More Than Words

More Than Words
Our Confession



“Frans, sebenarnya aku berencana untuk melanjutkan studi ke Amerika, setelah kita menikah. Kau pasti masih ingat bahwa aku mendapat beasiswa studi magister, karena aku memenangkan lomba menulis puisi itu kan?” Andrea memilin ujung bajunya. Gadis itu sebenarnya ragu mengatakan niatnya saat ini.


“Setelah acara pernikahan kita selesai, wisudaku hanya tinggal menunggu bulan. Beberapa bulan setelah wisuda, baru aku apply ke kampusnya dan mungkin tahun depan aku akan kuliah. Apakah kamu keberatan?” Andrea menatap Frans dengan gelisah. Ia masih menunggu jawaban dari laki-laki yang ada di hadapannya.


Frans tersenyum dan menyentuh pipi kekasihnya. “Off course not, baby! Aku senang kalau kamu mau melanjutkan kuliahmu. Kita akan pindah ke Amerika. Aku punya apartment di sana, jadi tidak ada masalah sayang,” ucap Frans kepada calon istrinya.


“K-kamu mendukungku? Kamu tidak marah?” Andrea bertanya keheranan.


“Sudah ku katakan berulang kali padamu kan? Apapun asal kamu bahagia.” Frans memajukan wajahnya dan mengecup pipi Andrea.


Gadis itu berdiri, memindahkan posisi duduknya di sebelah Frans, kemudian ia memeluk kekasihnya. Ia merasa menjadi orang yang paling beruntung saat ini. Frans bukan hanya mencintainya dengan sepenuh hati, tetapi juga membantu meraih mimpi-mimpi tertingginya.


“How lucky I am, having you by my side, Honey. Aku belum pernah merasa dicintai sebesar ini sebelumnya,” ucap Andrea sambil meneteskan air matanya.


Frans masih memeluk gadis itu. Beberapa kali ia mencium puncak kepala Andrea, dan sesekali tangan laki-laki itu mengusap air mata kekasihnya. Setelah berhasil menenangkan diri, Andrea melepaskan pelukannya.


“Elaine, apakah masih ada yang ingin kau katakan? Apakah ada yang lain? Bagaimana dengan masa lalumu? Apakah sekarang aku boleh tahu, siapa laki-laki yang kau ceritakan waktu itu, laki-laki yang menjadi cinta pertamamu?” Frans mendesak Andrea untuk menyatakan yang sebenarnya.


“Apakah aku harus memberitahumu? Aku rasa itu tidak penting lagi,” jawab Andrea menunjukkan bahwa ia keberatan.


“Baiklah, kalau memang kamu masih ingin menutupinya, aku tidak akan memaksa,” balas Frans.


“Kamu marah? Frans, kumohon jangan marah padaku! Baiklah, aku akan memberitahumu.” Andrea nampak gugup saat ini.


“Laki-laki itu sebenarnya adalah……” Andrea belum selesai berbicara, tiba-tiba Frans menyela.


“Jericho!” Frans seketika membuat Andrea membulatkan matanya.


“Kamu tahu?” Andrea terkejut.


“Aku mengenalmu sejak lama, sayang. Caramu menatapnya, sikapmu padanya, semua itu jelas menceritakan kepada siapa hatimu diberikan. Aku bahkan merasa kamu tidak pernah menatapku, sedalam tatapanmu padanya waktu itu.” Frans mengingat-ingat peristiwa saat mereka di Amerika.


“Tapi percayalah, aku sudah melupakannya,” ucap gadis itu terburu-buru, hendak meluruskan ucapan Frans.


“Aku tahu. Sekarang, aku bisa merasakan bahwa kau mencintaiku,” kata Frans sambil tersenyum.


“Elaine, apakah Jericho juga memiliki perasaan padamu? Apakah Jericho pernah menyatakan perasaannya?” Frans melanjutkan ucapannya.


Andrea menganggukkan kepalanya. Frans sempat terkejut karena Andrea mengetahui hal itu.


“Dia menyatakannya setelah aku menerima lamaranmu. Aku mengatakan kepadanya bahwa aku sudah memilihmu dan tidak bisa meninggalkanmu.” Raut wajah gadis itu berubah menjadi sendu.


“Apakah dia tahu bahwa kamu pernah mencintainya?” Frans semakin penasaran.


Andrea menggelengkan kepalanya lalu berkata, “Dia tidak pernah mengetahuinya dari mulutku, tetapi mungkin dia bisa merasakan perasaanku, sebab waktu itu, dia sepertinya ingin menyadarkan bahwa aku juga mencintainya.”


Tiba-tiba gadis itu mencari sesuatu di dalam tasnya. Setelah menemukan benda yang dicarinya, Andrea menyodorkannya kepada Frans.


“Kamu masih menyimpan benda ini, apakah itu artinya kamu masih berharap?” Frans sangat gelisah.


“Tidak, Frans! Jericho hanya masa laluku, sementara kamu adalah masa depanku. Kalau aku masih berharap padanya, aku tidak mungkin menunjukkan benda ini padamu.” Andrea menyerahkan gelang itu pada Frans.


“Aku tidak akan menyimpannya lagi, perbuatlah apa yang ingin kamu perbuat pada benda ini!” Andrea menatap Frans dengan penuh keyakinan.


“Elaine, aku sebenarnya tahu bahwa kalian berdua memiliki perasaan yang sama waktu itu. Keputusanku memintamu menjadi kekasihku di restaurant, sesungguhnya adalah keputusan impulsif yang aku buat untuk menunjukkan pada Jericho, bahwa kamu milikku. Jericho ada di restaurant itu dan ia melihat semuanya.” Frans berbicara sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. Sesungguhnya, Frans merasa tidak nyaman mengakui semua ini.


“Awalnya aku merencanakan untuk langsung melamarmu saja saat konser, karena aku berpikir selama ini tidak ada laki-laki yang dekat denganmu selain aku. Jadi, aku cukup percaya diri bahwa kamu tidak mungkin menolak lamaranku. Aku benar-benar percaya bahwa aku memiliki kesempatan itu, sampai aku melihat kalian berdua bertemu, dan aku mulai ragu. Aku takut kamu menolakku, karena itu aku harus memastikan semuanya lebih awal sebelum konser itu diselenggarakan.” Frans sudah mengutarakan semuanya.


“Kamu tahu dari mana kalau Jericho memiliki perasaan padaku? Jujur Frans, bahkan ketika laki-laki itu mengatakan dengan jelas bahwa ia mencintaiku, aku tidak bisa sepenuhnya percaya padanya,” ucap Andrea menyanggah pernyataan Frans.


“Jericho pernah mengakuinya padaku dan untuk pertama kalinya aku melihat dia bersungguh-sungguh. Itu sebabnya aku takut kehilanganmu,” balas Frans.


“Aku sebenarnya tidak sebaik yang kamu kira. Aku mengambil kesempatan saat aku tahu kalian berdua sama-sama belum menyadari bahwa kalian saling mencintai. Apakah kamu mau memaafkanku?” Frans memegang kembali tangan Andrea.


“Aku berterima kasih kamu mau mengakui semuanya. Aku menganggap itu sebagai usahamu mendapatkanku.” Andrea menatap Frans dengan lembut.


“K-kamu tidak marah?” Frans merasa heran dengan reaksi Andrea.


“Ada pepatah mengatakan, ’Everything is fair in love and war ’. Semua itu kamu lakukan karena adanya dorongan untuk memilikiku. Kamu sungguh-sungguh memperjuangkan cintamu. Sesuatu yang tidak pernah Jericho lakukan dari dulu kepada semua wanita yang pernah mengisi hatinya,” ucap Andrea sambil menundukkan wajahnya.


“Maafkan aku, Elaine! Aku tidak seharusnya menutupi ini.” Frans memegang dagu Andrea dan mengangkat wajah kekasihnya.


“Frans, berjanjilah padaku bahwa kamu akan selalu mencintaiku. Aku tidak pernah menyesal memilihmu.” Andrea menempatkan kepalanya di dada Frans.


“Aku berjanji padamu, sampai maut memisahkan kita.” Frans memeluk erat Andrea dan membelai lembut rambut kekasihnya itu.


--------------------


Andrea menatap sebuah album yang sudah terlihat usang di dalam kamarnya. Gadis itu membuka satu per satu foto yang ada di dalamnya. Sesekali ia tersenyum dan tiba-tiba meneteskan air mata, saat maniknya memandang sebuah foto, yang menggambarkan ia dan Jericho sedang menggenggam piagam penghargaan, karena memenangkan lomba karya tulis ilmiah di masa lalu.


Gadis itu merenung kembali. Ia tidak menyangka bahwa semua yang dikatakan oleh Jericho di bukit cahaya pada waktu itu adalah sungguh-sungguh. Ia masih mengingat bagaimana Jericho yang nampak kalut, mencoba menyatakan perasaannya. Andrea bahkan mengatakan saat itu bahwa perasaan Jericho padanya adalah perasaan sesaat yang akan pudar, saat mereka tidak berjumpa lagi.


Andrea memang mencintai Frans sekarang, tetapi ia tidak bisa berbohong bahwa semua kenangannya bersama Jericho masih melekat jelas di benaknya. Jericho seolah memiliki tempat tersendiri di dalam hatinya.


Satu pertanyaan menggelitik pikiran gadis itu sekarang. Apakah semua ini adalah tanda bahwa Jericho memang bukanlah jodohnya? Bahkan di saat mereka memiliki kesempatan kedua, mereka tetap tidak bisa bersatu. Mungkin ini adalah bukti bahwa cinta tidak harus saling memiliki.


Andrea menutup album itu dan menghapus bulir-bulir air mata yang tersisa di pipinya. Ia tahu bahwa semuanya sudah terjadi dan tidak ada jalan untuk kembali. Andrea semakin memantapkan keputusannya untuk bersatu dengan Frans, menghabiskan hari demi hari dengan laki-laki yang mencintainya dan yang mau bermimpi bersama dengannya.


--------------------


Jangan lupa feedback-nya! Happy reading!