More Than Words

More Than Words
The Way Of Love



Gadis itu merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Mata coklatnya merabun karena berair. Seluruh tubuhnya melemas. Ia merasa tulang-tulang yang menyangga tubuhnya itu, seakan tidak saling melekat satu sama lain.


Semua orang yang berada di sekitar taman itu mendekat ke arah seorang laki-laki bermata biru langit yang terbaring bersimbah darah. Beberapa mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya dan berusaha menghubungi ambulance. Beberapa yang lain mencoba menghubungi polisi.


“Ada apa? Astaga!!” Beberapa orang yang baru mengetahui kejadian itu bertanya dan terkejut.


“Tabrak lari. Sebuah mobil dari arah selatan menabrak laki-laki ini. Tubuhnya terlempar cukup jauh dan sempat terseret.” Orang yang lain menjelaskan.


Gadis itu masih berada di dalam mobil. Ia sungguh tidak memiliki kekuatan untuk keluar dan melihat kondisi laki-laki yang terbaring lemah di jalan beraspal itu. Air matanya terus menetes, bahkan semakin lama semakin deras mengalir. Meski begitu, tidak ada suara yang keluar dari bibirnya. Perempuan bermata coklat itu sangat shock dengan apa yang baru saja terjadi.


Sadar bahwa ia tidak boleh terus seperti ini, dengan sisa-sisa kekuatan yang dimilikinya, gadis itu membuka pintu mobil. Ia keluar, menjejakkan kakinya ke jalanan yang dipenuhi daun-daun pohon Oak yang terus berguguran, tertiup angin. Tangannya bertumpu pada mobil yang masih setia berada pada tempatnya.


Gadis itu berjalan dan terus berjalan. Sesekali ia menyeka air matanya. Ia bergerak, membelah kerumunan yang mengitari sesosok tubuh. Tubuh yang tergolek lemah tak berdaya.


“Frans,” ucap Andrea menyebutkan nama laki-laki yang bersimbah darah itu dengan setengah suara.


“Frans, tidak!” Andrea menghampiri Frans. Laki-laki itu masih membuka matanya.


Kondisi Frans saat itu sangat tidak baik. Pakaiannya telah terkoyak tak beraturan. Beberapa tulangnya nampak berubah posisi. Keningnya masih mengeluarkan darah hingga membasahi baju bagian atasnya, demikian juga dengan bagian tubuh yang lain, yang juga ikut berdarah.


“Frans, bertahanlah!” Andrea berlutut di samping tubuh Frans. Gadis itu hendak menyentuh kekasihnya, namun ia ragu-ragu. Ia takut sentuhannya akan membuat laki-laki itu semakin kesakitan.


Frans masih tersadar. Bibirnya terlihat bergerak ingin berbicara. Tangan kiri Frans berusaha mengambil sesuatu dari saku celananya. Ia mengeluarkan sesuatu dan berusaha memberikan benda itu kepada kekasihnya.


Frans menyodorkan dua buah benda ke tangan Andrea. Benda yang pertama adalah sebuah foto seorang laki-laki. Sementara, benda yang lain adalah sebuah gelang berbandul bulan sabit kecil. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, ia berusaha mengatakan sesuatu kepada gadis itu.


“Men… de… kat… lah!” Frans berbicara terbata-bata sambil menyerahkan kedua benda itu kepada Andrea. Andrea mendekatkan telinganya ke bibir Frans, sambil terus menangis.


“Aku men..cin..ta…i…mu, e..laine..” Air mata laki-laki itu menetes. Andrea menerima kedua benda itu. Ia menatap Frans sambil mengerutkan dahinya.


“Kau berjanji untuk selalu bersamaku, Frans. Kita akan menikah beberapa hari lagi. You’ve promised! Aku tidak ingin ini.” Andrea menaruh kedua benda itu kembali ke tangan Frans. Isak tangis gadis itu semakin keras.


“Terima kasih… su..su…. dah… men…cin…ta…i…ku…. ” Frans masih ingin terus berbicara.


“Sssstt…. Jangan banyak bicara! Simpan tenagamu, ambulance akan segera datang, sayang.” Andrea berbicara dengan lembut.


“Cin…ta...te…lah…me….ne…mu…kan… ja…lan…nya….!” Laki-laki itu menarik napasnya dengan berat, sebelum ia menghembuskannya untuk terakhir kalinya.


“Frans! Jangan bermain-main denganku! Frans, bangunlah!” Andrea berbicara dengan suara keras.


“Frans! Kau sudah berjanji tidak akan meninggalkanku. Kau berjanji akan mendampingiku di altar. Apakah kau tidak ingin melihatku mengenakan gaun pengantin itu dan berdiri di sampingmu? Frans, aku mohon. Aku mencintaimu, Frans.” Andrea terus menangis. Tangisan dan raungan tak henti keluar dari bibir mungilnya. Tangannya bergerak menyentuh wajah laki-laki itu.


“Aku belum puas mencintaimu, Frans. Ini tidak adil. Kau tidak boleh pergi. Aku masih….. Aku masih ingin bersamamu.” Andrea memukul dadanya berkali-kali.


“Kenapa ambulancenya lama sekali. Kenapa? Cepat hubungi lagi! Dia tidak boleh pergi. Fransku tidak akan pernah meninggalkanku. Dia…..” Andrea seketika kehilangan kesadarannya. Gadis itu pingsan. Tubuhnya terhuyung dan menimpa tubuh Frans. Gadis itu jatuh dalam posisi memeluk kekasihnya. Kekasih yang telah pergi selamanya.


------------------


“An, makanlah sedikit saja! Mommy mohon padamu!” Marry membujuk anaknya sambil menangis.


Andrea telah sadarkan diri setelah pingsan selama enam jam. Begitu ambulance datang, keduanya dibawa ke rumah sakit bersama-sama.


“Sayang. Mommy mohon, jangan siksa dirimu, nak! Mommy mohon!” Marry menangis memeluk anaknya.


“Ini semua salahku!” Andrea berbicara untuk pertama kalinya pasca siuman.


“Apa maksudmu, sayang?” Marry bingung dengan ucapan Andrea.


“Seandainya aku menurut saat dia memintaku untuk segera pulang.” Andrea meneteskan lagi air matanya. Tatapannya kosong.


“Seandainya, aku tidak menyia-nyiakan waktu kami,” sambung Andrea dengan nada yang dingin.


“Seandainya kami tidak pergi ke taman itu,” isakan Andrea terdengar semakin keras.


“Frans tidak benar-benar meninggalkanmu, sayang. Dia akan selalu ada di sini," Marry menunjuk dada Andrea.


"Dia pasti sedih, jika melihatmu menyalahkan diri seperti ini,” kata Marry melanjutkan ucapannya sambil membelai lembut rambut Andrea.


“Aku mencintainya mommy. Aku masih ingin mencintainya seumur hidupku,” ucap Andrea sambil melihat ibunya.


“An, ini sudah jalannya.” Marry menghapus air mata gadis itu.


“Kita akan menikah. Kenapa dia tega melakukan ini padaku?” Andrea memeluk ibunya.


“Kau akan melewati semuanya. Semua akan baik-baik saja, sayang.” Marry mengusap punggung putrinya.


Mereka berdua masih berpelukan, hingga Andrea meredakan tangisnya. Marry terus memberikan sentuhan demi sentuhan, agar putrinya dapat merasakan bahwa ia tidak sendiri.


“Mommy, aku ingin sendiri. Ku mohon berikan aku waktu,” ucap Andrea sambil melepas pelukan ibunya.


“Tidak! Mommy takut kamu akan….” Marry tidak bisa melanjutkan ucapannya.


“Mommy, aku butuh waktu untuk sendiri. Aku akan menjaga diriku,” ucap Andrea berusaha meyakinkan Marry.


“Berjanjilah padaku bahwa kamu akan baik-baik saja!” Marry khawatir meninggalkan Andrea sendiri.


“Aku berjanji padamu, mom. Aku mohon berikan aku waktu.” Wajah Andrea memelas.


“Baiklah, sayang!” Marry melangkah meninggalkan kamar Andrea dengan berat hati.


Gadis itu berusaha menenangkan dirinya. Sekuat tenaga, ia mencoba menahan tangisannya yang hampir-hampir lolos kembali. Sesekali ia menatap pemandangan di luar rumah sakit. Ia melihat daun-daun terbang tertiup angin dari balik jendela kamarnya. Musim gugur kali ini menorehkan lara di dasar hatinya.


Seperti itulah bumi manusia. Sama seperti daun yang gugur, manusia pun tidaklah abadi. Akan selalu ada kematian dalam setiap kehidupan. Akan selalu ada perpisahan dalam setiap perjumpaan.


Gadis itu merengkuh lututnya dan menutupi wajahnya. Pertahanannya mulai runtuh kembali. Bulir-bulir air mata telah lolos dari sudut matanya.


Frans memang bukan cinta pertama dalam hidup Andrea, tetapi Frans adalah orang pertama yang pernah membuatnya merasakan arti cinta dan membuat gadis itu berani bermimpi. Sayangnya, mimpi dan cinta itu tidaklah panjang. Waktu yang diberikan bagi cinta mereka begitu sedikit. Kisah cinta mereka berdua telah sampai di ujung jalan. Sekarang yang tersisa hanya kenangan.


-------------


Selamat membayangkan! Jangan lupa, saya tunggu Feedback-nya!