More Than Words

More Than Words
Unpredictable



Pagi itu terdengar bunyi ketukan dari balik pintu kamar Andrea. Andrea yang mendengar bunyi ketukan itu segera melangkah mendekati sumber suara. Sebelum membuka pintu, ia mengintip dari lubang kecil yang ada dipintu untuk memastikan siapa yang datang dan kemudian membuka pintunya.


“Hi, Frans!” Andrea menyapa pria yang dari tadi sudah menunggu di depan pintu.


“May i come in? ” Frans bertanya sambil menyodorkan sebuket bunga lili putih.


“Sure! Bagaimana aku bisa menolak? Kau datang sambil membawa hadiah semanis ini. Romantis sekali.” Andrea menjawab Frans sambil tersenyum bahagia dan menerima bunganya.


Bunga Lili putih adalah bunga yang sering diberikan Frans kepada Andrea. Frans tahu Andrea menyukai bunga itu, karena ada makna filosofis dibaliknya. Bunga Lili putih melambangkan kesucian dan kebajikan. Sungguh, hanya bunga itu yang paling sesuai untuk mendeskripsikan Andrea menurut Frans.


“Aku juga membawa sarapan untuk kita.” Frans menunjukkan sebuah paper bag yang di dalamnya terdapat beberapa kotak berisi makanan.


“Kau datang di saat yang tepat. Cacing-cacing dalam perutku sudah menari-nari.” Andrea menjawab Frans sambil tertawa.


Andrea pun mengambil paper bag dari tangan Frans, kemudian berjalan ke arah meja makan dan meletakkan paper bag serta bunganya di atas meja. Ia bergegas menuju ke dapur.


Ia mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk merendam tangkai bunga itu agar tidak cepat layu. Sebuah vas kaca bening ditemukannya. Ia mengisi vas itu dengan air dan kemudian berjalan ke arah meja makan untuk menata bunganya, kemudian meletakkan bunga itu di atas nakas, di dekat televisi.


Setelah selesai Andrea kembali menuju ke dapur, mencari beberapa perlengkapan makan, membawanya ke meja, dan menata makanan yang di bawa oleh Frans. Saat semuanya siap, ia memanggil Frans untuk makan bersama-sama.


“Aku suka sarapan dengan chicken porridge. Kau memang yang terbaik Frans.” Andrea berucap sambil menyendokkan bubur ke dalam mulutnya untuk kedua kalinya.


“I’ll do everything to you, Elaine. Everything that makes you happy,” balas Frans kepada Andrea sambil membelai tangan kiri Andrea sejenak, kemudian melepasnya.


Andrea langsung menghentikan makannya dan menatap ke arah Frans. Ia berpikir dan mencari cara untuk mengalihkan Frans dan memecah keheningan yang seketika tercipta.


“Frans, Aku berpikir semalam. Aku merasa tidak adil jika aku mau tampil di konser J, sementara aku belum pernah tampil di konsermu. Aku menawarkan diriku, siapa tahu kau butuh seorang Cellist untuk konsermu bulan depan? Aku juga akan tetap berperan di belakang layar, membantumu.” Andrea menyatakan maksudnya kepada Frans sambil menyendok kembali buburnya.


“Kau tahu, aku rasa kita sehati. Aku baru saja ingin memintamu, kau sudah memberi kesediaan. Aku ingin kau membawakan 1 lagu bersama denganku di konser nanti. Only you and me, no full orchestra.” Frans membalas ucapan Andrea.


“Deal! Lalu apa yang aku dapat sebagai imbalan?” Andrea bertanya kembali kepada Frans bertujuan untuk menggoda teman kecilnya itu.


“Me, my self? ” Frans menjawab Andrea.


“maksudnya?” Andrea menampilkan raut wajah yang sedikit bingung.


“Bagaimana kalau kau mendapatkan aku sebagai imbalanmu?” Frans menjawab Andrea dengan tersenyum, sementara Andrea langsung terdiam dan menghentikan aktivitas makannya lagi.


Frans tahu Andrea kurang suka berbicara masalah perasaan. Ia pun berusaha mencairkan kebekuan yang mulai kembali tercipta.


“Bukankah mendapatkan aku tidak buruk. Aku bisa membelikan bubur setiap pagi untukmu, membelikan seikat bunga lili putih setiap hari, mengantarmu kemanapun kau pergi,” balas Frans sambil tertawa.


“Kau ini! Kau hampir membuat aku gagal napas, Frans.” Andrea memukul pundak Frans beberapa kali, hingga frans kesakitan.


“Auuuu… Auuuu… Maafkan aku. Kau tegang sekali nona.” Frans memegang kedua tangan Andrea sambil berupaya menghentikan Andrea yang terus memukuli dirinya.


Setelah berhasil dihentikan, tangan kanan Frans beralih menyentuh dagu Andrea, mendekatkan wajahnya sangat dekat, hingga hanya tersisa beberapa centi lagi.


“Apa yang tidak aku pahami darimu hanya satu. Hatimu, Elaine!” Frans mengucapkannya masih dengan posisi wajah yang sangat dekat.


“Aku heran, aku bisa memahami dan menafsirkan semua gagasan filsuf yang kau perkenalkan padaku. Tapi hingga detik ini, aku tidak bisa membaca dan menafsirkan hatimu.” Frans menarik kepalanya menjauh. Ia mulai berbicara dengan serius.


“Kau pasti mengetahui maksudku kan?” Frans menatap Andrea penuh cinta.


Andrea terdiam. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Andrea tahu bahwa teman kecilnya menyukainya sejak lama. Dia hanya selalu menghindar. Dia takut tidak bisa membalas cinta teman kecilnya itu. Jika tidak pernah ada nama Jericho, tentu dengan senang hati ia akan menerima Frans. Namun, dia tidak bisa menipu Frans dan menipu dirinya sendiri.


Selama mereka berteman, Frans tidak pernah melihat laki-laki lain di sekeliling Andrea, karena itu Frans percaya dengan alasan kuliah dan prestasi yang disampaikan Andrea. Laki-laki itu cukup yakin bahwa Elainenya akan menerima dirinya suatu saat nanti.


“Sudahlah! Selesaikan segera makanmu. Kita harus ke mall lebih awal. Bukankah kau ingin jalan-jalan? Kita jalan-jalan dulu baru nonton bersama J.” Frans segera menghentikan pembicaraannya dan menyelesaikan makan paginya.


Andrea hanya mengangguk pelan. Ia sebenarnya merasa tidak nyaman saat ini. Namun, ia tidak ingin merusak suasana. Ia mencoba menormalkan perasaannya dan bersikap biasa lagi kepada Frans.


-----


Frans dan Andrea tiba di mall lebih awal dari waktu pertemuan yang ditetapkan Jericho. Mereka berkeliling membeli beberapa kebutuhan Andrea. Beberapa kali Frans terlihat menggandeng tangan Andrea sebentar untuk mengarahkannya masuk ke beberapa boutique. Frans memilihkan beberapa baju dan meminta Andrea mencobanya. Awalnya Andrea menolak jika Frans membelikannya, namun Frans bersikeras.


Mereka berkeliling sampai kelelahan dan kelaparan. Frans membawa Andrea ke sebuah restaurant dan memutuskan untuk makan dan beristirahat di tempat itu, sambil menunggu Jericho.


“Oya, apakah kau sudah memiliki evening gown untuk kau kenakan di konser J nanti?” Frans bertanya kepada Andrea.


“Belum, aku mungkin akan mencarinya besok,” jawab Andrea.


“Kenapa harus tunggu besok? Setelah menonton nanti, aku akan menemanimu berbelanja lagi. Carilah gaun yang cocok untuk kau kenakan di konser J. Kau harus tampil maksimal, kau bintangnya Elaine,” imbuh Frans kepada Andrea.


“Baiklah Frans, tapi ijinkan aku membayar sendiri gaunku kali ini.” Andrea memaksa.


“Kita lihat nanti. Sekarang, mari kita makan,” jawab Frans kepada Andrea.


-----------


*Beberapa jam kemudian*


Seorang laki-laki tampan bermata hijau berjalan masuk ke sebuah mall. Di belakangnya terlihat satu manusia lagi yang terus mengikutinya dari tadi. Jericho dan Andrew kini telah berdiri di depan Bioskop. Jericho sudah memesan tiket secara on-line. Ia hanya tinggal mencetak tiketnya di sebuah counter.


Tidak lama kemudian terlihat Andrea dan Frans berjalan memasuki area bioskop. Frans yang melihat Jerichopun mengajak Andrea menghampiri Jericho.


“Mana Andrew?” Frans bertanya kepada Jericho.


“Membeli snack dan minuman untuk kita.” Jericho menunjuk ke arah Andrew berdiri.


“Kau mau apa, Elaine?” Frans bertanya kepada Andrea.


“Tidak usah. Aku menyuruh Andrew membeli makanan untuk kita semua. Aku juga sudah memesan caramel popcorn untukmu Andrea," jawab Jericho sambil tersenyum kepada Andrea.


“Dari mana kau tahu Elaine suka caramel popcorn? ” Frans bertanya dengan nada curiga.


“Aku bukan baru mengenal dia kemarin, Frans.” Jericho menjawab dengan santai.


Andrew yang telah mendapat pesanannya itu pun berjalan mendekati Frans, Andrea, dan Jericho. Tidak lama kemudian pintu masuk studio tempat pemutaran film pun terbuka.


Semua penonton segera masuk ke dalam. Cukup banyak yang menonton kali ini. Mereka masuk dengan berdesak-desakan.


Dari arah belakang, seseorang yang tak dikenal tiba-tiba menyerobot masuk mengejar rombongannya. Orang itu menabrak Andrea yang seketika langsung kehilangan keseimbangan. Andrea terjatuh dan menindih tubuh seseorang, tidak ada jarak lagi di antara mereka.


Brukkkk……..


-------------------


Hai semua… Seperti biasa, saya tidak jenuh-jenuh mengingatkan. Jangan lupa vote, like, comments, dan rate ya! Dukungan kalian itu mood booster untuk saya! Thank’s buat yang sudah support saya selama ini.