
Hari ini adalah hari pertama, di mana Andrea akan mengikuti serangkaian acara lomba menulis puisi, yang seharusnya menjadi tujuan utamanya pergi ke Amerika. Gadis itu tengah bersiap-siap di kamar barunya.
Sebuah kamar minimalis, yang terletak di dalam sebuah asrama milik salah satu kampus populer di New York, yang telah disiapkan oleh panitia untuk seluruh peserta lomba dari berbagai negara. Asrama itu dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas canggih, modern, serta lengkap, yang tentu menunjang kegiatan mereka selama dua minggu di sana.
Saat ini, Andrea terlihat sangat sibuk membereskan barang-barangnya. Ia mencoba mengubah posisi furniture yang ada di dalam kamar. Ia berusaha membuat dirinya senyaman mungkin, agar tidak ada yang menghalanginya untuk mendapat inspirasi menulis.
“Halo, perkenalkan! Aku Jennifer Edmunds, ketua panitia acara ini,” ucap seorang gadis cantik yang tengah berdiri di muka pintu, dengan rambut kepangnya yang menjuntai hingga batas pinggang.
“Halo, aku Andrea Williams. Aku dari London. Senang berkenalan denganmu,” balas Andrea dengan senyuman manisnya.
“Buatlah dirimu merasa nyaman. Jika ada sesuatu yang kau butuhkan dan bila ada yang ingin kau tanyakan, jangan sungkan menghubungi panitia." Jennifer menjelaskan kepada Andrea dengan ramah.
"Tentu, aku tidak akan sungkan," balas Andrea.
"Baiklah, kalau begitu! Lanjutkan kegiatanmu! Aku akan menyapa yang lain,” ucap Jennifer seraya tersenyum kepada Andrea dan segera beranjak pergi.
“Terima kasih!” Andrea mengeraskan sedikit suaranya saat melihat Jennifer sudah melenggang ke kamar yang lain.
Andrea masih melanjutkan kegiatan merapikan barang-barangnya. Foto-foto bersama dengan Frans digantung sebagai hiasan di kamarnya. Gadis itu tersenyum saat mengingat betapa bahagianya ia pada saat itu, hingga akhirnya sesuatu mengganggu pikirannya. Ia sekejap mengingat sesuatu.
“Dimana foto itu? Sepertinya aku menaruhnya di dalam tas. Kenapa sekarang tidak ada?” Andrea berbicara sendiri di dalam kamar.
“Aduh…. Apa jangan-jangan tertinggal atau jatuh di apartment Jericho? Aduuuhh… Apa yang ada dipikiran laki-laki itu nanti, kalau sampai dia tahu bahwa aku diam-diam mengambil fotonya?” Andrea membongkar kembali isi tasnya dengan cemas.
Ia mengeluarkan seluruh isi tasnya.
“Apa aku harus menanyakan pada Jericho? Tidak! Tidak boleh! Dia pasti curiga. Ah, sudahlah mungkin itu suatu pertanda bahwa aku tidak boleh menyimpan kenangan apapun tentangnya,” ucap Andrea lagi sambil merapikan semua barangnya dan mengembalikan posisinya seperti semula.
--------------
Di dalam sebuah Recital Hall, seorang laki-laki bermata biru langit sedang memegang sebuah foto. Sebuah foto yang ia temukan terjatuh, saat berada di dalam bianglala bersama kekasihnya. Foto yang memperlihatkan punggung seorang laki-laki, sedang memainkan biola di atas sebuah bukit, diterangi cahaya lampu kota yang ada di bawah bukit itu. Meski wajah laki-laki itu tidak terlihat, tetapi dari perawakannya, Frans bisa mengetahui dengan pasti, siapa laki-laki yang digambarkan di dalam foto itu.
“Jericho dan Elaine, kenapa harus mereka berdua?” Frans bergumam di dalam hatinya sambil menghela nafasnya dengan kasar.
Frans sangat menyadari posisinya saat ini. Ia adalah satu-satunya orang yang paling tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka bertiga berdiri dalam sebuah lingkaran permainan cinta yang rumit. Frans menyadari bahwa baik Andrea maupun Jericho, sebenarnya saling mencintai. Mereka hanya tidak memiliki kesempatan untuk menyatakan cintanya, karena tenggelam dalam dugaan-dugaan tak berdasar, yang mereka bangun sendiri.
Sementara itu, Frans menjadi yang paling beruntung di sini. Frans mencoba menawarkan cintanya, saat gadis itu mulai putus asa dan ingin melupakan laki-laki yang menjadi cinta pertamanya.
“Elaine, jika kamu tahu bahwa Jericho sebenarnya sudah mencintaimu sekarang, apakah kamu masih akan menerimaku dan terus berada di sisiku?” Frans masih berbicara dalam hati sambil memijit keningnya. Ia benar-benar takut kehilangan cintanya.
Frans memang sudah mengatakan bahwa sampai kapanpun, ia tidak akan pernah melepaskan Andrea. Tetapi tetap saja, ia takut jika suatu saat nanti, cinta Jericho dan Andrea yang akan menemukan peluangnya sendiri untuk menyatukan keduanya.
“Aku tahu ini jahat, aku tidak seharusnya seperti ini. Aku sebenarnya bisa membantu mereka.” Sisi lain dari Frans berbicara di dalam hatinya.
“Elaine sendiri sudah mengatakan bahwa ia mencintaimu, meski perasaan itu belum besar. Bodoh jika kau melewatkan kesempatanmu dengan menceritakan yang sebenarnya.” Suara hati yang lain mendebat.
“Bukankah kau bilang bahwa kau mencintainya dengan tulus? Kau bahkan mengatakan bahwa kau tidak perlu mendapat balasan yang setimpal atas cinta yang kau berikan? Apa yang kau lakukan sekarang?” Suara yang satu lagi memberi pertimbangan di dalam hati.
“Gadis itu sendiri yang ingin melupakan cinta pertamanya. Kau tidak pernah memaksanya, ingat itu! Kau hanya memanfaatkan peluang yang diberikan kepadamu.” Pergolakan batin itu terus berlanjut.
“Frans! Ada apa denganmu?” Tiba-tiba suara yang cukup familiar di telinga Frans menyapanya.
“Jericho! Apa yang kau lakukan di sini, J?” Frans menatap heran keberadaan Jericho.
“Aku hanya ingin menyapamu, Frans. Kebetulan aku ada sedikit urusan di dekat sini. Aku berpikir, tidak ada salahnya jika aku mengintip sejauh mana persiapanmu,” kata Jericho dengan nada santai.
Frans hanya mengangguk. Laki-laki itu masih belum sepenuhnya fokus, karena pikiran-pikiran tentang Jericho dan Andrea yang ternyata saling mencintai terus membayanginya.
“Sepertinya kau nampak tidak baik. Apa ada masalah, Frans?” Jericho sedikit penasaran karena tidak biasanya Frans menunjukkan ekspresi seperti yang dia tunjukkan saat ini.
“Aku hanya sedikit gugup. Waktuku hanya tinggal dua minggu lagi. Aku sedang memikirkan jangan sampai ada hal yang terlewat dan berakibat fatal. Aku hanya ingin agar acara lamaranku sempurna, J.” Frans memberi penekanan saat menyebutkan kata lamaran.
“Aku bisa mengerti apa yang kau khawatirkan, Frans. Oh ya, bagaimana kabar Andrea?” Jericho mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin terlalu banyak membahas perihal lamaran itu.
“Elaine bahagia bersamaku. Sekarang dia sudah tinggal di asrama dan sedang mempersiapkan semua yang dibutuhkan untuk lomba.” Frans menatap tajam mata hijau Jericho. Sejujurnya, Frans tidak suka ketika Jericho menanyakan kekasihnya.
“Aku ikut senang, semoga dia berhasil. Dia gadis yang berbakat,” puji Jericho.
“J, apakah kau akan hadir pada saat konser lamaranku nanti?” Sekarang Frans yang mengalihkan pembicaraan.
“Aku akan datang, Frans. Lagi pula, aku harus memastikan sesuatu di sana.” Jericho tersenyum simpul.
“Apa kau berpikir bahwa masih ada kemungkinan bahwa Elaine akan menolak lamaranku?” Frans bertanya dengan nada tidak suka setelah mendengar perkataan Jericho.
“Memang itu yang ingin kupastikan.” Jericho membalikkan badannya hendak pergi meninggalkan Frans.
“Elaine akan menerimaku. Camkan itu, Mr. Laurent!” Frans memberikan penegasan.
Jericho menghentikan langkahnya sejenak namun ia tetap berdiri membelakangi Frans dan berkata, "Entahlah, Mr. Moreno! Kadang kala aku merasa bahwa ada sesuatu yang membuatku selalu terhubung dengan Andrea. Bahkan kehadiranmu tidak cukup kuat untuk memutuskan hubungan itu.”
Frans mengepalkan kedua tangannya. Ia merasakan dadanya bergemuruh mendengar perkataan Jericho.
“Jika sesuatu itu adalah cinta, maka kau atau siapapun tidak akan bisa menghentikannya. Kami mungkin bisa terpisah karena kebodohan kami. Kami juga bisa tersesat dalam pikiran-pikiran naif kami. Tetapi….. Cinta akan selalu menemukan jalannya. Cinta akan membawa kami pulang.” Jericho melanjutkan langkahnya.
“Bukankah kau pernah mengatakan padaku sebelumnya, bahwa kau tidak percaya cinta? Ada apa denganmu Mr. Laurent?” Frans berbicara dengan nada setengah mengejek untuk menutupi bahwa sesungguhnya hati kecilnya membenarkan ucapan Jericho.
“Kau benar. Itu dulu. Kau tahu kenapa? Karena dulu bukan Andrea yang mengisi hatiku. Jadi jika kau bertanya alasan perubahanku, Andrea adalah alasannya.” Jericho benar-benar meninggalkan Frans sendiri yang seketika mematung mendengar ucapannya.
“Aaaarrrggghhhh! Siaaall!” Frans masih tidak percaya bahwa Jericho benar-benar berubah sekarang. Andrea benar-benar memberikan pengaruh yang besar dalam hidup Jericho.
Setelah pembicaraan itu, Frans kini menjadi semakin egois. Ia justru semakin mengeraskan kemauannya untuk memiliki Andrea.
Laki-laki itu tidak mungkin menyerah sekarang, hanya karena mengetahui bahwa mereka berdua saling mencintai. Ya, Andrea dan Jericho memang saling mencintai, tetapi keduanya tidak saling menyadari. Bukankah itu suatu keuntungan bagi Frans?
-------------
Jangan lupa beri Feedback! Selamat membaca!