More Than Words

More Than Words
The Winner



*Hari Pengumuman Lomba*


Ratusan frame berisi puisi-puisi karya para peserta lomba telah terpampang rapi di sebuah aula kampus. Puisi-puisi itu dipamerkan kepada seluruh penikmat puisi yang hadir di sana. Para dewan juri juga nampak berkeliling untuk memberi penilaian.


Hari ini adalah hari pengumuman pemenang lomba menulis puisi yang diikuti oleh Andrea. Frans tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Ia tentu harus hadir untuk memberi dukungan kepada gadisnya. Laki-laki itu terus berada di sisi Andrea, menemani gadisnya berkeliling, membaca puisi-puisi yang dipamerkan, sambil menunggu pengumuman hasil pemenang lomba.


“Frans, bagaimana menurutmu? Sepertinya, persaingan kami cukup ketat,” tanya Andrea kepada Frans.


“Aku mengagumi manusia-manusia seperti kalian yang pandai berbahasa. Jika aku yang ditunjuk menjadi jurinya, tentu sulit bagiku untuk menentukan pemenangnya,” balas Frans kepada Andrea.


“Apakah menurutmu aku punya peluang?” Andrea bertanya dengan nada ragu.


“Tentu saja, sayang! Kau selalu membuat puisi-puisimu dengan segenap ketulusan yang ada di hatimu. Aku percaya bahwa setiap karya yang lahir dari hati akan diterima juga oleh hati,” Frans memeluk pundak Andrea.


“Baiklah! Mohon perhatian semuanya. Pengumuman pemenang lomba akan segera dibacakan sebentar lagi. Diharapkan seluruh peserta berkumpul dan mempersiakan diri.” Jennifer berbicara di atas panggung dengan sebuah microphone di tangannya.


“Saya memberikan kesempatan pertama kepada Professor Hills selaku dosen pendamping kegiatan ini untuk menyampaikan sambutannya.” Seorang professor muda tampil di depan.


“Saya sungguh merasa terhormat berdiri di sini, di antara mahasiswa-mahasiswa berbakat dari kampus-kampus terbaik yang ada di berbagai belahan dunia. Saya senang karena acara ini sukses dan bisa menjadi sumber inspirasi bagi kita semua. Puisi-puisi yang terpampang adalah bukti bahwa dunia ini masih memiliki harapan, karena akan selalu ada jejak-jejak kreasi yang ditorehkan.” Semua orang seketika bertepuk tangan.


“Seperti yang telah diberitahukan sebelumnya, semua pemenang dalam setiap kategori lomba akan mendapatkan beasiswa penuh untuk melanjutkan studi Magister Sastra di kampus ini. Semoga keberuntungan menjadi milik anda.” Professor Hills mengakhiri sambutannya dan seluruh hadirin sekali lagi memberikan tepuk tangan yang meriah.


“Ini adalah sebuah momen yang paling ditunggu-tunggu. Saya akan membacakan nama-nama pemenangnya. Pemenang ketiga kategori Romantic Poetry adalah Sora Hamada dari Hokkaido University, Jepang.” Jennifer mengundang pemenang ketiga untuk maju ke panggung diikuti sorak sorai oleh seluruh hadirin.


“Pemenang ke dua kategori Romantic Poetry adalah Patricia Schneider dari University of Freiburg, Jerman.” Patricia pingsan seketika namanya disebut.


Semua penonton yang bersorak berubah menjadi panik saat mengetahui salah satu peserta yang memenangkan lomba pingsan. Beberapa orang tampak membantu membopongnya menuju ruangan kesehatan.


Frans tidak henti-hentinya memegang tangan Andrea. Laki-laki itu seakan terus memberikan energi postif untuk gadisnya agar tidak meragukan kemampuannya. Andrea menutup matanya saat nama pemenang pertama dibacakan.


“Pemenang pertama kategori Romantic Poetry adalah………. Andrea Elaine Williams dari University of London, Inggris. Untuk pemenang pertama dimohon tidak pingsan karena anda harus membacakan puisi anda.” Ucapan Jennifer disambut gelak tawa penonton.


Andrea maju ke depan dengan wajah yang terharu. Frans melepas genggamannya dan membiarkan gadisnya melangkah ke panggung. Andrea mengambil sebuah microphone dan ia terlihat hendak mengatakan sesuatu sebelum membaca puisinya.


“Saya akan membacakan puisi saya, namun sebelumnya saya meminta kesediaan Mr. Frans Moreno, Pianist muda dan berbakat, yang karya-karyanya telah kita kenal, untuk maju ke depan mengiringi saya membaca puisi ini.” Frans segera maju dan melangkah ke sebelah kiri panggung diikuti tepuk tangan dari para penghadir. Ada sebuah grand piano di situ. Laki-laki itu memainkan sebuah lagu untuk mengiringi Andrea yang mulai membacakan puisinya.


“Jingga dan Kelabu. Namaku Jingga. Aku ada di dalam setiap hembusan nafas senja, terjebak di antara permukaan samudera dan cakrawala. Aku ada di dalam selaput lara si mentari, yang hendak bersembunyi dari jejaknya sendiri. Aku ada di dalam pusaran inti bumi, sangat tertutup dan tersembunyi.” Andrea menjeda sejenak.


“Namamu kelabu. Kamu adalah bias dari hitam dan putih. Ada sisi gelap dari dirimu. Seperti saat langit menantikan turunnya hujan, atau pada detik-detik berdirinya bulan di antara bumi dan matahari.” Suasana semakin hening.


“Aku adalah Jingga dan kamulah kelabu. Meski begitu, tahukah kamu ada kelabumu dalam jinggaku? Seperti bayangan pada siang hari, atau pada sisa-sisa kayu yang terbakar dan berabu. Ini bukan tentang jingga atau kelabu. Ada kelabumu dalam jinggaku.” Keheningan seketika berubah menjadi keriuhan karena sorak-sorai hadirin yang ada di aula itu.


Setelah Andrea selesai membacakan puisinya, Frans segera beranjak ke tengah panggung dan memeluk Andrea. Ia mengucapkan selamat kepada kekasihnya dan mencium pipi Andrea.


Semua orang masih bertepuk tangan. Jennifer dan beberapa orang di atas panggung memberikan ucapan selamat. Gadis itu nampak terharu dengan semua hal yang diterimanya hari ini.


-----------------


“Dan aku juga adalah laki-laki yang beruntung karena mendapatkan wanita hebat sepertimu. Mungkin itu bisa disebut keberuntungan di dalam keberuntungan?” Frans menyibakkan beberapa helai rambut Andrea ke belakang telinganya.


Saat ini Frans dan Andrea sedang berada di sebuah restaurant untuk merayakan kemenangan Andrea. Mereka bercakap-cakap tanpa melepaskan senyuman yang merekah di bibir mereka.


“Aku senang bisa membacakan puisi itu bersama dengan alunan musikmu,” Andrea mengedipkan sebelah matanya.


“Aku sempat terkejut saat kau mengajakku ke panggung bersamamu,” Frans terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.


“Kamu layak sayang. Lomba ini idemu kan? Kamu harus bertanggung jawab menemaniku di depan.” Andrea terus tersenyum sambil berbicara.


“Sebenarnya hatiku sudah tahu bahwa kamu akan memenangkannya," ucap Frans.


"Kamu membuatku melayang sekarang, sayang," Pipi Andrea mulai merona.


"Kamu menang karena kamu bekerja keras selama dua minggu di sana. Membuat sebuah puisi cinta tanpa ada kesan rayuan, bukankah itu sulit?” Frans menggelengkan lagi kepalanya.


“Ya dan untungnya aku memilikimu yang selalu mendukungku,” ucap Andrea sambil menggenggam tangan Frans.


“Aku akan ada selalu untukmu, Sayang. Aku ada di belakangmu, menopang supaya kamu tidak terjatuh. Di sampingmu supaya kamu tidak merasa sendiri, dan di depanmu, membimbingmu dengan sepenuh hatiku.” Frans merayu Andrea sekarang.


“Kamu berbakat menjadi penyair sekarang,” Andrea menertawakan rayuan Frans.


Pembicaraan terhenti saat pelayan datang dan menanyakan pesanan mereka. Mereka memilih menu dan memesannya. Percakapan itu dilanjutkan kembali setelah pelayan restaurant meninggalkan mereka.


“Oya, besok adalah hari konsermu kan? Bagaimana persiapannya? Apakah masih ada yang perlu aku bantu? Aku bisa lembur bersamamu malam ini, jika persiapanmu belum selesai.” Andrea melanjutkan percakapannya.


“Semua sudah siap sayang. Kau hanya tinggal datang lebih awal untuk sedikit pemanasan besok, kecuali...” Frans menjeda ucapannya dan membuat Andrea penasaran.


“Kepastian bahwa kamu akan menerima lamaranku. Hal itu tetap tidak akan bisa selesai diketahui malam ini," gumam Frans di dalam hati.


“Kecuali apa?” Andrea mengerutkan dahinya.


“Kecuali memang kamu mau menghabiskan malam ini denganku di apartment-ku,” jawab Frans hendak menggoda Andrea.


“Dalam mimpimu, Frans!” Andrea terkekeh mendengar ucapan jahil kekasihnya.


Frans dan Andrea melanjutkan makan malam mereka. Frans tak henti-hentinya memandang sorot mata kekasihnya. Dia sudah menemukan cinta untuknya di sana.


Frans sungguh berharap, Andrea akan menerima lamarannya besok. Laki-laki itu tidak sabar untuk berlutut di hadapan gadisnya dan meminta gadis itu untuk menjadi teman hidupnya, selamanya.


----------------


Selamat membaca!