More Than Words

More Than Words
I Can Wait Her Forever



*Amsterdam, Belanda*


Puluhan orang berdesak-desakan di dalam sebuah toko, yang menyediakan berbagai jenis alat musik handmade di kota Amsterdam. Semenjak Pieter Van der Schyff, Gitaris band 'The Sky ', memberi tahu sebuah tempat di mana ia biasa memesan gitarnya, dalam sebuah wawancara eksklusif di salah satu stasiun televisi, saat itu juga toko musik milik Jericho menjadi ramai pengunjung setiap harinya.


Bisnis Jericho mengalami kemajuan pesat, demikian juga dengan kariernya sebagai composer dan arranger. Laki-laki tampan itu kini telah menjadi mapan. Sayangnya, hingga saat ini, belum ada gadis yang mendampingi laki-laki itu. Ia lebih suka mengurus bisnis dan karier, dibandingkan mengencani wanita seperti yang sering dilakukannya dulu, saat menjadi mahasiswa.


Hari itu, di salah satu ruangan khusus, di dalam sebuah toko musik, nampak seorang laki-laki bermata hijau sedang menerima sebuah panggilan dari ponselnya. Laki-laki itu terlihat berpikir sebelum mengangkat panggilan yang ditujukan untuknya.


📞'Halo, dad! '(Jericho)


📞'Halo, son! Bagaimana kabarmu hari ini? Apakah kamu jadi pulang bulan ini?' (David Laurent)


📞'Sepertinya tidak bisa dad, sorry. Akhir-akhir ini tokoku semakin ramai pengunjung. Banyak hal yang harus ku kerjakan.' (Jericho)


📞'Jadi, kau juga tidak mau menghadiri pernikahan temanmu?' (David Laurent)


📞'Aku tidak bisa, dad. Namun, daddy bisa menggantikanku. Jika daddy bisa datang memenuhi undangan Andrea dan Frans, tolong sampaikan salamku pada mereka.' (Jericho)


📞'Lalu kapan kau akan menyusul mereka?' (David Laurent)


📞'Maksudnya? Oh, aku hanya ingin fokus pada karierku dulu, dad. Lagi pula aku masih muda.' (Jericho)


📞'Kamu masih muda, sementara daddy dan mommy-mu ini bertambah tua. Tidakkah kamu ingin menikah saat kami masih hidup?' (David Laurent)


📞'Apa maksud daddy bicara seperti itu? Jangan mengatakan yang tidak-tidak!' (Jericho)


📞'Daddy mengatakan sebuah realita padamu. Tidak ada manusia yang hidup selamanya di dunia ini. Pulanglah! Bawalah seorang gadis untuk kau perkenalkan kepada kami, atau kami yang akan menjodohkanmu nanti!' (David Laurent)


📞'Aku tidak……..' (Jericho)


Komunikasi itu telah diputuskan sepihak oleh ayah Jericho. Laki-laki bermata hijau itu, nampak kesal sekarang.


“Aaaarrrrrggghhhhh!!!!!” Jericho mengacak-acak rambutnya.


Ia mengenal siapa ayahnya. Ia tahu bahwa jika ia tidak segera memperkenalkan seorang gadis, maka ayahnya bisa memaksa dirinya untuk menikahi perempuan yang tidak ia cintai.


“Permisi, Mr. Laurent! Di depan ada Mr. Van der Schyff. Dia ingin menemui anda,” ucap salah seorang karyawan Jericho.


“Bawalah dia ke ruangan ini!” Jericho menyuruh karyawannya.


“Baik.” Karyawan itu langsung meninggalkan ruangan dan mengantarkan Pieter menemui Jericho.


“Sepertinya, kau tidak dalam keadaan baik hari ini,” ucap Pieter saat memasuki ruangan, kemudian mendekati Jericho sambil menepuk pundaknya.


“Sedikit masalah dengan orang tuaku,” balas Jericho sambil tersenyum kecut.


“Masalah menantu yang tidak kunjung menemui mertuanya?” Pieter berkata sambil tertawa mengejek Jericho.


“Kau! Dari mana kau tahu?” Jericho merasa heran dengan dugaan Pieter.


“Wajah muram itu yang memberi tahu,” jawab Pieter sambil menunjuk wajah Jericho.


“Aku serius, Pieter Van der Schyff!” Jericho menatap tajam mata Pieter.


“Aku hanya menebaknya, kawan. Kamu sensitif sekali,” balas Pieter sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Laki-laki tua itu mengancam akan menjodohkan aku, jika aku tidak membawa pulang seorang gadis untuk ku nikahi,” kata Jericho.


“Maka bawalah seorang gadis untuk menjadi menantunya,” balas Pieter dengan santai.


“Kenapa? Ayolah ceritakan padaku!” Pieter mendesak Jericho.


“Aku mencintai seorang gadis yang akan menikahi laki-laki lain.” Jericho berucap lirih.


“Kalau begitu gagalkan pernikahan mereka. Kejar dan dapatkan gadismu!” Pieter masih menanggapi dengan santai.


“Dia tidak mencintaiku. Dia mencintai calon suaminya. Aku akan nampak konyol, jika aku melakukan hal itu,” ucap Jericho dengan raut kesedihan.


“Aku tidak percaya seorang laki-laki tampan dan mapan sepertimu pernah mendapat penolakan. Aku jadi penasaran dengan gadis itu. Apakah kau punya fotonya?” Pieter bertanya penasaran.


Jericho mengeluarkan ponsel dari saku celana dan membuka akun media sosial miliknya. Laki-laki itu kemudian mencari profil Andrea dan menunjukkan beberapa foto Andrea kepada Pieter.


“Namanya Andrea. Dia sangat istimewa bagiku,” kata Jericho sambil menyodorkan ponselnya kepada Pieter.


“Dia tidak terlalu cantik, menurutku. Ayolah, cari saja gadis lain, yang lebih sempurna dari dia!” Pieter masih menggeser layar ponsel Jericho. Ia masih penasaran dengan foto-foto Andrea.


“Dia memang gadis sederhana. Kamu tidak akan bisa melihat kecantikannya hanya dari fotonya. Kamu harus bertemu langsung dan berinteraksi dengan gadis itu. Andrea berbeda dengan banyak gadis yang pernah aku temui,” ucap Jericho sambil membayangkan sosok Andrea dan mengingat beberapa momen ketika bersama dengan Andrea.


“Calon suaminya itu Frans Moreno?” Pieter bertanya kepada Jericho sambil menunjukkan sebuah foto Andrea bersama dengan Frans, saat mereka berada di dalam bilik bianglala.


Jericho mengangguk tanda membenarkan ucapan Pieter, lalu ia berkata, ”Andrea adalah cinta pertama Frans.”


“Jika begitu, dia pasti bukan gadis biasa. Cinta kalian begitu rumit. Saranku, segera lupakan gadismu itu dan carilah wanita lain! Kau tidak mungkin menanti milik orang lain kan?” Pieter menasihati kawannya.


“I can wait her forever,” ucap Jericho dengan spontan.


“Dan menjadi seorang bujangan tua? atau malah menjadi orang ketiga? Kau benar-benar sudah gila! Sepertinya itu hanya sebuah obsesi dan bukan cinta,” kata Pieter berusaha menyadarkan temannya.


“Cintaku yang menyuruhku untuk menunggu. Mungkin ini terdengar gila, tetapi entah mengapa aku begitu yakin bahwa kami ditakdirkan bersama,” kata Jericho sambil tersenyum simpul.


“Sudahlah! Kita bicarakan hal lain saja. Kisah cintamu mengacaukan mood-ku.” Pieter bermaksud mengalihkan topik pembicaraan.


“Kenapa tiba-tiba ingin menemuiku?” Jericho bertanya tentang tujuan kedatangan Pieter.


“Aku ingin mengajakmu membuka lagi sebuah toko musik. Tapi kali ini di Amerika. Idemu membuka toko alat-alat musik handmade itu sesungguhnya merupakan sebuah ide yang brilliant. Apakah kamu tidak ingin melebarkan bisnismu?” Pieter memberikan tawaran bisnis kepada Jericho.


“Mungkin modalku belum cukup untuk membuka di luar negeri,” balas Jericho.


“Kamu hanya perlu menyediakan stok alat musiknya dan mengawasi langsung operasional di sana sementara, sampai kita menemukan seseorang yang bisa dipercaya. Masalah yang lain itu urusanku. Keuntungan kita bagi dua, bagaimana?” Pieter memperjelas tawarannya.


“Aku sarankan, sebaiknya kau membuat sebuah proposal yang bisa menjelaskan semuanya secara terperinci. Aku harus mempelajari dulu. Aku orang yang penuh pertimbangan,” kata Jericho kepada Pieter.


“Baiklah! Aku akan kirimkan proposalnya segera lewat email, supaya kamu bisa mempelajarinya. Tunggulah email-ku satu sampai dua hari lagi. Aku sangat yakin bahwa peluang kita untuk berhasil cukup besar,” balas Pieter meyakinkan Jericho.


“Kalau begitu, jawabanku juga menunggu email-mu,” ucap Jericho.


“Baiklah! Jika tidak ada lagi pertanyaan, aku pamit undur diri. Semoga kau berhasil menyelesaikan masalah hatimu yang rumit itu.” Pieter segera beranjak meninggalkan Jericho.


Jericho masih duduk di kantornya, pasca Pieter meninggalkannya. Laki-laki itu kembali memikirkan Andrea. Benarkah perasaannya terhadap Andrea sesungguhnya adalah obsesi dan bukan cinta seperti kata Pieter? Benarkah ia mampu menunggu Andrea selamanya? Ataukah ia harus melupakan Andrea dan mencari gadis lain, sebelum orang tuanya memilihkan seorang gadis baginya untuk dinikahi?


Jika sudah begini, mungkin benar jika Pieter mengatakan bahwa kisah cinta Jericho itu adalah sesuatu yang rumit. Tidak, yang lebih tepat adalah cinta itu sederhana, tetapi manusia yang mencinta itulah yang memperumit segalanya.


---------------


Happy Reading! Jangan lupa feedback-nya!