More Than Words

More Than Words
Matchmaking Plan



*Tiga puluh hari kemudian: London, Inggris*


Seorang wanita paruh baya sedang duduk di sebuah café, sambil memandang orang-orang berlalu-lalang di sekitarnya. Sudah lima belas menit perempuan paruh baya itu duduk tanpa memesan apapun. Sepertinya ia memutuskan akan memesan, setelah orang yang ditunggunya tiba.


Sayangnya, hingga kini belum ada tanda-tanda kehadiran dari orang itu. Beberapa kali wanita itu menatap jam yang menempel di tangannya, hingga akhirnya seseorang yang dikenal muncul sambil menunjukkan raut wajah bersalah.


“Veronica, maaf membuatmu menunggu lama,” ucap seorang wanita lain yang usianya seumuran dengannya.


“Tak apa, Ane. Aku adalah orang yang paling sabar di dunia ini, apakah kau lupa?” Wanita yang bernama Veronica itu menjawab kawannya sambil tersenyum lembut.


“Jadi, apa kau sudah memesan sesuatu?” Ane bertanya sambil melihat buku menu yang sudah ada di hadapannya.


“Belum, aku menunggumu,” balas Veronica singkat.


Mereka berdua memanggil pelayan café dan menyebutkan menu yang hendak dipesannya. Sepuluh menit kemudian pelayan itu mengantarkan pesanan mereka. Kedua wanita itu makan sambil berbincang ringan.


“Bagaimana kabar suami dan anak-anakmu?” Ane bertanya kepada Veronica sambil menyuapkan mie ke dalam mulutnya.


“Suamiku sangat baik, begitu juga dengan anak-anakku. Mereka berdua memutuskan untuk berkarier di luar negeri,” jawab Veronica sambil menikmati makanannya.


“Wah, itu berarti rumahmu menjadi sangat sepi sekarang,” kata Ane sambil membayangkan kondisi rumah besar kawannya yang hanya di huni oleh dua orang manusia.


“Seperti itulah hidupku sekarang. Bagaimana denganmu? Suamimu sehat kan?” Veronica melemparkan pertanyaan yang sama.


“Dia sehat,” ucap Ane sambil tersenyum.


“Lalu bagaimana dengan putrimu?” Veronica melanjutkan pertanyaannya.


“Usia-usia seperti kita ini, pasti akan mengalami sindrom sarang kosong. Itu akan dialami semua orang tua seusia kita, termasuk orang tua yang anaknya masih tinggal satu atap dengannya,” ucap Ane sambil menyesap minumannya.


“Kau benar! Di kota ini, orang tua hanya memiliki anaknya sampai usia 17 tahun. Lebih dari itu, sekalipun ia masih tinggal di rumahmu, kamu akan jarang bertemu dengan mereka,” balas Veronica.


“Apakah anak-anakmu sudah menikah?” Ane bertanya penasaran.


“Si sulung sudah mempunyai kekasih dan aku dengar ia akan serius dengan kekasihnya itu. Sementara si bungsu sepertinya belum, karena itulah aku mengundangmu ke sini,” ucap Veronica sambil membayangkan wajah anak bungsunya.


“Ah, jadi maksudmu mengundangku tiba-tiba adalah karena kamu ingin menjodohkan anak-anak kita?” Ane langsung paham dengan arah pembicaraan kawannya.


“Apakah kamu keberatan? Anak-anak kita pernah memiliki masa lalu bersama. Aku yakin mereka akan mudah menyesuaikan diri kembali,” desak Veronica kepada Ane dengan menyebutkan sebuah alasan logis yang sulit terbantahkan.


“Apa kau pikir mereka akan mau menerima perjodohan ini?” Ane belum sepenuhnya yakin dengan ide kawannya itu.


“Kita coba dulu baru menilai, bagaimana?” Veronica masih mencoba meyakinkan Ane.


“Baiklah, kalo begitu. Mungkin kita harus mengatur waktu agar keduanya bisa bertemu,” Ane melahap kembali makanannya.


------------------------------


* Amsterdam, Belanda*


Sore itu, seorang laki-laki bermata hijau sedang berdiri di dalam sebuah gedung bulat yang dikelilingi oleh kaca, sehingga siapapun yang berada di dalam gedung itu, tetap bisa menikmati pemandangan kota yang indah dari sana. Banyak artis bersama manajernya juga terlihat berlalu-lalang di dalam gedung itu.


Seperti janji yang sudah dibuat sebelumnya, laki-laki itu akan menandatangani kontrak dengan salah satu perusahaan rekaman terbesar di kota Amsterdam. Beberapa karyanya disukai dan akan segera digunakan oleh perusahaan rekaman itu.


Saat ini, laki-laki itu diminta untuk menunggu sejenak, sebab ada beberapa klausal di dalam kontrak yang perlu mendapat perbaikan. Cukup lama ia menunggu sambil melamun, hingga kesadarannya tergelitik oleh bunyi yang keluar dari ponsel miliknya.


📞‘Halo!’ (Jericho)


📞‘Son, apa kabar?’ (Mrs. Veronica Laurent)


📞‘Mommy? ’ (Jericho)


📞‘I miss you.’ (Mrs. Veronica Laurent)


📞‘So, do I, mom.’ (Jericho)


📞‘Kapan kamu akan pulang?’ (Mrs. Veronica Laurent)


📞‘What’s wrong with you and dad? Apakah kita tidak bisa membicarakan hal yang lain?’ (Jericho)


📞‘Mom, aku belum bisa pulang sekarang. Aku sangat sibuk. Aku pasti akan menyempatkan diri untuk pulang, tetapi bukan dalam waktu dekat ini.’ (Jericho)


📞‘Jawaban yang sama dari tahun ke tahun. Lalu apakah kamu sudah punya kekasih?’ (Mrs. Veronica Laurent)


📞‘Pertanyaan yang sama dari tahun ke tahun.’ (Jericho)


📞‘Sampai kapan kamu akan seperti ini? Luther saja sudah memiliki kekasih. Dia bahkan sangat serius dengan kekasihnya. Umurmu sudah tidak muda lagi, J.’ (Mrs. Veronica Laurent)


📞‘Bukankah itu wajar? Luther adalah kakakku. Aku akan memikirkan itu setelah dia menikah.'(Jericho)


📞‘Son, kamu masih normal kan? ’ (Mrs. Veronica Laurent)


📞‘Maksud mommy?’ (Jericho)


📞‘Kamu masih suka dengan perempuan kan?’ (Mrs. Veronica Laurent)


📞‘Tentu saja, mommy! Aku masih menyukai perempuan. Jangan berpikir yang tidak-tidak hanya karena aku belum memiliki kekasih.’ (Jericho)


📞‘Syukurlah kalau begitu, karena mommy bermaksud untuk menjodohkanmu dengan anak teman mommy.’ (Mrs. Veronica Laurent)


📞‘Mom! Please! Ini sudah melanggar privasiku. Biarkan aku menentukan jodohku sendiri!’ (Jericho)


📞‘Daddy sudah pernah mengatakannya kepadamu kan? Jika kamu masih belum membawa seorang perempuan untuk dikenalkan kepada kami, maka kami yang akan mencarikannya untukmu.’ (Mrs. Veronica Laurent)


📞‘Mom, mengertilah! Aku pasti akan membawa seorang perempuan untuk menjadi menantumu tetapi tidak sekarang.’ (Jericho)


📞‘Batas waktumu sudah habis Jericho Marthen Laurent! Lagi pula apa salahnya dengan perjodohan? Jangan khawatir, sebenarnya kamu sudah mengenal anak teman mommy itu. Kalian pernah memiliki masa lalu bersama. Kalian pernah satu sekolah.’ (Mrs. Veronica Laurent)


📞‘Siapa?’ (Jericho)


📞‘Pulanglah! Kita akan mengatur waktu bagi kalian untuk bertemu.’ (Mrs. Veronica Laurent)


📞‘Mommy! Please, jangan seperti ini!' (Jericho)


📞‘Aku harus pergi sekarang, daddy-mu memanggilku. Aku harap saat aku menghubungimu lagi, kamu sudah bisa menjawab kapan kamu akan pulang.’ (Mrs. Veronica Laurent)


Veronica langsung memutus pembicaraan mereka. Sementara, Jericho semakin gelisah. Ancaman orang tuanya tidak boleh diabaikan. Kedua orang tuanya itu sangat kompak untuk mencarikan pasangan hidup baginya.


Laki-laki itu tidak dalam suasana hati yang baik sekarang. Rasanya ia ingin melampiaskan kekesalannya dengan melempar barang-barang yang ada di sekelilingnya. Namun, hal itu tidak mungkin dilakukannya, sebab ia sedang berada di sebuah gedung milik orang lain.


“Mr. Laurent, mari ikutlah saya!” Salah satu karyawan di perusahaan rekaman itu memanggilnya untuk masuk ke dalam sebuah ruangan.


Jericho berusaha untuk sejenak melupakan percakapannya dengan ibunya dan memilih fokus menyelesaikan bisnisnya. Laki-laki itu harus kembali ke Amerika besok. Segala urusan harus ia selesaikan hari ini.


“Silakan duduk!” Karyawan itu menunjuk sebuah kursi yang ada di depannya.


“Terima kasih,” kata Jericho.


“Klausulnya sudah kami perbaiki. Silakan anda baca kembali! Berikan paraf di setiap lembar dan tanda tangan yang asli di tempat yang bermeterai!” Karyawan itu menunjukkan tempat yang harus ditanda-tangani.


Jericho melakukan seperti yang diminta. Ia membaca kontrak itu dengan sangat hati-hati dan langsung membubuhkan tanda tangannya, saat ia merasa telah setuju dengan setiap klausul yang tertera di sana.


“Terima kasih banyak, Mr. Laurent. Senang bekerja sama dengan anda!” Karyawan itu menyodorkan tangannya. Mereka berdua berjabat tangan.


---------------


Saat ini Jericho sudah berada di dalam mobilnya. Ia memacu mobilnya dengan kecepatan rendah karena rupanya ia cukup sulit berkonsentrasi, akibat percakapan terakhirnya dengan ibu yang melahirkannya itu.


Jericho tidak menyukai perjodohan, apapun alasannya. Namun, ia tahu bahwa kedua orang tuanya bukanlah manusia yang mudah ditaklukan. Titah mereka seperti hukum yang tidak bisa ditawar.


Jericho merasa tidak tenang memikirkan hal itu, ditambah lagi ia mendengar bahwa ia mengenal wanita yang akan dijodohkan dengannya itu. Secara spesifik, ibunya juga menyebutkan bahwa mereka memiliki masa lalu bersama. Rasa penasaran itu semakin menghantui pikirannya.


“Jangan-jangan wanita itu adalah........” Jericho berucap di dalam hati.


------------------------


Selamat membaca, Jangan lupa vote, like, comment, dan rate ya guys!