
Keesokan harinya Lisa seperti biasa kegiatannya, dia memasakkan sarapan pagi untuk dia dan ayahnya setelah itu mereka berdua makan bersama sebelum Lisa ke butik dan ayahnya ke restoran.
"Lisa, apa kamu nanti malam sudah siap untuk makan malam di rumah Om Arif."
"Iya yah, siap. Mau berangkat jam berapa?"
"Jam 7 malam saja. Jangan sampai malam kamu di butik, ya?"
"Oke yah, ya sudah yah Lisa ke butik dulu. Ayah hati-hati ya nanti."
"Iya kamu juga hati-hati ya?"
"Oke."
Lisa berlalu sambil mencium pipi ayahnya.
"Lisa kamu sepertinya bahagia sekali akan di jodohkan dengan Hendrik, padahal setiap kali aku jodohkan dengan pria lain dia tidak mau?" lirih Pak Rafli sambil beranjak dari kursi meja makan. Dia meraih tas kerjanya dan langsung berangkat ke restoran.
"Bi, minta tolong ini di bereskan ya?" ucap Pak Arif pada asisten di rumahnya.
"Baik pak," jawabnya.
Walaupun Lisa mempunyai Asisten rumah tangga di rumahnya tapi dia lebih suka memasak sendiri. Asisten rumah tangga hanya untuk membereskan rumah saja dan mencuci baju atau menyetrika. Urusan masak Lisa yang memasak. Kecuali kalau Lisa kesiangan Bibi pasti menyiapkan sarapan tanpa di suruh Lisa.
^^^
Malam harinya Lisa terlihat anggun dengan long dress selutut warna peach hasil desain nya sendiri. Di padu dengan flat shoes nya. Dan Rambutnya di biarkan tergerai dengan aksesoris jepit rambut kecil di samping.
Dia sudah bersiap -siap menghadiri makan malam di rumah Om Arif.
"Putri ayah cantik sekali," puji Rafli pada putrinya.
"Kan ayahnya juga ganteng." Lisa tak mau kalah, dia memuji ketampanan ayahnya.
"Ayo berangkat." Ajak Pak Rafli dengan merangkul Lisa.
Mereka berangkat ke rumah Om Arif. Lisa terlihat bahagia sekali walaupun tahu nanti pernikahannya tak akan bahagia karena Hendrik sangat membenci Lisa.
Mereka sudah sampai di rumah Om Arif. Lisa dan Ayahnya di sambut Tante Marta dengan hangat.
"Calon menantuku cantik sekali," puji Tante Marta dengan memeluk Lisa.
"Terima kasih tante, tante bisa aja," ucap Lis.
"Cantiknya calon kakak iparku?" puji Lyra.
"Lyra kamu bisa saja," ucap Lisa.
"Ayo masuk Pak Rafli silahkan langsung ke meja makan, aku panggil papanya Lyra dulu." Marta mempersilakan Rafli dan Lisa untuk masuk ke dalam.
"Ayo Om Rafli,Lisa." Lyra juga mengajak Lisa dan Ayahnya masuk dan langsung menuji ke meja makan.
Arif baru saja keluar dari kamarnya. Dia menuruni anak tangga satu persatu. Lalu langsung menyapa Rafli dengan hangat.
"Hai Raf?" Arif berjalan sambil menyapa. Dia mendekati Lisa dan ayahnya.
"Cantik sekali calon menantuku," puji Arif pada Lisa.
"Jelas lah! Anak siapa dulu? Lihat ayahnya juga tampan seperti aktot hollywood?" ucap Rafli.
"Ya ... ya ... ya ... dari dulu gak berubah kamu, Raf," ucap Arif.
"Lyra, panggil kakakmu," titah Arif.
"Siap papa!" jawabnya semangat.
Lyra berlalu memanggil Hendrik di kamarnya. Terlihat dia sedang memandang foto Vivian.
"Kak, kamu memberitahu Vivian tentang ini?" tanya Lyra.
Hendrik hanya menggelengkan kepalanya. Dan menarik napas dengan berat.
"Ra, sebenarnya Vivian sudah 3 minggu ini ikut papa dan mamanya ke jepang. Dia semakin susah aku hubungi. Sudah berkali-kali aku telefon tidak aktif nomornya dan aku kirim pesan padanya dia tak membacanya."
"Kak, bagus dong? Berarti Vivian memang mau ninggalin kakak. Lisa pasti yang terbaik buat kakak. Percaya dengan Lyra kak, ayo turun Lisa dan Om Rafli sudah datang."
"Iya sebentar aku cuci muka dan ganti baju."
"Oke aku tunggu di bawah."
Lyra berlalu meninggalkan Hendrik di kamarnya.
Lyra sudah di meja makan bersam Mama dan papanya, juga Lisa dan ayahnya. Tapi Hendrik belum
juga turun ke meja makan.
"Lyra, mana Hen?" tanya Marta.
"Sabar ma, dia sedang ganti baju. Tuh kakak?"
Hendrik menuruni anak tangga dan berjalan ke arah meja makan. Dia menyapa Pak Rafli dan Lisa dengan sopan walaupun hatinya sangat sakit sekali melihat Lisa.
Dia terlihat agak santai dan tidak menunjukan muka yang tidak mengenakan.
"Malam Om Rafli, maaf menunggu lama," ucap Hendrik.
"Malam juga, Hen?" jawab Rafli.
"Lisa, maaf kamu jadi menunggu lama," ucap Hendrik.
"Iya, tidak apa-apa," jawab Lisa.
"Ayo kita makan dulu nanti kita sambung topik pembicaraannya setelah selesai makan malam," ucap Marta.
Mereka semua menikmati hidangan makan malam yang di suguhkan keluarga Pak Arif. Suasana makan malam terlihat sangat hangat. Hendrik terlihat mencuri pandang pada Lisa.
"Lisa, kamu masih seperti dulu. Tetap cantik sekali. Tapi maaf aku tak bisa seperti dulu mencintaimu. Aku mau di jodohkan dengan mu karena papa dan mamaku," ucap Hendrik dalam hati.
"Hen, aku tahu kamu sudah tidak mencintaiku lagi. Tapi rasa cinta ini masih tetap seperti dulu tak berkurang sedikit pun," ucap Lisa dalam hati sambil mencuri pandang pada hendrik.
Acara makan malam selesai mereka semua menuju ke ruang keluarga untuk membicarakan pernikahan Lisa Dan Hendrik
"Bagaimana Raf, apa Lisa setuju?" tanya Arif.
"Apakah Hendrik juga setuju, Rif?"
"Hen kamu setuju, kan?" tanya Marta.
"Iya ma," jawabnya singkat.
"Kalau Lisa?"
"Iya tante."
"Jadi semua sudah setuju dengan perjodohan ini. Mau tidak mau satu minggu lagi Hendrik dan Lisa harus sudah menikah." Jelas Om Arif.
"Pa, secepat itu?" tanya Hendrik.
"Iya, Hen. Ini sudah kesepakan mama dan papa, iya kan, pa?" Tanya Marta.
"Bagaimana Raf?" tanya Arif pada Rafli.
"Aku ikut yang terbaik buat putriku Rif."
Lisa hanya terdiam tak bicara sepatah kata pun. Percuma saja jika menolak juga pasti di paksa.
"Jadi sudah sepakat, seminggu lagi Hen dan Lisa menikah." Ucap om Arif.
Hendrik dari tadi menatap sinis Lisa. Dan Lisa mencoba memalingkan wajahnya dari Hendrik.
"Lisa bisa kita bicara sebentar di luar?"
"Hmm iya,"
"Ma, pa, Om Rafli aku mau bicara sesuatu dengan Lisa."
Hendrik mengajak Lisa keluar, dia berbicara dengan lisa di teras rumahnya.
"Lisa, ini semua permintaan papa dan mama. Jangan harap aku mencintaimu Lisa! Aku sudah tak mencintaimu sejak aku tahu kamu gadis seperti apa dulu. Aku menyesal dulu mencintaimu Lisa!" pekik Hendrik.
"Maksud kamu, Hen?" tanya Lisa.
"Tidak usah pura-pura tidak tahu, kamu!"
"Maaf Hen, aku jelaskan dulu, pria yang dulu kamu tanyakan itu adalah ...." ucapan Lisa terpotong oleh Hendrik.
"Tidak usah dijelaskan aku sudah tahu. Dan harus kamu tahu, aku masih sangat mencintai Vivian. Saat dia pulang dari jepang aku tetap akan berhubungan dengan dia Lisa. Ingat pernikahan kita karena kemauan orang tua kita. Jangan harap kamu bahagia hidup denganku Lisa. Camkan itu!" ancam Hendrik.
Hendrik masuk kedalam rumahnya. Dan lisa mengikuti di belakangnya. Hancur sudah hati Lisa. Dia ingin menangis tapi dia tahan karena di dalam ada ayah nya juga Om Arif dan Tante Marta.