
*Satu setengah tahun kemudian: London, Inggris*
Mencintai merupakan hal terindah yang pernah ada di dunia. Merasakan seseorang memberikan hatinya dengan penuh ketulusan, mengetahui bahwa dia memuja segala hal yang melekat dalam diri pasangannya, mendampingi dalam suka dan duka, menerima segala kekurangan dan kelebihan yang ada, merupakan hal termanis dalam berbagai kisah asmara yang mewarnai kehidupan.
Ada sebuah pepatah berbunyi demikian, ‘cinta tumbuh karena telah terbiasa’. Itu sesungguhnya bukan hanya tentang durasi pertemuan yang terlampau sering dilakukan atau tentang banyaknya kebahagiaan yang diterima hampir setiap hari, tetapi lebih kepada kualitas kehadiran yang terbalut dalam sebuah kesadaran untuk lebih banyak memberi daripada menerima.
Satu setengah tahun telah berlalu, sejak Frans melamar Andrea di Amerika. Kala itu, Andrea menerima lamaran Frans, meski hatinya belum yakin dengan perasaannya terhadap laki-laki itu. Penantian dan kesabaran Frans yang mau memberikan waktu kepada Andrea untuk belajar menerima dan merasakan kualitas kehadirannya, kini telah membuahkan cinta dalam diri gadis itu. Andrea sudah mencintai Frans dan sangat bergantung kepadanya. Andrea telah menyadari bahwa Frans begitu berarti.
Kedua keluarga mereka bahkan telah bertemu untuk mempersiapkan segala sesuatunya, karena sebentar lagi mereka akan menikah. Andrea telah memantapkan hati. Ia sudah memercayakan hatinya pada Frans Moreno, laki-laki bermata biru langit itu. Mereka berdua telah sepakat untuk segera mengikatkan diri satu sama lain, mengucapkan janji suci sehidup-semati, di hadapan Tuhan dan semua orang yang mereka kasihi.
“An, Jam berapa kamu ke boutique?” Marry bertanya kepada anak perempuannya.
“Hari ini bukan jadwalku ke boutique, mom. Besok baru aku dan Frans ke sana,” jawab Andrea kepada ibunya.
“Tapi tadi waktu mommy tidak sengaja berpapasan dengan Frans, dia bilang akan ke rumah untuk jemput kamu,” balas Marry.
“Iya, mom. Jadi, Jam tiga sore nanti, Frans akan menjemputku untuk memilih souvenir pernikahan kita.” Andrea menjelaskan kepada ibunya.
“Mommy kira kamu akan mencoba gaunmu hari ini. Sebenarnya, mommy ingin ikut. Sudah lama mommy memimpikan melihatmu mengenakan gaun pengantin dan berdiri di depan Altar. Mommy hanya ingin membantumu mendapatkan gaun terbaik,” kata Marry sambil menitikkan air matanya.
“Mom, come on. Don’t cry mom. Tidak boleh ada air mata, bukankah saat-saat seperti ini adalah saat yang paling membahagiakan. No more tears! ” Andrea mendekap ibunya. Mereka berdua saling memeluk sekarang.
“I know honey. Ini air mata bahagia, bukan air mata kesedihan, sayang.” Wanita berusia setengah abad itu pun menyeka air matanya.
“Aku janji mom, besok kita pergi bersama. Mommy harus membantuku menemukan gaunnya.” Andrea tersenyum sambil menyeka air matanya yang juga ikut keluar, saat melihat ibunya menangis.
-----------------
*Amsterdam, Belanda.*
“Goedemorgen, Jericho!” Seorang laki-laki berkacamata menyapa dari dalam mobil mengucapkan selamat pagi.
“Hallo, Pieter! Lama tidak berjumpa denganmu. Kapan kamu tiba di kota ini?” Jericho bertanya kepada laki-laki itu.
“Tadi malam. Aku masih sedikit jet lag sekarang.” Pieter menekan keningnya dengan kedua jarinya.
“Kenapa tidak mengistirahatkan diri?” Jericho bertanya.
“Aku terburu-buru. Aku membutuhkan sebuah gitar untuk persiapan panggungku. Aku tahu tokomu belum buka, maka dari itu aku terpaksa harus menyeret pemiliknya dan memaksa dia membuka toko itu sekarang.” Pieter melipat tangannya di depan dadanya.
“Baiklah! Tapi setelah kau mendapatkan maumu, kau harus menemaniku minum kopi,” desak Jericho kepada kawannya.
“Geen probleem, vriend! Aku rasa, aku juga membutuhkan secangkir kopi,” balas Pieter menyetujui tawaran Jericho.
------------
Setelah menyelesaikan studi manajemen dan musiknya, Jericho memilih untuk meninggalkan Amerika dan tidak kembali ke London. Laki-laki itu ingin mencari suasana baru, sekaligus ingin membuktikan bahwa Andrea keliru, jika menganggap Jericho bisa melupakannya saat mereka tidak lagi bertemu. Ia ingin menguji dirinya sendiri, sejauh mana perasaan itu bisa bertahan tanpa adanya pertemuan.
Jericho memang banyak berubah sekarang. Sikapnya sangat dingin terhadap wanita. Jericho tidak menginginkan wanita lain menggantikan posisi Andrea yang telah mengakar kuat di dalam jiwanya. Banyak wanita mendekatinya, tetapi ia selalu menolak dan mengatakan bahwa ia sudah memiliki kekasih.
Orang tua Jericho sebenarnya menginginkan anak laki-lakinya untuk pulang dan merintis usaha di London, tetapi Jericho bersikeras untuk memilih jalannya sendiri. Jericho pergi ke Amsterdam, Belanda dan memulai kariernya di sana.
Ia adalah seorang composer dan arranger yang cukup dikagumi di negeri itu. Jericho juga memiliki sebuah toko yang menjual berbagai jenis alat musik custom dengan kualitas terbaik, made by hand, sebagai usaha sampingannya.
“Aku suka yang ini, bentuknya unik.” Pieter menunjuk sebuah gitar elektrik berwarna hitam.
“Pilihan yang bagus, kawan. Aku mengenal dekat si pembuat gitar itu. Gitar-gitarnya selalu unik dan sempurna. Cobalah dulu! ” Jericho menyerahkan gitar itu kepada Pieter.
“Sorry, ada telpon. Aku harus mengangkatnya. Silakan melihat-lihat lagi.” Jericho pergi ke ruang kerjanya untuk mengangkat telpon dari seseorang.
📞‘Halo, dad! ’ (Jericho)
📞‘Bagaimana keadaanmu? Kakakmu, Luther baru saja tiba dari Jepang. Kami semua merindukanmu, son.’ (David Laurent)
📞‘Aku baik, dad. Bagaimana kabar kalian di London?’ (Jericho)
📞‘Tidak ada yang istimewa. Aku dan ibumu bertambah tua. Kau sendiri bagaimana? Bisakah pulang dalam waktu dekat ini?’ (David Laurent)
📞‘Aku belum tahu, dad. Aku cukup sibuk sekarang. Nanti, jika aku akan pulang, aku pasti memberi kabar.’ (Jericho)
📞‘Undangan, apa?’ (Jericho)
📞‘Kau ingat Andrea, gadis yang dulu menjadi partner lombamu? Dia akan menikah dengan Frans Moreno, seorang Pianist terkenal yang sering konser di berbagai negara. Apa kau tidak berniat untuk menghadiri acaranya?’ (David Laurent)
📞‘………………….’ (Jericho)
📞‘Halo, son! Kau masih di situ?’ (David Laurent)
📞‘Sorry daddy. Kapan acaranya?’ (Jericho)
📞‘Dua minggu lagi. Apakah kau tidak berniat hadir? Bukankah dulu kalian cukup dekat?’ (David Laurent)
📞‘Aku tidak tahu, dad. Bisakah daddy membantuku untuk scan dan email-kan undangannya?’ (Jericho)
📞‘Baiklah! Nanti aku akan mengirimkan padamu via email ' (David Laurent)
📞‘Dad, aku harus menutup telponnya. Ada seseorang yang menungguku.’ (Jericho)
📞‘Baiklah, Jaga dirimu baik-baik, son! Jangan lupa kabari kami, jika kau mau pulang!’ (David Laurent)
📞‘Pasti daddy. Salam untuk mommy dan Luther.’ (Jericho)
Jericho menutup telpon dan langsung terduduk lemas di kursinya. Ia tidak percaya dengan berita yang baru saja ia dengar. Ternyata selama ini, ia salah mengira perasaan Andrea. Jericho terlalu percaya diri dengan pemikirannya bahwa Andrea hanya berpura-pura mencintai Frans dan menerima Frans karena tidak ingin menyakiti dan mempermalukan laki-laki itu, dengan menolaknya di depan umum.
Jericho berpikir bahwa dengan menjauhi Andrea, gadis itu akan sadar tentang perasaannya yang sesungguhnya. Jericho menyesal tidak mengejar Andrea. Dia sangat kecewa dengan dirinya sendiri.
--------------
*London, Inggris*
“Sayang, aku rasa yang ini lebih bagus,” ucap Andrea seraya menunjuk sebuah cindera mata dari kaca berbentuk sebuah music sheets.
“Kamu menyukai itu? Kalau begitu kita ambil yang itu,” jawab Frans menyetujui pilihan kekasihnya.
“Kamu jangan hanya menuruti kemauanku. Kamu harus ikut memilih. Aku tidak menikah dengan diriku sendiri.” Andrea merasa kesal karena Frans tidak pernah menolak semua pilihan Andrea.
“Aku memang diciptakan untuk memenuhi semua harapan dan keinginanmu, sayang.” Frans memegang pundak Andrea.
“Kamu ini. Bagaimana jika aku meminta neraka, apakah kamu menurutinya juga?” Andrea mengerucutkan bibirnya.
“Selama kamu bahagia, aku rela menjadi iblisnya.” Frans membisikkan kalimat itu di telinga Andrea. Andrea hanya menggelengkan kepala.
Mereka telah selesai memilih souvenir pernikahan mereka. Setelah itu, Frans mengarahkan kemudinya pada sebuah restaurant dan mengajak Andrea makan malam. Mereka menikmati makan malam itu dan menyelesaikannya dengan cepat.
“Kamu menyukai makan malammu?” Frans bertanya saat melihat Andrea menandaskan makanannya tanpa sisa.
“Ini enak. Mana mungkin aku tidak menyukainya?” Andrea tersenyum kepada kekasihnya.
“Elaine, sebentar lagi kita akan menikah. Aku tidak mau ada yang kita tutupi. Apakah ada sesuatu yang ingin kamu katakan padaku?” Frans memegang tangan Andrea.
"Apakah ada masalah? kenapa begitu tiba-tiba menanyakan hal ini?" Andrea merasa ada yang tidak beres.
Frans menggelengkan kepalanya seraya berkata, "Tidak. Entahlah, aku rasa hal itu tiba-tiba muncul di benakku dan tidak ada salahnya jika kita saling terbuka sebelum mengikat janji nanti."
Gadis itu terlihat memikirkan sesuatu. Ia mencoba menelaah hatinya. Ia menyelidik dan menemukan sebuah rahasia yang belum pernah ia katakan kepada calon suaminya.
“Frans, apakah kamu berjanji tidak akan marah?” Andrea melihat Frans ragu-ragu.
“Aku tidak bisa marah padamu, kau tahu itu.” Frans mengusap tangan Andrea
“Frans, sebenarnya aku……..” Andrea menjeda ucapannya.
------------------
Halo readers! Selamat membaca dan jangan lupa feedback-nya!