More Than Words

More Than Words
Old Friend



Seorang laki-laki tengah berbaring di sebuah ranjang dengan gelisah. Peluhnya berbondong-bondong keluar dari setiap pori yang ada di sekitar wajahnya. Bibirnya bergumam menyebutkan sesuatu yang tidak jelas, nafasnya tersengal-sengal, sementara bola mata laki-laki itu terlihat bergerak ke kiri dan ke kanan dari balik kelopaknya yang tertutup.


“Aaahhhhh!!!!” Jericho terbangun dari mimpi buruknya. Nafasnya masih tak beraturan.


“Selalu mimpi yang sama,” ucap Jericho terengal-sengal sambil memperhatikan jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul enam pagi.


Jericho benar-benar tidak mengerti mengapa ia selalu bermimpi buruk akhir-akhir ini dan anehnya isi mimpinya itu selalu sama. Laki-laki itu kembali memimpikan seorang wanita dalam balutan gaun berwarna putih sedang menangis di hadapannya. Ia bahkan seolah bisa merasakan bahwa wanita itu begitu sedih dan terluka.


Siapa wanita bergaun putih itu? Pertanyaan itu selalu mengganggu pikiran Jericho. Sayangnya, ia juga tidak bisa memastikan wajah wanita itu di dalam mimpinya.


Satu hal yang bisa ia pastikan adalah bahwa Jericho memiliki keinginan untuk menolong wanita itu. Perasaan itu seperti begitu nyata. Bahkan, saat ia sudah terjaga dari tidurnya, Jericho masih bisa merasakan perasaan bersalah yang mendalam karena tidak bisa berbuat apa-apa.


“Firasat apa ini?” Jericho berkata pada dirinya sendiri.


--------------------------


Setelah menuntaskan perkuliahan, Andrea bergegas menuju ke sebuah restaurant yang letaknya tidak jauh dari kampus. Gadis itu sepertinya sangat bersemangat untuk bekerja hari ini.


“Andrea, segera ganti bajumu dan bantulah Alicia mengantarkan pesanannya!" Jack, manajer restaurant itu memintanya.


Gadis itu melakukan seperti apa yang dikatakan Jack. Ia segera pergi ke ruang ganti untuk mengganti bajunya dengan seragam restaurant. Andrea nampak sangat manis dalam balutan sebuah kemeja putih lengan panjang, yang dipadukan dengan rompi berwarna hijau tosca dan sebuah rok mini berwarna senada dengan rompinya.


Hari ini restaurant cukup ramai dikunjungi para pelanggan dari berbagai kalangan. Sejak tadi Andrea belum beristirahat sama sekali, meski begitu senyum merekah masih terlihat di bibirnya.


Andrea membutuhkan pekerjaan ini agar ia teralihkan dari kenangan-kenangannya bersama Frans dulu. Bagaimanapun juga, kota New York pernah menjadi saksi atas pernyataan cinta Frans kepadanya waktu itu.


“Selamat malam, ada yang bisa saya…..” Andrea menghentikan ucapannya saat melihat seorang laki-laki yang sangat ia kenali.


“Andrea?” Laki-laki itu membulatkan matanya.


“Andrew?” Andrea tidak menyangka bahwa ia akan bertemu dengan Andrew kembali.


“Aku tidak percaya ini. Sudah cukup lama kita tidak berjumpa, mungkin sekitar tiga tahun,” ucap Andrew yang langsung memeluk Andrea.


“Kamu sekarang terlihat semakin sukses,” balas Andrea dengan tertawa karena melihat badan Andrew yang semakin berisi.


“Dengan siapa kamu datang, Drew?” Andrea melanjutkan ucapannya sambil tersenyum.


“Aku sendiran saja. Aku bahkan masih sama seperti tiga tahun lalu, single and very happy,” jawab Andrew sambil menertawakan dirinya sendiri yang tak kunjung mendapatkan pasangan hidup.


“Kamu benar-benar tidak berubah,” kata Andrea seraya menggelengkan kepala.


“An, aku sudah mendengar kabar tentang Frans. Aku ikut berduka atas kepergiannya.” Andrew menggenggam tangan Andrea.


“Terima kasih Drew,” balas Andrea dengan lirih. Wajah gadis itu langsung berubah menjadi sendu.


“Jadi kamu bekerja di sini sekarang?” Andrew bertanya, mencoba mengalihkan pembicaraan, saat melihat perubahan di raut wajah gadis itu.


“Ah, kau mengingatkanku. Ini masih jam kerjaku. Bisakah kita berbicara setelah aku selesai bekerja, tinggal satu jam lagi shift-ku akan berakhir,” pinta Andrea karena sedari tadi ia menyadari Jack memperhatikannya.


“Baiklah! Kita bicara setelah ini,” balas Andrew.


Andrew segera memesan makanannya. Andrea mencatat semua dan menyerahkan list makanan itu ke bagian kasir dan ke bagian dapur. Setelah seluruh pesanannya terhidang, laki-laki itu menikmati makan malamnya sendiri.


-------------------


“Sudah selesai?” Andrew bertanya kepada Andrea yang baru saja berpamitan dengan teman-temannya.


Gadis itu menganggukkan kepala tanda membenarkan. Ia segera mengajak Andrew keluar dari restaurant dan pergi ke tempat lain. Laki-laki itu membawa Andrea masuk ke dalam mobilnya. Beberapa saat kemudian, mobil itu terlihat bergerak meninggalkan restaurant.


“Tidak lama. Jangan khawatir!” Andrew berbicara sambil tersenyum, hendak mempertegas bahwa ia tidak keberatan menunggu gadis itu.


“An, kamu sudah makan?” Andrew bertanya kepada Andrea.


“Belum. Tidak usah dipikirkan,” jawab Andrea santai.


“Kita berhenti di sini saja ya. Kita berbincang sambil makan burger. Seingatku burger di sini enak,” usul Andrew yang kemudian disetujui Andrea.


------------------


“Bagaimana kabarmu, An?” Andrew bertanya sambil menggigit burger miliknya.


“Seperti yang kamu lihat. Aku masih hidup." Andrea berbicara sambil menggigit burgernya dan memaksakan senyumnya.


“Aku tahu pasti berat untukmu. Jadi, kalian hampir menikah waktu itu?” Andrew bertanya sambil menunjukkan rasa simpati.


“Kurang dua hari lagi dan dia meninggalkanku. Pemakaman Frans diadakan di hari pernikahan kami.” Andrea tersenyum tetapi matanya berkaca-kaca.


"Setidaknya kamu masih gadis sekarang. Itu harus disyukuri. Aku membayangkan jika ia meninggalkanmu setelah dua hari kalian menikah, pasti itu akan lebih menyakitkan." Andrew berbicara tanpa berpikir, sementara Andrea hanya terdiam tanpa ekspresi mendengar perkataan Andrew.


"Eh, maaf. Ucapanku sudah kelewatan.” Andrew baru saja menyadari bahwa ia sudah salah berucap.


“Hahaahahhahaha!” Gadis itu tiba-tiba tertawa.


“Aku melupakan bagian itu. Mungkin itu yang harus aku syukuri, setidaknya aku masih gadis bukan janda. Hahahahahaha!” Andrea masih menertawakan dirinya sendiri.


“Maaf, An!” Andrew tahu bahwa ia sudah menyakiti gadis itu dengan ucapannya.


“Kamu lucu, Drew. Tidak perlu meminta maaf, yang kamu katakan itu benar! Hahaahaha!!!” Gadis itu melanjutkan tawanya, namun tidak lama setelah itu tawanya berubah menjadi isak tangis.


“Andrea?” Andrew menyentuh pundak kawannya itu.


“Kau tahu? Dia pernah membuatku cemburu. Seorang wanita tiba-tiba memeluk dan mencium bibirnya di depanku, saat aku sedang memilih baju pengantin kami. Saat itu aku marah padanya. Aku begitu takut, wanita itu akan mengambilnya dariku, tetapi ternyata dia sendiri yang meninggalkanku untuk memeluk kematiannya.” Andrea menyeka air matanya.


“Maafkan aku, Andrea.” Laki-laki itu masih meminta maaf lagi, karena merasa bersalah.


“Sudahlah! Sebaiknya kita bicara yang lain saja. Bagaimana kabarmu dan Jericho? Aku sudah lama tidak mendengar kabar apapun tentang kalian berdua.” Andrea menyeka air matanya dan kemudian berusaha menenangkan diri dengan cepat.


“Aku menetap di Jepang sekarang. Aku kembali ke sini karena ada urusan. Aku hanya tinggal selama dua minggu di sini,” tutur Andrew menceritakan dirinya.


"Bagaimana dengan J?" Andrea melanjutkan pertanyaannya.


"Jericho, aku bahkan tidak pernah mendengar kabar apapun tentangnya pasca wisuda. Laki-laku itu seperti hilang di telan bumi,” jawab Andrew melanjutkan ucapannya.


“Kamu tidak berusaha menghubunginya?” Andrea semakin penasaran.


“Dia sudah mengganti nomornya. Media sosial dan lainnya juga sudah tidak aktif,” kata Andrew.


“Semoga ia baik-baik saja,” ucap Andrea singkat.


Andrew dan Andrea masih melanjutkan pembicaraan mereka. Andrea menceritakan juga tentang tujuannya ke kota ini. Malam itu cukup menyenangkan bagi seorang Andrea karena bisa berjumpa dengan kawan lamanya, meskipun gadis itu tetap harus menangis lagi, karena Andrew mengingatkannya pada Frans.


Sepertinya Andrea memang harus berusaha keras untuk melupakan Frans. Terlalu banyak kenangan yang tersimpan di dalam pikiran dan hatinya. Kenangan-kenangan itu, tanpa sengaja justru menciptakan sebuah perjumpaan palsu dengan kekasihnya yang telah pergi. Sebuah perjumpaan tidak nyata yang berselisih dengan alam sadarnya. Sebuah perjumpaan tidak nyata yang lahir dari sebuah ketidakberdayaan untuk melawan kehendak takdir.


--------------------


Happy reading! Jangan lupa dukung saya!