
Selesai menata bajunya. Lisa sejenak berpikir lagi soal rumah barunya. Rumah yang ia tempati adalah rumah impiannya sejak kecil. Dan, impian itu hanya ayahnya yang tahu. Lisa berpikir, kedua orang tua Hendrik tidak mungkin ikut andil dalam pembelian rumah ini. Pastinya mereka membeli sesuai keinginan mereka, bukan keinginan ayahnya Lisa.
Kamar Lisa juga begitu luas. Desainnya sesuai dengan apa yang Lisa mau. Dari lemari pakaian, buffet, meja rias, dan meja kerja saja sesuai apa yang Lisa inginkan, dan pernah ia sampaikan keinginan itu pada ayahnya.
"Ayah, apa ayah yang membeli kan rumah ini untuk Lisa? Hanya ayah yang tahu seperti ini rumah impian Lisa, dan seperti ini desain kamar yang Lisa mau," ucap Lisa lirih.
Ranjang tidur di kamar Lisa juga king size. Ranjangnya sangat klasik dan cantik, seauai apa yang Lisa inginkan. Berbeda dengan kamar Hendrik, kamarnya biasa saja, luasnya juga standar kamar biasa. Ranjangnya juga tidak seluas ranjang yang ada di kamar Lisa.
"Aku semakin yakin, ayah yang memberikan ini semua. Bukan Mama Marta atau Papa Arif. Jika mereka yang memilihkan tidak mungkin sesuai apa yang aku inginkan," ucap Lisa lagi, ia semakin berpikir kalau rumah ini pemberian ayahnya. Mertuanya sama sekali tidak ikut andil.
Lisa keluar dari kamarnya. Dia menuju ke dapur. Dapurnya juga sesuai dengan yang Lisa inginkan. Perabotannya juga sudah lengkap, dan sesuai yang Lisa inginkan juga. Lisa membuka kulkas. Matanya membeliak, melihat kulkas sudah terisi buah dam sayuran segar.
"Aku semakin yakin, kalau rumah ini ayah yang belikan, bukan patungan atau gimana dengam orang tua Hendrik," ucap Lisa lirih.
Lisa langsung kembali ke kamar mengambil ponselnya dan menelefon ayahnya. Telefonnya langsung tersambung dan ayahnya langsung menerima panggilan darinya.
{Halo ayah?}
{Iya, Sayang? Kamu sudah sampai? Bagaimana suka rumahnya?}
{Ayah, apa ayah yang membelikan rumah ini?}
{Ehm ... I--iya.}
{Ayah, jujur sama Lisa apa rumah ini ayah yang belikan? Bukan beli barengan dengan Mama Marta dan Papa Arif? Ayah jujur sama Lisa?}
{Lisa, memang ayah yang pilihkan, mereka juga ikut andil dalam pembelian rumah itu.}
{Ayah jangan bohong. Terus di kulkas sudah ada buah dan sayuran segar?}
{Ayah tidak bohong sayang. Oh, itu memang mama Marta yang menyiapkan semuanya. Semua kamar juga ruangan lain sudah rapi, kan? Kamarmu dan Hendrik di depan sayang. Kamarnya begitu luas dan ayah desain sesuai kesukaan kamu.}
{Ayah, terima kasih untuk semuanya..}
{Iya, Sayang, sama-sama. Sudah sana istirahat.}
{Miss you too sayang.}
Lisa mengakhiri panggilannya dengan ayahnya. Jadi kamar utama ada di depan, yang Lisa pakai. Pantas saja kamarnya begitu luas dan lebih bagus daripada kamar Hendrik?
Hendrik masih di kamarnya, dia terus bertukar kanar dengan Vian, dan malam ini dia berdua akan bertemu. Hendrik bergegas mandi, karena dia merasa sudah lengket sekali badannya.
Hendrik berdiri di depan cermin yang ada di kamar mandi. Dia menatap wajahnya di cermin, lalu tersenyum mengingat malam ini ia akan bertemu dengan Vian.
"Vian, aku bahagia mendengar kamu sudah kembali, aku sangat merindukanmu," ucap Hendrik lirih.
Selesai mandi dan memakai baju, Hendrik keluar dari kamar. Dia mencium bau masakan yang sangat harum dan menggugah selera makannya. Hendrik penasaran siapa yang memasak, dia langsung bergegas ke dapur melihat siapa yang memasak.
"Lisa? Dia bisa masak?" ucap Hendrik dalam hati, dengan terheran melihat Lisa lihai memasak di dapur.
"Hen, kamu jadi keluar menemui Vian?" tanya Lisa yang melihat Hendrik di ambang pintu dapur, sedang melihatnya memasak.
"Ah iya. Nanti aku akan menemuinya," jawabnya gugup, karena kaget ternyata Lisa tahu dia di dapur.
"Makan dulu sebelum keluar. Aku sudah memasak. Kalau kamu mau sih? Kalau tidak ya sudah tidak apa-apa." Ucap Lisa dengan menata masakannya di piring saji.
"Oke aku makan dulu, tata saja di meja makan masakannya, nanti aku makan." Jawab Hendrik, karena ia memang merasa keroncongan perutnya. Ia juga penasaran dengan masakan Lisa yang baunya harum dan menggugah selera.
"Iya nanti aku tata makanannya di meja makan," ucap Lisa. "Oh iya, Hen. Baju kotor milikmu ditaruh saja di keranjang yang ada di pojokan situ, samping mesin cuci. Biar aku yang mencucinya," ucap Lisa.
"Biar aku laundry saja." Jawab Hendrik.
"Hen, jangan boros. Menyita waktu juga, Hen. Kan tidak sehari jadi? Nanti kalau baju kerjamu gimana? Jadi kelamaan dong? Sudah taruh sini saja." Ujar Lisa.
"Baiklah."
Hendrik kembali ke kamarnya, mengambil baju kotornya, dan menaruhnya di keranjang yang Lisa tunjukkan tadi.
"Kenapa Lisa bersikap biasa saja denganku? Tidak cemburu atau bagaimana, padahal sikapku seperti ini padanya?" gumam Hendrik.