More Than Words

More Than Words
Love Test



Jika seseorang benar-benar pernah merasakan cinta dalam hidupnya, maka ia pasti bisa menyimpulkan bahwa sesungguhnya cinta itu sangat berbahaya. Cinta bisa membuat para pemujanya mendobrak batas-batas yang tidak boleh dilewati dan mendapatkan hukuman setelahnya. Cinta bisa membuat pemiliknya menerobos api, meski ia tahu akan ada luka yang tidak bisa hilang karenanya. Cinta bahkan bisa membuat pengagum-pengagumnya memanjat dinding yang sangat tinggi, hingga jika tangan dan kaki itu tak kuat lagi menopang tubuh, maka mereka akan jatuh dalam kesakitan yang teramat pedih.


Untuk beberapa alasan, cinta kadangkala perlu diuji. Semua orang bisa memberi label 'cinta' pada setiap tindakan romantis mereka, tetapi untuk melihat kemurniannya, cinta perlu ditempa dalam sebuah kondisi yang tidak ideal, bahkan yang tidak sesuai dengan ekspektasi.


Ujilah cinta, maka manusia yang mencinta akan menemukan jawabannya. Lewati batas-batas itu, rasakan kobaran apinya, taklukan dinding yang menjulang tinggi di depan, maka sang pecinta akan tahu bahwa cinta menjadi begitu indah bukan karena rasa manis yang dikecap pada akhirnya, tetapi karena ia diperjuangkan dalam proses yang tidak mudah.


“Kamu yakin, An?” Norah bertanya kepada Andrea.


“Kenapa aku harus tidak yakin?” Andrea menatap dirinya di cermin.


“An, apakah ini tidak terlalu berlebihan? Pasti butuh waktu yang sangat lama untuk kembali seperti semula,” ucap Norah sedikit panik saat menatap Andrea.


“Tidak ada yang salah dengan ini,” kilah Andrea mencoba tetap bertahan dengan keputusan yang diambilnya.


“Aku rasa sahabatku sudah gila,” kata Norah sambil menggelengkan kepalanya.


Andrea membalikkan tubuhnya dan menatap Norah. Gadis itu menyunggingkan senyumannya.


“Aku ingin membuatnya kembali di titik di mana ia tidak pernah menginginkanku. Aku ingin melihat apakah dia mencintai aku atau hanya mencintai bayangannya tentangku.” Andrea memegang pundak Norah.


“Bagaimana jika dia gagal? Bagaimana jika dia tidak bertahan?” Norah merasa sedikit pesimis.


“Tidak masalah! Ini bukan pertama kalinya dia tidak memilihku. Aku mungkin hanya akan kecewa pada awalnya, tetapi kemudian aku akan bersyukur, setidaknya dia jujur pada perasaannya,” balas Andrea kepada Norah.


----------------


Dari balik kaca sebuah kendaraan jenis sedan berwarna kuning, terlihat seorang gadis sedang duduk di bagian belakang, sambil menatap jalanan yang cukup lengang. Setiap harinya memang tidak banyak kendaraan berlalu-lalang di sepanjang jalan itu.


Ya, Andrea sedang berada di dalam Taxi, hendak menuju ke bukit cahaya. Gadis itu berangkat lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Hari ini adalah hari off-nya bekerja. Sepulang dari kampus, Andrea langsung mempersiapkan diri untuk menemui Jericho. Tidak lupa ia juga menyiapkan segala hal yang diperlukan untuk menguji laki-laki itu.


“Pelan-pelan sir! Tempatnya sudah dekat,” ucap Andrea kepada sopir Taxi itu.


“Baik, nona!” Sopir Taxi itu mengurangi kecepatan mobilnya.


Andrea sudah lama tidak mengunjungi tempat ini, meski begitu masih jelas dalam ingatannya, letak pasti dari tempat itu.


“Anda bisa berhenti di sini, sir!” Andrea meminta sopir Taxi itu mengehentikan kendaraannya. Gadis itu segera membayar ongkos beserta tipnya.


“Terima kasih, miss,” ucap sopir Taxi itu dengan riang saat melihat uang yang cukup banyak, yang diberikan kepadanya.


------------------------


Andrea kini sudah duduk di atas sebuah batu besar yang menempel kokoh di ujung bukit. Matanya memandang ke arah lampu kota yang ada di bawah. Kulitnya merasakan hempasan angin malam yang menyejukkan. Ia begitu merindukan suasana ini.


Masih cukup banyak waktu yang dipunyai gadis itu untuk duduk sendiri menikmati malam. Andrea memanfaatkan waktu sendirinya dengan menenggelamkan diri pada memori dan ingatan di masa lalu, ketika ia dan Jericho pernah menikmati malam bersama di tempat itu.


Andrea mengingat momen di mana jantungnya berdetak dengan kencang saat Jericho menyendengkan telinganya di dada gadis itu. Ia juga mengingat saat-saat di mana ia mengambil foto Jericho dengan diam-diam, saat laki-laki itu asyik memainkan biolanya.


Bukan hanya momen manis yang muncul di dalam pikiran gadis itu. Andrea sepertinya merasakan kembali betapa tegangnya ia, saat bertengkar dengan Jericho di bukit, hingga ia hampir dibawa oleh orang-orang jahat karena berjalan sendiri meninggalkan laki-laki itu. Beruntung waktu itu, Jericho segera datang dan menolongnya, bak ksatria yang tampan dan gagah berani. Jericho bahkan rela terluka demi menyelamatkannya.


Momen yang paling menyedihkan adalah ketika laki-laki itu menyatakan cinta, saat Frans baru saja melamarnya. Ia mengingat bagaimana Jericho begitu yakin bahwa mereka berdua ditakdirkan bersama, meski saat itu keduanya sama-sama menyadari bahwa semua sudah terlambat.


Andrea mengingat ekspresi wajah Jericho saat memasangkan sebuah gelang pada lengannya. Sebuah gelang dengan beberapa bandul bulan sabit kecil yang menghiasi gelang itu. Sebuah gelang yang mengingatkannya pada lewanna-nya, yang tetap akan bersinar memecah kegelapan meski ia tahu bahwa hanya tinggal dirinya seorang yang bertahan.


“Kau sudah datang?” Andrea melihat ke arah sumber suara.


“Kenapa memakai baju seperti itu?” Jericho hampir tidak mengenali Andrea karena ia mengenakan sebuah jaket dengan penutup kepala.


“Duduklah dulu!” Andrea menggeser sedikit tubuhnya, menyisakan tempat bagi laki-laki itu.


Jericho melakukan seperti apa yang diperintahkan oleh gadis itu. Ia segera mengambil posisi duduk di sebelah Andrea.


“Katakan apa ujianku?” Jericho menatap Andrea.


“Kau sudah tidak sabar?” Andrea bertanya sambil tersenyum kepada Jericho.


Gadis itu perlahan-lahan menanggalkan jaket yang dikenakannya. Jericho memegang pinggang Andrea, saat ia melihat cukup banyak pergerakan yang dibuat gadis itu, hanya untuk melepaskan jaketnya. Jericho tidak ingin terjadi sesuatu kepada gadis itu. Mereka benar-benar berada di tepi sebuah jurang.


“Kau, apa yang kau lakukan dengan rambutmu?” Jericho membulatkan matanya, saat melihat Andrea muncul dengan rambut barunya yang sangat pendek.


“Aku memotongnya,” jawab Andrea dengan santai.


“Kenapa sampai harus memotongnya?” Jericho penasaran dengan alasan Andrea.


Gadis itu benar-benar terlihat seperti ketika mereka masih di bangku Senior High. Potongan rambut yang sama dan tanpa make-up menghias wajahnya. Ia benar-benar nampak sangat polos dan kurang menarik.


“Untuk mengujimu,” jawab Andrea singkat.


“Aku ingin kembali di titik di mana kamu tidak menginginkanku,” ucap Andrea dengan senyum sendu.


“Kamu bahkan tidak pernah melihat ke arahku waktu itu, karena aku tidak sesuai dengan ekspektasimu,” imbuhnya lagi sambil memandang cahaya lampu kota di depannya.


“Apa tidak ada ujian yang lain?” Jericho memandang Andrea dengan tajam.


“Kau keberatan dengan ujian ini?” Andrea membalas tatapan Jericho.


Laki-laki itu seketika menarik tengkuk Andrea dan mencium bibirnya. Andrea tidak memprediksi hal ini sebelumnya. Ia terpaku beberapa saat dan setelah itu membalas ciuman Jericho. Mereka berdua sama-sama terlena dan menikmati ciuman itu, hingga Jericho melepaskan pagutannya.


“Aku seharusnya melakukan ini dari dulu,” ucap Jericho sambil menyentuh pipi Andrea.


“Maksudnya?” Andrea tidak memahami perkataan Jericho.


“Aku seharusnya menciummu sejak kita masih Senior High, sehingga Frans tidak punya kesempatan untuk memiliki ciuman pertamamu,” imbuh Jericho menunjukkan sisi posesifnya.


Jericho menghentikan ucapannya. Mereka berdua sama-sama memilih untuk tidak bersuara sejenak.


“Andrea, aku baru menyadari sesuatu akhir-akhir ini. Aku sudah tertarik padamu, sebelum kita bertemu di Amerika. Aku sudah tertarik padamu sejak kamu dan aku sama-sama mengikuti lomba karya ilmiah itu. Aku justru merasa penampilanmu yang sekarang membuat aku kembali di masa itu. Masa di mana seharusnya aku bisa memilikimu lebih awal, namun tidak aku lakukan,” tutur Jericho dengan tenang. Laki-laki itu menatap Andrea dengan tatapan penuh cinta.


“K-kau tidak kecewa melihat aku mengubah penampilanku seperti ini? Kau tidak malu, jika aku tampil seperti ini. Butuh berbulan-bulan untuk membuat rambutku menjadi panjang seperti kemarin,” Andrea membutuhkan jawaban yang pasti dari laki-laki itu.


Jericho menggelengkan kepalanya dan berkata, “Jadi apa hanya ini ujianku? Jika memang hanya ini aku akan menambahkannya sendiri. Aku ingin berkencan denganmu besok. Jangan tutupi wajahmu dengan jaket itu! Aku ingin berkencan dengan Andrea tujuh tahun yang lalu. Aku ingin menebus kebodohanku di masa lalu yang tidak peka dengan perasaanku sendiri. Aku ingin kamu yakin bahwa aku mencintaimu dengan seluruh keberadaanmu,” ucap Jericho dengan sungguh-sungguh.


----------------


Selamat membaca! Jangan lupa dukung terus cerita ini!