
“Sial! siapa kau? Berani-beraninya ikut campur urusan kami,” ucap pengemudi itu sembari keluar dari mobilnya untuk membantu temannya, yang seketika tumbang saat dipukul oleh orang asing.
“Jericho!” Andrea menyerukan nama laki-laki yang memukuli orang bernama Fred dengan setengah suara.
“Kau cari mati, hah!” Pengemudi itu mengeluarkan sebilah pisau dan hendak menusuk Jericho.
Perkelahian yang cukup menegangkan pun terjadi. Pengemudi itu terus mencoba untuk menusukkan pisaunya. Dia mencoba mengayunkan pisau itu ke arah wajah, tangan, kaki, dada, dan perut Jericho, namun beruntung ia bisa menghindari serangan yang diberikan kepadanya.
Kawan pengemudi yang bernama Fred itu pun bangkit, setelah sempat tumbang akibat pukulan Jericho. Ia mencoba memukul Jericho dari belakang dengan diam-diam. Pukulan itu mengenai punggung Jericho, hingga membuatnya sedikit kehilangan keseimbangan.
Kondisi yang belum stabil itu pun dimanfaatkan oleh si pengemudi untuk melukai Jericho. Pengemudi itu mengayunkan pisaunya, hendak menusuk lagi. Andrea yang sejak tadi terdiam menyadari bahwa Jericho bisa terluka. Gadis itu menendang si pengemudi sehingga pisau hanya sedikit menggores lengan Jericho. Darah segar seketika mengalir dari lengannya.
Melihat Andrea menendang kawannya, penjahat bernama Fred itu, tiba-tiba menampar Andrea hingga tubuh gadis itu terpelanting ke belakang dan kepalanya membentur mobil cukup keras. Untung saja, gadis itu masih tersadar.
Jericho yang melihat kejadian itu seketika emosi dan memberikan tendangan kepada orang yang telah memukul Andrea. Tendangan diayunkan Jericho tepat mengenai rahang Fred, hingga membuatnya pingsan. Jericho terus memukul Fred yang sudah tidak sadar, di bagian wajahnya dengan kemarahan yang membeludak.
“Kau berani menyakiti gadisku, hah! Laki-laki macam apa kau? Kau tega memukul seorang gadis,” ucap Jericho sembari terus memukuli wajah Fred.
Pengemudi yang sempat terjatuh karena tendangan Andrea, kini bangkit dan menyadari bahwa Jericho sedang lengah. Laki-laki itu mencoba menusuk Jericho lagi dari belakang. Pisau itu menancap, mengenai punggung sebelah kiri Jericho.
“Aaaarrrgggghhhh……..”Jericho berteriak kesakitan.
Jericho segera sadar bahwa ada satu orang lagi yang perlu dibereskan. Ia berusaha mencabut pisau itu dari punggungnya.
"Aaarrrrrgggggghhhh........" Pisau itu telah terlepas.
Jericho segera membuang pisau itu ke semak-semak, dan mencoba melawan pengemudi itu. Ia memukul serta menendang pengemudi itu dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya.
Sementara itu, Andrea tidak sengaja melihat ada sebuah batu di dekatnya. Ia mengangkat batu itu dan diam-diam memukul kepala si pengemudi, hingga pengemudi itu jatuh tidak sadarkan diri.
“Jericho… Hiks.. hiks…” Andrea berlari ke arah Jericho dan memeluk laki-laki itu.
“Apa kau baik-baik saja? Apa kau terluka?” Jericho memeluk Andrea dengan satu tangan sambil mencium kening gadis itu beberapa kali.
Gadis itu menggelengkan kepalanya untuk menyatakan bahwa dirinya baik-baik saja.
“Mari kita pergi. Mobilku ada di sebelah sana. Ayo! Sebelum mereka sadar,” ucap Jericho seraya terus memeluk gadis itu dan mengarahkannya untuk masuk ke dalam mobil, kemudian segera meninggalkan tempat itu.
--------------------
“Sebaiknya kita ke rumah sakit, J. Kau harus diobati. Biar aku yang membawa mobilmu,” kata Andrea saat menyadari bahwa Jericho sejenak menghentikan mobilnya di tempat yang ramai dan aman.
Jericho terlihat mencari-cari sesuatu. Tidak lama kemudian ia menemukan sebuah kotak P3K dan menyerahkan kotak itu kepada Andrea.
“Bisakah kau membantuku membersihkan lukaku dulu?” Jericho memandang Andrea.
Tanpa banyak bicara, Andrea segera mengambil kotak itu, dan mencari cairan pembersih luka serta kapas di dalamnya. Perlahan-lahan, Jericho melepas pakaiannya yang terkena noda darah. Tangan Andrea gemetaran melihat luka di punggung Jericho. Ia membersihkan dengan hati-hati sambil menguatkan dirinya, saat melihat darah yang terus mengalir dari lengan dan punggung laki-laki itu.
“Aaaarrrggghhh… Sssshhhh…….. sial!” Jericho berusaha menahan sakit ketika gadis itu membersihkan lukanya.
“Maafkan aku. Hiks… Hiks… Maafkan aku, J.” Andrea yang tidak kuat melihat Jericho kesakitan, langsung menangis sambil meminta maaf.
Laki-laki yang terluka itu seketika memeluk gadisnya lagi sembari menggelengkan kepala.
“Aku sangat takut J, Mereka… Hiks… Mereka…. Kau……. Hiks.. hikss…” Andrea terus menangis hingga tidak bisa melanjutkan ucapannya.
“Sekarang yang penting kamu aman. Aku sudah di sini. Aku akan melindungimu. Aku tidak apa-apa. Kau bisa lihat kan? Aku bahkan masih bisa menyetir tadi. Aku justru tidak akan bisa memaafkan diriku, jika terjadi sesuatu denganmu. Berjanjilah jangan pernah pergi ke bukit cahaya tanpaku, mengerti!” Jericho merenggangkan sedikit pelukannya untuk melihat gadis itu.
Andrea menganggukkan kepalanya. Jericho memeluknya lagi dengan erat dan kembali mencium kening gadis itu. Andrea masih menangis beberapa saat dipelukan Jericho.
Tidak lama kemudian, Andrea segera sadar bahwa laki-laki itu masih membutuhkan pertolongan. Ia melepaskan pelukan Jericho dan melanjutkan membersihkan lukanya. Ia lalu mengambil perban dan menutup sementara luka Jericho.
“Ayo kita ke rumah sakit. Kau harus segera ditangani. Biarkan aku membawa mobilmu!” Andrea memaksa Jericho dan laki-laki itu pun menurutinya.
Sepanjang perjalanan Jericho tidak terlalu banyak bicara karena menahan rasa sakit di punggung dan lengannya. Dia mencoba tidak mengerang supaya Andrea tidak panik. Jericho hanya memejamkan matanya sambil menahan rasa sakit itu.
“Jericho! Please, stay with me! Bertahanlah untukku!” Andrea berbicara dengan panik. Ia takut laki-laki itu kehilangan kesadarannya.
“An, apa maksud ucapanmu tadi sebelum meninggalkanku di bukit itu?” Jericho memulai percakapan secara tiba-tiba.
“Ucapan, yang mana?” Andrea melihat lagi ke arah Jericho.
“Tentang menyelamatkan Frans supaya tidak jadi sepertimu,” balas Jericho.
“Aku mencintai laki-laki lain, J.” Andrea mulai menjelaskan dan kemudian terlihat berpikir sejenak. Ia berpikir bahwa percakapan ini harus dilanjutkan supaya Jericho tetap sadar.
“Tapi aku tidak bisa memiliki laki-laki itu sebab dia tidak mencintaiku.” Andrea melanjutkan percakapannya.
“Siapa?” Jericho bertanya dengan nada penasaran.
“Kau,” gumam Andrea di dalam hatinya.
Gadis itu tersenyum simpul, kemudian berkata, “Maaf, aku belum bisa menyebutkan kepadamu siapa orangnya.”
“Apakah aku mengenal laki-laki itu?” Jericho bertanya lagi.
Andrea menganggukkan kepalanya. “Dia adalah laki-laki pertama yang aku cintai dalam hidupku. Aku mencintainya dengan segenap hati. Tapi, dia memilih wanita lain dan selalu begitu. Aku hanya dianggap sebagai kawannya. Bodoh ya?” Andrea kini meneteskan air matanya.
“Apa dia tahu perasaanmu? Apa kamu menyatakan perasaanmu?” Jericho melanjutkan ucapannya.
“Dia….. Tidak tahu.” Gadis itu berbicara masih dengan air mata yang menetes.
“Untuk apa dia mengetahuinya? Aku sudah kalah,” isakan tangis Andrea semakin terdengar.
“Aku berusaha menyibukkan diri dengan studi dan mengikuti berbagai macam perlombaan untuk melupakannya. Tapi tetap tidak bisa. Dia mendominasi diriku. Aku terus menunggunya. Berharap dia sadar dengan perasaan ini dan akan membalasnya suatu saat nanti. Harapan dan angan itu yang selalu melarangku untuk membuka hati pada laki-laki lain. Aku hanya bertahan dengan memori tentangnya selama ini.” Andrea menyeka air mata yang terus menetes.
“Lalu apa kau mencintai Frans? Bukankah menerima Frans sekarang itu membohongi dirimu sendiri dan akan menyakitinya?” Jericho terus bertanya. Pikirannya berusaha mencerna setiap ucapan Andrea di tengah rasa sakitnya.
“Aku sudah memilih Frans sekarang dan aku berusaha untuk mencintai………” Andrea masih ingin melanjutkan percakapannya.
“Apa yang sudah kau pilih” Jericho langsung menyela hingga membuat Andrea menatap laki-laki itu.
"Frans tulus mencintaiku. Aku bisa merasakannya. Aku tidak mau orang yang tulus seperti Frans menderita seperti aku. Itu sebabnya aku memilih untuk belajar mencintainya." Andrea menyeka lagi air matanya.
“Aku mengerti! Maafkan aku karena telah berprasangka bahwa kau egois dan mempermainkan Frans. Aku bahkan menyamakanmu dengan Fergie yang meninggalkanku, sementara kau adalah wanita yang setia menunggu sekalipun kau tahu perasaanmu tak berbalas." Jericho tersentuh sekarang.
“Seandainya aku adalah laki-laki itu, aku tidak akan membiarkanmu menanti seperti ini,” batin Jericho.
"Jadi, kau memang wanita dalam penantian itu. Saat konserku kau tidak bermain peran, kau memang mengalaminya," ucap Jericho yang kini telah bisa menyimpulkan mengapa Andrea bisa sangat menghayati permainan cellonya saat konser waktu itu.
“Kita sudah sampai J. Mari kita obati lukamu!” Andrea memutus percakapan mereka. Ia berhenti di lobby IGD Rumah Sakit dan menurunkan Jericho.
“Kau tunggulah sebentar aku akan memarkirkan mobilmu.” Andrea segera mencari tempat kosong untuk memarkirkan mobil dan bergegas menghampiri Jericho.
----------
Gadis itu menunggu sampai Jericho selesai diberi pertolongan. Dokter mengatakan bahwa luka tusuk di punggungnya tidak terlalu dalam dan serius. Jericho menyambut penjelasan itu dengan meminta agar dokter mengijinkannya beristirahat di apartment-nya saja. Dokter pun memperbolehkan.
Andrea mengantarkan laki-laki itu kembali ke apartment-nya. Kondisi Jericho memang belum terlalu stabil, karenanya Andrea memutuskan untuk menjaga Jericho di apartment-nya, malam itu.
Jericho sempat melarangnya. Laki-laki itu menyuruh Andrea pulang, namun gadis itu memaksa untuk tinggal. Ia hanya ingin berterima kasih dengan menjaga orang yang telah menyelamatkan dirinya.
“Tidurlah, aku akan menunggumu sambil duduk di sofa. Panggil aku jika kau butuh bantuan! Tolong, jangan sungkan!” Andrea beralih duduk di sofa dan terus memperhatikan laki-laki yang terbaring lemah di depannya.
“An! Setelah semua yang kau alami, apakah kau masih percaya cinta?” Jericho bertanya menyambung ucapan mereka yang sempat terputus tadi.
“Tentu, J! Aku mencintai orang yang tidak mencintaiku, mungkin itu adalah sebuah kesalahan. Tetapi cinta dan perasaan mencinta itu sendiri, tidaklah salah. Kau mungkin bisa salah mencintai seseorang saat ini, tapi aku selalu percaya kau juga akan menemukan gadis yang akan kau cintai dan mencintaimu dengan sepenuh hati nantinya.” Andrea tersenyum kepada Jericho.
“Aku mencintaimu Andrea. Bagaimana dengan perasaanku itu? Apakah itu juga sebuah kesalahan?” gumam Jericho di dalam hatinya.
-----------
Happy reading! Feedback, Please!