More Than Words

More Than Words
A Night To Remember



“Frans Moreno!” Suara seorang laki-laki yang tidak asing di telinga Frans sedang menyapanya.


“Professor Smith, Professor Langdon, lama kita tidak berjumpa. Oh ya, kenalkan ini Ms. Andrea Williams,” ucap Frans memperkenalkan Andrea kepada mantan dosen-dosennya.


“Halo! Andrea Williams. Nice to meet you, Prof. Smith and Prof. Langdon.” Andrea memperkenalkan diri sambil menjabat tangan kedua professor itu.


“Both of you are amazing tonight. Saya puas dengan konser malam ini. Sangat romantis, penuh perasaan, dan penuh dengan kejutan. Jericho benar-benar luar biasa. Brilliant! Saya bahkan mendapat souvenir ini. Apakah ini puisi anda Miss? ” Professor Smith bertanya untuk memastikan, sebab tertera nama Andrea di sana.


“Maafkan jika puisi tersebut terlalu sederhana, Prof.” Andrea merendah.


“Tidak, saya sangat mengagumi puisi ini. Anda benar-benar berbakat Miss. Saya hanya berharap semua yang tertulis ini, bukan tentang Frans,” puji Professor Smith sambil melirik kepada Frans yang tak henti-hentinya memegang tangan Andrea.


“Sayangnya bukan Prof. Saya tidak mungkin membiarkan wanita ini menunggu,” ucap Frans seraya tersenyum.


“Frans, sebenarnya ada yang ingin kami berdua bicarakan denganmu. Tapi, bolehkah kita bicara bertiga saja, tentunya jika Ms. Andrea mengijinkan dan tidak keberatan. kami ingin membicarakan sesuatu menyangkut almamatermu, Frans. Miss Andrea mungkin akan bosan mendengarnya,” kata Professor Langdon meminta kesediaan Frans dan berusah membuat Andrea tidak tersinggung dengan permintaannya.


“Tentu Prof. Saya tidak keberatan. Saya akan mencari Jericho dan memberi selamat kepadanya. Frans, aku tinggal dulu ya?” Andrea melepaskan tangan Frans dan hendak melenggang meninggalkan ketiga laki-laki yang baru saja berbincang dengannya.


“Elaine! Kau tunggu saja di sini. Jangan kemana-mana. Aku tidak akan lama,” ucap Frans memanggil Andrea.


Andrea mengangguk dan segera pergi untuk mencari Jericho. Namun sebelum menemui Jericho, Ia hendak mengambil sebuket bunga Gerbera Daisy yang sudah dibelinya tadi dan ingin menyerahkan seraya memberikan selamat kepada laki-laki bermata hijau, pujaan hatinya itu.


Bunga Gerbera Daisy sengaja dipilih oleh Andrea karena bunga itu melambangkan keindahan sederhana dari kehidupan yang berbahagia. Ia berharap mulai malam ini Jericho akan menemukan kebahagiaannya, menemukan sebuah cinta yang sederhana dalam karya-karyanya, sehingga setiap hari laki-laki itu akan merayakan hidupnya.


Sementara itu, Frans tiba-tiba berinisiatif mengajak kedua Professor, mantan pengajarnya itu, untuk menuju sebuah café dan berbincang dengan mereka di sana. Frans tidak lupa mengirimkan pesan kepada Andrea bahwa mungkin ia akan kembali agak lama, karena rupanya hal yang dibicarakan cukup serius. Andrea pun berjanji menunggu Frans di Hall itu.


------------------------


Di samping Recital Hall, nampak seorang laki-laki bermata hijau sedang berbincang dengan seorang wanita cantik nan seksi. Mereka berdiri berdampingan. Wanita itu tak malu-malu bergelayut manja padanya, sementara laki-laki itu berusaha beberapa kali melepaskan tangan wanita itu secara halus.


“Sayang! Kau luar biasa malam ini. Selamat ya!” Stephanie tiba-tiba mengecup bibir Jericho lalu menyerahkan sebuket mawar merah sebagai ucapan selamat.


“Terima kasih telah menyaksikan konserku.” Jericho mengambil sebuket bunga yang diberikan untuknya.


“Apakah ini berarti, kau akan kembali menjadi milikku?” Stephanie mencoba menggoda Jericho.


“Entahlah, mungkin aku masih harus membantu Frans dengan persiapan konsernya,” ucap Jericho dengan nada dingin.


“Aku kehilanganmu gara-gara konser ini. Setelah ini aku harap kau akan punya waktu yang banyak untukku. Kau harus menebusnya, sayang!” Wanita itu berbicara dengan nada merajuk.


“Aku mohon hentikan Stephanie, kita sedang di tempat umum.” Jericho berbisik ke telinga Stephanie.


“Kenapa kau jadi dingin padaku?” Stephanie semakin mengeratkan tangannya seolah tak mau lepas dan menyandarkan kepalanya ke bahu Jericho.


Jericho tidak mengetahui bahwa sejak tadi, ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya. Sepasang mata itu melihatnya berbincang dengan wanita yang tak henti-hentinya bergelayut manja padanya. Sepasang mata coklat yang kini telah berkaca-kaca. Sepasang mata coklat yang kembali harus melihat sebuah kenyataan bahwa tidak ada tempat baginya di hati laki-laki itu. Ia tidak bisa mendengar pembicaraan mereka. Gadis itu hanya membaca perilaku mereka yang terlihat sangat mesra.


Pemilik mata coklat itu sedang menggenggam sebuket bunga Gerbera Daisy yang tadi dibelinya. Nampaknya sekarang, ia mengurungkan niatnya untuk mengucapkan selamat kepada laki-laki itu dan bahkan membuang bunganya ke tempat sampah. Pemilik mata coklat itu pun masuk kembali ke dalam Hall, ia berpikir untuk memainkan cellonya sambil menunggu seseorang datang menjemputnya.


Andrea kini sudah berada di atas panggung. Hall itu telah kosong. Nampaknya orang-orang memilih untuk berbincang di luar. Ia melihat cellonya dan memainkan 'The Swan', sebuah karya dari Saint-Saens. Seperti biasa ia memejamkan matanya hingga tak menyadari seseorang berjalan mendekatinya.


Gadis itu terkejut saat mendengar bunyi piano sedang dimainkan untuk mengiringi permainannya. Ia membuka matanya sejenak, namun tak ingin menoleh untuk mengetahui siapa yang memainkan piano itu. Ia sempat berpikir bahwa itu adalah Frans.


Ia pun kembali menutup mata dan terus melanjutkan permainan. Permainan itu begitu menyatu. Ia merasakan kedamaian. Hatinya yang begitu terluka sedikit terobati saat ini. Permainan terus berlanjut hingga beberapa lagu. Tanpa kata, tanpa isyarat, piano itu terus mengirinya, hingga gadis itu merasa cukup dan menghentikan permainannya.


“Aku Jericho, bukan Frans, maaf kehadiranku tidak kau harapkan.” Jericho sangat kecewa karena Andrea mengira dirinya adalah Frans.


“Maaf, J. Aku benar-benar tidak sengaja. Aku akan menunggu Frans di luar.” Andrea sengaja menghindarinya.


Saat hendak turun dari panggung, laki-laki bermata hijau itu mengejar dan menarik tangannya.


“Aku belum selesai berbicara Miss Andrea Williams. Ada apa denganmu? Sepertinya kau tidak suka dengan kehadiranku di sini.” Jericho masih terus memegang tangan Andrea.


“A - aku tidak apa-apa, J. Maaf, aku hanya tiba-tiba ingin mencari udara segar di luar, kau jangan tersinggung,” kata Andrea seraya mencoba melepaskan tangannya dan hendak melanjutkan langkahnya.


“Apakah kau tidak ingin mengucapkan selamat padaku, An?” Jericho bertanya kembali.


“Tentu, J. Hanya saja apakah ucapanku menjadi penting untukmu?” Andrea menghentikan langkahnya menyambung membalas Jericho tanpa melihat laki-laki itu.


“Penting! Itu sangat penting! Setelah kemarin kau mengatakan bahwa aku tidak menggunakan hatiku, dan setelah hari ini aku merasakan semuanya, kau pikir bahwa aku tidak membutuhkan ucapan selamat darimu?” Jericho membalas Andrea dengan nada kecewa.


“Apakah aku menyakitimu, An? Katakan apa ada yang salah? Kenapa kau seperti menghindariku sekarang?” Jericho melanjutkan ucapannya.


“Tidak, J. Aku sungguh hanya ingin berada di luar sekarang. Tidak ada alasan lain.” Andrea segera mempercepat langkahnya. Ia benar-benar tidak ingin berada di dekat Jericho saat ini.


Jericho menarik lagi tangan gadis itu, dan membawa gadis itu kepelukannya. Beberapa kali gadis itu mencoba melepaskan diri dari dekapan laki-laki yang tengah memeluknya, namun ia tidak berhasil. Jericho semakin lama semakin mengeratkan pelukannya.


Kini Frans ada di depan pintu. Ia melihat mereka berdua sedang berpelukan. Frans menggenggam tangannya dengan erat. Ia segera membuang mukanya, berjalan menjauh dengan penuh amarah. Saat ini ia hanya ingin menenangkan diri di luar.


“Apa maksudmu dengan ini, J? Lepaskan aku!” Andrea meronta-ronta.


“Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau memberi tahu apa kesalahanku?” Jericho berbicara sambil terus memeluknya.


“Kau salah paham, J. Kumohon lepaskan aku!” Andrea kembali memohon.


“Kau tahu An, setiap perkataanmu, permainan cellomu, sikapmu kini semua sangat penting untukku. Aku tidak suka kau mengabaikanku malam ini,” kata Jericho.


“Aku mencarimu, An. Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu sejak tadi. Aku ingin berbincang denganmu, berbagi bahagiaku denganmu. Aku mengagumi permainan cellomu. Itu sungguh menyentuh hatiku. Aku bisa merasakan perasaan yang berbeda. Bagiku kau sangat mengagumkan. Kau sangat istimewa. Aku akan mengingat malam ini seumur hidupku.” Jericho melanjutkan ucapannya.


“Kau sudah mengatakan semuanya kan? Sekarang tolong lepaskan aku! Aku tidak ingin orang lain salah paham.” Andrea berucap hingga air matanya menetes.


Orang lain yang dimaksud Andrea adalah kekasih Jericho. Andrea tidak ingin merusak hubungan Jericho dan Stephanie. Ia tahu bagaimana rasanya sakit hati, ia tidak mau menyakiti wanita lain. Ia sangat takut jika tiba-tiba Stephanie melihat mereka dan salah paham.


“Kau takut Frans akan melihat kita? Kau bahkan sampai menangis sekarang. Baiklah! Pergilah!” Jericho melepaskan pelukannya.


Andrea pergi tanpa sepatah kata. Ia meninggalkan Jericho tanpa melihat lagi kepadanya. Andrea merasa cukup dengan permainan hatinya ini. Gadis itu sungguh merasa takut, ia takut dengan perasaannya sendiri yang bisa membuatnya semakin terperosok dalam cinta yang tak berbalas.


"Kau benar, J. Aku akan mengingat selalu malam ini. Malam dimana aku berjanji akan menghentikan permainan hatiku. Malam di mana aku akan belajar melupakanmu," gumam Andrea di dalam hati.


“Frans!” Andrea melihat Frans sedang duduk di luar Hall.


---------------


Jangan lupa Feedback-nya. Happy Reading!