More Than Words

More Than Words
Suspended



Seorang gadis sedang menatap dirinya di depan sebuah cermin berukuran besar. Tidak banyak yang bisa dia lakukan untuk mendadani dirinya. Rambutnya yang dulu panjang tergerai, yang biasanya identik dengan gaya feminim telah berubah menjadi sangat maskulin. Ya, potongan rambut barunya itu sejujurnya lebih cocok dikenakan kepada laki-laki dibandingkan kepada perempuan. Meski begitu, ia tetap memperoleh keuntungan. Kini, gadis itu tidak lagi menghabiskan banyak waktu untuk menata rambutnya yang panjang.


Andrea telah mengenakan sebuah dress polkadot berwarna kuning muda dipadukan dengan cardigan berwarna navy. Tak lupa ia menambahkan asesoris untuk menghiasi tangannya. Andrea mengenakan sebuah jam tangan dan gelang pemberian Jericho pada tangan kirinya.


Gadis itu juga telah mengoleskan pelembab pada wajahnya yang mulus, kemudian ia juga terlihat sedang menorehkan bedak dan lip-tint untuk menambah kesan segar. Setelah menyadari bahwa ia telah cukup rapi, gadis itu kini menyibukkan diri dengan melamun sambil menatap lagi cermin besar itu.


Lamunan itu membawanya kembali pada kejadian di bukit cahaya semalam. Ia tidak percaya bahwa Jericho menerima penampilan barunya dengan alasan yang cukup menyentuh hati.


“Andrea, aku baru menyadari sesuatu akhir-akhir ini..... Aku sudah tertarik padamu sejak kamu dan aku sama-sama mengikuti lomba karya ilmiah itu. Aku justru merasa penampilanmu yang sekarang membuat aku kembali di masa itu. Masa di mana seharusnya aku bisa memilikimu lebih awal, namun tidak aku lakukan.” Andrea membayangkan saat- saat di mana Jericho mengucapkan kalimat ini.


Ujian yang diberikan kepada laki-laki itu, sesungguhnya bukanlah sebuah ujian yang dapat menyita banyak perhatian dan membutuhkan sebuah aksi heroik yang memukau. Bisa dikatakan bahwa ujian cinta yang diberikan Andrea kepada Jericho adalah sebuah ujian yang biasa saja.


Andrea hanya ingin mengetahui seperti apa dan bagaimana Jericho mencintai dirinya. Apakah ia mencintai seluruh keberadaan dirinya atau hanya gambaran diri yang diciptakan laki-laki itu kepada dirinya?


Sebuah hal sederhana yang mungkin tidak populer untuk dijadikan sebuah ujian cinta. Namun, jika ujian itu dapat dilewati dengan baik, maka dasar yang kuat untuk memulai suatu hubungan telah berada di dalam genggaman.


Jericho bukan hanya telah berhasil meyakinkan Andrea. Laki-laki itu bahkan telah membuat sebuah pengakuan yang tidak pernah dipikirkan oleh gadis itu. Ia baru mengetahui bahwa Jericho sebenarnya telah tertarik pada dirinya, sejak mereka masih duduk di bangku sekolah. Laki-laki itu sudah tertarik padanya saat ia berada dalam kondisi yang tidak menarik. Bukankah itu sangat romantis?


Pengakuan itu tanpa sengaja telah mematahkan pandangannya terhadap laki-laki itu selama ini. Berkali-kali ia memahami Jericho sebagai seorang pria cassanova yang hanya tertarik pada wanita-wanita cantik dan tidak berniat menjalin sebuah hubungan serius dengan satu wanita. Semua itu terbantahkan dengan sebuah pernyataan dan ciuman mesra yang diberikan kepada dirinya semalam.


📱‘Aku sudah di depan lobby asrama. Aku sangat merindukanmu. Keluarlah segera!’ – Jericho.


Sebuah pesan masuk dari Jericho membuat gadis itu langsung menarik diri dari lamunannya, dan segera melangkah meninggalkan kamar untuk menemui laki-laki itu. Andrea semakin mempercepat langkahnya. Sepertinya, ia tidak ingin laki-laki itu menunggu terlalu lama.


“Kamu datang lebih awal, J.” Andrea melihat jam yang menempel di tangannya.


“Aku hanya ingin cepat-cepat bertemu denganmu. Kamu sangat cantik hari ini, An.” Jericho menatap gadisnya dengan tatapan yang begitu dalam.


“Mau kemana kita?” Andrea mencoba mengalihkan pembicaraan. Pipinya merona mendengar pujian dari pria yang duduk di sebelahnya.


“Aku ingin mengajakmu melihat matahari terbenam dari pegunungan Catskill. Duduklah dengan nyaman, perjalanan kita akan cukup melelahkan,” ucap Jericho.


“Sepertinya aku salah kostum,” kata Andrea sambil melihat pakaiannya.


“Kamu sempurna. Aku menyukai penampilanmu,” balas laki-laki itu sambil menggenggam tangan gadisnya.


----------------


“Awas, perhatikan langkahmu! Berpeganglah padaku!” Jericho menawarkan lengannya.


Andrea dan Jericho sudah berdiri di puncak salah satu bukit yang berada dalam kawasan pegunungan Catskill. Mata mereka memandang hamparan rumput hijau yang luas dan tidak dihalangi oleh pepohonan jenis apapun. Ya, sebuah sabana ada di hadapan mata mereka.


“Ini sangat indah, J.” Andrea merasa kagum dengan pemandangan yang disuguhkan di depan matanya.


Jericho memeluk gadisnya dari belakang dan berkata, “Apa kau bahagia?”


“Sangat bahagia.” Andrea melepaskan pelukan laki-laki itu dan membalikkan badannya, menghadap Jericho sambil melingkarkan tangannya di leher laki-laki itu.


“Jadi, apa yang harus kita siapkan untuk menanti matahari terbenam?” ucap Andrea.


“Aku hanya tinggal memasang tenda, sehingga kita bisa menunggu dengan nyaman. Mungkin kamu bisa menyiapkan makanan untuk kita nanti? Tapi, setelah semua siap dan setelah aku membuat api. Kamu hanya tinggal memanaskan makanan yang ada di dalam ransel biru itu.” Jericho menunjuk sebuah ransel yang ukurannya tidak terlalu besar dan berwarna biru.


Setelah tenda terpasang dengan sempurna, laki-laki itu pun segera membuat api, sehingga Andrea bisa memanaskan makanan dan membuat dua gelas teh hijau untuk menghangatkan tubuh mereka yang mulai kedinginan. Andrea juga terlihat sangat terampil mempersiapkan semuanya.


“ Makanan kita sudah siap. Ini makanan anda dan ini teh anda. Selamat menikmati!” Gadis itu sengaja berbicara dengan formal. Ia seolah sedang memainkan perannya sebagai pelayan restaurant.


Berbicara tentang restaurant, gadis itu sudah mengundurkan diri dari tempat kerjanya pagi tadi. Jericho memaksa gadis itu membantu mengurus toko musik miliknya semalam dan seperti biasa, ia tidak bisa menolak.


Mereka berdua menikmati makanan mereka sambil memandang keindahan di depan matanya dan sesekali melihat ke sekeliling. Rupanya cukup banyak manusia yang juga ingin melihat matahari terbenam di sana.


“Kenapa kamu mengajakku kesini?” Andrea bertanya penasaran setelah mereka menyelesaikan kegiatan makan mereka.


“Aku merasa di sini waktu berputar lebih lambat. Aku hanya ingin bersama denganmu lebih lama,” jawab Jericho berterus terang.


“Terima kasih karena telah membawaku ke tempat ini, J.” Andrea menatap laki-laki itu.


“Aku tidak perlu ucapan terima kasihmu. Aku menginginkan yang lain,” balas Jericho singkat.


“M-menginginkan yang lain?” Andrea mengerutkan keningnya.


“Kau akan tahu beberapa saat lagi,” ucap Jericho sambil berdiri menatap lurus ke depan.


“Sebentar lagi matahari akan terbenam. Kemarilah!” Jericho meminta Andrea berdiri di sampingnya dan gadis itu pun menurutinya.


“Lihat! Pertunjukkannya sudah di mulai,” tutur Jericho sambil menunjuk ke arah matahari yang perlahan-lahan menyembunyikan diri pada sebuah garis batas antara bumi dan cakrawala.


Andrea terpaku. Pemandangan itu benar-benar indah. Gadis itu merasa takjub dengan salah satu pesona alam yang sedang dinikmatinya.


“Ini sangat indah, J.” Andrea menoleh ke arah Jericho dan mendapati laki-laki itu tengah berlutut di hadapannya sambil memegang sebuah kotak yang berisi cincin berlian.


“Aku tidak membutuhkan terima kasihmu sayang. Ini yang aku butuhkan.” Jericho menjeda sejenak ucapannya.


“Andrea Elaine Williams, aku tahu aku bukan laki-laki yang terbaik yang pantas bersanding denganmu. Aku tahu bahwa aku mungkin bukan laki-laki yang romantis yang akan memberikanmu kejutan setiap saat. Aku tahu aku mungkin lebih banyak memiliki sisi menyebalkan dibandingkan sisi menyenangkan selama bersama denganmu. Tetapi…. Laki-laki bodoh ini sangat mencintaimu dengan segenap hatinya. Laki-laki yang membosankan ini ingin menua dan mati di dalam pelukanmu. Laki-laki yang menyebalkan ini ingin menjadikanmu satu-satunya miliknya yang paling berharga.” Jericho mengucapkan kalimat demi kalimat dengan sungguh-sungguh.


“Andrea Elaine Williams, bersediakah kamu menikah denganku?” Andrea menutup mulutnya. Ia tidak percaya bahwa Jericho melamarnya sekarang.


Gadis itu masih belum menjawab, sementara Jericho masih setia menunggu. Andrea meneteskan air matanya. Semuanya sungguh mendadak dan mengejutkan. Gadis itu menatap mata Jericho dengan ekspresi terharu.


Saat lamaran itu dilakukan, ponsel andrea berdering tanpa henti. Gadis itu sangat merasa terganggu dan meminta ijin kepada Jericho untuk menon-aktifkan ponselnya sebelum menjawab lamaran laki-laki itu. Saat hendak mematikan ponselnya, sebuah pesan tiba-tiba masuk dan tanpa sengaja terbaca olehnya.


📱‘Pulanglah ke London besok. Daddy sakit parah!’- Mommy


Ekspresi Andrea berubah seketika. Gadis itu menjadi sangat panik dan menangis dengan tersedu-sedu. Jericho menyadari ada yang tidak beres. Laki-laki itu berdiri dan memegang tangan gadisnya.


“Ada apa?” Jericho bertanya dengan lembut.


“Aku harus pulang ke London segera. Daddy-ku sakit parah!”


------------------------------


Selamat membaca! Jangan lupa berikan feedback untuk cerita ini!