More Than Words

More Than Words
'Andrea-Effect' Syndrome



\-\-Jericho's PoV \-\-


Pagi ini aku bangun dengan cukup segar. Setelah berminggu-minggu tidak bisa tidur nyenyak menunggu kepastian, baru semalam aku bisa tidur dengan sangat lelap.


“Andrea….” Aku mengucap namanya tanpa suara. Selalu kamu. Kamu malaikat penolongku.


Beberapa kali Andrea dan gagasan-gagasannya membuatku memenangkan lomba-lomba bergengsi. Dia juga adalah orang pertama yang memberi aku kekuatan, saat aku patah hati dengan Fergie. Sekarang, tiba-tiba dia datang di waktu yang tepat, meski tak terduga, seakan tahu bahwa aku membutuhkannya untuk menyempurnakan konserku. Jika ini adalah sebuah kebetulan yang aneh, maka aku menyukai kebetulan ini.


Dia bahkan banyak berubah. Aku tidak menduga, gadis lugu itu kini sudah dewasa dan sangat memesona. Aku banyak bertemu dengan wanita cantik, tetapi harus ku akui dia lebih dari cantik. Tidak-tidak, mungkin bukan cantik dalam ukuran umum. Tapi, dia benar-benar memikat. Aku sampai tidak tahu harus menggunakan istilah apa untuk menggambarkannya.


Aku bahkan berani memeluknya beberapa kali kemarin. Aku tidak bisa mengendalikan diriku. Mungkin aku terlalu merindukannya. Frans pasti marah denganku karena telah memeluk wanitanya. Sial! Kau sungguh beruntung Frans. Sekarang aku tahu mengapa kau tidak pernah tergoda dengan wanita-wanita yang aku bawa. Frans laki-laki yang baik. Ia pantas mendapatkan wanita yang baik pula.


“Andreaaaa……….” Lagi-lagi aku ingin memanggil namanya tanpa henti dalam hatiku.


Setelah puas melamun dan memikirkan Andrea, aku segera bergegas membersihkan diri, dan bersiap menuju Recital Hall, tempat kami berlatih. Aku berharap Andrea akan datang hari ini. Lagi pula ia harus datang sebab ia harus mempelajari partiturnya.


------------


Hari ini aku sampai lebih awal. Aku segera masuk ke dalam Recital Hall. Rasanya hari ini aku bersemangat sekali. Mood-ku telah kembali.


Tiba-tiba, aku menjadi sangat rajin. Aku mengecek alat-alat musik yang ada di sana satu per satu, menunggu hingga semua anggota orchestra datang, dan menyambut mereka dengan senyuman manis.


Seperti dugaanku, aku melihat Frans juga datang bersama Andrea. Aku tersenyum kepada mereka berdua. Sebenarnya aku masih merasa tidak enak hati dengan Frans, karena memeluk Andrea. Nanti Aku akan meminta maaf padanya. Saat ini, aku hanya ingin bersikap normal.


“Good morning, all. I have an announcement today. A good news. Finally, I found my Cellist. My old friend, my dearest old Friend. Please welcome, Miss Andrea Williams!” Aku memperkenalkan Andrea kepada anggota yang lain.


Semua orang di dalam ruangan seketika bertepuk tangan. Aku melihat Andrea berdiri dan memberikan senyum tulusnya sembari menganggukkan kepala, memberi hormat. Aku meminta semua anggota orchestra memperkenalkan diri mereka. Andrea terlihat mencoba mengingat nama-nama mereka.


Hari ini Andrea datang tanpa menggunakan kaca matanya seperti semalam. Aku semakin bisa melihat dengan jelas warna matanya, mata coklat yang indah. Aku menjadi sedikit tidak fokus. Tapi itu tidak berlangsung lama.


Aku segera memulai latihan. Sebelumnya, aku menyerahkan tiga partitur kepada Andrea. Aku memintanya untuk mempelajari partitur itu nanti. Saat ini aku hanya ingin dia duduk dan mendengarkan 7 instrumentalia yang telah kami latih beberapa kali. Aku mengharapkan dia akan memberi feedback pada karyaku, seperti dulu.


“Wow, so beautiful. I Proud of you, j,” Puji Andrea setelah selesai mendengarkan ke-tujuh instrumentalia yang baru saja kami mainkan.


“Any comments or suggestions? ” Aku bertanya pada Andrea.


“Nope! ”Andrea menjawab singkat.


Setelah pembicaraanku dan Andrea, aku mendengar suara seseorang dari balik piano.


“Elaine, apakah kau berniat untuk mencoba instrumentalia yang akan kau mainkan itu sekarang? Mungkin Jericho akan mengijinkan kita mencobanya kali ini,” ucap Frans menawarkan kepada Andrea.


“Lagi pula, semua orang di sini pasti ingin mendengar permainanmu,” kata Frans menambahkan ucapannya kembali.


“Kita rehat 30 menit. Beri kesempatan kepada Andrea untuk mempelajarinya sebentar,” tuturku yang tiba-tiba menyela perkataan Frans.


Kami semua sepakat untuk rehat sejenak. Andrea memang tidak menjawab setuju atau tidak setuju dengan ide Frans itu. Dia terlihat pasrah dan menyerahkan keputusan padaku.


Semua orang mulai membubarkan diri untuk beristirahat. Kemudian, aku mengantarkan Andrea ke sebuah ruangan yang lebih kecil untuk membuatnya lebih fokus mempelajari partiturnya. Frans membantu membawakan sebuah cello ke dalam ruangan itu. Andrea meminta kami berdua untuk meninggalkannya sendiri supaya lebih fokus. Kami pun menurutinya.


Aku keluar dari ruangan dan berjalan berdampingan dengan Frans sambil memeluk pundaknya. Aku ingin meluruskan kejadian semalam pada Frans.


“Aku mengerti, J. Aku tidak marah, meskipun harus ku akui bahwa aku cemburu saat kau memeluknya. Tapi tolong jangan salah paham. Saat ini Elaine belum menjadi kekasihku. Jadi, jangan menggunakan istilah yang membuat dia tidak nyaman. Namun, aku berencana melamarnya satu bulan lagi,” ucap Frans menegaskan posisinya.


Aku sedikit terkejut mengetahui Frans akan melamar Andrea dalam waktu dekat ini. Entah mengapa tiba-tiba aku merasa tidak nyaman. Aku berusaha terus tersenyum supaya Frans tidak merasa curiga. Aku bahkan memberikannya semangat, meski hatiku serasa belum siap menerima kenyataan bahwa Andrea akan dilamar oleh sahabatku.


“Aku senang mendengarnya, Frans. Aku berharap dia menerimamu. Kau sudah mencintainya terlalu lama,” jawabku pada Frans.


Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku. Kenapa aku menjadi tidak nyaman? Aku mencoba mencari jawabannya. Oh, mungkin karena aku baru saja bertemu dengan Andrea, sehingga aku merasa butuh waktu lebih lama untuk berbincang dengannya tanpa gangguan. Frans pasti tidak akan membiarkan aku berbicara berdua dengan wanitanya. Ya, pasti karena itu.


Aku tidak bisa mengingkari bahwa kehadiran Andrea memberiku semangat saat ini. Semangat seperti dulu, ketika kami masih duduk di bangku Senior High. Andrea adalah kawan yang baik.


---------


Waktu 30 menit untuk beristirahat telah usai. Semua anggota orchestra telah masuk kembali ke dalam ruangan. Aku melihat Andrea berjalan mendekat membawa cellonya. Frans segera menghampirinya dan mengalihkan beban Andrea kepadanya. Frans membawa cellonya dan kemudian meletakkan alat itu di sampingku. Andrea pun segera mengambil posisi.


“Sesuai yang telah kita sepakati sebelumnya, kita akan mencoba tiga instrumentalia utama yang akan dibawakan oleh Miss Andrea nanti. Silakan semua mempersiapkan diri. Kita bisa memulai,” kataku kepada tim.


Seketika musik mengalun dengan merdu. Aku melihat Andrea mulai memainkan cellonya. Aku mendengar permainannya yang indah. Frans ternyata memang jenius. Ia bisa melihat bakat musik seseorang. Aku juga bisa merasakan bahwa Andrea bermain dengan tulus.


Andrea yang baru beberapa menit mempelajari partitur itu telah memainkan ketiga instrumentalia aransemenku dengan cantik. Meski tidak terlalu sempurna karena baru saja dipelajari, tapi itu masih jauh lebih baik dari pada ketika Sherly, salah satu Cellist andalanku memainkannya. Aku berpikir bahwa dia hanya butuh latihan beberapa kali lagi. Latihan beberapa kali akan menyempurnakan semuanya.


Selama ia memainkan cellonya, aku menahan diri untuk memandangnya. Aku menutup mata sembari mengayunkan tanganku mengikuti birama. Aku takut aku kehilangan fokusku. Mati-matian aku menahan diri, hingga ketiga instrumentalia itu selesai dibawakan.


Semua orang mengapresiasi Andrea. Frans bahkan langsung berdiri, memeluknya. Andrea yang dipeluk Frans menatap ke arahku. Aku mengatakan terima kasih tanpa suara seraya tersenyum. Dia membaca bibirku dan membalas senyumku dengan sebuah senyuman yang sangat manis.


Setelah kegiatan latihan usai, Frans dan Andrea hendak meninggalkan tempat. Aku menghampiri mereka sebelum mereka pergi. Dengan cepat aku mengambil tangan Andrea, menahannya sebentar supaya ia tidak langsung pergi. Ia pun berbalik ke arahku.


“Tunggu An, Frans!” Aku segera melepas tanganku dari tangannya.


“Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. Aku ingin mentraktir kalian berdua nonton besok siang. Aku juga akan mengajak Andrew. Maukah kalian menerima undanganku?” Aku meminta kesediaan mereka.


“Aku ikut jawaban Elaine saja,” ucap Frans kepadaku.


“Tentu, J. Lagi pula aku juga butuh hiburan,” balas Andrea.


“Baiklah, kita sudah sepakat. Besok jam 2 siang, kita bertemu di bioskop biasa, Frans,” ucapku kepada Frans.


Frans mengangguk tanda setuju. Kami pun berpisah. Aku melihat Andrea masuk ke dalam mobil Frans.


Aku tidak beranjak dari tempatku hingga mobil mereka pergi meninggalkan parkiran. Aku masih belum ingin meninggalkan tempat. Terlalu banyak yang aku pikirkan sekarang.


Aku merasa gelisah lagi. Tetapi, aku tidak tahu apa yang aku gelisahkan. Sepertinya aku terkena sindrom 'Andrea-Effect '. Semenjak kedatangannya, aku seperti tidak mengenal diriku. Suasana hatiku sungguh sulit dimengerti. Aku tidak tahu bahwa setelah lama tidak berjumpa dengan Andrea, dan kemudian menemukannya menolongku lagi, ternyata membawa efek besar bagi suasana hatiku.


“Andrea…..” ucapku kali ini dengan bersuara.


---------


Jangan lupa feedback-nya ya guys. Ditunggu.