restaurant langganan mereka.
----------
Setibanya di restaurant, mereka segera masuk dan memesan makanan. Setelah semua pesanan lengkap terhidang di meja, mereka berdua pun menikmati makan siang bersama-sama sambil berbincang ringan.
Siapapun yang melihat mereka berdua, pasti akan tahu betapa akrabnya mereka. Dua laki-laki dengan sejuta pesona untuk memikat hati wanita, kini membuat banyak pasang mata menatap ke arah mereka dengan penuh kekaguman.
Setelah selesai mengisi perut, mereka pun langsung meninggalkan tempat. Jericho memacu mobilnya menuju ke apartment miliknya.
------------
Frans bertemu dengan Jericho kira-kira tiga tahun yang lalu. Saat itu, Jericho adalah seorang mahasiswa baru, sementara Frans adalah mahasiswa semester akhir, yang sedang berusaha menyelesaikan final music project-nya sebagai syarat kelulusan.
Waktu itu, Jericho memilih untuk tampil solo. Ia memutuskan untuk menunjukkan kebolehannya bermain piano. Ia memainkan Moonlight Sonata Op. 27 no.2, sebagai penampilan perdana di kampus barunya itu.
Hanya instrumentalia itu yang singgah di benaknya, ketika tidak mempersiapkan apapun untuk perform. Ia mengingat bahwa Andrea cukup sering menyenandungkannya, saat dulu mereka masih sering bertemu.
Performance Jericho kala itu memukau seluruh orang yang ada di dalam ruangan, tak terkecuali Frans. Itulah awal perkenalan mereka, selanjutnya mereka menjadi sangat akrab, apalagi setelah mengetahui bahwa keduanya berasal dari kota yang sama.
Frans sering mengajak Jericho berkolaborasi di luar kampus. Frans bermain piano, Jericho bermain biola. Mereka sering mengisi acara di resto-resto kelas atas. Hobi yang sama membuat mereka semakin dekat. Mereka bahkan hampir tidak pernah berkonflik dan tidak suka mencampuri urusan pribadi masing-masing.
Meski mereka adalah sahabat karib, namun watak mereka sangat berbeda. Frans adalah laki-laki yang suka berdiam diri di kamar dan hanya sibuk dengan pianonya.
Jericho lebih senang berada di luar. Ia cukup aktif dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan kampus. Selain itu, ia juga cukup disibukkan dengan keberadaan teman-teman wanitanya.
Jericho merasa heran, bagaimana Frans bisa terlihat sangat menyukai kesendirian. Beberapa kali, ia berusaha mengenalkan wanita-wanita cantik kepada Frans, tetapi selalu saja ditolaknya.
Jericho juga sempat mengiming-imingi Frans dengan melakukan double dating yang sepertinya terlihat seru, namun seperti biasa, Frans akan berpura-pura menyibukkan diri dan menjadikan proyek tugas akhir sebagai alasannya.
Jericho pernah mengkhawatirkan Frans memiliki orientasi seksual yang berbeda. Ia bahkan memberanikan diri untuk menanyakan secara langsung kepada Frans. Frans tentu terkejut, tetapi kemudian pertanyaan itu malah membuat Frans menertawakan Jericho hingga air matanya menetes.
Jericho yang penasaran dan pertanyaan-pertanyaan konyol yang diutarakannya, membuat Frans akhirnya memberikan informasi tentang sang gadis pujaan hati kepada sahabatnya itu. Frans menceritakan bahwa telah ada seorang gadis yang membuatnya tidak mampu mengagumi perempuan lain. Gadis yang ia kagumi dalam kesederhanaan dan kekayaan hati. Gadis yang sangat sempurna di mata seorang Frans Moreno.
Jericho tentu tidak percaya dengan cerita Frans. Apakah benar ada gadis yang memiliki kecantikan batin yang sempurna semacam itu? Namun, melihat bagaimana sorot mata yang penuh kerinduan itu sedikit berbinar saat menceritakan gadisnya, membuat Jericho berusaha untuk berpura-pura mempercayai cerita Frans demi menghargai sahabatnya.
Saat itu, dibenaknya hanya ada dua kemungkinan, kemungkinan yang pertama adalah Frans belum mengenal utuh siapa gadisnya. Kemungkinan kedua adalah gadis itu sama lugunya dengan sahabatnya. Jericho pun tidak mau memikirkan hal itu terlalu dalam dan menganggap itu sebatas angin lalu.
Frans tidak pernah secara lengkap menyebutkan nama gadis itu. Jericho hanya mengetahui bahwa gadis itu bernama Elaine. Seorang pemain cello dan seorang pengagum sastra dan filsafat. Frans juga tidak pernah menunjukkan foto gadis itu kepada Jericho.
Frans pernah berjanji kepada Jericho, suatu saat nanti, ia akan mengenalkan Elainenya. Frans bahkan ingin mereka bertiga bisa berkolaborasi. Jericho yang tidak terlalu peduli hanya meng-iya-kan tanpa ekspresi.
-------------
Saat ini, Frans telah merasa cukup bugar setelah beristirahat dua hari di apartment Jericho. Ia mulai mengambil partitur-partitur dan mencoba memainkannya dengan menggunakan piano yang ada di apartment Jericho.
Frans sangat menyukai aransemen yang dibuat oleh sahabatnya. Dia sempat memikirkan, betapa seringnya sahabatnya itu mengeluh tidak puas dengan hasil karyanya.
Frans yang masih merasa heran dan penasaran itu, kemudian menyimpan pertanyaan ini sementara bagi dirinya. Ia telah membuat janji dengan Jericho untuk berlatih keesokan hari. Ia bermaksud menanyakannya ketika mereka latihan bersama besok.
Frans berjanji dalam hati, ia pasti akan membantu sahabatnya. Bukankah itu memang tujuan kedatangannya semula?Sebelum ide konser untuk melamar Elainenya singgah dipikirannya.
Beberapa minggu ke depan, Frans akan terlebih dahulu fokus dengan event Jericho. Setelah itu ia harus membagi pikirannya dengan konser lamaran yang juga pasti menguras waktu dan pikiran. Ia harus mempersiapkan semua event dengan sempurna, sebagaimana biasanya.
-------
Halo kakak-kakak readers, jangan lupa tinggalkan jejak ya. Please Vote, like, comment, and rate, jika suka dengan cerita saya. Saya juga berterima kasih, untuk kakak-kakak yang sudah mendukung saya. See you on the next chapter.