
“Andreaaaaa!!!” Jericho terbangun dengan nafas yang tersengal-sengal.
Laki-laki itu mengalami mimpi buruk yang sama seperti malam-malam sebelumnya, namun kali ini ia sudah mendapat jawaban atas mimpinya itu. Wajah gadis yang biasa muncul di dalam mimpinya, kini menjadi lebih jelas. Gadis yang begitu rapuh di dalam mimpi Jericho adalah Andrea.
Laki-laki itu merenung sejenak, lalu menarik garis lurus dari semua kejadian yang pernah ia alami. Harus diakui bahwa sesungguhnya perasaannya dan perasaan gadis itu benar-benar terkoneksi. Ia bisa merasakan saat-saat dimana Andrea membutuhkannya. Ia juga begitu peka dengan permainan musik Andrea, hingga meski ia tidak melihat, ia tahu bahwa itu permainan gadisnya.
Perasaannya pada gadis itu sangat kuat, meskipun jalan yang harus dilalui untuk bisa bersama begitu terjal dan berliku. Jauh di dasar hatinya, laki-laki itu sangat yakin bahwa Andrea adalah sebuah tujuan akhir.
Jericho semakin larut dalam pemikirannya, hingga tiba-tiba ponselnya berbunyi dan menyadarkannya kembali. Sebuah nama yang ia kenal tertera di layar ponselnya.
📞‘Halo, mom!’ (Jericho)
📞‘Halo, son! Bagaimana kabarmu?’ (Mrs. Veronica Laurent)
📞‘Tidak pernah lebih baik dari ini, mom.’ (Jericho)
📞‘Benarkah? Kalau begitu ceritakan padaku apa yang membuatmu begitu baik?’ (Mrs.Veronica Laurent)
📞‘Jika sudah saatnya, aku pasti akan menceritakan padamu. Ada apa menghubungiku pagi-pagi buta begini?’ (Jericho)
📞‘Di sini sudah sangat siang, J.’ (Mrs. Veronica Laurent)
📞‘Hmm... Itu sebabnya aku selalu berharap, andai saja Amerika dan Inggris memiliki waktu yang sama. Mommy selalu menghubungiku tanpa memperhatikan waktuku.‘ (Jericho)
📞‘Mommy hanya mau memberitahumu. Aku rasa kamu memang berjodoh dengan gadis pilihan mommy. Kau tahu? Sekarang gadis itu ada di Amerika.’ (Mrs. Veronica Laurent)
📞‘Mom, aku sudah mengatakan padamu bahwa aku tidak suka dijodohkan. Semua sudah berakhir. Tidak akan ada kisah percintaan lagi antara aku dan dia. Sekarang aku benar-benar tidak lagi memiliki perasaan apapun padanya. Bahkan saat kami bertemu beberapa waktu lalu, jantungku tidak lagi berdegub seperti dulu.’ (Jericho)
📞‘Jadi, kamu sudah bertemu dengan gadis itu? Dia semakin cantik kan?’ (Mrs. Veronica Laurent)
📞‘Iya, mom. Aku sudah bertemu dengannya beberapa kali. Kami bertemu di bandara dan dia juga mengunjungiku di toko musik. Mom, ini bukan masalah cantik atau tidak. Ini masalah perasaan. Aku mohon padamu, hentikan perjodohan konyol itu!’ (Jericho)
📞‘J, mommy sudah merencanakan semuanya dengan ibu gadis itu. Apakah kau tega mempermalukan mommy-mu ini?’ (Mrs. Veronica Laurent)
📞‘Seharusnya mommy percayakan semuanya padaku, bukan mengambil keputusan sendiri. Sudahlah! Mom, aku masih mengantuk. Kita sambung saja lain kali. Bye, mom!’ (Jericho)
Jericho menutup teleponnya. Laki-laki itu langsung membanting ponselnya di atas ranjang. Akhir-akhir ini pembicaraannya dengan orang tuanya sungguh tidak menyenangkan. Perjodohan konyol yang disiapkan orang tuanya benar-benar membuat mood-nya menjadi buruk. Ia tidak mungkin menerima perjodohan itu karena ia mencintai wanita lain.
Sekarang Jericho berusaha memejamkan matanya kembali, sebab baru beberapa jam ia tertidur. Pertemuannya dengan Andrea kemarin, perkataan yang pernah ia ucapkan, pikiran-pikiran yang selalu muncul di benaknya, membuat laki-laki itu terus terjaga semalaman hingga sulit memejamkan mata.
Pagi ini pun demikian. Ia kesulitan melanjutkan tidurnya kembali, padahal badannya begitu letih. Mengetahui bahwa gadis yang ada di dalam mimpinya adalah Andrea, menemukan kenyataan bahwa orang tuanya belum menyerah dengan perjodohan itu, membuat laki-laki itu semakin sulit mengistirahatkan dirinya.
Sekarang pertanyaan baru bahkan muncul di dalam benaknya. Apakah ia bisa menyadarkan Andrea bahwa ia adalah laki-laki yang tepat untuk gadis itu? Apakah Andrea siap untuk memulai kisah baru bersamanya, setelah begitu banyak kenangan dan ingatan tentang Frans menyelimuti hari-harinya?
Mungkin saja hal itu bisa dilakukan. Namun, semuanya butuh waktu. Sementara orang tua laki-laki itu begitu tidak sabar menunggu. Jika ia tidak bisa memenangkan hati Andrea dengan segera, maka ia tidak memiliki alasan lagi untuk menolak perjodohan itu dan jika ia tetap memaksakan penolakannya, maka orang tuanya yang akan tersakiti pada akhirnya.
---------------
“Selamat sore!” Fergie menyapa para karyawan di toko musik Jericho.
“Ada yang bisa saya bantu, miss?” Norah bertanya kepada Fergie sambil berusaha tersenyum ramah. Entah mengapa, Norah sepertinya tidak terlalu menyukai kedekatan Fergie dan Jericho.
“Apakah Jericho ada?” Fergie melihat ke arah ruangan kerja Jericho.
“Mr. Laurent ada di dalam ruangannya,” ucap Norah sambil menunjuk ruangan Jericho.
“Terima kasih. Kalau begitu aku akan langsung menemuinya.” Fergie melangkah meninggalkan Norah dan menuju ke ruangan Jericho.
Tok!! Tok!!
“Masuk,” ucap Jericho dari dalam ruangan.
“Tidak, masuklah!” Jericho mempersilakan Fergie.
“Apa kamu punya waktu malam ini?” Fergie berbicara penuh harap.
Laki-laki itu sebenarnya ingin menghindar dari Fergie. Ia tidak ingin terkesan memberi gadis itu harapan, apalagi setelah ia mengetahui bahwa mereka berdua dijodohkan oleh kedua orang tua mereka.
Jericho sesungguhnya ingin membicarakan masalah ini dengan gadis itu. Namun, ia berpikir lebih baik ia membicarakannya, saat Fergie mengungkitnya lebih dulu.
“Sebenarnya aku cukup sibuk hari ini,” ucap Jericho sambil membolak-balikkan dokumen yang ada di depannya.
“Sayang sekali, padahal aku ingin mengajakmu makan di sebuah seafood restaurant yang letaknya tidak jauh dari sini. Aku ingin mentraktirmu,” balas Fergie dengan raut wajah kecewa.
“Seafood restaurant? Masih di sekitar sini? Apa nama tempatnya?” Jericho mencoba mencocokkan informasi.
“Aquamarine Restaurant,” jawab Fergie sambil tersenyum.
“Kita berangkat sekarang!” Jericho berucap tanpa ragu-ragu.
-------------------
“Selamat malam. Anda ingin memesan untuk berapa orang?” Seorang pelayan menanyakan kepada Fergie dan Jericho.
“Dua orang,” jawab Fergie dengan singkat.
“Silakan ikut saya!” Pelayan itu mengantar mereka berdua menuju ke sebuah meja yang ada di dekat jendela.
“Ini menunya. Jika sudah selesai memilih, anda berdua bisa memanggil kami,” ucap pelayan itu sambil membungkukkan badannya dan meninggalkan Jericho serta Fergie.
Jericho nampaknya tidak tertarik untuk memilih menunya. Laki-laki itu hanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia seperti mencari keberadaan seseorang. Fergie mengikuti arah tatapan Jericho. Ia sangat penasaran dengan apa yang Jericho cari.
“Kenapa J? Kamu sepertinya gelisah mencari sesuatu?” Fergie berucap lembut.
“Andrea!” Jericho tiba tiba berteriak sambil menyebutkan sebuah nama yang tidak asing bagi Fergie.
Gadis itu mendekati Jericho dan sedikit terkejut saat melihat Jericho datang bersama dengan Fergie.
“K-kalian di sini?” Andrea bertanya sambil berusaha tersenyum menutupi keterkejutannya.
“Kamu bekerja di sini, An?” Fergie bertanya kepada sahabat lamanya itu.
“Iya, baru beberapa hari. Kalian?” Andrea menduga sesuatu.
“Bagaimana menurutmu jika aku dan Jericho kembali seperti dulu?” Fergie tiba-tiba meminta pendapat Andrea sambil tersenyum dan menyentuh tangan Jericho.
“Jadi kalian memang?” Andrea tidak bisa meneruskan perkataannya.
“Kami hanya berteman. Tolong jangan salah paham!” Jericho membuat pernyataan dengan tegas di depan ke dua sahabat itu, sambil melepas tangannya dari genggaman Fergie.
Setiap orang adalah pengembara di dalam hidupnya. Seorang musafir muda akan selalu tertantang untuk berkelana, mengunjungi puluhan bahkan ratusan tempat yang belum pernah terjamah, menjadikan dirinya yang pertama dalam rangka memuaskan egonya.
Hanya saja di sepanjang jalan pengembaraan itu, setiap tempat yang dikunjungi tidak lebih dari sebuah persinggahan. Pada tempat-tempat persinggahan itu, sang musafir muda hanya ingin merasakan hal-hal baru sejenak, sambil menikmati setiap keindahan yang disuguhkan oleh masing-masing tempat.
Pada akhirnya, sekali dalam setiap kehidupan, ada suatu waktu di mana musafir itu akan memutuskan untuk menetap. Ketika hal itu terjadi, setiap wilayah yang dulu pernah ia singgahi hanya akan menjadi sebuah memori.
----------
Selamat membaca! Jangan lupa beri dukungan anda untuk cerita ini!