
Hari ini banyak manusia berlalu-lalang di dalam Weill Recital Hall, kota New York. Sebuah gedung yang biasa dijadikan tempat unjuk bakat para musisi, baik di dalam maupun luar negeri. Venue yang tidak terlalu besar, namun sangat elegan. Bagian interiornya nampak sangat berkelas, apalagi saat beberapa chandelier yang tergantung indah itu dinyalakan. Setiap sudut ruangan terasa sangat mengagumkan dan memiliki nilai seni yang tinggi.
Petugas dekorasi sibuk mengangkut semua perlengkapan, termasuk alat musik para anggota orchestra. Jericho telah menyerahkan sebuah denah tata letak masing-masing alat musik kepada petugas. Mereka juga sibuk berkoordinasi dengan petugas sound system di bawah pimpinan George, orang kepercayaan Jericho.
Dari sudut ruangan yang lain, terlihat juga beberapa kurir datang untuk mengirimkan souvenir yang telah dipesan sebelumnya. Jericho telah mencetak dan memperbanyak puisi yang dihadiahkan Andrea kepadanya dan menjadikannya sebuah mini poster, yang terkemas rapi dalam sebuah frame putih polos nan cantik. Souvenir itu akan dihadiahkan kepada seluruh penonton yang hadir sebagai ucapan terima kasih. Jericho benar-benar melakukan persis seperti yang dikatakan Andrea.
----------------
Laki-laki bermata hijau itu kini telah bersiap. Rambutnya yang agak panjang dan bergelombang terurai rapi. Ia mengenakan tuxedo berwarna hitam, jenis tailcoat (bagian belakang jas lebih panjang dari pada bagian depannya) dengan dalaman berwarna putih. Penampilannya semakin memukau ketika dasi kupu-kupu mempermanis bagian lehernya, dan celana panjang dengan potongan pas, dijahit rapi, melekat pada tubuhnya. Tidak lupa ia mengenakan sepasang sepatu pantofel hitam yang disemir hingga mengkilat, untuk menutupi bagian kaki. Jericho benar-benar nampak seperti seorang maestro saat ini.
Semua tim orchestra sudah hadir. Mereka bersiap di belakang panggung. Hanya Andrea yang nampaknya belum terlihat. Kali ini, ia tidak datang bersama dengan Frans. Ia meminta untuk berangkat sendiri karena masih ada sedikit keperluan. Tanpa sepengetahuan Frans, Ia hendak membeli seikat bunga Gerbera Daisy untuk dihadiahkan kepada Jericho setelah konser berakhir.
“Frans! kemana Andrea?” Jericho sedikit panik karena Andrea belum terlihat.
“Sudah di parkiran. Baru saja ia mengabariku,” balas Frans.
“Baiklah, karena dia sudah disini, kita bisa memulai konsernya. Andrea akan tampil di instrumentalia ke-tujuh hingga ke-sembilan. Dia masih punya banyak waktu untuk mempersiapkan dirinya. Kita bisa mulai sekarang,” ucap Jericho dengan sedikit gugup seraya mengarahkan timnya menuju ke panggung.
---------------
Sekarang, seluruh anggota Orchestra telah berada di atas panggung. Kehadiran mereka disambut dengan meriah oleh semua penonton yang hadir. Akhirnya, instrumentalia pertama pun dimainkan sebagai penyambutan.
Seketika semua orang terdiam, mereka sangat fokus mendengar. Begitu juga dengan beberapa professor musik yang menjadi tamu kehormatan malam itu. Merekalah yang akan menilai karya dan proyek Jericho. Seutas senyum nampak dibibir para professor, demikian pula para audience yang hadir. Mereka sangat menikmati malam ini.
“Hadirin yang terhormat. Saat ini saya berbahagia karena saya dikelilingi oleh orang-orang yang hebat. Saya bangga karena malam ini, seorang Pianist terkenal mau menyediakan dirinya untuk membantu saya, menghadiahkan sebuah permainan berkelas, untuk menghibur semua orang yang ada di ruangan ini. Hadirin yang terhormat, sambutlah dan berikan cinta anda kepada Mr. Frans Moreno,” ucap Jericho sambil megarahkan tangannya ke arah Frans.
Frans berdiri sejenak memberi hormat, saat semua orang bertepuk tangan menyambut dirinya. Setelah itu, mereka pun melanjutkan permainan mereka di instrumentalia yang ke-dua. Instrumentalia itu dikemas dengan karakter yang cukup unik. Peran Frans kali ini sangat penting dan dominan. Perpaduan antara skill, kecerdasan, dan perasaan ditunjukkannya dengan apik, sebagaimana layaknya seorang Pianist berbakat.
Instrumentalia demi instrumentalia dimainkan dengan begitu indah. Semua anggota tim menjalankan peran mereka secara maksimal dan tanpa beban. Seperti kata Jericho sebelumnya, ini merupakan konser milik semua, sehingga setiap permainan demi permainan menjadi sangat berarti.
Sesungguhnya bukan hanya tim orchestra yang terhanyut malam itu, semua orang di dalam ruangan juga bisa meresapi nada demi nada yang mengalun dengan penuh penghayatan. Mereka semua yang berada diruangan dapat merasakan sebuah cinta besar, yang tercurah melalui simfoni-simfoni dalam balutan keanggunan dan kemuliaan.
Sebagaimana sebuah konser yang mengusung tema-tema romansa, banyak pasangan kekasih yang sedang kasmaran melungguh dengan mesra di sana. Pasangan-pasangan itu sesekali menggenggam tangan pasangannya dan saling memandang. Dari raut wajah mereka, nampak rasa syukur yang mendalam karena penantian cinta mereka berujung manis dengan kehadiran orang di sampingnya.
-----------------
Beberapa menit lagi, instrumentalia ke-enam akan selesai dibawakan. Andrea sudah bersiap di belakang panggung. Ia terlihat sangat menakjubkan dengan sebuah gaun hitam yang begitu pas, melekat ditubuhnya. Gaun hitam yang dipilih dan dihadiahkan khusus oleh laki-laki pertama yang mengisi hatinya.
“Hadirin yang terhormat, tiga instrumentalia ke depan yang akan kami bawakan, adalah beberapa instrumentalia yang saya aransemen dengan visualisasi penantian seorang wanita, ketika ditinggal pergi oleh kekasihnya. Penantian panjang dari sebuah rasa cinta yang tulus, dengan penuh kesabaran, penderitaan, tetapi juga pengharapan. Dan untuk menyempurnakan penghayatan kita terhadap instrumentalia - instrumentalia itu, Please Welcome, a magnificent Cellist from London, Ms. Andrea Williams.” Jericho memperkenalkan Andrea kepada seluruh audiens yang hadir.
Andrea berjalan dengan penuh percaya diri dari belakang panggung. Jericho yang sejak tadi belum melihatnya, benar-benar terpukau saat ini. Ia tidak menyangka gaun yang dipilihkannya begitu menawan membalut tubuh wanita itu. Ya, Andrea nampak seperti seorang wanita anggun dengan sejuta pesona.
Instrumentalia ke-tujuh pun akan segera dibawakan. Andrea bergegas mengambil posisi di samping Jericho. Kemudian ia memeluk cellonya seperti sang pecinta yang memeluk pasangannya dengan sangat posesif. Sebagian rambutnya disampirkan ke belakang telinga, sebagian lagi jatuh ke depan menutupi daun telinganya. Gaun yang sedikit terbelah dibagian paha, menambah pesonanya malam itu.
Permainanpun dimulai. Andrea memejamkan matanya. Tangannya dengan lincah menggesek dan menekan setiap dawai yang melekat dari ujung yang satu hingga ujung yang lain pada tubuh cellonya. Ia memainkan peran dengan baik, bahkan sempat meneteskan air mata di beberapa bagian yang ia bawakan.
Ia meresapi setiap nada seraya menujukan semuanya itu kepada dirinya. Dirinya yang terus menanti tanpa kepastian, di dalam kepasrahan dan kesetiaan, dalam keputus-asaan tetapi juga harapan. Dirinya yang kehilangan kekasih bertahun-tahun dan bahkan tetap tidak bisa memiliki saat pertemuan terjadi.
Beberapa penonton juga tampak meneteskan air mata. Cukup banyak diantara mereka yang menangis dipelukan pasangannya. Mereka seolah-olah bisa merasakan apa yang dirasakan oleh ‘The Lady '. Kecantikan seakan tidak berarti, ketika sebuah cinta tidaklah utuh dimiliki. Keanggunan hanyalah kulit luar yang berusaha menutupi kehancuran dari dalam sanubari.
Mereka seperti melihat seorang wanita cantik yang tak berdaya, terseok-seok, dan rapuh dalam penantian panjangnya. Tiga instrumentalia yang dibawakan saat itu, membuat suasana bukan hanya menjadi sunyi. Lebih dari itu, seisi ruangan tiba-tiba dirundung kepedihan.
Andrea kini telah menyelesaikan permainannya. Ia membuka matanya dan saat itu semua orang standing ovation untuk mengapresiasi penampilan gadis itu. Andrea memberi penghormatan kepada penonton yang bersorak kagum padanya.
Setelah selesai memberikan penghormatan, ia melihat ke arah Jericho. Jericho langsung menghampiranya, mencium pipinya dengan lembut dan memeluknya. Tanpa menyebutkan sepatah katapun, mereka tahu bahwa tadi adalah penampilan yang menakjubkan. Tanpa ada yang berbicara, Andrea bisa melihat kebahagiaan dan rasa terima kasih dari bola mata Jericho.
Ia pun segera mengakhiri pelukan itu, lalu pergi meninggalkan panggung diiringi tepuk tangan seluruh penonton hingga sosoknya tak terlihat lagi. Jericho masih memandang gadis itu dalam sorotan mata yang mendalam dan mengakhiri tatapannya ketika raga gadis itu tak terlihat lagi.
Konser segera dilanjutkan. Mereka membawakan instrumentalia terakhir. Semua orang terlihat sangat puas. Mereka benar-benar hanyut dalam suasana malam itu. Kejutan demi kejutan dalam setiap penampilan benar-benar menghipnotis mereka. Hingga acara berakhir, para audiens terlihat enggan meninggalkan ruangan.
Banyak diantara audiens yang ada, ingin bertemu dengan sang maestro dan orang-orang berbakat yang ada di depan. Mereka berfoto dan meminta tanda tangan kepada orang yang mereka idolakan.
Saat hendak meninggalkan gedung, para audiens dikejutkan dengan souvenir cantik yang dihadiahkan kepada mereka. Mereka tidak menyangka, bahwa ada begitu banyak cinta yang dibagikan malam itu.
"Benar-benar sebuah pertunjukkan musik kelas dunia," ucap salah satu penonton dengan sangat puas.
--------------------
Please, use your imagination!
Enjoy the story! Like, Vote, comments, and rate are needed. Thank you.