More Than Words

More Than Words
Stay With Me!



*London: Inggris*


Setelah mendengar kabar tentang kondisi kesehatan ayah Andrea yang memburuk, Jericho memutuskan untuk menemani Andrea pulang ke London. Jericho tidak ingin membiarkan gadis itu pulang seorang diri dalam kondisi panik dan gelisah.


Tanpa sengaja, mereka bertemu dengan Fergie ketika sudah berada di pesawat. Mereka berpapasan, saat Fergie berjalan mencari nomor kursinya. Jericho duduk di samping Andrea, sementara Fergie duduk cukup jauh dari mereka. Sepertinya Fergie langsung kembali ke London, setelah urusannya di Amerika selesai.


Perjalanan yang cukup panjang telah dilalui. Kini, mereka telah tiba di Bandar udara Heathrow, London. Awalnya Jericho ingin mengantarkan Andrea sampai di depan rumahnya, namun Andrea menolak. Ia memilih menumpang pada mobil Fergie.


Andrea tahu bahwa Jericho pasti merasa sangat lelah. Oleh karena itu, ia meminta Jericho untuk langsung pulang ke rumah orang tuanya dan beristirahat.


“Mom, dad ? I am home,” ucap Jericho saat baru menginjakkan kaki di beranda rumah orang tuanya.


“What a surprise!” Veronica dan David langsung memeluk anak laki-lakinya yang sudah bertahun-tahun tidak pulang ke rumah.


“Mengapa kamu tidak mengabari kami? Daddy bisa menjemputmu,” ucap David kepada anak bungsunya itu sambil tersenyum bahagia.


“Tidak perlu repot-repot daddy. Lagipula aku bukan anak kecil lagi,” jawab Jericho sambil membalas senyum ayahnya dan menepuk pundak laki-laki paruh baya itu.


“Kau benar, kau bukan anak kecil lagi, karena itu mommy dan daddy menuntutmu untuk segera menikah,” seru Veronica kepada Jericho sambil mencubit pipi putranya itu.


“Kebetulan J sudah berada di sini, kenapa kau tidak menghubungi Ane dan suaminya supaya kita bisa makan malam bersama?” David meminta kepada istrinya untuk merencanakan makan malam.


“Ane?” Jericho tidak mengerti siapa yang mereka bicarakan.


“Ane itu adalah calon ibu mertuamu,” balas Veronica menjelaskan kepada putranya.


“Mommy, aku sudah berbicara dengan putri mereka, dan kami berdua sudah sepakat bahwa kisah kami sudah berakhir. Lagi pula aku baru saja pulang, tidak bisakah kalian membuat aku senang dengan tidak membahas masalah perjodohan itu?” Jericho tidak menyukai cara penyambutan orang tuanya.


“Mommy tidak peduli J. Mommy akan menghubungi Ane dan kita akan tetap makan malam bersama,” paksa Veronica terhadap Jericho.


Jericho ingin sekali mengatakan kepada kedua orangtuanya bahwa ia telah menemukan wanita yang tepat untuknya. Namun, ia harus mengurungkan niatnya karena hingga detik ini Andrea belum menjawab lamarannya.


Laki-laki itu sungguh sial. Berita yang diterima Andrea tentang kondisi kesehatan ayahnya yang memburuk, membuat Andrea menunda menjawab lamaran laki-laki itu.


Jericho memutuskan untuk menemui Andrea besok dan menanyakan jawaban gadis itu. Dia harus memastikan perasaan Andrea, supaya laki-laki itu bisa segera memberi tahu kedua orang tuanya. Jericho hanya bisa berharap agar gadis itu tidak akan menolak lagi.


“Aku lelah mom, kita bisa lanjutkan percakapan ini besok,” balas Jericho kepada ibunya. Hanya kata-kata itu yang bisa ia ucapkan, supaya ibunya tidak memperpanjang hal yang sama sekali tidak ingin ia dengar.


----------------


📞‘Halo, Ane?’ (Veronica)


📞‘Veronica! Ada apa tiba-tiba menghubungiku?’ (Ane)


📞‘Anak laki-lakiku ada di kota ini. Dia mungkin akan tinggal selama beberapa hari. Bisakah kita menyelenggarakan sebuah acara makan malam bagi kedua keluarga kita?’ (Veronica)


📞‘Boleh saja. Kebetulan juga putriku sudah kembali dari Amerika.’ (Ane)


📞‘Benarkah? Kalau begitu kita bisa langsung berbicara serius pada saat makan malam nanti.’ (Veronica)


📞‘Kapan rencana makan malamnya?’ (Ane)


📞‘Bagaimana jika lusa? Kita bisa makan malam di restaurant langganan yang ada di pusat kota.’ (Veronica)


📞‘Baiklah kalau begitu! Jam berapa kita bertemu di sana?’ (Ane)


📞‘Jam tujuh malam saja.’ (Veronica)


📞‘Kami pasti akan datang.’ (Ane)


📞‘I’ll see you then.’ (Veronica)


------------------


*Keesokan harinya*


Pagi-pagi sekali Jericho sudah menghubungi Andrea untuk menanyakan kabar kesehatan ayah gadis itu, sekaligus mengatur waktu untuk menemui Andrea. Jericho menyadari bahwa masalah perjodohan ini belum sepenuhnya selesai, karena tuan dan nyonya Laurent masih bersikeras menjodohkan anak laki-laki mereka dengan putri keluarga Anderson. Jericho tidak sabar lagi mendapatkan jawaban Andrea supaya ia bisa mengatur strategi menghadapi kedua orang tuanya itu.


Jericho mengajak Andrea bertemu di sebuah danau buatan yang ada di dekat rumah gadis itu agar mereka bisa lebih leluasa bicara. Andrea menyetujui ajakan Jericho. Saat ini mereka berdua telah berada di tepi danau buatan itu.


“Bagaimana kondisi kesehatan daddy-mu?” Jericho memulai pembicaraan.


“Daddy sudah lebih baik. Sebenarnya tidak ada yang terlalu serius. Mommy hanya terlalu panik kemarin. Tekanan darah daddy tinggi tetapi sekarang sudah semakin baik,”


jawab Andrea.


“Bolehkah aku menjenguk daddy-mu?” Jericho meminta ijin kepada gadis itu.


“Tentu saja boleh! Setelah ini kita bisa pergi bersama. Oh ya, apa yang ingin kamu bicarakan denganku?” tanya Andrea.


“An, sebenarnya aku punya masalah serius. Masalahku ini hanya bisa diselesaikan olehmu,” jawab Jericho sambil melemparkan sebuah batu kecil ke air.


“Aku dijodohkan dengan Fergie oleh kedua orang tuaku. Sebenarnya, waktu kita bertemu di Amerika, aku sudah menyelesaikan masalah ini dengan Fergie. Kami berdua sepakat untuk benar-benar mengakhiri kisah kami, karena aku mencintaimu,” ucap Jericho berusaha menjelaskan kepada Andrea.


“Lalu, apa lagi masalahnya?” Andrea berbicara tanpa menatap Jericho. Gadis itu terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.


“Masalahnya orang tuaku belum menyerah dengan perjodohan itu. Aku sungguh tidak tahu lagi bagaimana cara menghentikan mereka, kecuali aku memiliki seorang gadis untuk ku nikahi,” jawab Jericho sambil memegang tangan Andrea.


“Jadi?” Andrea menatap wajah Jericho.


“Jadi kau harus menjawab lamaranku sekarang,” ucap Jericho.


Andrea langsung gugup seketika. Ia tidak tahu harus berkata apa. Setelah mendengar masalah yang dihadapi Jericho, ia sedikit ragu apakah ia harus menerima laki-laki yang sedang berdiri di sampingnya.


“An, kenapa kau diam? Apa aku harus mengulang kata-kataku untuk melamarmu kembali?” kata Jericho sambil mengeluarkan cincin dari sakunya dan bersiap-siap berlutut di hadapan gadis itu.


“T-tidak perlu. Aku hanya tidak tahu apakah ini sebuah pertanda bahwa kita tidak bisa bersama. Aku merasa jalan untuk kita bersatu terlalu berliku,” jawab Andrea sambil membuang wajahnya ke arah yang berbeda.


“Apa kau takut mereka tidak akan menerimamu?” Jericho mempertajam pertanyaannya.


Andrea menggelengkan kepalanya dan berkata, “Sejujurnya aku lebih takut kehilanganmu. Hanya saja, bagaimana perasaan kedua orang tuamu nanti? M-mereka pasti malu jika kamu menolak perjodohan itu.”


“Jadi, kau menerima lamaranku?” Jericho menyentuh pundak dan dagu Andrea. Ia memaksa gadis itu menatap matanya.


“Tentu saja bodoh! Kau sudah lulus ujian dan aku tidak mungkin mengingkari janjiku. Kau tahu? Aku sampai tidak bisa tidur semalaman untuk memikirkan ujian yang tepat untukmu. Aku bahkan sudah memakai rambut palsu ini berhari-hari untuk mengujimu, padahal ini sangat tidak nyaman,” kata Andrea sambil melepas rambut palsunya di hadapan laki-laki itu. Gadis itu kemudian tidak dapat melanjutkan kembali ucapannya karena Jericho langsung memeluk dan mencium bibirnya secara tiba-tiba.


Andrea tidak siap dengan reaksi Jericho. Gadis itu membulatkan matanya dan berusaha melepaskan diri dari dekapan laki-laki itu. Namun, Jericho tidak berniat untuk menghentikan kegiatannya. Andrea yang menyerah akhirnya terbuai dengan ciuman kekasihnya.


Jericho membawa Andrea semakin dekat dalam pelukannya. Mereka berdua berciuman cukup lama dan tidak memedulikan orang yang berlalu lalang di sekitar mereka.


“J, kita jadi tontonan,” ucap Andrea saat ia berhasil membebaskan diri dari kungkungan laki-laki itu.


“Maaf, aku tidak bisa menahan diriku. Terima kasih sayang,” balas Jericho menatap kekasihnya dan mengecup kening gadis itu.


“Bolehkah aku memasangkan cincin ini sekarang?” Jericho menatap Andrea dengan hangat.


Andrea mengangguk tanda setuju. Ia memberikan tangannya kepada laki-laki yang berdiri di hadapanya. Jericho langsung menyematkan cincin di jari manis Andrea dan mencium tangan gadis itu.


Andrea memandang cincin pemberian Jericho dengan bahagia. Namun, raut wajahnya tiba-tiba berubah saat ia mengingat sesuatu.


“Tapi, bagaimana dengan orang tuamu?” Andrea mulai khawatir.


“Aku akan menghadapi mereka. Aku hanya ingin kamu tetap bersamaku, hanya itu yang aku butuhkan,” ucap Jericho sambil menggenggam tangan gadis itu.


Andrea tidak menjawab lagi. Ia hanya menyandarkan kepalanya pada pundak Jericho sambil menikmati semilir angin yang menyentuh kulitnya. Ia hanya berharap kedua orang tua Jericho akan berubah pikiran.


“Ayo, aku ingin menjenguk ayahmu!” Jericho berucap kepada Andrea.


“Sebaiknya, kita tunda dulu bertemu daddy. Aku ingin hubungan kita clear dengan orang tuamu terlebih dahulu. Jika orang tuaku melihat aku membawa seorang laki-laki ke rumah, mereka pasti langsung berpikir terlalu jauh. Semenjak Frans pergi, aku tahu mereka selalu berdoa agar aku segera menemukan pasangan hidupku. Kedatanganmu akan membuat mereka berharap,” ucap Andrea.


“Bukankah itu bagus?” Jericho menatap Andrea dengan tajam.


“Aku tidak ingin menghancurkan harapan kedua orang tuaku jika orang tuamu tidak menyetujui hubungan kita,” ucap Andrea.


“Aku akan tetap menikahimu sekalipun orang tuaku tidak setuju dengan hubungan kita,” tutur Jericho dengan sungguh-sungguh.


“Entahlah, J. Namun, untuk saat ini sebaiknya kita tunda dulu bertemu orang tuaku. Aku mohon!” Andrea membalas tatapan laki-laki itu dengan sendu.


“Baiklah, sayang! Aku akan menemui orang tuamu setelah masalah perjodohan ini selesai,” kata Jericho.


------------------


Acara makan malam pun tiba. Kedua orang tua Jericho dan keluarga Fergie telah duduk di dalam restaurant yang telah direservasi sebelumnya. Sudah beberapa menit berlalu, namun Jericho belum menampakkan diri.


Tadi, laki-laki itu menyuruh orang tuanya untuk berangkat lebih dulu. Veronica sedikit gelisah dan menyesal mengapa ia menuruti kemauan anak laki-lakinya itu. Ia berharap Jericho sungguh akan datang dan menemui calon istri serta calon mertuanya.


Jericho baru saja keluar dari mobilnya dan hendak melangkah masuk ke dalam restaurant. Tanpa sengaja, Jericho berpapasan dengan Andrea dan keluarganya di depan restaurant itu. Sepertinya keluarga Andrea juga ingin menikmati makan malam di sana.


Jericho menghampiri Andrea dan keluarganya, lalu meminta ijin membawa Andrea sebentar. Orang tua Andrea sedikit terkejut dan saling berpandangan. Namun, ayahnya mengijinkan laki-laki itu membawa putrinya.


Jericho tiba-tiba berpikir untuk langsung menunjukkan kepada orang tuanya siapa gadis yang dipilihnya, saat ia melihat Andrea juga berada di restaurant itu. Jericho menggenggam tangan Andrea dan memintanya untuk tetap bersamanya apapun yang terjadi.


Kini sepasang kekasih itu telah berada di dalam restaurant. Jericho melihat kedua orang tuanya telah duduk bersama dengan Fergie dan keluarganya. Ia datang mendekati mereka sambil menggenggam tangan Andrea. Ia menarik kursi agar Andrea bisa duduk di antara keluarganya dan keluarga Fergie. Semua mata memandang ke arah Jericho dan Andrea.


“Daddy, mommy, aunty, uncle, perkenalkan! Ini Andrea, tunangan saya!” Jericho mengucapkannya tanpa ragu-ragu. Kedua orang tua Jericho sangat terkejut mendengar ucapan anak bungsunya itu.


------------


Selamat membaca, jangan lupa feedback-nya!