
\-\-Andrea's PoV \-\-
“Elaine!” Frans tiba-tiba meneriakkan namaku dengan nada panik.
Aku jatuh tersungkur saat orang tak dikenal menabrakku. Aku jatuh tapi tidak merasa sakit, seperti ada sesuatu yang melindungiku. Aku belum sadar sepenuhnya bahwa aku sedang menindih tubuh seseorang.
Seketika nyawaku sudah kembali dengan sempurna, aku menyadari ada seseorang di bawahku dan sedang memelukku. Aku mencium aroma parfumnya. Aku mengenali aroma ini.
“Awww......….. Nona.... Apa kau baik-baik saja? Bisakah kau berdiri?” Orang itu berkata kepadaku.
Aku menengadahkan kepala dan melihat wajah orang itu. Frans yang panik segera membantuku berdiri. Frans terus menerus bertanya bagian tubuhku mana yang sakit.
Aku masih membatu karena kaget. Aku benar-benar tidak percaya, baru saja aku jatuh dan didekap oleh Jericho.
Mengingat kejadian itu, jantungku berdebar saat itu juga. Pasti sekarang pipiku sudah merah seperti udang rebus.
Aku malu mengingat kejadian tadi, meski tidak bisa kuingkari, aku juga senang bahwa Jericho yang berada di posisi itu bukan orang lain. Ini sungguh kejadian yang memalukan.
Aaarggghhh...
“Maaf, J. Apa kau terluka?” Aku mengkhawatirkan Jericho sekarang.
“Kau berat juga ya?” Jericho membalas sambil tertawa mencoba menghiburku yang nampak bersalah.
“Dia itu laki-laki, tidak perlu mengkhawatirkannya.” Andrew berbicara kepadaku.
“Elaine, apa kita batalkan saja nontonnya? Apa ku antar kau pulang saja, supaya bisa beristirahat?” Frans bertanya sambil membantu merapikan rambutku yang sedikit berantakan karena jatuh tadi.
“Tidak, aku tidak apa-apa, Frans. Kita lanjut nonton saja,” jawabku pada Frans.
Aku tidak bisa konsentrasi selama pemutaran film. Seketika aku teringat pada kejadian tadi. Aku merasa malu, tapi juga merasa senang, hingga tanpa sadar aku pun senyum-senyum sendiri. Untung saja pencahayaan sangat minim sehingga tidak ada yang melihat ekspresiku yang sudah seperti orang gila.
90 menit aku menyaksikan film yang tidak kupahami jalan ceritanya, bukan karena filmnya jelek tapi karena aku yang asyik sendiri dengan lamunanku.
Lampu kemudian dinyalakan. Film telah selesai diputar. Wajah Jericholah yang ditangkap mataku pertama kali, saat lampu baru saja menyala. Mata coklatku bertemu dengan mata hijaunya. Aku yang tak sanggup memandangnya lama-lama akhirnya mengalihkan pandangan ke arah yang lain.
-----------------
📞‘Halo….’ (Frans)
📞‘……….’ (unknown)
📞‘Ya ini aku.’ (Frans)
📞‘……………..’ (Unknown)
📞‘Apa tidak bisa besok? Aku sedang di luar sekarang.’ (Frans)
📞‘……………’ (Unknown)
📞‘Baiklah. Bilang padanya 30 menit lagi aku tiba.’ (Frans)
Frans baru saja selesai menutup teleponnya. Dari ekspresinya, sepertinya ada sesuatu yang penting.
“Elaine, maafkan aku. Aku ada urusan mendadak. Aku harus pergi sekarang dan sepertinya aku juga tidak bisa mengantarmu pulang,” ucap Frans kepadaku dengan wajah penuh penyesalan.
“Biar aku yang mengantar Andrea, Frans,” kata Jericho memberikan solusi.
“Tidak perlu, aku bisa naik taksi.” Aku langsung menolak insiatif Jericho.
“Ini sudah malam. Aku tidak mungkin membiarkanmu pulang sendiri,” kata Jericho kepadaku.
“Ini masih belum terlalu larut, J. Aku tidak ingin merepotkanmu.” Aku kembali menolak Jericho.
“Ini bukan sesi tawar-menawar, Andrea. Frans, kau pergilah! Aku akan menggantikanmu mengantarnya.” Jericho berbicara kepada Frans dengan nada tegas. Sepertinya ia jengkel karena aku tidak mau diantar olehnya.
Frans menganggukkan kepala dan berpamitan kepada kami. Andrew sempat menanyakan kemana Frans akan pergi, dan ternyata mereka searah. Andrew memutuskan untuk menumpang mobil Frans supaya Jericho tidak bolak-balik.
Sekarang tinggal aku yang berjalan berdua bersama dengan Jericho. Kami keluar dari area Bioskop dengan tenang. Kecanggungan terjadi di antara kami, apalagi setelah kejadian jatuh yang memalukan tadi.
“Apakah ada yang sakit?” Jericho bertanya memastikan kondisiku, sambil berjalan dan sesekali menatap wajahku.
“Sakit? Oh, maksudmu karena jatuh tadi? Aku baik-baik saja. Terima kasih, J.” Aku harus berpura-pura tidak mengerti pertanyaannya lebih dulu. Aku takut ia mengetahui bahwa sebenarnya aku masih memikirkan adegan jatuh tadi.
“Tidak perlu merasa bersalah, An.” Jericho menimpali ucapanku.
“An, maukah kau menemaniku sebentar? Ada sesuatu yang harus ku beli.” Jericho kembali bertanya padaku.
Aku menganggukkan kepala tanda setuju. Aku berjalan mengikutinya hingga sampai di depan sebuah boutique. Ia memilih sebuah evening gown berwarna hitam polos, panjangnya sampai kira-kira mata kaki. Sebuah evening gown tanpa tali dengan belahan di bagian paha. Siapapun yang memakainya pasti terlihat seksi.
Otakku kembali berpikir saat itu juga. Aku merasa sangat penasaran. Untuk siapa gaun malam itu? Apakah Jericho sudah memiliki kekasih? Jangan-jangan itu untuk kekasihnya. Mungkin dia ingin kekasihnya mengenakan gaun itu saat konsernya diselenggarakan nanti.
“Sudah selesai. Mari kita pergi!” Jericho berucap, setelah selesai membayar dan mengambil paper bag berisi gaun malam itu.
Kami berjalan meninggalkan boutique. Tak lama kemudian aku mendengar suara seorang wanita memanggil Jericho.
“Jericho! J, Hai, sayang sedang apa di sini?” Wanita itu berkata sambil melambai-lambaikan tangannya.
Aku melihat wanita cantik berambut pirang sedang berjalan ke arah kami. Ia langsung memeluk Jericho dan mencium pipinya. Aku terdiam, Jericho nampak akrab dengannya. Apakah ini kekasihnya? Aku terus menerus bertanya dalam hati.
Aku tidak suka melihat wanita itu. Dia sangat genit. Caranya menatap Jericho seperti singa betina yang kelaparan, dan Jericho terlihat menikmati saat ditatap olehnya, hingga dia sadar bahwa aku masih ada di situ.
“Sorry, Andrea. Oya, kenalkan ini Stephanie.” Jericho akhirnya memberi tahu nama singa betina itu.
“Stephanie, ini Andrea.” Jericho melanjutkan kalimatnya untuk mengenalkanku.
Kami memberi tangan kami untuk bersalaman. Setelah selesai sesi perkenalan itu, Jericho kembali berbincang dengan Stephanie dan kembali mengabaikanku.
Aku tahu tidak sepantasnya aku cemburu. Aku bukan siapa-siapanya. Sumpah demi apapun, aku ingin memaki diriku sendiri. Bodoh! sudah ku tanamkan berkali-kali, aku tidak boleh terbawa suasana. Aku harusnya sadar bahwa dia tidak memiliki perasaan lebih denganku.
Aku ingin menangis, tapi sekali lagi aku menahan diriku sekuat tenaga. Aku akan nampak semakin konyol, jika air mata ini lolos.
Mereka berdua telah selesai berbicara. Singa betina yang bernama Stephanie itu kembali mencium pipi Jericho, sebelum mereka berpisah. Dia melambaikan tangan padaku dan aku membalas dengan lambaian tangan dan senyum yang terpaksa.
“Maaf, Andrea. Aku membuatmu menunggu lama.” Jericho meminta maaf padaku.
“Tak apa. Tak perlu meminta maaf,” kataku sambil memaksa tersenyum.
“J, bisakah kita pulang sekarang? Aku cukup lelah hari ini.” Aku meminta pengertiannya untuk segera mengantarku pulang.
Dia menganggukkan kepala. Kami segera pergi meninggalkan mall itu. Rupanya, Jericho tahu alamat apartment-ku. Frans mungkin pernah memberi tahu. Jadi, aku tidak perlu susah-susah menunjukkan jalan padanya.
Selama perjalanan, aku tidak banyak bicara. Rasanya kepalaku sakit sekali. Aku memejamkan mata sambil merilekskan tubuhku, hingga aku tertidur.
------------------
“An, bangunlah! Kita sudah sampai.” Jericho membangunkanku. Ia menepuk pundakku dan berbisik di telingaku.
“Maaf, aku ketiduran. Bolehkah aku di sini sebentar sampai semua nyawaku kembali ke tubuhku, J?” Aku meminta waktu untuk duduk sebentar di mobil Jericho.
Aku merasa lemas dan kepalaku masih terasa berat. Aku pasti sempoyongan jika langsung keluar dari mobilnya saat ini.
Jericho tertawa mendengar ucapanku. Setelah itu, dia mengajakku bicara.
“An, apakah kau sudah lama, mengenal Frans?” Jericho memulai percakapannya.
“Ya, sudah cukup lama. Sejak aku masih di Junior High,” balasku.
"Apakah kalian berpacaran?” Jericho bertanya lagi.
“Tidak, J. Dia adalah teman kecilku.” Aku menjawab pertanyaannya.
“Apakah kau tidak bisa melihat bahwa ia punya perasaan lebih padamu?” Dia menanyakan sesuatu yang sebenarnya bukan urusannya.
Aku langsung tidak bisa menutupi ekspresiku yang tidak suka dengan pertanyaannya. Dia bisa menangkap perasaan Frans padaku, tetapi dia tidak pernah peka dengan perasaanku padanya.
“Aku tahu, J. Aku hanya ingin fokus pada kuliahku dulu.” Aku menjawab dengan alasan yang biasanya aku berikan kepada Frans.
“Klise sekali! An, Frans adalah laki-laki yang baik. Aku tahu persis siapa dia. Kau jangan meragukannya,” ucap Jericho dengan tatapan serius ke arahku.
Aku tidak membalas ucapannya lagi. Dia tidak seharusnya membicarakan sesuatu yang bukan urusannya. Sekarang dia benar-benar mengacaukan perasaanku. Dia berbicara seolah-olah aku tidak paham dengan perasaanku sendiri.
Jika aku tidak mencintai Jericho, tentu aku akan menyambut perasaan Frans dengan tangan terbuka. Dia laki-laki yang baik, bodoh jika aku menolaknya. Masalahnya, ada Jericho yang selalu membayangi hatiku. Bayangan itu tidak memberi kesempatan pada laki-laki lain untuk mengisi hati ini. Bahkan Frans yang sangat baik itu pun tidak mampu menggeser posisinya dari hatiku.
“Terima kasih tumpangannya, J. Aku harus pergi.” Aku berpamitan pada Jericho supaya dia tidak memperpanjang pembicaran ini lagi.
Aku kesulitan membuka seatbelt-ku. Jericho yang melihat itu, langsung membantu melepas seatbelt dan mengembalikan perlahan pada tempatnya.
Saat itu posisiku dan dia menjadi dekat kembali. Jantungku berdebar lagi, kali ini lebih kencang. Beberapa anak rambutnya menyentuh pipiku. Aku berdoa semoga wajahku tidak memerah. Dia benar-benar mengacaukan perasaanku hari ini.
Setelah selesai ia kembali ke posisinya semula. Aku mengucapkan terima kasih lagi kepadanya dan hendak keluar dari mobil. Tiba-tiba aku merasakan tanganku tertahan oleh sesuatu.
“Tunggu An! Aku punya sesuatu untukmu.” Jericho menyerongkan tubuhnya hendak mengambil sebuah paper bag di belakang. Kepalaku refleks bergerak mengikuti arah tubuhnya.
Duukkk…
“Shhh…” Aku mendesis sambil menyentuh dahiku yang sakit.
Kepala kami berbenturan. Jericho langsung meminta maaf dan mengelus-elus dahiku dengan tangannya. Setelah itu, dia menempelkan dahinya pada dahiku dan mengerakkan kepalanya pelan-pelan, seperti mengusap dahiku dengan menggunakan dahinya, sementara kedua tangannya memegang tanganku.
Nafasku langsung tak beraturan. Badanku menjadi kaku seketika. Ia menghentikan usapan dahinya, namun masih menempelkan dahinya di dahiku beberapa saat.
“Maaf,” katanya. Setelah itu, ia pun menjauhkan wajahnya.
Kami berdua sama-sama canggung. Aku hanya diam. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Rasanya aku seperti naik roller coaster hari ini. Sejak pagi hingga malam, aku merasa tegang, bahagia, marah, malu secara bergantian. Up and down rasanya.
Setelah sedikit tenang, aku menatap ke arah Jericho yang seketika berusaha menetralkan suasana.
“Oya, ini gaun untukmu. Pakailah saat konserku nanti,” ucapnya padaku sambil menyodorkan paper bag yang tadi diambilnya.
“Jadi tadi kau membeli untukku? Kau yakin ukurannya pas denganku? Kenapa kau tidak memintaku untuk mencobanya tadi?” Aku benar-benar meragukannya kali ini.
“Aku yakin, aku sudah mengukurnya dengan tepat,” balasnya.
“Kapan?” Aku bertanya dengan heran.
“Aku sudah memelukmu beberapa kali. Hari ini, saat jatuh tadi, aku bahkan tak sengaja memelukmu lagi. Aku yakin ukurannya tidak salah,” balasnya sambil menahan senyum.
“Terima kasih untuk hari ini, J dan terima kasih untuk gaunnya,” Jawabku padanya singkat tanpa ekspresi.
Aku segera keluar dari mobilnya. Aku berjalan dan tidak menoleh lagi ke arahnya sampai masuk ke lobby apartment.
Kalimat terakhirnya membuatku malu. Aku benar-benar malu dan aku yakin saat ini wajahku sangat merah. Aku tidak boleh lebih lama lagi bersama dengannya.
Bisa-bisanya Jericho berkata seperti itu. Bukankah itu tidak sopan? Tapi anehnya, aku tidak tersinggung padanya, apalagi sampai membencinya karena perkataannya. Aku malah merasa tergoda. Oh, tidak-tidak. Aku tidak boleh tergoda. Dia punya kekasih. Oh Tuhan, sulit sekali rasanya menjadi aku saat ini.
Terlalu banyak kejadian aneh yang aku lalui hari ini dengannya. Aku bingung harus memberi nama apa atas kejadian itu. Apakah ini jodoh atau bodoh? Haruskah aku mensyukurinya atau mengutukinya? Aku menarik nafasku dalam-dalam dan menghembuskannya. Mungkin aku tidak akan bisa tidur malam ini.
------
Hai hai… Selamat membaca ya! Jangan lupa feedback-nya!