
Pesta pernikahan berjalan dengan lancar dan semua tamu sudah semakin sedikit yang berdatangan. Lisa menuju ke kamarnya. Lalu Hendrik menyusulnya.
Lisa terlihat membersihkan make up di wajahnya dan melepas aksesoris di rambutnya. Hendrik masuk ke dalam kamar Lisa. Lisa hanya terdiam dan menoleh setelah itu Lisa melanjutkan membersihkan make up nya.
"Lisa, jangan harap aku bisa mencintaimu. Terserah kamu mau ikut dalam permainan ini atau menyerah." Ucap Hendrik sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
"Terserah kamu juga, Hen." Sahut Lisa dengan tenang.
Walau hatinya sakit dan ingin menangis tapi dia tetap terlihat tenang.
Lisa memasuki kamar mandi untuk ganti pakaian dan membawa baju ganti nya. Lisa berganti baju. Dia mengenakan dress tanpa lengan. Rambutnya di biarkan tergerai. Lisa memang suka membiarkan rambutnya tergerai bebas. Rambutnya lurus dan Hitam. Dia menyelipkan jepit rambut kecil di samping rambutnya. Terlihat manis sekali penampilan Lisa. Lisa keluar dari kamar mandi. Dia mendekati lemari pakaiannya dan mengambil kopernya. Lalu menata semua baju di dalam koper.
Tanpa berkata apa apa dengan Hendrik, Lisa segera membereskan pekerjaannya, menata baju, dan lainnya untuk di bawa ke rumah barunya.
Lisa lega karena rumah baru yang akan ia tempati dengan Hendrik suaminya tidak mutlak pemberian orang tua Hendrik. Melainkan Ayahnya juga ikut andil membelikan rumah tersebut.
"Oke, aku ikuti permainanmu, Hendrik. Aku tidak peduli kamu mencintaiku atau tidak. Aku bahagia bisa menikah dengan kamu. Karena, memang aku mencintaimu dari awal aku melihatmu dulu." Ucap Lisa dalam hati.
Hendrik terlihat tidur di tempat tidur Lisa. Lisa memandangi Hendrik dari kejauhan. Membiarkan suaminya tidur.
Tak lama kemudian Mama Marta masuk ke kamar Lisa.
"Maaf sayang mama langsung masuk. Mana Hen? Mama mau pamit pulang sayang." Ucap mamah marta.
"Hendrik sedang tidur, Ma," jawab Lisa.
"Kebiasaan dia suka sekali tidur. Sebentar mama bangunin dia." Mama Marta masuk ke kamar Lisa dan langsung membangunkan Hendrik.
"Hen, kamu belum ganti baju malah udah molor?!mama pamit pulang dulu. Sekalian menyiapkan pakaianmu yang akan di bawa ke rumah barumu. Papa, Lyra, dan Denni masih di sini. Mama pulang dengan sopir." Jelas Mama Marta.
"Hmm ... iya ma, hati-hati. Hen capek sama ngantuk sekali, Ma." Ucapnya dengan sungkan, dan terpaksa bangun karena Marta memaksanya.
"Iya ini mau ganti deh!" jawabnya. Hendrik bangun dan mengambil baju gantinya.
"Ayo Lisa mama pulang dulu, ya?" pamit Marta pada Lisa
Hendrik ke kamar mandi mengganti bajunya. Dia mengenakan kaos ketat dan celana pendek.
Hendrik dari tadi menatap Lisa yang sedang sibuk menata make up nya ke tas make up miliknya.
"Cantik sekali dia. Dari dulu tak pernah berubah, tapi sayang sekali. Tubuhmu sudah di nikmati pria lain Lisa." Ucap Hendrik dalam hatinya.
Hendrik mendekati Lisa yang sedang duduk di tempat tidur. Dia duduk di samping Lisa.
"Hen, kamu mau makan?"
"Belum lapar," jawabnya singkat.
"Oh ya sudah aku mau keluar menemui ayah."
"Hmm ..." jawabnya bergumam saja.
Hendrik masih duduk di tempat tidur Lisa.
Dia melihat sekeliling kamar Lisa. Kamar nya tertata rapih sekali. Walaupun kamarnya tidak di desain layaknya kamar pengantin, tapi kamar Lisa sangat rapih, bersih dan wangi sekali. Apalagi kamar mandinya terlihat bersih sekali.
"Lisa, apa kamu yakin akan tahan hidup denganku?" ucap Hendrik lirih.
Hendrik merebahkan tubuhnya lagi di kasur. Pikirannya hanya fokus dengan Vivian. Sampai sekarang Hendrik belum dapat kabar dari Vivian.
"Kamu di mana, Sayang? Maafkan aku, aku sudah mengkhianatimu. Hari ini aku sudah resmi menjadi suami orang Vian." Gumam Hendrik dalam hati sambil memandangi Foto Vivian di hp nya.