
Akhir-akhir ini jalanan New York selalu basah. Sepertinya langit tak jenuh-jenuhnya menebar tirta untuk menyapu lahan-lahan, yang belum juga kering sedari kemarin. Bersamaan dengan itu, udara dingin menusuk tulang menyelimuti kota, diiringi kabut tebal yang tak henti-hentinya bergerak, cukup untuk mengaburkan pandangan mata.
Malam itu, banyak orang menggunakan mantel tebal, berlalu lalang dengan tongkat penahan air hujan di tangannya. Di antara kerumunan para pejalan kaki yang asyik dengan dirinya sendiri, nampak sepasang kekasih sedang berjalan, bergandengan tangan untuk menghabiskan malam berdua, di bawah rintiknya hujan saat itu. Baik perempuan maupun laki-laki pasangannya nampak ingin mencari suasana baru, setelah seharian mereka bekerja keras mempersiapkan sebuah konser musik.
“Kau suka berjalan di bawah gerimis, sayang?” Frans tak henti-hentinya menatap wajah gadis cantik di sebelahnya sambil menggandeng tangannya.
“Ya, Frans. Aku menyukai gerimis.” Gadis itu menengadahkan salah satu telapak tangannya dan membiarkan rintik air hujan menetes di sana.
“Banyak orang berkata bahwa gerimis adalah sang ahli penyembunyi air mata. Kau tidak sedang menangis saat ini kan, sayang?” Frans menatap gadis itu dengan saksama.
“Untuk apa aku menangis, jika kamu ada di sampingku, Frans?" Gadis itu kini menurunkan tangannya dan menolehkan wajahnya, sedikit menghadap laki-laki itu, sambil terus berjalan.
"Aku menyukai gerimis karena ia adalah bentuk emosi terendah yang dimiliki oleh hujan. Aku menyukai hujan gerimis karena pada titik itulah sang hujan mampu mengendalikan dirinya sendiri.” Andrea sesaat menghentikan langkahnya ketika berbicara kali ini dan menatap tajam ke arah Frans.
“Jika begitu apa yang sedang kau tahan saat ini sayang? Apa yang kau kendalikan?” Frans bertanya kepada gadis itu sambil menyentuh pipinya.
“Tidak selamanya ucapan yang keluar dari bibir bermakna sama seperti yang tersuarakan, Mr. Moreno,” Andrea memegang tangan Frans, yang sedang menyentuh pipinya, sambil tersenyum.
Baru saja gadis manis itu memuji sang hujan, tiba-tiba rintik air itu pun seketika melebat. Orang-orang berlari ke sana dan ke mari mencari perteduhan.
“Sayang, hujan semakin lebat. Bagaimana jika kita berteduh di sana?” Frans menunjuk ke arah sebuah kursi taman yang nampak tidak basah karena tertutupi oleh canopy yang ada di atasnya.
Andrea hanya menganggukkan kepalanya. Mereka berdua berjalan ke arah yang ditunjuk oleh Frans.
“Apa kau baik-baik saja? Apakah bajumu basah? dan apakah tubuhmu kedinginan, sayangku?” Frans bertanya kembali.
“Tidak, Frans. Coat ini cukup tebal. Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku. Lagi pula aku tidak akan sakit karena gerimis.” Andrea menyentuh pundak laki-laki itu dan sesekali mengusapnya.
Hujan semakin lama semakin deras. Mereka berdua sama-sama membisu. Mata mereka hanya mengawasi orang-orang yang masih berlari ke sana dan ke mari, karena belum mendapat tempat berlindung.
“Frans… Apakah kau mencintaiku?” Andrea berucap, memecah kebisuan di antara mereka berdua.
Sekarang Frans mengarahkan tatapannya ke mata gadis itu. Mata yang begitu banyak menyiratkan rahasia. Frans membuka mulutnya dan berbicara, “Apakah kau masih meragukanku?”
“Lihatlah ke atas, apakah kau bisa melihat bulan di sana sekarang, sayang?” Laki-laki itu melanjutkan kembali ucapannya.
Gadis itu menganggukkan kepalanya.
“I love you from here to the moon and back. Aku yakin tidak ada yang mencintaimu sejauh dan sebesar itu selain aku.” Frans tersenyum lagi sambil melihat gadis itu.
“Apakah kau mencintaiku, Elaine?” Laki-laki bermata biru itu menyambung lagi perkataannya.
“Tetapi entah mengapa aku merasa bahwa saat ini kamu sedang tidak mengatakan yang sejujurnya. Maaf, sayang!” Frans memegang tangan gadis itu kembali dan memandangnya dengan penuh keraguan.
“A-aku memang tidak pandai menunjukkan perasaanku, Frans,” ucap gadis itu.
“Aku ingin percaya semua itu, namun sayangnya aku belum yakin untuk saat ini,” kata Frans dengan nada yang sangat serius.
“Frans, aku….” Gadis itu kini menjawab dengan gugup.
“Meski kau belum mencintaiku saat ini, aku akan berusaha membuatmu mencintaiku. Aku tidak akan menyerah sampai hari itu tiba. Aku akan melakukan apapun untukmu. Aku akan muncul setiap hari di hadapanmu, bahkan di dalam mimpimu, menjagamu setiap waktu dengan nyawaku, membuatmu tergantung padaku, hingga kau tidak akan bisa bernafas, ketika aku tak ada di sampingmu,” sela laki-laki itu dan kemudian menghentikan ucapannya setelah selesai berbicara, sambil menatap ke arah yang lain.
Gadis itu terdiam. Sekarang ia benar-benar merasa bersalah. Ia hanya terus memandang bagian samping dari tubuh laki-laki yang sekarang sedang mengalihkan pandangannya dari gadis itu. Ia tidak menyangka bahwa laki-laki itu begitu peka dengan perasan hatinya.
“Kau tahu sayang? Aku bisa mencintaimu dengan beribu cara. Aku bisa mencintaimu dengan berjuta alasan. Yang aku butuhkan hanya sedikit waktu darimu. Aku mohon jangan pernah berpikir untuk membatalkan kesempatan yang sudah kau berikan padaku sekarang.” Pria itu kini menatap wanitanya dengan penuh cinta.
“Maafkan aku, Frans!”, gumam Andrea di dalam hatinya.
“Sepertinya hujan ini akan lama. Bagaimna jika kita menerobosnya saja. Apakah kau tidak ingin kembali, sayangku?” Frans menawarkan kepada gadis itu untuk pulang.
Saat laki-laki itu membalikkan wajahnya, bibir gadis itu tiba-tiba menyentuh dan mengecup pipinya. Mata laki-laki itu seketika membulat. Ia tidak percaya dengan apa yang dirasakannya. Ia juga nampak sedikit terkejut, sebab ia tahu bahwa gadis itu sengaja melakukannya. Kedua pandangan mereka kini beradu, jantung mereka berdua juga berpacu lebih cepat dari biasanya.
“Elaine, bolehkah aku…..?” Frans tidak melanjutkan kata-katanya lagi.
Gadis itu diam, tidak menjawab. Dia hanya menutup matanya. Laki-laki yang sedang duduk di samping gadis itu kini mencoba untuk membaca dan menafsirkan situasi yang dialami mereka saat itu. Dengan sisa-sisa kekuatan dan keberanian yang ada di dalam dirinya saat ini, laki-laki itu pun langsung mencium tepat di bibir merah gadisnya.
Hujan deras malam itu menjadi saksi. Seorang laki-laki tengah mencium bibir seorang gadis dengan lembut dan penuh perasaan. Ciuman itu berlangsung cukup lama.
Mereka tidak memedulikan, apakah ada orang di sekitarnya yang menyaksikan atau membicarakan mereka? Hanya suara curahan air hujan disertai petir yang menyambar-nyambar, yang mampu mereka dengar. Hanya sepasang mata dari pasangannya yang ada di hadapan mereka, yang sesekali mereka lihat.
Beberapa meter dari tempat sepasang kekasih itu berada, seorang laki-laki bermata hijau berdiri dan memandang ke arah dua sejoli yang sedang di mabuk cinta. Laki-laki bermata hijau itu rupanya sedang berteduh di teras sebuah gedung tua. Laki-laki itu nampak menenteng sebuah tas berisi biola dan berusaha melindungi apa yang dibawanya, agar tidak basah terkena hempasan air hujan.
Setelah melihat kejadian di depannya selama beberapa waktu, ia langsung membalikkan badannya. Namun, ia masih tetap berdiri di tempat yang sama. Laki-laki bermata hijau itu nampak berpikir sejenak. Hanya Tuhan yang mengetahui apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan oleh laki-laki itu saat ini.
Tidak lama kemudian, ia pun berjalan meninggalkan tempat itu. Ia terus berjalan tanpa memedulikan lebatnya hujan dan tidak menoleh lagi ke belakang. Sekujur tubuhnya basah kuyup sekarang.
Saat ini, ia hanya ingin segera pergi menjauh dari tempat itu. Tempat yang membuat hatinya tersakiti, karena kenyataan yang baru saja ditemukannya. Perasaan yang baru saja singgah di dalam hatinya, kini menjadi penyebab dirinya menjadi seorang pesakitan. Ya, seorang pesakitan cinta.
----------------
Happy Reading! Jangan lupa feedback!