More Than Words

More Than Words
Problem Solved!



 


\-\-Andrea's PoV \-\-


 


Aku sungguh tidak menduga bahwa sahabat Frans adalah laki-laki pertama dalam hidupku. Laki-laki yang kepadanya ku berikan seluruh hatiku. Laki-laki yang hanya bisa aku pandang dari jauh, tanpa bisa memilikinya.


Hingga kini, aku sangat mencintainya. Cintaku tidak berkurang padanya. Bertahun-tahun, aku mencoba menyibukkan diriku dengan berbagai kegiatan, namun tetap saja. Saat kesepian itu datang menghampiriku, aku tidak bisa menahan diri. Aku masih suka menangis sambil memikirkannya.


“Oh, my goodness. Is that you? ” Jericho berucap sambil menatapku seakan tak percaya.


Aku sedikit merasa senang saat dia berkata seolah mengenaliku. Ternyata Jericho tidak melupakanku, seperti aku yang tidak pernah melupakannya.


Aku masih diam, tidak menjawab. Aku hanya ingin memastikan kembali, sampai dia menyebutkan namaku. Jika dia bisa menyebutkan namaku, barulah aku percaya bahwa dia benar-benar mengingatku.


“Andrea, right? Andrea…. Oh, God. I can’t believe it. Andrea, it’s me. Jericho. J,” katanya lagi kepadaku.


“Halo, J. I remember you.” Aku mencoba untuk berucap sambil tersenyum kepadanya.


Tidak terprediksi olehku, Jericho langsung menghampiriku begitu aku menjawabnya. Dia meletakkan kedua tangannya di atas pundakku sambil menatapku sejenak. Aku tidak bisa mengartikan makna tatapan matanya. Terlalu banyak jenis perasaan di sana.


Tiba-tiba, dia langsung mendekapku dengan erat. Aku sangat terkejut, hingga tubuhku membeku. Tanganku masih pada posisi yang sama. Aku tidak membalas pelukannya. Berbeda dengan dia yang semakin lama, semakin erat memelukku. Hingga kuputuskan untuk mengelus punggungnya sebentar dan dia pun melepaskan pelukannya.


Aku sungguh tidak percaya dia memelukku. Ini adalah pelukan pertamaku dengannya. Tuhan seperti mengobati rasa rinduku dengan menggerakkannya untuk memelukku.


Jika boleh jujur, sebenarnya aku tidak siap dengan pertemuan ini. Beberapa kali air mata rindu ini ku tahan. Aku takut jika tiba-tiba air mataku keluar dan tidak bisa ku kendalikan. Aku berusaha menutupinya dengan senyuman.


Setelah dia melepas pelukannya, dia masih memegang tanganku dan membawa aku untuk duduk di sebelahnya. Tidak lama kemudian, aku mendengar Frans mengucapkan sesuatu.


“Ehm…. Tuan dan nona. Bisakah kalian menjelaskan kepadaku? Kalian berhutang penjelasan padaku,” pinta Frans kepadaku dan Jericho.


“Frans, dia ini Andrea. Kami satu sekolah saat masih duduk di bangku Senior High. Dia dan aku pernah ber-partner saat mengikuti kompetisi membuat karya ilmiah remaja. Kau selalu menyebutnya dengan nama Elaine. Aku tidak familiar dengan nama itu,” balas Jericho kepada Frans sambil sesekali terus melihat ke arahku.


“Kau tahu Andrea. Kau terlihat…. berbeda. Kemana rambut pendekmu?” Tanya Jericho kepadaku sambil tersenyum menggoda.


“Aku tidak pernah lagi memotong pendek rambutku, J. Apakah model rambut seperti ini terlihat aneh untukku?” Aku bertanya pada Jericho dengan malu-malu.


“Kau bercanda! Kau..... cantik, Andrea. Kau semakin terlihat dewasa. Kau benar-benar…... Kau......” Jericho seperti tidak menemukan kata yang tepat untuk melanjutkan percakapannya.


“Sudah, J. Jangan mulai lagi. Aku sudah bilang, jangan merayunya!” Frans menunjukkan raut wajah tidak suka kepada Jericho.


“Aku tidak merayunya Frans. Apa kau buta? Dia memang…….” Jericho menghentikan lagi perkataannya.


“Ehm…. Halo, nona. Perkenalkan, aku Andrew. Kawan dari dua laki-laki tak tahu diri ini.” Andrew menyorongkan tangannya kepadaku untuk mengajakku berkenalan.


“Andrea. Senang berkenalan denganmu Andrew!” Aku menjawab singkat sambil memberi senyumku pada Andrew dan membalas tangannya. Kami bersalaman.


“Baiklah, tuan-tuan dan nona, sesi perkenalan kita sudah selesai. Sekarang waktunya memesan makanan, sebab aku sangat lapar,” Kata Andrew sambil memegangi perutnya.


Seketika, aku bersyukur atas kehadiran Andrew. Dia bisa memecahkan kekakuan di antara kami bertiga. Kami pun memilih menu, memesannya, dan bersepakat untuk menyelesaikan makan malam ini lebih dulu baru berbicara.


Aku melihat Jericho beberapa kali memandangku saat kami tengah menyantap hidangan. Sementara Frans, kadang dia melihatku, kadang dia melihat Jericho. Hanya Andrew yang bisa makan dengan tenang malam ini. Setelah kami menyelesaikan santapan kami, Frans akhirnya berbicara.


“Elaine, jadi begini. Maksud aku membawamu ke tempat ini adalah supaya Jericho bisa secara langsung meminta bantuan padamu.” Frans berusaha menjelaskan padaku.


“Frans, bolehkah aku meminta waktu berbicara berdua dengan Andrea? Aku akan mengajaknya ke taman di belakang restaurant ini. Aku mohon,” pinta Jericho kepada Frans.


“Aku rasa tidak ada yang rahasia kan J?Kenapa kau harus berbicara berdua?” Frans nampak tidak setuju dengan Jericho.


“Andrea, aku tidak bermaksud apa-apa. Pembicaraan ini terlalu formal. Aku hanya ingin berbicara sebagai seorang kawan lama denganmu. Kau tidak keberatan kan?” Jericho memintaku menyetujui keinginannya.


Aku hanya menganggukkan kepala. Frans terlihat sedikit terkejut, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.


Akhirnya aku pergi mengikuti Jericho ke taman belakang restaurant. Di situ ada sebuah bangku taman yang cukup bagi kami untuk duduk berdua. Lampu taman yang berwarna kuning keemasan menambah kesan romantis malam itu.


“Andrea, aku merindukanmu. Aku tidak percaya, aku bisa melihatmu di sini.” Jericho berbicara dengan senyum yang tak henti-hentinya menghiasi bibirnya.


“Aku juga tidak tahu bahwa kau adalah sahabat Frans," kataku.


Aku terdiam sejenak, kemudian teringat sesuatu.


Saat ini jantungku berdebar dengan kencang. Aku harus segera mengakhiri pembicaraan kami, sebelum aku pingsan. Rasanya kakiku lemas, tanganku sangat dingin. Aku takut, aku akan bereaksi berlebihan.


“An, sebenarnya aku masih ingin melepas rindu denganmu. Tapi mungkin tidak sekarang. Mungkin kita harus mengagendakan makan malam berdua di lain waktu dan membicarakan banyak hal,” tutur Jericho menyampaikan isi pikirannya.


“Jadi, begini An. Aku langsung pada intinya saja. Aku membutuhkan seorang Cellist perempuan untuk memainkan tiga instrumentalia classic yang sudah aku aransemen. Aku telah melakukan audisi terhadap dua puluh orang wanita, tapi tidak ada yang sesuai dengan kriteriaku,” kata Jericho.


“Jadi, kau bermaksud menawariku, J? Apa kau yakin, aku bisa membantumu?” Aku melontarkan pertanyaan singkat kepadanya.


“An, kau benar-benar penuh misteri. Selama kita ber-partner, kau tidak pernah mengatakan padaku bahwa kau seorang Cellist. Jujur, aku memang tidak tahu kemampuan bermusikmu. Tapi aku mengenal Frans. Dia tidak mungkin merekomendasikan orang yang salah,” katanya lagi menjelaskan padaku.


“Banyak hal yang tidak kau ketahui tentang aku, J.” Aku membalas pernyataannya, yang mengatakan bahwa aku penuh misteri dengan suara yang dalam.


“Kau tahu, aku tidak pernah bermain untuk orang banyak. Ini permintaan yang sulit untukku. Apakah benar-benar tidak ada orang lain, J? Jika Cellist perempuan tidak bisa, kenapa kau tidak mencari Cellist laki-laki?” Aku menggunakan logikaku dan bertanya lagi padanya.


“Temaku yang membatasi aku. Temanya adalah ‘Lady in Waiting ’. Aku butuh seorang Cellist perempuan yang akan menjadi jantung dari konserku. Dia harus memiliki aura dan penghayatan yang kuat sehingga seakan-akan dia adalah wanita dalam penantian itu. Aku menginginkan karakter wanita yang lembut, sabar, namun memiliki perasaan yang besar. Menurut Frans, kau memenuhi semua kriteria itu,” jawab Jericho.


Aku tidak percaya saat ia menyebutkan temanya. Aku merasa tema itu mewakili perasaanku selama ini padanya. Perasaan seorang wanita yang menunggu dalam luka dan air mata. Wanita yang kesepian karena kehilangan cintanya. Wanita yang tidak berani mengatakan sejujurnya dan hanya menunggu keajaiban: Jika mungkin, laki-laki itu akan peka dan membalas cintanya.


Aku menarik nafas dalam-dalam, menenangkan diri sejenak, kemudian memberi jawaban padanya.


“Frans terlalu berlebihan. Aku tidak sesempurna itu. Aku hanya menikmati setiap permainanku,” kataku.


“Ehm.. Baiklah, J. Aku akan mengabulkan keinginanmu. Anggap ini hadiah pertemuan kita setelah sekian lama.” Aku menjawabnya dengan segera sambil tersenyum, sehingga kami bisa mengakhiri pembicaraan kami.


Aku sangat mengenal Jericho. Ia tidak mudah menyerah. Percuma beradu argumentasi dengannya. Lebih baik aku menyetujuinya sehingga pembicaraan ini bisa dengan segera diselesaikan.


Jujur, aku sangat gugup saat ini. Hati dan otakku seperti tidak bekerja sama. Aku merasa cemas, malu, rindu, senang, takut, sedih, secara bersamaan. Semakin cepat urusan ini selesai, akan semakin baik.


Jericho yang mendengar aku menyetujui keinginannya langsung memelukku kembali. Aku masih mematung karena terkejut untuk kedua kalinya.


Beberapa saat kemudian, ia melonggarkan pelukannya, lalu tangan kanannya membelai pipiku sebentar, dan kemudian memelukku lagi.


“Terima kasih, An. Kau selalu menjadi malaikat penolongku!” Jericho berucap sambil tersenyum dan memelukku lebih erat.


Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku terharu. Aku tidak lagi bisa menahan air mataku. Aku menangis, namun aku masih berusaha menghentikan tangisku, sehingga air mata ini hanya menetes, tidak sampai berlinang.


Dadaku terasa sesak. Tentu aku akan menjadi malaikat penolongnya. Aku bahkan sudah mencintai dia selama ini. Apapun akan ku lakukan untuk membuat dia bahagia. Dia saja yang bodoh, tidak bisa merasakan cintaku.


Seketika, banyangan masa lalu muncul kembali dalam benakku. Aku pun sadar diri. Aku tahu dia tidak pernah memiliki perasaan lebih padaku. Diam-diam aku menyeka air mata ini. Aku memasang perisai dalam hatiku. Aku tidak boleh terlena, atau aku akan semakin terperosok dalam cinta yang tak berbalas ini.


Aku sudah biasa dengan kondisi ini, menyadari bahwa cintaku bertepuk sebelah tangan. Aku tidak boleh berharap lebih karena sikap-sikap manisnya padaku.


Aku pun memberi alasan terhadap semua sikapnya. Itu hanyalah sebuah kerinduan pada kawan lama. Ya, pada kawan lama.


Kemudian, aku segera melepaskan pelukannya dan mengajak dia untuk kembali ke meja Frans dan Andrew. Aku melihat Frans seperti tidak suka dengan kedekatan kami. kemudian, Jericho pun menceritakan bahwa ia berhasil membujukku.


“ Problem solved! ” Jericho terlihat lega dan senang.


Frans terkejut. Aku bisa memahami itu karena selama ini dia tidak pernah berhasil memintaku tampil di konsernya. Dia hanya menatapku penuh tanya. Aku berpikir, aku akan menjelaskannya di mobil, saat ia mengantarku pulang.


-----------


“Frans, apakah kau tidak ingin menanyakan alasanku?” Aku ingin mengetahui reaksi Frans sehingga bertanya padanya di dalam mobil yang hendak mengantarku pulang ke apartment.


“Tentu, Elaine! Aku butuh penjelasan,” kata Frans dengan raut wajah yang datar.


“Aku tidak bisa membantah argumentasinya Frans, hanya itu. Lagi pula aku tertarik dengan temanya,” jawabku.


“Anggap saja aku percaya dengan alasanmu, Elaine. Aku memilih untuk tidak berdebat denganmu malam ini. Aku tahu kau pasti sangat lelah dan aku tidak ingin membebanimu,” ucap Frans kepadaku, masih dengan tatapan datar.


Kami tidak melanjutkan pembicaraan kami. Frans hanya diam selama perjalanan. Dari raut wajahnya, aku merasa banyak hal yang membuat dia bingung dan penasaran. Namun, dia tidak ingin memintaku untuk menjelaskan semua malam ini.


Sesampainya kami di lobby apartment, aku berterima kasih padanya. Aku langsung turun dari mobil, menutup pintu dan melambaikan tanganku. Aku tidak menunggu Frans pergi. Aku langsung membalikkan badan, berjalan meninggalkan Frans. Hari ini sungguh melelahkan. Aku merasa sangat lemas.


“Jericho.....” Aku menyebutkan namanya terus-menerus dalam hati. Aku begitu merindukannya. Aku sungguh mencintainya.


--------


Hai, halo, hai…. The readers, please Feedback-nya ya… Thank you…