
Entah ada berapa banyak perjumpaan dalam setiap kehidupan. Setiap perjumpaan tentu meninggalkan kesan dan menyiratkan beribu makna. Bisa berjumpa dengan seseorang di antara milyaran manusia, yang mau memberikan hidupnya demi cinta yang dipuja, bukankah itu sebuah keistimewaan?
Hal ini yang dirasakan Andrea sekarang. Baginya, bisa memiliki dan dimiliki oleh Frans sudah lebih dari cukup. Ia bahkan tidak ingin bermimpi lebih tinggi lagi dari ini.
Gadis itu tidak pernah menyangka bahwa pertemuannya dengan Frans kala itu akan membawanya pada kebahagiaan. Ya, kebahagiaan. Sesuatu yang ia harapkan sejak lama dan tidak akan pernah ditukar dengan apapun juga.
“Sayang, kita langsung pergi sekarang, atau kamu mau berkunjung dulu?” Andrea bertanya kepada Frans yang baru saja datang untuk menjemputnya. Mereka hendak pergi, ke sebuah Recital Hall tua yang ada di pusat kota.
“Kita langsung saja, sebab nanti kita masih harus latihan dansa,” balas Frans kepada Andrea.
“Baiklah!“ Andrea segera masuk ke dalam mobil dan mereka berkendara menuju Recital Hall yang dimaksud Andrea.
-------------------
Dari dalam sebuah Recital Hall tua di pusat kota London terdengar instrumentalia lagu-lagu cinta dimainkan dengan harmonis. Perpaduan suara piano dan cello, ditambah perasaan yang terselip dalam setiap permainan mereka, menciptakan suasana romantis di gedung itu.
”Kenapa tiba-tiba ingin ke tempat ini?” Frans bertanya karena penasaran.
Saat ini mereka bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan menuju ke sebuah klub dansa. Andrea telah membuat janji dengan salah satu pelatih di klub dansa itu. Keduanya telah menyelesaikan permainan musik mereka dan bermaksud meninggalkan Recital Hall.
“Aku tidak pernah menyadari bahwa tujuan kamu membawaku ke tempat ini dulu adalah karena kamu ingin lebih dekat denganku,” ucap Andrea malu-malu sambil menggelengkan kepalanya.
“Kau menyadarinya sekarang dan kau ingin menebusnya,” balas Frans seraya tersenyum.
Gadis itu membalas senyuman kekasihnya sambil menganggukkan kepala, lalu berkata, “Mengapa kamu bertahan, Frans?”
“Maksudnya? Aku belum paham dengan pertanyaanmu,” ucap Frans sambil menyalakan mesin mobilnya. Mereka sudah berada di dalam mobil dan segera meninggalkan hall itu.
“Mengapa kamu tetap bertahan menungguku, saat kamu bisa mendapatkan wanita lain, yang lebih sempurna dariku?” Andrea menatap sosok laki-laki bermata biru langit yang duduk di sampingnya.
“Sempurna? Apakah kamu menganggap dirimu tidak sempurna, sayang?” Frans melemparkan pertanyaan kepada Andrea.
“Pertemuanku dengan Selena kemarin membuat aku berpikir bahwa selama ini kamu pasti dikelilingi oleh banyak wanita cantik yang mengidolakanmu, tetapi kamu justru setia dengan gadis bodoh yang mengabaikan perasaanmu selama ini.” Andrea menertawakan dirinya sendiri.
“Ternyata kekasihku ini masih terganggu dengan sikap Selena kemarin? Aku tidak menyangka calon istriku begitu pencemburu,” ucap Frans menggoda Andrea.
“Aku tidak cemburu,” Andrea kesal dan mencubit lengan Frans.
“Aku sedang menyetir, sayang. Jangan mencubitku!” Frans memandang Andrea sepintas. Gadis itu mengerucutkan bibirnya. Ia tidak terima Frans menjulukinya pencemburu.
“Jika yang kamu maksud sempurna adalah cantik, maka aku harus mengatakan bahwa aku punya definisi tersendiri tentang yang dimaksud dengan sempurna,” imbuh Frans mencoba mengembalikan mood kekasihnya.
“Elaine, sempurna bagiku adalah ketika aku bisa menemukan seseorang yang melengkapiku. Seperti ketika aku bermusik. Permainan musikku tidak lengkap tanpa permainan musikmu. Itu sebabnya aku selalu memintamu untuk mendampingiku tampil di atas panggung,” jawab Frans kepada Andrea.
“Dan aku terus mengabaikan permintaanmu bertahun-tahun,” balas Andrea yang nampak menyesali sikapnya. Dulu ia sering mengabaikan permintaan Frans.
“Itu kamu lakukan karena kamu belum merasa bahwa kita saling melengkapi. Aku bisa memakluminya,” jawab Frans.
“Maafkan aku. Aku sungguh menyesal, seharusnya aku menyadarinya sejak awal. Kamu memang berbeda dari banyak laki-laki yang aku temui,” ucap Andrea dengan tatapan kosong.
“Apa lagi yang mengganggu pikiranmu sekarang? Ceritakan padaku!” Frans membaca ekspresi Andrea. Ia mendesak kekasihnya untuk menyampaikan isi pikirannya.
“Aku merasa kecantikan selalu bisa mengalihkan perhatian seseorang. Pengalamanku membuktikannya,” Andrea tanpa sadar mengucapkan hal itu.
“Pengalaman?” Frans bertanya kembali.
“Lupakanlah!” Andrea menyadari bahwa ia salah berucap dan berharap Frans tidak meneruskan percakapan ini.
Gadis itu terlihat menimbang-nimbang sesuatu. Kemudian, ia memberanikan diri untuk menceritakan isi pikirannya.
“Aku hanya merasa konyol saat mengetahui bahwa dia menyukaiku, saat semua sudah terlambat. Dulu, sewaktu kita masih mempunyai banyak waktu, kecantikan sahabatku menutupi keberadaanku di sisinya,” Andrea mengingat-ingat peristiwa di masa lampau.
“Dia yang kamu maksud adalah Jericho?” Frans berusaha memperjelas ucapan Andrea.
“Maafkan aku, tidak seharusnya aku membahas dia. Kamu pasti merasa tidak nyaman.” Andrea merasa bersalah sekarang.
“Kita sudah sampai,” ucap Frans sambil memarkirkan mobilnya.
Frans tidak memperpanjang pembahasan itu. Ia memeluk Andrea sambil berjalan memasuki sebuah gedung minimalis berukuran 7m x 8m. Di dalam gedung itu terdapat banyak cermin besar. Mereka berdua masuk ke dalam sebuah ruangan bertuliskan ‘office ’. Seseorang telah menunggu mereka di sana.
“Apakah anda Miss Andrea Williams? Saya Cecilia Boltman yang tadi berbicara dengan anda di telepon. Senang berjumpa dengan anda.” Seorang wanita bertubuh sintal dan berparas elok menghampiri Andrea dan memperkenalkan diri.
“Halo, saya Andrea Williams dan ini Frans Moreno, calon suami saya.” Andrea memperkenalkan Frans.
“Kapan acara pernikahannya?” Cecilia melanjutkan percakapan mereka.
“Sekitar dua minggu lagi,” jawab Andrea singkat.
Mereka melanjutkan percakapan itu. Pengarahan demi pengarahan diberikan oleh Cecilia sebelum mereka berlatih dansa.
Setelah semua urusan administrasi dan teori dasar diberikan, sepasang kekasih itu diarahkan menuju ke sebuah ruangan yang ukurannya sedikit lebih besar. Cermin terpasang hampir pada seluruh sisi ruangan.
Beberapa latihan dasar bagi pemula diajarkan kepada mereka berdua. Frans nampak sedikit kaku, sementara Andrea terlihat lebih lincah.
“Maaf, coba perhatikan langkah saya! Pelan-pelan saja. Langkah Waltz itu berbentuk segitiga. Cobalah sekali lagi!” Cecilia mengajarkan gerakan dasar Waltz kepada Frans.
Saat Frans telah terbiasa dengan langkahnya, tiba-tiba Cecilia mendekat dan memeluk Frans. Ia menuntun gerakan Frans, membawanya ke sana dan ke mari, mengikuti alunan musik. Frans sedikit terkejut saat Cecilia memeluknya. Mata laki-laki itu langsung menatap Andrea, mencoba membaca ekspresi gadisnya.
“Sekarang saya yang menuntun anda, tetapi nanti ketika anda berdansa dengan istri anda, anda yang akan menuntun dan mengarahkan langkahnya. Sekarang cobalah dengan Miss Andrea!” Cecilia melepaskan pelukannya dan menyuruh Andrea berpasangan dengan Frans. Mereka berdua nampak sangat serasi.
“Baik, sementara ini cukup. Anda berdua bisa beristirahat. Saya akan meninggalkan ruangan sebentar.” Cecilia keluar dari ruangan itu, meninggalkan mereka berdua.
“Kau tidak marah kan?” Frans mendekati Andrea dan bertanya kepada gadis itu.
“Marah?” Andrea bingung dengan pertanyaan Frans.
“Dia tiba-tiba memeluk dan berdansa denganku tadi. Kau kan pencemburu,” ucap Frans kembali menggoda kekasihnya.
“Kau ini! Aku bukan pencemburu,” tegas Andrea sambil mengejar Frans dan berusaha memukul laki-laki itu.
Mereka berdua berlari-lari seperti anak kecil. Andrea masih saja belum puas memukul lengan Frans, hingga lagu 'Can’t Help Falling in Love ' terdengar dari speaker yang terpasang di setiap sudut ruangan.
Frans seketika memeluk Andrea dari belakang dan mengajaknya berdansa mengikuti irama lagu itu. Frans menaruh dagunya di pundak Andrea, tangannya melingkar di pinggang kekasihnya, sementara kaki mereka terus bergerak, menyatu dengan musik yang mengalun merdu.
“Elaine, you don’t have to be jealous with anyone in this universe, cause I can’t help falling in love with you. Bagiku kamu selalu menjadi yang tercantik, terindah, serta yang paling sempurna untukku,” ucap Frans dengan lembut di telinga Andrea.
Mereka masih berdansa bahkan ketika lagu itu telah selesai dan tidak ada suara lagi yang terdengar di dalam ruangan. Mereka terus berdansa dengan musik yang mengalun di hati mereka yang telah menyatu.
Cinta Frans tumbuh semakin besar dan mengakar dengan begitu dalam di hati Andrea. Bolehkah mereka meminta kepada Tuhan agar waktu berhenti sekarang? Sungguh mereka berdua sangat berharap, jangan pernah ada perpisahan di antara mereka.
-------------
Selamat membaca kawan!