More Than Words

More Than Words
Premonition



Di dalam sebuah kamar yang didominasi cat berwarna putih, nampak seorang laki-laki sedang duduk di atas sebuah king size bed. Ia menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang dan meluruskan kaki jenjangnya.


Laki-laki bermata biru langit itu, nampak memandangi dua buah benda. Tangan kanannya memegang sebuah foto, yang ia temukan terjatuh di bilik bianglala, saat sedang menghabiskan waktu, menikmati senja bersama kekasihnya dulu di Amerika. Sementara itu, tangan kirinya, nampak memegang sebuah gelang dengan beberapa bandul bulan sabit kecil yang menghiasi setiap sisi gelang itu.


Entah apa yang sedang dipikirkan laki-laki itu. Tetapi dari ekspresi dan gerak-geriknya, laki-laki itu tidak bermaksud untuk membuang dua benda yang mengingatkannya kepada seseorang. Orang itu adalah sahabatnya sendiri, yang telah cukup lama tidak menjalin komunikasi dengannya, pasca pertemuan terakhir mereka di Amerika.


“Aku seharusnya tidak perlu khawatir sekarang. Aku bisa merasakan bahwa Elaine tulus mencintaiku. Lebih baik aku mengembalikan benda-benda ini. Aku percaya bahwa sekalipun Elaine menyimpannya, gadis itu hanya akan mengisi hatinya dengan cinta pemberianku,” gumam Frans di dalam hati untuk menguatkan dirinya.


“Mungkin ada baiknya aku mengembalikan benda-benda ini, saat kami bertemu nanti.” Frans berucap kepada dirinya sendiri.


--------------------


Seperti yang sering dialami oleh negara-negara di belahan bumi Eropa pada umumnya, bulan September adalah waktu yang tepat bagi musim gugur mengambil alih singgasana permusiman. Hari ini adalah hari ke-sembilan bagi kota London memasuki musim itu.


Angin barat bertiup cukup kencang akhir-akhir ini. Suhu udara yang sedikit lebih dingin dan menyejukkan dibandingkan musim sebelumnya telah mendominasi. Pohon Oak dan Maple yang sudah berumur belasan tahun, masih berdiri kokoh dan tertancap kuat menghiasi The Hyde Park, nampak menari-nari dalam hempasan angin, hingga mulai menanggalkan daun-daunnya satu demi satu.


Di bawah sinar lampu taman yang temaram, terlihat bayangan sepasang manusia, duduk berdekatan sambil memadu kasih. Manusia perempuan itu menyandarkan kepalanya di pundak manusia laki-laki. Tidak ada suara yang keluar dari bibir mereka. Sepertinya, mereka hanya ingin menikmati malam yang panjang dan dingin itu dalam sebuah perasaan hati yang menghangat.


“Mau kemana?” Frans bertanya kepada Andrea.


“Aku mau mengambil cello di mobil. Kamu tunggu di sini saja,” ucap Andrea.


“Memangnya kamu bisa membuka pintunya?” Frans menunjukkan kunci mobil yang baru saja dikeluarkan dari sakunya.


“Ah, bagaimana aku bisa melupakan itu?” Andrea merampas kunci dari tangan Frans dan segera bergerak menuju ke mobil untuk mengambil cellonya.


Beberapa saat kemudian, gadis itu kembali dengan membawa sebuah cello di tangannya. Ia berjalan sambil tersenyum bahagia.


“Apakah kamu sungguh tidak memerlukan bantuanku untuk membawanya?” Frans menawarkan kepada kekasihnya.


Andrea menggelengkan kepalanya. Gadis itu berjalan semakin dekat dengan tempat di mana Frans mendudukan dirinya.


“Instrumentalia apa yang ingin kamu mainkan malam ini?” Frans bertanya kepada Andrea karena penasaran.


Andrea masih berdiri di hadapan laki-laki itu. Ia menata posisi berdirinya sehingga terlihat anggun.


“Sebuah Instrumentalia istimewa. Sebuah karya dari Johann Sebastian Bach, saya persembahkan untuk belahan jiwa saya.” Andrea berbicara dengan suara yang membulat, menirukan gaya bicara conductor yang hendak mempersembahkan karyanya di hadapan para audience.


Gadis itu kemudian menekuk lutut dan membungkukkan sedikit badannya, seperti seorang penampil yang sedang memberi hormat sebelum mulai beraksi di atas panggung. Ia memainkan Cello Suite no. 1 in G Major, Prelude.


Suara cello memecah keheningan malam itu. Andrea menggesek dawai-dawai yang melekat pada tubuh cellonya. Gadis itu terlihat seperti tidak ingin berhenti. Belum puas memainkan karya Bach, ia kemudian menunjukkan kemampuannya dengan menampilkan karya Kodaly.


Gadis itu memainkan Sonata in B minor Op. 8, mvt. III. Sebuah instrumetalia yang cukup panjang dan sulit ditaklukan berhasil dimainkan dengan penuh keanggunan.


Frans, yang terpukau dengan permainan kekasihnya itu, berkali-kali bertepuk tangan. Ia bahkan tidak mampu mengalihkan pandangannya ke arah yang lain. Matanya fokus memperhatikan setiap ekspresi Andrea, gerakan tubuhnya, dan lentik jari jemari gadis itu. Tidak ada satu pun yang dibiarkan luput dari pengamatan matanya. Sementara, telinga laki-laki itu, masih sibuk menerima setiap nada yang dilepaskan dengan sangat hati-hati dan penuh pertimbangan dari sebuah alat musik gesek yang berukuran cukup besar.


“Sebuah instrumentalia terakhir akan saya mainkan sebagai lagu penutup sebelum calon suami saya mengajak saya makan malam. Tocatta in D Minor.” Andrea tersenyum kepada kekasihnya.


Gadis itu menutup matanya. Ia berusaha menghayati permainannya dan tenggelam di dalam nada-nada yang dengan mudah lolos saat ia mulai menggesek cellonya. Andrea terhanyut dan semakin terhanyut. Permainannya sangat dramatis, hingga tiba-tiba ia berhenti mendadak, karena salah satu dawainya terputus.


“Ini berdarah,” ucap Frans.


“Ini hanya luka kecil.” Andrea berusaha berbicara dengan tenang agar Frans tidak semakin panik.


Meskipun saat ini gadis itu terlihat tenang dan menunjukkan ekspresi bahwa semua baik-baik saja, namun tidak dapat diingkari olehnya bahwa ada perasaan asing yang menelusup ke dalam hatinya. Perasaan aneh itu tiba-tiba merampas seluruh kedamaian yang ia miliki sebelumnya, mengganggu ketentraman gadis itu, dan membuatnya merasa sangat tidak nyaman.


Ia tidak dapat mendeskripsikan dengan jelas apa yang sesungguhnya terjadi pada detik itu dan apa yang dia rasakan saat ini. Apakah itu hanya perasaan jengkel yang tanpa diundang muncul di dalam hati karena dawainya terputus, saat permainan musiknya belum selesai? Apakah itu sebuah perasaan malu, karena untuk pertama kalinya, ia tidak bisa menyelesaikan lagunya dengan sempurna? Ataukah itu suatu firasat bahwa akan ada hal buruk yang terjadi ke depan, sebab dawai yang terputus itu sangat jarang terjadi?


“Elaine, kau harus diobati,” kata Frans yang kemudian memecah lamunan calon istrinya.


“Hah? Oh, Baiklah!” Andrea terlihat belum sepenuhnya menggapai kesadarannya.


“Tunggulah di sini, aku akan ke mobil dan mengambil kotak obat.” Frans melangkah meninggalkan Andrea.


Andrea berusaha dengan tenang duduk dan menunggu kekasihnya kembali. Hanya beberapa menit saja, laki-laki itu pergi meninggalkan gadisnya. Sekarang, Frans telah berjalan kembali menghampiri Andrea.


“Lain kali berhati-hatilah! Aku tidak suka melihatmu terluka, hmm?” Frans menyentuh dan membelai pipi Andrea.


“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu khawatir,” balas Andrea dengan raut wajah penyesalan.


“Aku tidak marah. Jangan meminta maaf!” Frans sangat terampil mengobati Andrea. Jari gadis itu kini telah terobati dan terbalut dengan sempurna.


“Sudah! Mari kita pergi dari sini. Aku rasa udara semakin lama semakin dingin. Aku tidak ingin kamu sakit. Hari ini cukup melelahkan. Kita mampir sebentar untuk makan dan setelah itu aku akan mengantarkanmu lagi ke rumah.” Frans mengajak Andrea segera meninggalkan taman itu.


“Sayang, apakah kita tidak bisa lebih lama di sini? Aku masih tidak ingin meninggalkan tempat ini.” Andrea terlihat gelisah.


“Ada apa denganmu? Kamu seperti memikirkan sesuatu. Katakanlah!” Frans membaca ekspresi gadisnya dan menduga ada sesuatu yang mengganjal di dalam hati kekasihnya itu.


“Entahlah, aku seperti tidak ingin beranjak. Aku hanya ingin kamu memelukku sekarang,” ucap Andrea berusaha mendeskripsikan apa yang ia rasakan.


Frans memeluk Andrea sebentar. Laki-laki itu beberapa kali mencium pucuk kepala gadisnya.


“Sayang, kita pergi ya? Malam semakin larut, besok kita bisa kembali ke tempat ini, jika kamu menghendakinya,” bujuk Frans.


Andrea masih menggelengkan kepalanya. Gadis itu sungguh aneh malam ini. Mood-nya berubah begitu cepat. Sepertinya baru beberapa menit yang lalu, ia sangat bersemangat. Saat dawai cellonya terputus, suasana hatinya berubah buruk dan ia menjadi sangat manja.


Frans terus membujuk gadis itu, hingga akhirnya mereka sepakat meninggalkan tempat. Mereka berdua berjalan beriringan menuju ke tempat di mana mobil Frans berada.


Mobil itu terparkir dengan rapi di pinggir jalan, di samping taman itu. Setelah memastikan Andrea telah duduk di dalam mobil, Frans memutari mobilnya dan hendak membuka pintu.


Brrrrrrraaaaakkkkk!!!!!!!!


----------------


Selamat menerka kelanjutan cerita ini! Jangan lupa tinggalkan jejakmu!