
Pagi itu, di sebuah Recital Hall, nada-nada mengalun dengan begitu indah. Musik orchestra memperdengarkan simfoni dan menciptakan harmoni.
Seorang conductor muda, berdiri di tengah-tengah para musisi yang sedang memegang berbagai jenis alat musik classic dan memainkannya. Tangan conductor muda itu bergerak dengan lugas sesuai birama.
Rambutnya yang bergelombang dan sedikit panjang terlihat diikat rapi. Sesekali matanya terpejam, mencoba merasakan dan menikmati setiap bunyi yang tercipta.
Jericho bersama tim orchestranya telah berhasil melatih tujuh instrumentalia dengan sempurna. Tersisa tiga lagi yang hingga saat ini belum pernah dicoba kembali.
Tiga instrumentalia yang menuntutnya untuk mencari seorang perempuan dengan aura dan penghayatan yang kuat. Seorang perempuan yang akan menjadi jantung dari konsernya, namun yang hingga saat ini belum berhasil ia dapatkan.
“Well, enough for today. Thank you everybody. Semuanya boleh pulang except Frans and Andrew. Both of you, please accompany me for a while! We have to discuss something,” kata Jericho kepada dua kawannya.
“Honestly, aku cukup jenuh berada disini, J. Kita bahkan sudah tiga jam berada disini, kalau kau mau berdiskusi, sebaiknya kita cari tempat lain,” saran Andrew kepada Jericho dengan nada sedikit memaksa.
“Ok! Shall we go now? ” Jericho bertanya sambil menatap dua kawannya itu.
“Yes! " Andrew dan Frans membalas bersama-sama.
--------
Mereka bertiga akhirnya meninggalkan Recital Hall. Masing-masing memacu mobilnya sambil bergerak beriringan menuju sebuah café yang terletak di pinggiran kota. Café itu adalah café langganan Andrew yang menyediakan aneka pasta.
Setibanya di café tersebut, mereka pun segera masuk ke dalam dan mencari tempat duduk. Tak lupa mereka memesan beberapa makanan seperti, Ravioli, Spaghetti Bolonese, Macarones, dan Canneloni. Setelah semua pesanan datang mereka pun makan sambil berbincang.
“J, kenapa tadi kau menyisakan tiga instrumentalia? Kenapa tidak kita latih saja semuanya?” Frans bertanya karena penasaran.
“Andaikan saja kau tahu Frans, dia bahkan belum pernah mengijinkan kami mencobanya lagi, setelah latihan pertama kami yang menurutnya berantakan tempo lalu,” jelas Andrew kepada Frans.
“Memangnya apa yang salah dengan lagu-lagu itu, J. Aku sudah membaca semua partiturnya. Menurutku itu indah.” Frans mencoba mencari tahu apa yang dipikirkan oleh sahabatnya itu.
“Tiga instrumentalia itu seperti tak punya jiwa. Aku pernah mendiskusikannya dengan Andrew. Secara teori, seharusnya ketiganya menjadi yang terbaik. Tetapi entah kenapa aku kehilangan feel-nya. Something’s missing! ” Jericho berucap dengan mimik kecewa di wajahnya.
“Itu sebabnya Frans, aku mengusulkan padanya, untuk mencari seorang musisi wanita yang memiliki aura dan penghayatan yang kuat sehingga bisa memunculkan kesan bahwa dia adalah wanita yang sedang menanti. Sama seperti tema yang diusung oleh J.” Andrew menambahkan jawaban Jericho, sambil memasukkan dan mengunyah Ravioli dalam mulutnya.
“Itulah yang ingin aku diskusikan dengan kalian. Sebenarnya aku masih bingung, apakah perempuan itu harus seorang Harpist atau Violinist atau apa?” Jericho dalam kebimbangan saat ini.
“Kau inginkan wanita yang seperti apa? Instrumentalia itu tentang apa? Jika yang kau maksud wanita yang menunggu itu adalah seorang wanita yang menanti dengan keberanian, carilah seorang Violinist. Jika wanita yang menunggu itu adalah wanita bak peri yang lembut namun sedikit manja, carilah seorang Harpist, ” ucap Frans.
“Kalau dilihat dari karakter instrumentalia dan aransemenku, wanita yang menunggu itu seperti sedikit pemalu. Dia menunggu dengan perasaan mendalam dan penuh kesabaran. Arggghhhh!” Jericho terlihat masih sangat kebingungan.
“Carilah seorang Cellist! " Frans memberikan pencerahan.
“Cello adalah alat musik yang umumnya dimainkan dengan penuh keanggunan. Bunyi cello tidak terlalu melengking seperti biola atau terlalu berkarakter seperti harpa. Cello bisa menjadi simbol dari emosi yang tertahan. Wanita yang menanti dalam kesabaran sesungguhnya adalah wanita yang memiliki pengendalian diri kuat dengan cinta yang sangat besar,” imbuh Frans sembari menyesap vanilla milkshake pesanannya.
“Aku setuju dengan Frans, J. Lusa kita adakan audisi pemain cello. Langsung tes mereka dengan tiga instrumentalia itu. Semoga lusa kita mendapatkan keajaiban. Sekarang jangan berpikir lagi. Kau tenang saja, ada kami yang akan selalu membantumu,” tutur Andrew kepada Jericho.
Jericho terpaksa mengangguk untuk menunjukkan bahwa ia setuju. Sejujurnya, ia ragu apakah benar ia bisa menemukan seorang Cellist yang memenuhi kriterianya. Ia melamun cukup lama dan tidak terlalu bersemangat menyantap spaghetti pesanannya. Jiwanya seolah tak menyatu dengan raganya yang duduk di café itu.
Sesekali ia menatap ke arah Frans dan Andrew. Ia menaruh harapan yang besar pada sahabat-sahabatnya. Ia menginginkan konser akbar perdananya ini meninggalkan kesan. Banyak usaha telah dilakukannya, banyak ritangan dihadapinya. Ia tidak mungkin membiarkan semuanya hancur karena eksekusi yang tidak maksimal.
Mereka segera menyelesaikan acara makan mereka dan kemudian kembali ke apartment masing-masing. Frans kini sudah bisa menempati apartment-nya. Ia telah membereskan semua barangnya yang ada di apartment Jericho dan meletakkan semua barangnya itu ke dalam mobil, sebelum berangkat ke Recital Hall tadi pagi.
Setelah tiba di apartment-nya yang mendadak sepi karena kepindahan Frans, Jericho masih saja larut dalam keraguannya. Ia ragu bahwa ia akan menemukan sosok wanita yang menanti itu.
Seketika lamunannya menjadi buyar oleh suara panggilan dari handphone-nya. Rupanya dari tadi, para teman wanitanya mencoba menghubungi Jericho berkali-kali. Mereka pasti bermaksud untuk mengajaknya bersenang-senang malam ini. Namun, suasana hati yang buruk membuat dia lebih memilih untuk tidur di kamarnya dan berharap mimpi indah akan membelai tidurnya dan mengangkat rasa gundahnya.
------------------
*Two days later*
Seperti yang telah mereka diskusikan, hari ini ketiganya bermaksud melakukan audisi terhadap para pemain cello yang telah mendaftarkan diri. Ada sekitar dua puluh orang perempuan yang mendaftar. Mereka pun melakukan penjurian terhadap dua puluh perempuan tersebut, hingga semua perempuan yang mendaftar selesai melakukan audisi.
“Gila! Kenapa di sini susah sekali mencari Cellist yang berbakat?” Frans terlihat kecewa dan terheran-heran.
“Payah nih, tidak ada satu pun yang menghayati. Mereka seperti robot saja. Padahal kita sudah berikan partiturnya kepada mereka sehari sebelumnya. Bagaimana kalau tadi kita langsung meminta mereka memainkannya secara mendadak?” Andrew berucap sembari menggelengkan kepala dan melihat ke arah Jericho dan Frans.
“Itu yang aku takutkan. Tahukah kalian? Orang-orang yang bergabung dalam orchestraku adalah orang-orang terbaik. Mereka yang ikut audisi ini hanyalah sisa-sisa dari audisi yang lalu. Jika Cellist-ku saja tidak bisa membawakan seperti kemauanku, apalagi mereka?” Jericho menjelaskan ketakutan yang dirasakannya selama beberapa hari ini.
Setelah melihat dan menerima formulir pendaftaran yang dikumpulkan tadi, sesungguhnya Jericho langsung pesimis. Ia tahu bahwa audisi ini hanya diikuti oleh mahasiswi-mahasiswi yang ada di kampusnya. Ia tidak akan mungkin mendapatkan wanita yang memenuhi kriteria. Wanita yang akan menjadi jantung konsernya.
“Sebenarnya aku punya seseorang,” kata Frans tiba-tiba.
“Siapa?” Andrew dan Jericho bertanya bersamaan.
“Tapi masalahnya dia tidak akan mau. Dia tidak mau menunjukkan kemampuannya di hadapan orang banyak. Dia sangat menutup dirinya,” ucap Frans
“Aku yang akan bicara dengan perempuan itu. Aku yang akan memintanya. Kau tahu banyak wanita tidak bisa menolakku,” tutur Jericho dengan sangat percaya diri.
“Kau pikir Elaineku akan semudah itu kau rayu? Aku yang sangat dekat dengannya saja tidak pernah berhasil memintanya, apalagi kau yang bukan siapa-siapa,” balas Frans kepada Jericho.
“Kau yakin Elainemu mampu? Bukannya dia hanya bisa memainkan Pachelbel’s Canon saja? Frans, kau bisa membacakan? aransemenku ini cukup rumit,” ucap Jericho meragukan pernyataan Frans.
“Sial! kau merendahkan Elaineku? Dia sangat mahir. Aku bukan orang awam yang tidak bisa membedakan orang yang baru belajar dengan orang yang professional, J.” Frans berusaha menepis keraguan Jericho.
Jericho terdiam sejenak, menghela nafas, kamudian hendak mengatakan sesuatu.
“Cobalah bicara dengan wanitamu itu. Aku sangat terdesak Frans. Katakan padanya aku akan memberikan apapun asal ia mau membantuku,” tutur Jericho.
Tiba-tiba Frans langsung terdiam dan sekarang terlihat sedang berpikir.
“Tapi ada satu masalah lagi, J. Dia baru bisa ke Amerika satu minggu sebelum acara konsermu. Jadi kalaupun dia mau, mungkin dia hanya akan berlatih dua kali saja dengan kita. Tapi sekalipun hanya dua kali, aku jamin, kau tak akan kecewa, J. Dia sangat sempurna dalam setiap permainannya,” ucap Frans meyakinkan sahabatnya.
“Tidak masalah. Sementara ini, biarkan Sherly menggantikan dia dulu. Sherly adalah pilihan terbaik, jika wanitamu itu tidak mau. Aku hanya berharap wanitamu mau membantuku dan dia sesuai ekspektasiku,” balas Jericho kepada Frans.
“Aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk membuat Elaine mau membantumu, membantu kita. Masalah feel terhadap sebuah lagu dan kemampuan bermusiknya, aku yakinkan kamu, Elaineku di atas rata-rata, J. Hanya saja, jika dia benar-benar tidak mau, aku tak akan memaksanya.” Frans berucap sambil memegang pundak Jericho.
Andrew yang tidak tahu apa-apa memilih diam. Dia hanya berharap Frans berhasil meyakinkan wanitanya untuk membantu mereka. Andrew tidak pernah meragukan kemampuan Frans dalam menilai bakat seseorang.
Saat ini, Jericho hanya bisa pasrah dengan keadaan dan berharap akan ada keajaiban baginya. Nasibnya benar-benar dipertaruhkan sekarang. Dia serasa berdiri antara hidup terhormat atau mati dengan mengenaskan.
------------
Halo, para pembaca! Seperti biasa ditunggu feedback-nya ya! Masukan dan kritikanpun saya terima dengan senang hati. Thank’s and enjoy!