
Monalisa P.OV
Tak terasa waktu cepat berlalu. Hari ini adalah hari pernikahanku dengan Hendrik. Iya ini adalah hari bahagiaku. Aku akan menikah dengan seseorang yang sangat aku cintai yaitu Hendrik. Walaupun aku tak menjamin seperti apa nanti kehidupanku ke depan setelah menikah dengan hendrik. Entah bahagia atau malah sebaliknya aku akan menderita seperti yang Hendrik bilang padaku.
Semua tamu sudah berdatangan dan sebentar lagi prosesi pernikahan akan segera di mulai. Aku keluar dengan di gandeng ayahku. Aku tatap wajah ayahku lekat. Aku sangat menyayanginya.
"Ayah, Lisa sayang sekali sama ayah. Love you, Ayah."
Aku memeluk ayah sebelum menemui calon suamiku.
"Ayah juga sangat mencintai dan menyayangimu, Nak. Ingat pesan ayah, setelah jadi seorang istri kamu harus patuh dan taat dengan suami mu. Dan jadilah istri yang penyayang." Pesan ayah.
"Iya ayah, Lisa selalu ingat," jawabku.
"Ayo keluar, semua sudah menunggu."
Ayah menggandengku menuju calon suami ku. Hendrik terlihat sangat tampan sekali. Aku tak henti memandanginya.
Acara pernikahan kami akhirnya selesai dengan sangat khidmat. Akhirnya aku dan Hendrik resmi menjadi suami istri yang sah. Semua keluarga dan kerabat serta tamu undangan memberikan selamat pada kami.
♥♥♥
Terlihat Mama Marta dan Papa Arif mendekati Lisa dan Hendrik yang sedang berdiri menemui tamu. Mereka terlihat bahagia sekali, seperti terwujud mimpi mereka menikahkan Lisa dengan putranya.
"Menantu mama, semoga kalian selalu bahagia sayang. Hen, kamu sudah jadi suami. Jaga istrimu, belajarlah mencintai Lisa," ucap Marta.
"Mama, terima kasih." Lisa memeluk mamah marta.
"Ma, Hen akan mencoba belajar menjadi suami yang baik untuk Lisa jika bisa." Ucap Hen dengan nada yanv dingin.
"Hen, jadilah suami yang tanggung jawab dan menyayangi istri. Semoga bahagia sayang. Doa papa selalu untukmu." Ucap Arif sambil memeluk Hendrik.
Ayah Lisa yang dari tadi menemui tamu, terlihat berjalan menemui mereka yang sedang berkumpul.
"Hen, ayah titip Lisa. Ayah berharap, kamu bisa mencintai Lisa. Semoga kamu menjadi suami yang bertanggung jawab dan bijaksana." Ucap Rafli.
"Iya, Ayah. Hen akan coba." Jawab Hendrik.
"Lisa, kamu harus ingat pesan ayah tadi." Rafli mengingatkan Lisa, dia langsung memeluk Lisa, seketika air mata Lisa tumpah sambil memeluk ayahnya.
"Ayah, Lisa sayang ayah. Ayah baik-baik jika Lisa ikut suami Lisa." Ucap Lisa dengan suara serak..
"Sudah, sudah ... jangan menangis, ayah juga sayang kamu. Bahagia lah putriku yang cantik. Love you my Princess." Ucap ayah Lisa.
"Love you too ayah. You are my King in my heart. I will always Miss you, Daddy." Lisa kembali menangis dalam pelukan ayahnya.
Hendrik menatap mata Lisa yang sendu karena dari tadi dia selalu meneteskan air matanya saat memeluk ayahnya.
"Terima kasih sayang " ucap Hendrik.
"Kak, belajarlah mencintai dan menyayangi Lisa. Aku yakin kakak pasti bisa," ucap Lyra.
"Iya, kakak akan mencobanya." Ucap hendrik.
"Kak Lisa, semoga bahagia kamu selalu bahagia," ucap Lisa.
"Iya Lyra, terima kasih." Lisa memeluk Lyra.
"Kak Hen, semoga bahagia." Ucap Denni.
"Terima kasih Denni. Aku titip Lyra adikku." Hendrik memeluk Denni calon suami Lyra.
"Iya kak Hen."
Denni juga memberi selamat pada Lisa. Semua tamu yang berdatangan, juga satu persatu menyalami pengantin dan memberi ucapan selamat pada Lisa dan Hendrik.
"Oh ya mama lupa, mama sama papa, dan ayah akan memberi hadiah untuk kalian." Ucap Marta.
"Hadiah apa, Ma?" tanya hendrik.
"Buka saja kotak ini, Hen." Mama Marta memberikan sebuah kotak pada Hendrik, dan segera Hendrik segera membukanya.
"Kunci Rumah?"
"Papa dan Ayah membelikan rumah untuk kalian. Semoga kalian bisa bahagia tinggal bersama." Ucap Marta
"Hendirk, sudah saatnya kamu mandiri, Hen," ucap Arif.
"Ayah titip Lisa ya, Hen? Semoga kamu suka dengan pemberian kami." Ucap Ayah Rafli.
"Di rumah kalian yang baru sudah komplit perabotan dan lainnya. Tinggal baju kalian yang belum di bawa ke sana. Malam ini sudah bisa kalian tempati. Terserah kalian mau menempati sekarang atau besok." Jelas Marta
"Terima kasih atas pemberian kalian." Ucap Lisa dengan senyum bahagia.
"Nanti kita akan menempati rumah itu sekarang. Agar nanti malam sudah di rumah sana." Ucap Hendrik. "Kamu mau kan, Lisa?" tanya Hendrik.
"Iya, aku mau," jawab Lisa.
"Nanti mama siapkan pakaian kamu, Hen. Biar bibi yang menyiapkannya, " ucap Marta.
Lisa sebenarnya berat jika harus meninggalkan ayahnya. Tapi, mau bagaimana lagi, sekarang Lisa sudah menjadi istri Hendrik. Jadi ia harus menurutinya.