
“Kau mengagetkanku, An!” Norah menyentuh dadanya karena terkejut.
“Memangnya apa yang kamu lihat, sampai tidak menyadari aku sudah di sampingmu?” Andrea bertanya penasaran sambil menyodorkan sekaleng soda untuk Norah.
“Aku melihat seorang laki-laki tampan, baru saja lewat sini. Aku merasa pernah bertemu dengan laki-laki itu sebelumnya, tetapi aku lupa, kapan dan di mana aku pernah melihatnya,” kata Norah sambil mengingat-ingat sesuatu.
“Kamu ini, cepatlah cari pendamping hidup supaya tidak terus-menerus berhalusinasi!” Andrea menertawakan sahabatnya sambil menggelengkan kepala.
“Aku serius, An. Aku sungguh-sungguh merasa pernah melihat orang itu,” bantah Norah.
“Iya sudah, ayo kita pulang sebelum hari semakin gelap,” pinta Andrea menggandeng tangan Norah, memaksa gadis itu kembali ke asrama.
“Tunggu, An!" Norah menghentikan langkahnya.
"Aku ingat sekarang. Aku pernah melihatnya di acara konser Frans. Aku pernah bertabrakan dengannya,” ucap Norah dengan bersemangat.
“Sepertinya aku berjodoh dengan laki-laki tampan itu. Kalau sekali lagi aku bertemu dengannya lagi, aku akan mengajak dia berkenalan,” imbuhnya lagi sambil melangkah.
“Terserah kamu saja,” kata Andrea sambil memutar bola matanya.
“An, kamu belum melihatnya. Kamu juga pasti akan mengaguminya,” ucap Norah dengan mata yang berbinar.
“Iya, sayang.” Andrea menanggapi sahabatnya dengan santai.
-------------------------------
Pagi itu suhu udara kota New York cukup hangat. Sinar matahari menyelimuti setiap sudut kota secara merata. Manusia-manusia terlihat begitu bersemangat mengawali harinya di bawah cahaya.
Banyak mahasiswa juga nampak berlalu-lalang di sekitar area asrama. Beberapa bahkan telah rapi, hendak pergi ke kampus lebih awal. Begitu juga dengan Andrea dan Norah.
Pagi-pagi sekali mereka berdua telah berangkat. Mereka berniat mencari sesuatu untuk mengisi perutnya terlebih dulu, sebelum melanjutkan perjalanan ke kampus dan melakukan perkuliahan.
Hari ini kuliah mereka tidak terlalu padat. Bisa dikatakan bahwa mereka akan lebih banyak menghabiskan waktunya di luar dari pada di dalam kelas. Andrea memilih perpustakaan sebagai tempat singgahnya, sementara Norah sedang berusaha mati-matian merayu sahabatnya untuk meninggalkan tempat itu.
“An, aku bosan?” Norah memasang tampang manjanya.
“Kalau bosan, ya cari buku yang lain,” balas Andrea sambil terus membaca dan mengacuhkan keinginan sahabatnya.
“Aku tidak mau membaca buku lagi. Ayo kita jalan!” rengek Norah tiada henti.
“Ssssttt…. Jangan ribut! Ini perpustakaan bukan pasar,” tegur Andrea kepada Norah yang tidak henti-hentinya berbicara.
“An, dari pada kita lama-lama di sini, sebaiknya kamu ikut aku ke toko musik yang kemarin. Temani aku melamar pekerjaan, ya?” pinta Norah memelas.
“Kita masih ada kuliah, sayang.” Andrea membalik-balikkan buku yang dibacanya. Semakin lama, ia susah berkonsentrasi karena Norah terus mengganggunya.
“Ayolah, An! Kuliah berikutnya masih tiga jam lagi. Aku tidak akan berhenti merayumu, sampai kamu menuruti kemauanku,” paksa Norah tanpa kenal menyerah.
“Baiklah, Ayo! Kamu ini mengganggu saja.” Andrea membereskan buku-buku yang dipinjamnya dan mengembalikan buku itu pada tempat yang disediakan.
-----------------
Kedua gadis itu berjalan keluar dari area kampus. Norah sudah memanggil sebuah Taxi yang akan membawa mereka menuju ke sebuah toko musik yang berada di pusat kota. Sepanjang perjalanan dari kampus hingga ke toko musik itu, mereka lalui dengan hiruk pikuk, karena Norah tidak henti-hentinya berbicara. Ia mengajak Andrea dan supir Taxi itu berbicara bergantian. Gadis itu sungguh tidak bisa menutup mulutnya sebentar saja.
“Sudah sampai nona,” ucap supir Taxi yang mengantar mereka.
“Terima kasih! Ini ongkosnya, ambil saja kembaliannya. Hitung-hitung karena anda cukup menyenangkan hati saya,” ucap Norah dengan penuh keceriaan. Supir Taxi itu menjadi lawan bicara yang seimbang untuknya.
“An, ayo masuk! Jangan melamun di situ,” kata Norah.
Mereka berdua membuka pintu kaca yang membatasi ruangan di dalam toko itu dengan bagian luarnya. Beberapa karyawan tersenyum ramah kepada keduanya.
“Halo, miss! Ada yang bisa saya bantu?” Seorang karyawan bernama Gino menyapa mereka.
“Saya mau menanyakan tentang lowongan pekerjaan di depan. Apakah lowongannya hanya untuk laki-laki? Apakah saya tidak bisa mengisi lowongan itu?” Norah bertanya dengan lembut kepada laki-laki yang baru saja ditemuinya.
Laki-laki itu melebarkan langkahnya untuk segera menemui Ray dan menanyakan pertanyaan yang dilemparkan gadis yang baru saja dijumpainya kepada Ray. Mendengar penuturan Gino, Ray bermaksud menemui gadis itu dan langsung melakukan wawancara.
Sambil menunggu, Andrea dan Norah berkeliling toko seraya memperhatikan alat-alat musik yang tersedia di sana. Norah yang tidak terlalu paham tentang musik hanya melihat-lihat sepintas, sementara Andrea tidak bisa melepaskan pandangan matanya dari sebuah cello cantik yang berada di tengah-tengah ruangan. Gadis itu menyentuh cello itu perlahan-lahan.
“Maaf, cello itu tidak dijual,” ucap Ray tiba-tiba saat melihat Andrea menyentuh cello itu.
Saat ini, Ray telah berdiri berhadapan dengan dua orang perempuan yang belum pernah dijumpai sebelumnya. Ray bersyukur akhirnya ada perempuan cantik yang melamar untuk mengisi lowongan itu, dan yang paling penting adalah mereka tidak pernah berkunjung ke toko ini. Dengan demikian syarat yang diajukan Jericho bisa ia penuhi.
“Halo, perkenalkan saya Ray, penanggung jawab di sini! Anda berdua ingin melamar?” Ray bertanya dengan ramah.
“Sebenarnya, hanya saya saja yang berminat melamar. Teman saya sudah memiliki tempat bekerja,” ucap Norah dengan senyum tipis menghias bibirnya.
“Oh, baiklah! Kalau begitu mari ikut saya, kita wawancara di dalam kantor saya saja.” Ray mempersilakan kedua gadis itu masuk ke dalam sebuah ruangan yang lain.
“Apakah saya tidak mengganggu?” Andrea bertanya karena takut keberadaannya mengganggu sesi wawancara Norah.
“Miss, anda bisa menunggu di sini. Saya pinjam teman anda dulu, sebentar.” Ray menunjukkan sebuah sofa yang nyaman di situ agar Andrea bisa beristirahat, sementara Norah diarahkan menuju ke sebuah bilik yang dikhususkan untuk mewawancarai karyawan.
“Siapa nama anda?” Ray memulai sesi wawancara.
“Marilyn Norah Zachary. Panggil saja dengan Norah,” ucap Norah memperkenalkan diri.
“Tolong ceritakan tentang diri anda! Dari mana anda berasal? Mengapa anda ingin bekerja di toko ini?” Ray melanjutkan pertanyaannya.
“Saya dari London. Saya sebenarnya mahasiswi post-graduate di Columbia University. Saya masih menjalani semester pertama dan punya banyak waktu luang. Saya berpikir untuk mengisi waktu luang itu dengan kegiatan yang bermanfaat. Saya punya ketertarikan dengan musik, sekalipun saya tidak bisa memainkannya,” tutur Norah menjelaskan.
Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan oleh Ray dan mampu dijawab dengan baik oleh Norah. Skill komunikasi gadis itu memang baik. Itu sebabnya ia selalu dikirim oleh kampusnya yang ada di London dulu untuk promosi. Norah yang menyadari kemampuannya itu melanjutkan kuliahnya dengan mengambil jurusan yang sesuai dengan bakatnya. Gadis itu mengambil jurusan manajemen pemasaran di kampus barunya.
“Baiklah, anda kami terima!” Ray menyodorkan tangannya dan disambut langsung oleh Norah. Mereka berdua berjabat tangan.
“Kapan saya bisa mulai bekerja?” Norah bertanya dengan semangat.
“Mulai besok, anda bisa bekerja.” Ray berucap sambil tersenyum ramah kepada Norah.
“Baiklah! Saya harus segera kembali. Terima kasih karena mengijinkan saya bergabung,” Norah menundukkan kepalanya tanda memberi hormat. Norah melangkahkan kakinya.
“Maaf, bolehkah saya bertanya?”Norah teringat sesuatu.
“Tanyakan saja!” Ray menatap gadis itu.
“Kenapa saya diterima padahal tulisan di depan menginginkan karyawan laki-laki?” Norah penasaran dengan keberhasilannya diterima di toko itu.
“Kami memang mencari laki-laki, tetapi karena anda orang baru di kota ini dan belum pernah ke toko ini, maka kami bisa mempertimbangkan anda,” jawab Ray.
“Kenapa begitu?” Norah semakin penasaran.
“Sepertinya saya mulai menyukai karakter anda yang selalu penasaran,” Ray tersenyum dan menjeda sebentar percakapannya.
“Bos kita yang menginginkannya. Dia cukup tampan nona. Dia sangat risih dengan wanita yang terlalu agresif. Oleh sebab itu, kami lebih mengutamakan menerima karyawan laki-laki supaya bos tidak terganggu,” ucap Ray sambil tertawa mengingat percakapan terakhirnya dengan Jericho.
“Apakah setampan itu?” Norah semakin penasaran.
“Anda belum bertemu dengannya. Dia di Amsterdam sekarang. Bulan depan baru kembali. Lebih baik anda melihatnya secara langsung. Jika anda ingin bekerja cukup lama di sini, saran saya, jangan memandangnya terlalu lama nanti,” Ray mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum.
“Baiklah! Terima kasih infonya. Saya harus segera pergi.” Norah memberi hormat sekali lagi dan langsung melenggang meninggalkan ruangan itu untuk menjumpai Andrea.
Raut wajah Norah yang ceria membuat Andrea bisa menebak bahwa gadis itu sudah diterima. Mereka berdua segera pergi meninggalkan toko musik dan kembali ke kampus dengan menggunakan Taxi. Norah masih memikirkan percakapan terakhirnya dengan Ray. Gadis itu sangat penasaran dengan bosnya yang belum sempat ditemuinya.
“Apakah benar bosku semenarik itu? Jadi tidak sabar bertemu. Siapa tahu jodoh,” gumam Norah dalam hati sambil tersenyum hingga membuat Andrea kebingungan dengan sikapnya.
--------------
Happy reading! Jangan lupa dukung saya dengan vote, rate, comment, dan like tiap hari. Thanks!