Monalisa

Monalisa
Bab 19 - Selalu Ingat Lisa



Hendrik POV.


Kerjaku hari ini berantakan sekali. Tidak konsentrasi sedikit pun. Kenapa aku merasa bersalah sekali dengan Lisa? Padahal semua ini karena aku yang memulainya? Aku yang meminta Lisa untuk menerima bahwa aku masih ingin bersama Vian. Tapi aku malah seperti ini. Aku malah merasa bersalah sekali dengannya, ini baru satu malam bagaimana dengan malam-malam selanjutnya atau hari hari selanjutnya?


Aku terdiam di kursi kebesaranku di kantor. Ya semenjak papah mempunyai cabang perusahaan lain, perusahaan ini aku yang mengelola.


Saat aku sedang terdiam kebingungan terlihat seseorang masuk dalam ruang kerjaku. Papah datang menemui ku.


"Hen, pengantin baru sudah ngantor saja kamu." Ucap Papa Sambil duduk di depanku.


"Pa, kerjaan banyak sekali, ya aku harus ke kantor, lagiyan Lisa juga sudah berangkat ke butiknya." Jawabku.


"Bagaimana semalam?" tanya papa, dan aku tahu maksudnya tanya semalam itu artinya apa.


"Maksud papah?" tanyaku, pura-pura tidak tahu.


"Ya kan kamu sudah menikah Hen? Masa kamu gak tahu?" jawab papa.


"Oh, itu? Ya seperti itu, Pa? Kan papa pernah merasakannya? Kenapa tanya sih? Ya begitulah rasanya malam pertama." Jawabku, dengan pura-pura.


"Jaga Lisa baik-baik Hen. Dia perempuan baik." Pinta papa.


"Iya pa."


"Ya sudah papa pulang dulu, papa kira kamu tidak masuk kantor, jadi papa kesini mau mengecek pekerjaan yang kamu tinggal."


"Kalau di rumah saja jenuh pa. Ya sudah papah hati-hati."


"Oke."


Papa pun keluar dari ruangan ku. Aku merasa bersalah pada papa. Terutama Ayahnya Lisa. Aku tidak tahu harus bagaimana. Di sisi lain Lisa adalah istriku namun aku masih sangat kecewa dan benci jika mengingat dulu. Dan disisi lainnya Vian adalah kekasih ku. Orang yang sangat aku cintai.


Semua sudah terlanjur. Aku pun terpaksa meneruskan sandiwara ini dengan Lisa.


Aku mendengar suara hp ku berdering. Aku lihat layar hpku. Ternyata Vian menelfonku. Aku angkat telfon dari Vian.


{Kamu di mana?}


{Di Kantor, ada apa sayang? Maaf tadi pagi aku langsung pulang, soalnya mau siap-siap ke kantor. Kamu sudah makan?}


{Iya tidak apa apa sayang. Belum, dari tadi tidur tiduran saja. Semalam kamu minta terus aku lelah sekali.}


{Ya sudah nanti jam makan siang aku ke situ, mau di bawakan makan apa?}


{Emm ... Soto daging yang di sebelah sana Hen.}


{Oke, sebentar lagi, ya? Aku selesaikan pekerjaanku.}


{Baiklah, aku tunggu ya? Bye...}


Aku menutup telfon dari Vian. Dan segera aku selesaikan pekerjaan ku yang tinggal sedikit lagi.


Aku sudah menyelesaikan semua pekerjaan ku. Dan ku minum kopiku dulu sebelum aku keluar membeli makan untuk makan siang dengan Vian.


Tidak ada yang bisa membuat kopi nikmat sekali, kecuali Lisa. Iyaa memang kopi buatan Lisa sangat enak dan nikmat sekali. Kenapa Lisa lagi sih? Ingat, pernikahanmu hanya sebatas sandiwara saja. Ingat itu!


Aku menemui sekretarisku dulu sebelum aku pergi.


"Diana, kalau ada tamu bilang aku sedang keluar. Paling aku balik kesini sorean."


"Oke pak."


Aku keluar mengambil mobilku. Dan ku lajukan mobilku ke tempat soto daging yang Vian inginkan. Vian memang manja sekali. Selama aku berhubungan dengannya seperti ini. Selalu saja menyuruh beli ini beli itu. Dia hanya malas-malasan di apartemen saja.


Bangun juga siang sekali kadang. Tidak seperti Lisa, dia selalu on time dan rajin sekali.


"Ah, sial! Lagi?lagi aku memikirkan Lisa."


Aku masih melajukan mobilku dengan pikiran tak keruan. Kenapa selalu ada Lisa di pikiranku. aku sudah mencoba menepiskan bayangan wajahnya tapi selalu tak bisa...